
Pagi itu sungguh menawan hati, raut wajah tanaman-tanaman liar terlihat cerah dan haru seolah baru saja melewati pusara puasa malam yang panjang, sekarang bermandikan embun dengan berjuta kesejukan.
Rutinitas seakan tidak kalah menghiruk pikukan pemukiman yang ramai dan bersahabat. Pekik dan kicau burung menyambut mesra, para pedagang hilir mudik menjajaki setapak untuk satu tujuan 'demi kemakmuran'.
Rumah-rumah, toko-toko, dan beberapa restoran dihiasi lampion lampion indah, dengan bermacam warna memang sungguh elok dan meriah penampakannya.
Suasana terasa cukup damai di pagi itu. Tak terasa sudah 7 tahun sejak malam kelahiran Xiao Wu Jie yang mempunyai aura seperti raja itu.
Tidak banyak yang berubah dari suasana Sekte Gunung Kembar selain banyaknya baliho dan keramaian yang akan semakin padat menjelang siang nanti.
Sudah menjadi tradisi setiap tahun perayaan sekte di gelar untuk merayakan kelulusan sarjana muda dan para pendekar berbakat yang telah selesai menempuh pendidikan di Akademi Senlin.
Akademi Senlin sendiri adalah satu satunya akademi yang berada di Sekte Gunung Kembar. Meskipun bukan yang terbesar di seluruh wilayah Kerajaan Bulan Besar, Akademi Senlin mempunyai pamor yang baik karena banyak melahirkan lulusan yang banyak memberikan kontribusi bagi pemerintahan.
Setelah ini mereka akan di tugaskan untuk mengabdi pada pemerintahan Kerajaan Bulan Besar dan beberapa diantaranya akan mendapatkan posisi penting di beberapa divisi yang ada di sekte.
Di setiap ada kelulusan tentu ada juga penerimaan murid baru untuk anak-anak sekte yang telah berusia 7 tahun keatas. Setiap Akademi tentu mempunyai sistem perekrutan tersendiri untuk calon murid tapi sistem perekrutan di Akademi Senlin sudah ada sejak 100an tahun yang lalu.
Dalam sistem perekrutan akademi ini para calon murid akan di uji coba selama 3 bulan pelatihan untuk mengukur kepandaian dan kecerdasan, tentu tujuan dari uji coba itu adalah untuk melihat bakat mereka sebelum diterima sebagai murid.
Selama itu juga mereka akan menetap di akademi, dilatih dan di berikan penilaian oleh para tetua sekte.
Mereka yang berbakat akan direkomendasikan sebagai murid inti (murid dalam) untuk menjadi seorang pendekar yang kedepan akan mendapatkan posisi penting baik di sekte maupun di kerajaan.
__ADS_1
Untuk yang tidak berbakat akan menempuh pendidikan sebagai pendamping dari murid inti dan biasanya setelah lulus mereka akan di jadikan sebagai prajurit biasa, mereka disebut sebagai murid pendamping (murid luar).
Pembedaan ini diyakini perlu untuk di lakukan, karena mereka yang tidak berbakat dianggap tidak akan berguna banyak untuk sekte ataupun kerajaan maka sesuai ketentuan, program latihan yang akan mereka jalani lebih sederhana agar tidak menghabiskan banyak sumberdaya sekte yang terbatas.
**
Di sebuah rumah kediaman keluarga Li, kegiatan pagi dilalui tidak seperti biasanya, Li Biyu tampak gelisah karena suatu hal, membuat Li Hong mempertanyakan sikapnya.
"Aihhh Biyu kenapa harus begini semangat sampai-sampai membangunkan Wujie pagi-pagi buta."
Li Hong yang biasanya tidak bisa diganggu saat istirahatnya begitu kesal namun tidak dapat protes karena keberadaan Xiao Wu Jie yang saat itu juga menyaksikan ibunya membangunkannya.
