
"Darimana saja kau? aku sangat khawatir terjadi sesuatu padamu" Yang San berada di depan pintu gerbang akademi sejak tadi.
Ternyata saat Xiao Wu Jie dan Zhang Ma hendak keluar gerbang, Yang San sudah mengetahuinya lebih dulu saat hendak pergi mengunci pintu gerbang. Ia menunggu keduanya disana karena takut akan menjadi masalah jika ada orang lain yang tau.
Setelah beberapa saat menunggu, ia hanya melihat Zhang Ma yang lebih dulu kembali. Namun saat ditanya, Zhang Ma hanya beralasan jika Xiao Wu Jie meminta ia pulang lebih dahulu karena ingin sendirian.
"Aku habis melihat pemandangan guru, aku bosan jadi aku pergi kesana untuk menghibur diri"
"Baiklah jika begitu, setidaknya tidak terjadi sesuatu padamu. Mari kita masuk sebelum para penjaga kemari"
Setelah memasuki gerbang, Yang San berpesan agar Xiao Wu Jie datang ke kediamannya setelah mengganti pakaian.
Asrama tampak sepi dari luar karena hujan masih sangat deras, tidak seorang pun yang mau berkeliaran semuanya berada di ruangan masing-masing.
Setelah sampai di asramanya, suasana mencekam sangat terasa. Tidak ada sambutan hangat seperti biasa.
Zhang Ma dan Zhang Qi terlihat sedang mengobrol tentang jurus-jurus yang baru mereka pelajari saat berlatih senjata di ruangan masing-masing.
Tidak ada satupun yang memperhatikan bahkan menyapa Xiao Wu Jie. Namun seolah tidak terganggu Xiao Wu Jie berjalan kearah almari untuk mengambil pakaian dan segera mengganti pakaiannya yang basah.
"Aku sudah membuka saraf Qi kedua ku sejak 6 bulan yang lalu, aku yakin bisa membuka yang ketiga pada saat tes terakhir, apakah kau percaya?" Kata Zhang Qi dengan suara yang seolah dibesarkan.
"Tentu saja..." jawab Zhang Ma mantap sambil sekali melirik kearah Xiao Wu Jie.
Xiao Wu Jie hanya bergeming, ia tau jika Zhang Ma pasti telah menceritakan tentang dirinya pada Zhang Qi.
Ia tidak merasa heran atas sikap Zhang Qi yang seperti itu karena pada dasarnya Zhang Qi akan merendahkan orang yang terlihat lebih lemah dari pada dirinya.
Setelah selesai berganti pakaian, Xiao Wu Jie hendak segera beranjak pergi ke kediaman Yang San. Karena masih turun hujan, ia memilih melewati koridor untuk sampai kesana agar tidak kebasahan.
Setelah sampai, seperti biasa Xiao Wu Jie disambut hangat oleh pemandangan interior di kediaman Yang San.
__ADS_1
"Salam guru, Wu Jie menghadap" Xiao Wu Jie melihat Yang San sedang membuat sesuatu.
"Ahh Wu Jie silahkan duduk dulu, aku sedang membuat teh hangat apakah kau mau?"
"Hmm jika guru tidak keberatan aku mau atau guru mau aku bantu?"
"Ahh tidak usah, aku hanya tidak mau kau habiskan teh berharga milikku hahaha."
Xiao Wu Jie tidak menunjukkan ekspresi sedikitpun. Karena sibuk membuat teh, Yang San tidak memperhatikan hal itu.
"Ahh ngomong-ngomong bagaimana saraf Qi mu? apakah kau sudah membuka yang ke tiga?"
Pertanyaan Yang San sangat mengena di hati Wu Jie. Seolah seperti sudah tau itu pertanyaan yang sangat tepat dengan kondisinya saat ini
"Bukankah seharusnya guru sudah tau?"
"Ahh akhirnya teh ku yang nikmat jadi juga, nahh bagaimana tadi pertanyaanmu?"
Yang San tersenyum sambil menciumi aroma tehnya "Ahh iya itu aku sudah tau..."
"Lantas bagaimana tanggapan guru? apakah aku harus segera melupakan keinginanku untuk menjadi murid inti?"
