Puncak Pendekar Keabadian

Puncak Pendekar Keabadian
CHAPT 9. AKADEMI


__ADS_3

Liu Changhai merupakan salah satu tetua di Sekte Gunung Kembar, Usianya sudah 40 tahun lebih. Ia menduduki posisi yang cukup penting di Akademi Sekte yaitu sebagai kepala administrasi.


Ia pribadi yang rendah hati, ramah senyum namun penuh pertimbangan dan selalu bersikap hati-hati. Kepribadian yang sangat cocok dengan posisinya di akademi.


Liu Changhai mempunyai ilmu beladiri yang sangat tinggi meskipun selalu terlihat sibuk dengan tugas-tugasnya di akademi, bahkan banyak orang menyangka ia tidak pernah berlatih lagi.


Namun siapa sangka saat ini ia sudah membuka 20 dari 21 saraf Qi yang ada di tubuhnya, bahkan di Sekte Gunung Kembar ia menjadi pendekar termuda yang mencapainya.


Hal ini membuktikan bahwa LIu Changhai adalah seorang jenius, Namun namanya tidak begitu di kenal luas di dunia persilatan, bahkan tidak juga di Kerajaan Bulan Besar.


Bukan tidak ada alasan, hal itu dikarenakan ia sendiri tidak pernah mau melibatkan diri dengan urusan di luar sekte.


Setelah membagi kelompok putra dan putri, Liu Changhai mengarahkan mereka menuju ke asrama. Setiap calon murid harus membagi ruangan dengan 2 murid lainnya sehingga setiap ruangan hanya boleh di tempati oleh 3 murid saja.


Semuanya tampak tertib dan mengikuti arahan dari Liu Changhai, mereka secara teratur memasuki ruangan yang sudah dipersiapkan untuk mereka tanpa pertengkaran dan kejahilan yang biasa terjadi pada anak-anak diusia mereka.


Meskipun masih anak-anak, mereka sudah di gembleng dengan ilmu pengetahuan sosial dan kehidupan bermasyarakat di keluarganya, sehingga sikap mereka jauh lebih dewasa, tertib dan penuh tanggung jawab.

__ADS_1


Akademi Sekte Gunung Kembar memiliki tata ruang yang baik. Di bagian depan terdapat sebuah gerbang berupa tembok yang terdapat sebuah gedung pusat administrasi dan keamanan yang besar diatasnya.


Di belangnya juga terdapat sebuah tembok dan ada jalan setapak yang memisahkan antara gedung perpustakaan dan gedung pusat pengobatan serta beberapa bangunan kecil lain yang di gunakan sebagai tempat khusus setiap divisi.


Di bagian sebelah kanan terdapat tembok dan jalan-jalan setapak yang terhubung dengan ruang senjata dan Aula. Dan di bagian sebelah kiri terdapat juga tembok dan jalan setapak yang terhubung ke arah gedung latihan.


Di tengah-tengah terdapat empat gedung yang merupakan ruang kerja bagi ketua akademi, para tetua dan pengurus akademi.


Di bagian belakang terdapat asrama para murid dan tempat tinggal para tetua dan pengurus Akademi.


Melihat kedalam, ruangan asrama itu sangat bersih dan rapi. Ukurannya tidak bisa di bilang kecil bahkan seperti ruang tamu yang cukup besar. Terdapat 3 buah pembaringan, lengkap dengan alas kepala dan selimut. Semua calon murid cukup puas dengan fasilitas yang mereka dapatkan.


"Wah wahhh, ruangan ini saja sudah sebesar dua kali luas ruangan tamu di rumah" Salah seorang calon murid bertubuh gempal berdecak penuh kagum dengan yang ia lihat.


"Huss hentikan, tidak bisakah kau bersikap tidak aneh dengan yang kau lihat?! sejak tadi aku sudah memperingatkanmu!" Calon murid yang kurus dan tinggi menegur, perawakannya lebih dewasa dari calon murid lain.


Si Gempal terdiam.

__ADS_1


Xiao Wu Jie yang memasuki ruangan lebih dulu telah meletakkan bawaannya di lemari yang berada di dekat jendela, ia tidak menggubris percakapan kedua calon murid itu melainkan masih terpaku dalam lamunan dan fikirannya sendiri.


"Hei kau...! sombong sekali kau tidak menyambut kedatangan kami, kau tidak tau siapa kami ini hah?!" Si gempal menuding ke arah Xiao Wu Jie.


Mendengar suara yang cukup jelas di tudingkan kearahnya Xiao Wu Jie menoleh "Tentu saja kalian adalah teman sekamar yang akan tinggal besamaku selama 3 bulan, bukankah begitu saudara?" Xiao Wu Jie mengarahkan pandangannya kearah si kurus sambil tersenyum ramah. Ia sengaja melakukannya.


Setelah melototi si gempal, si kurus segera mengambil sikap "Ahh iya benar sekali apa yang saudara katakan" ia tampak canggung.


"Ahh izin kan saya memperkenalkan diri. Saya Zhang Ma dan Ini Zhang Qi, kami berdua bersaudara. Maaf jika perkataannya menyinggung saudara"


Sedikit saja seorang mengerti permainan yang ada dunia persilatan, akan banyak hal-hal yang sebenarnya begitu sepele akan terlihat sangat besar dan berpengaruh.


Di dunia ini sangat kental akan hukum rimba, sehingga Domba yang memiliki cakar dan taring akan lebih ditakuti dari pada Harimau yang ompong. Begitulah perumpamaan sebuah kemampuan, mereka yang memiliki kecerdasan tidak akan keliru dalam memilih lawan.


Zhang Ma tentu tidak ingin menyinggung Xiao Wu Jie yang penampilannya seperti bangsawan itu, terlebih dari sikap, cara ia menatap dan menjawab pertanyaan si gempal.


Sehingga ia cepat mengambil sikap sebelum hal yang fatal terjadi dan membuat mereka dalam kondisi yang tidak menguntungkan.

__ADS_1


"Tidak perlu meminta maaf, justru saya yang sudah bersikap kurang sopan dengan bersikap demikian tadi, Perkenalkan saya Xiao Wu Jie"


"Aihh maaf kan sikap ku tadi yang begitu bersemangat saudara Wu" Melihat sikap saudara nya si gempal segera memahami apa yang terjadi. Zhang Qi yang gempal itu merasa Xiao Wu Jie memiliki latar belakang yang tidak biasa.


__ADS_2