"Katakan orang tua mana yang tidak bersemangat melihat anak semata wayang nya sebentar lagi akan menjadi orang besar?" Li Biyu berkedip kepada Xiao Wu Jie sejenak sebelum kembali melotot pada Li Hong.
"Nah lihat lah keponakan ku yang sudah begini dewasa, apalagi yang perlu kau takutkan? sekarang mari izinkan aku melanjutkan ritualku."
"Mana bisa begitu, bantu aku menyiapkan semua keperluan Wu Jie... sekarang!!!" Wu Jie tak mampu menahan tawa melihat tingkah ibu dan pamannya itu.
**
Ayah Xiao Wu Jie bernama Xiao Shan saat ini tengah mejalankan sebuah misi rahasia dari Kerajaan Bulan Besar, Ia merupakan abdi kerajaan termahsyur yang namanya sempat menggemparkan dunia persilatan setelah memberantas sebuah organisasi yang terkenal sangat kejam yang bernama Organisasi Setan Berwajah Dua.
Xiao Shan sangat ahli ilmu bela diri, memiliki kepandaian yang sangat tinggi dan sangat cerdas. Namanya cukup di segani di dunia persilatan bahkan tidak sedikit membawa kekaguman di Benua Bulan Barat karena ketampanannya dan kebaikan hatinya. Akan tetapi karena sering berada dalam misi kerajaan, Xiao Shan sangat jarang pulang ke sekte.
__ADS_1
Pernah hanya 4 kali dalam 7 tahun Xiao Shan pulang ke Sekte Gunung Kembar hanya untuk memeriksa keadaan Li Biyu dan Xiao Wu Jie.
Tentu saja karena itulah Xiao Wu Jie tidak begitu mengenal ayahnya, dalam hatinya hanya Li Hong lah ayah baginya.
**
"Ibu paman, aku akan bersiap siap dulu." Xiao Wu Jie berniat untuk pergi ke ruang latihannya dan meninggalkan kedua orang dewasa yang masih berbincang panas itu.
Sejak Xiao Wu Ji berumur 3 tahun, Li Hong sudah menerapkan latihan dasar untuknya, mulai dari ilmu pengetahuan umum, filsafat, sastra, budaya, dan tidak jarang Li Hong akan menceritakan kisah tentang tokoh-tokoh hebat dunia persilatan kepada Xiao Wu Jie.
Dalam hal kecerdasan Xiao Wu Jie bahkan bisa di katakan melebihi ayahnya saat seusianya, kecerdasan yang sungguh terlihat karena ia tidak kesulitan untuk menghapal satu buku atau kitab yang begitu panjang dalam sekali baca, bahkan ia dikatakan mahir dalam filsafat dan sastra.
Li Hong juga tidak lupa menanamkan sifat yang berbudi luhur kepada Xiao Wu Jie walaupun pada dasarnya ia adalah anak yang baik dan berbakti.
Namun dari semua hal itu, yang menarik perhatian Xiao Wu Ji adalah ketika Li Hong menceritakan tentang tokoh-tokoh hebat dunia persilatan.
Xiao Wu Jie sendiri sudah tau di dalam dunia persilatan berlaku hukum rimba, yang kuat akan berkuasa dan yang lemah akan tertindas.
hal itu tentu mendapat perhatian penuh dari Xiao Wu Jie. Keinginannya untuk menjadi pendekar yang kuat tumbuh dengan sendirinya.
Bahkan keinginannya itu pernah disampaikan pada pamannya, entah bagaimana anak seusianya dapat berpendapat seperti itu, bagi Xiao Wu Jie menjadi kuat bukanlah untuk menindas yang lemah, namun menjadikan dunia menjadi damai, tanpa peperangan dan tanpa penindasan.
Hal itu tentu saja membuat Li Hong sangat bangga padanya, namun di hati kecil Li Hong ia merenungi bahwa perang dan permusuhan yang terjadi selama berabad-abad ini sungguh sulit untuk bisa di hentikan bahkan oleh pendekar nomor satu di dunia persilatan sekalipun.
__ADS_1