Yang San menyipitkan matanya "Ohh kenapa harus begitu? Justru kau harus semakin yakin bahwa kau akan menjadi murid inti"
"Bagaimana bisa? apakah guru sedang mencoba menipuku?" Tampak amarah dalam pertanyaan itu.
"Heyy apa yang salah dengan mu?! kau itu istimewa. Aku yakin orang tua mu sudah tau kau memilikinya"
"Apa yang guru maksud?"
"Rupanya kau belum tau..." Yang San menyeruput teh nya yang masih panas "Ahhh enak sekali... Jadi menurut pengamatanku kau mempunyai kemampuan menyerap energi Qi paling murni yang langka. Saat kau lahir, kemampuan itu bisa terlihat dari auramu yang berbeda dari bayi biasa. Saat membuka saraf yang pertama, kemampuan itu membuatmu harus menyerap energi Qi yang sangat besar untuk memulai proses pemurnian Qi sehingga menghasilkan Energi Qi murni yang lebih sedikit namun itu setara dengan seluruh energi Qi yang kau serap. Kehebatannya yang lain adalah tidak seorang pun yang dapat melihat tingkatanmu walaupun ia sudah mencapai tingkat pendekar langit sekalipun, apakah sekarang kau sudah paham?"
__ADS_1
Xiao Wu Jie merasa sangat terhibur atas informasi itu, namun setelah berfikir sejenak ia menemukan pertanyaan yang perlu ia tanyakan.
"Apakah aku sendiri tidak dapat mengetahui jika aku sudah membuka saraf Qi ku dan membaca tingkatanku"
Mendengar pertanyaan itu Yang San terlihat ragu-ragu "Jadi maksudmu kau tidak tau apakah kau sudah membuka saraf Qi mu?"
"Hmmm ya..."
"Ahh seharusnya tidak seperti itu. Saat membuka saraf Qi yang pertama kau akan merasakan energi yang kuat mengalir di dalam darahmu"
Xiao Wu Jie tertunduk setelah mendengarkan pernyataan itu, rasa senang yang sebelumnya sirna seola ia telah kehilangan harapan.
"Apakah kau tidak merasakan hal seperti itu? kau pasti bercanda bukan?"
'Pertanyaan ini...' saat memikirkan pertanyaan Yang San itu, terlintas wajah Zhang Ma saat menanyakan hal yang sama.
"Pasti guru sangat kecewa, aku tidak seperti yang guru harapkan, aku adalah sampah"
Yang San sangat terkejut mendengar pernyataan yang dilontarkan Wu Jie padanya "Apa yang kau katakan! kau tidak boleh berfikir seperti itu, kau masih mempunyai harapan aku akan berusaha membantumu."
"Apakah benar guru akan membantuku?" kini secerca harapan terlihat pada tatapan mata Xiao Wu Jie sementara Yang San hanya mengangguk memberikan keyakinan padanya.
Setelah mengobrol beberapa saat Xiao Wu Jie pamit untuk segera kembali ke asrama, karena kelelahan ia berniat untuk langsung tidur setelah sampai di asramanya.
Kembali perasaan yang berbeda terasa pada saat memasuki asramanya, tidak ada canda dan tawa dari kedua teman seasramanya itu.
Mereka sedang sibuk dengan kegiatan masing-masing, tidak seorang pun yang mempedulikan Xiao Wu Jie saat memasuki ruangan.
Perasaan tidak enak begitu dirasakan Xiao Wu Jie. Bagaimana tidak, dalam sekejap seseorang yang begitu dekat dapat menjadi orang asing yang tidak saling mempedulikan.
Hal inilah yang kadang sangat disayangkan dalam sebuah hubungan. Saat dekat setiap hal yang dilakukan akan sangat menghangatkan seolah kehangatan seperti itu tidak akan pernah berakhir. Namun seseorang dapat lupa jika hubungan itu berakhir, maka pula akan sangat menyakitkan hati. Seperti itulah dinamika dalam hidup.
__ADS_1
Setelah berbaring di kasur, Xiao Wu Jie mencoba menutup matanya dan dalam sekejap ia tertidur pulas.