
Ruangan aula hening setelah semua hadirin selesai menyanyikan lagu Mengheningkan Cipta.
Kemudian dilanjutkan dengan sambutan oleh Ketua Akademi. Dalam sambutannya ia tidak lupa menceritakan sosok Li Ming sebagai seorang pahlawan dari Kerajaan Bulan Besar.
Bahkan ia juga berjanji untuk selalu memperingati hari-hari seperti ini agar para pahlawan akan selalu dikenang.
Didalam setiap kejadian pasti selalu ada hikmah yang dapat di petik, Xiao Wu Jie sadar apa yang ia lakukan tidak semuanya berdampak buruk, justru moment ini menjadi salah satu momentum yang membahagiakan dalam hidupnya.
Ketua akademi dan para tetua yang tidak ada keperluan lagi segera beranjak meninggalkan aula, menyisakan Yang San dan beberapa tetua yang memegang berbagai tipe senjata di tangannya.
Wakil Ketua Bou tidak terlihat sejak tadi, bahkan tidak ada yang menyadari hal ini kecuali Xiao Wu Jie, Zhang Ma dan Zhang Qi yang terlihat masih menyimpan banyak tanda tanya besar.
Xiao Wu Jie tidak terlalu terganggu dengan ketidakhadiran Wakil Ketua Bou, ia sudah bertekad untuk fokus dalam latihan selama 3 bulan di akademi agar mejadi murid inti.
Justru kekhawatiran masih tergambar jelas diwajah Zhang Qi, ia mulai membayangkan yang tidak-tidak karena ketidakhadiran Wakil Ketua Bou saat itu.
Yang San membuka suara "Baiklah di hadapan kalian sudah ada para guru yang akan memberikan pelatihan tentang penggunaan senjata yang kalian pilih sebelumnya." kemudian Yang San memperkenalkan satu per satu guru yang berada di hadapan mereka.
Guru pertama bernama Yi Quan, ia terlihat membawa senjata Golok. Di dunia persilatan, ia ijuluki sebagai Golok Pukulan Maut karena golok yang ia gunakan adalah golok tumpul yang cukup besar dengan ujung yang terlihat seperti patah, apabila golok itu menghantam musuh maka akan membekas seperti bekas pukulan yang dapat mengakibatkan luka dalam yang parah.
Guru kedua tampak unik karena memiliki postur dan lenggok layaknya perempuan, rambutnya hitam panjang bahkan wajahnya terlihat cantik padahal sebenarnya ia adalah laki-laki. Ia terlihat memegang sebuah kipas yang setiap ruasnya runcing seperti jarum. Bernama Jiu Cai, ia dijuluki sebagai Perayu Kipas Berduri.
Xiao Wu Jie tidak merasa aneh melihat Jiu Cai, karena di sekte cukup banyak laki-laki yang menyerupai perempuan. Justru ia merasa aneh sekaligus kagum dengan guru ketiga yang membawa senjata Gada, itu karena posturnya kecil, kurus kerempeng, bungkuk dan terlihat letoy (loyo), namun gada yang ia bawa bukan main besarnya dan pasti sangat berat, selintas tidak akan ada yang percaya bahwa ia dapat mengangkat gada itu dengan satu tangannya tanpa kesulitan.
__ADS_1
Zhang Qi awal memikirkan cara untuk mengganti senjata yang sebelumnya ia pilih karena sudah berjanji dengan Zhang Ma, ditambah lagi melihat kondisi guru yang memegang gada itu kelihatan sangat tidak ada dalam ekspektasinya, membuatnya bertambah cepat memikirkan cara untuk mengganti senjatanya.
Namun sayangnya itu tidak bertahan lama, setelah melihat si guru mengangkat gada sebesar itu dengan satu tangannya, Zhang Qi malah berfikir keras bagaimana cara untuk mempertahankan senjatanya itu apapun resikonya.
Guru itu bernama Wang Lei, seorang pendekar yang dijuluki Gada Punuk Raksasa. Kali ini Xiao Wu Jie melihat cahaya kegembiraan di dalam mata Zhang Qi.
Guru keempat terlihat tidak terlalu menonjol dari yang lain, bahkan bisa dibilang tidak ada yang spesial. Namun jika ada yang menduga seperti itu maka ia salah besar.
Guru itu bernama A Jao atau dikenal sebagai Tongkat Keledai Gila, bukan julukannya saja yang membuatnya ditakuti tapi juga sepak terjangnya di dunia persilatan yang sangat gemilang.
Setelah peperangan yang mengangkat namanya di dunia persilatan melawan aliansi penjahat yang terjadi 15 tahun yang lalu, ia memutuskan pensiun dari kedudukannya sebagai komandan perang Kerajaan Bulan Besar dan menjadi guru di akademi.
Bukan tanpa alasan, saat pasukan Kerajaan Bulan Besar yang dipimin olehnya hampir kalah, ia memutuskan untuk melawan pasukan musuh seorang diri, membuatnya terluka sangat parah setelah membalikkan keadaan.
Para calon murid tidak berhenti berdecak kagum saat satu per satu guru di perkenalkan. Bagaimana tidak, bagi mereka itu adalah kesempatan yang langka bisa bertemu dengan banyak jagoan silat yang terkenal.
Saat ini semua pasang mata calon murid seolah mencari keberadaan seorang guru lagi, mereka tidak menemukan satupun guru yang memegang senjata pedang.
Bahkan Xiao Wu Jie pun mencari keberadaan guru tersebut, ia juga merasa tidak sabar ingin melihat sosok yang akan menjadi guru pedangnya.
Awalnya tidak ada yang bertanya tentang keberadaan guru tersebut, namun karena tidak ada tanda-tanda sang guru akan hadir, mereka merasa sangat penasaran. Belum sempat bertanya cahaya yang menyilaukan mata menerangi seluruh ruangan aula.
Cahaya itu menjelma menjadi sebuah pedang yang saat ini berada dalam genggaman Yang San. Sontak semua calon murid merasa kaget sekaligus kagum tak terkecuali Xiao Wu Jie.
__ADS_1
Bagaimanapun mereka tau, hanya pendekar yang mempunyai kemampuan sangat tinggi saja yang dapat melakukannya.
Di sekte bahkan di akademi, hanya segelintir orang yang dapat melakukan seperti yang dilakukan Yang San.
Setelah memperkenalkan dirinya sebagai pendekar yang dijuluki Pedang Cahaya Ilahi, Yang San meminta semua guru untuk membawa murid mereka ke ruang latihan yang telah mereka siapkan.
**Catatan Penulis :
Bisa dibilang cerita ini cerita iseng yang aku tulis waktu lagi ga ada kegiatan lain, ini cuma hobi dan kemauan aku buat belajar. Bukan kegiatan menulis untuk tujuan komersil ya...
Ettt... tapi aku ga nulis sembarangan juga.
Bisa kok update banyak tiap hari tapi kepuasan bukan cuma untuk si pembaca doang, kalo aku ga puas bisa banyak revisinya.
Jadi harap bersabar sebelum di publish!
Sebenarnya aku ga masalah ya ga dapet vote atau poin. Like/komentar/share aja udah cukup kok.
But so far I wanna say thank you about beberapa komentar yang mengkritisi dan ngebuat aku lebih banyak belajar lagi.
Nah untuk yang udah ngebaca PUNCAK PENDEKAR KEABADIAN sekali lagi aku minta komentar-komentar yang bermanfaat untuk perjalanan belajar menulis aku Okee...
Thank you so bad**
__ADS_1