Puncak Pendekar Keabadian

Puncak Pendekar Keabadian
CHAPT 20. Pedang Lumayan


__ADS_3

Xiao Shan berniat untuk menyudahi percakapan itu secepatnya dan meninggalkan tempat itu sehingga kegelisahannya tampak jelas.


Pendekar senior itu menaikkan alisnya "Ada apa? apakah ceritaku kurang menarik?"


"Ah tidak senior, ceritamu sungguh menyentuh hatiku" Xiao Shan mencoba membuat kata-katanya seyakin mungkin agar pendekar senior itu tidak tersinggung.


"Oh baiklah, sampai mana ceritaku tadi???" pendekar itu mencoba mengingat sejenak "Oh iya sampai aku menghabisi seluruh pasukan aliansi seluruh benua itu..."


Cerita itu terus dilanjutkan, sebenarnya cerita itu sangatlah menarik, bahkan jika kisahnya diangkat dan di jadikan pertunjukan drama, maka akan laris dan tidak terlupakan untuk waktu yang lama.


Sayangnya Xiao Shan merasa bahwa semua itu terlalu berlebihan dan dibuat-buat. Di tambah lagi Xiao Shan merasa diperlakukan seperti anak kecil yang sedang mendengarkan dongeng.


Akhirnya Xiao Shan tidak punya pilihan lain selain hanya mendengarkan sampai cerita itu selesai. Ia sengaja memasang wajah yang menunjukkan antusiasnya pada setiap bagian cerita itu.


"Akhirnya aku memutuskan pergi dari Benua Matahari Timur dan mengarungi beberapa dimensi sampai aku berada disini" Pendekar senior itu mengakhiri ceritanya. "Nah bagaimana, apakah ceritaku memuaskan rasa keingintahuanmu...?"


"Ahh iya, Terimakasih senior, cerita itu sungguh sangat menarik. Semua rasa penasaranku terjawab sudah" Xiao Shan tersenyum canggung.


"Nah kalau begitu bisakah kau melakukan sesuatu untukku?"


"Ohh apa yang bisa aku lakukan untuk senior? kalau aku bisa membantu aku akan usahakan untuk melakukannya" Xiao Shan merasa tidak yakin, tapi demi menepati perkataan yang sebelumnya ia hanya bisa memberi jalan.


"Pertama aku membutuhkan tempat tinggal, aku butuh tempat yang sepi namun lebih layak dari tempat ini"


"Hmmm baiklah akan aku penuhi, apakah ada yang lain?"


"Ya tentu saja ada, kedua aku membutuhkan bibit beberapa tanaman berharga untuk aku tanam di tempat tinggalku nanti, aku sudah siapkan daftarnya... dan yang ketiga aku mau kau merahasiakan identitasku"


Setelah memberikan daftar bibit tanaman berharga itu pada Xiao Shan, pendekar senior mengatakan bahwa ia juga memerlukan beberapa material untuk membuat senjata.


Tidak sulit bagi Xiao Shan dengan kemampuan dan relasinya mendapatkan tempat tinggal dan bahan yang diminta untuk membuat senjata.

__ADS_1


Namun untuk mendapatkan bibit jenis tanaman di dalam daftar itu membuatnya harus berfikir ulang. Karena jenis tanaman itu selain sangat-sangat berharga mendapatkannya sangatlah sulit karena bisa dikatakan sangat langka.


Salah satunya tanaman bernama Palung Matahari yang wujudnya seperti bunga matahari bertanduk 8 di bagian tengahnya.


Tanaman itu mungkin hanya ada beberapa saja di dunia karena hanya bisa di dapatkan ketika gunung berapi meletus saja dan itu pun hanya ada satu yang tumbuh kadang tidak tumbuh sama sekali.


Harganya sudah tidak perlu di pertanyakan lagi mengingat khasiat dari tanaman itu jika dibuat ramuan obat.


Xiao Shan akhirnya mengatakan masih ingin berfikir-fikir untuk menyanggupi permintaan kedua dari pendekar senior itu.


"Baiklah seminggu lagi akan ada yang datang kemari untuk menjemput senior, aku harap senior bisa mempersiapkan diri"


Pendekar senior menyipitkan matanya "Kenapa orang lain? Kenapa bukan kau sendiri yang menjemputku?"


"Ahh... itu karena aku ada banyak misi yang harus aku selesaikan dalam satu bulan ini" kata Xiao Shan mantap.


"Baiklah jika begitu, aku harap kau menepati kata-katamu"


Dengan sigap pendekar senior itu menghentikan langkah Xiao Shan yang hendak pergi.


"Tunggu dulu sebentar, aku merasa tertarik pada pedangmu bisa ku lihat?"


Xiao Shan yang telah berbalik kearah pintu keluar menghentikan langkah dan mematung 'Ahh tidak..tidak jangan coba-coba untuk mengambil pedang kesayanganku!' Xiao Shan mengumpat di dalam hatinya.


"Biar aku lihat sebentar saja, pedang itu terlihat sangat bagus siapa tau aku tertarik untuk bisa memilikinya" Tanpa menunggu Xiao Shan berbalik, pendekar senior itu dengan cepat meraih pedang itu.


Xiao Shan tak sempat melakukan apapun setelah pedangnya berada di tangan pendekar senior itu.


"Wahh gagang dan sarung pedang yang lumayan, coba aku lihat bagian dalamnya" Secepat kilat pendekar senior melepas pedang dari sarungnya "Sringgg"


Xiao Shan tidak berkata apapun, kini ia hanya bisa melihat pedang kesayangannya yang tidak bersarung lagi berada di tangan pendekar senior itu.

__ADS_1


"Woahhh lumayan..lumayan"


'Apanya yang lumayan, itu salah satu pedang terbaik dan unik yang ada di dunia ini. Bukankah seharusnya ia merasa sangat takjub' Xiao Shan menggerutu di dalam hatinya, ia merasa pedang kesayangannya itu seolah diremehkan.


"Detilnya dan bahannya cukup baik meskipun cara menempanya ada sedikit kesalahan sehingga pedang ini tidak lebih tajam dari yang bisa di hasilkan, sayang sekali"


Xiao Shan menaikkan alisnya "Mungkin senior salah, pedang ini dibuat dengan bahan dan di tempa khusus sehingga tajam dan keras bahkan bisa membelah batu hanya dengan satu kali tebasan" Xiao Shan berusaha menyangkal, ia tidak terima jika pedang kesayangannya di remehkan.


"Oh benarkah? setajam dan sekeras itukah? baiklah akan aku coba..." pendekar senior itu mencari sebuah batu yang berukuran sedang dan benar saja dengan satu kali tebasan batu itu terbelah dua, namun pedang itu tidak mengalami kerusakan apapun. Xiao Shan tersenyum puas.


"Woahhh lumayan..lumayan"


Xiao Shan terlihat sangat dongkol, ia merasa pendekar senior masih begitu meremehkan pedang kesayangannya itu "Ahh jika ada pedang yang lebih baik dari pedangku ini, kira-kira kerusakan seperti apa yang bisa disebabkannya?"


"Hmm mungkin bisa membelah batu yang sangat besar atau bahkan membelah sebongkah berlian besar dengan satu kali tebasan yang lemah tanpa menggunakan tenaga dalam"


Xiao Shan merasa tidak percaya dengan keterangan itu, ia sangat yakin bukannya batu atau intan itu terbelah meskipun dengan tenaga yang besar sekalipun, namun pedanglah yang akan patah.


"Aku tau kau ragu, tapi ya... paling tidak aku tidak jadi meminta pedang payah mu ini"


'Pedang payah...!!!' Xiao Shan mengumpat keras dalam hatinya, itu bukan hanya sekedar hinaan pada pedang kesayangannya, namun harga dirinya juga terasa di injak-injak.


Xiao Shan berusaha keras menahan amarahnya, ia hanya tidak mau mencari perkara yang tidak perlu sekarang.


Sebelum mengembalikan pedang itu pada Xiao Shan, pendekar senior mengetuk pedang itu dua kali dengan jari telunjuknya. Xiao Shan sempat menaikkan alisnya saat Pendekar Senior melakukan itu.


"Nah ini aku kembalikan pedangmu, jika kau ingin pergi sekarang aku tidak akan menghalangi lagi. Sering-seringlah mengunjungiku nanti di tempatku yang baru"


"Baiklah, aku mohon diri" Setelah itu Xiao Shan berbalik dan melangkah pergi.


Saat Xiao Shan sampai di pintu pendekar senior itu mengatakan jika Xiao Shan pasti akan menemuinya. Namun Xiao Shan terus melangkah seolah tidak mendengar perkataannya.

__ADS_1


__ADS_2