Puncak Pendekar Keabadian

Puncak Pendekar Keabadian
CHAPT 28. Sebuah Kepercayaan


__ADS_3

"Ini kali kedua aku berjumpa senior, apakah senior tidak keberatan untuk junior mengetahui nama besar senior?" Xiao Shan berkata sedikit terbata karena takut jika permintaannya malah menyinggung pendekar senior itu.


Namun kenyataannya berbeda dari yang Xiao Shan fikirkan, pendekar senior itu justru tersenyum hangat sambil sekali lagi mempersilahkan Xiao shan meminum teh yang sudah ia suguhi.


Pendekar senior menatap Xiao Shan lamat-lamat sehingga tampaklah wajah yang penuh dengan rasa ingin tau.


"Sebenarnya aku hanyalah seorang penempa biasa, aku tidak mempunyai nama kebesaran maupun asal usul yang spesial. Seperti ceritaku sebelumnya aku berkata terus terang kepadamu, aku sudah melupakan namaku dan lebih suka di sebut sebagai Pendekar Pandai Besi."


Pendekar Senior tersenyum pahit, keterangannya itu membuatnya kembali mengorek luka lama yang ia simpan.


Sudah lama ia tidak menceritakan asal usulnya kepada siapapun namun berbeda dengan Xiao Shan, pendekar senior itu dapat melihat jelas jika ia memiliki hati yang bersih.


Xiao Shan merasakan jika yang dikatakan pendekar senior benar adanya, secara tidak sadar lambat laun Xiao Shan merasakan kepercayaan yang cukup besar pada pendekar senior itu.


"Junior mengerti, junior akan terus merahasiakan identitas senior selama senior menghendakinya."


"Aku mempercayaimu, lagi pula kau tak perlu khawatir denganku karena usiaku sudah tidak akan lama lagi"


Xiao Shan mengerutkan dahinya seakan tidak percaya telah mendengar pernyataan seperti itu dengan mudahnya keluar dari mulut pendekar senior.


Jika saja ada orang dengan tujuan jahat maka tidak menutup kemungkinan hal itu akan dimanfaatkan, terlebih karena pendekar senior itu mempunyai banyak benda pusaka dan harta yang tak ternilai.


Xiao Shan kembali bertanya dengan terbata "Apa sebabnya? apakah senior sedang sakit?"


"Bukan sebuah penyakit, mungkin lebih tepatnya ini karena efek dari ilmu yang aku pelajari, aku telah melanggar pantangannya, penjelasannya cukup rumit namun ketahuilah aku sudah hampir mencapai batas usiaku."


"Berapa lama lagi senior mampu bertahan?" Pertanyaan itu refleks keluar dari mulut Xiao Shan.


Pendekar senior tersenyum pahit "Aku tidak yakin, tapi maksimal aku hanya dapat bertahan sampai 3 tahun lagi."

__ADS_1


"Apakah ada cara agar senior bisa bertahan lebih lama? beritahu padaku, junior akan melakukan apapun jika di perlukan."


Pendekar senior bergeming cukup lama, kemudian ia menarik nafas "Hanya ada satu cara, namun itu tak dapat membantu banyak, mungkin hanya menambah 2 tahun usiaku."


"Junior mohon katakan saja, junior akan mencoba semampunya." Xiao Shan berkata penuh kesungguhan meskipun tau itu pasti tidak akan mudah.


"Kau pasti tau sangat sulit untuk melakukannya, aku tidak akan mau kau membuang waktumu untuk ku, apalagi kau tidak berhutang suatu apapun kepadaku.


Dalam dunia persilatan ini hutang menjadi hukum mutlak yang harus di bayar meskipun dengan nyawa sebagai taruhan.


Untuk pengorbanan yang besar hutang dapat dijadikan modal sebagai jaminan dan menjadi sebuah keharusan untuk di tunaikan.


Xiao Shan sangat mengetahui aturan itu, tanpa hutang pendekar senior tidak akan menerima bantuannya secara percuma.


Ditambah lagi pendekar seniorlah yang telah berhutang pada Xiao Shan atas permintaannya yang sebelumnya dan itu pun Xiao Shan belum meminta apapun padanya sehingga sangat berat baginya menerima bantuan untuk kedua kalinya.


"Shan kau tau itu tidak bisa seperti itu, sangat wajar mengingat kita baru bertemu satu kali untuk adanya sebuah kepercayaan, itu pasti sangat sulit untukmu."


"Bagaimana dengan pedang yang senior berikan, pedang itu sungguh tak ternilai harganya, junior harap itu pantas untuk dijadikan sebagai hutang."


"Aku yang telah merusak pedangmu maka sudah sepantasnya pedang itu aku yang ganti. Untuk sekarang hal ini tidak perlu terlalu kau fikirkan." Pendekar senior seketika beranjak dari tempat duduk sepertinya ia menuju ke halaman belakang.


Pendekar senior menghentikan langkahnya sejenak dan menoleh kearah Xiao Shan yang masih duduk di kursi yang terukir indah itu.


"Kudengar kau belum pernah melihat ada manusia yang bisa terbang, mau aku tunjukkan? siapa tau kau tertarik untuk belajar." Pendekar senior tersenyum sembari menengglengkan kepalanya kearah belakang.


Tidak menunggu waktu berfikir, Xiao Shan yang terdorong rasa ingin tahunya juga segera beranjak mengikuti kemana pendekar senior itu hendak menuju.


* *

__ADS_1


Nyala obor semakin terang sejak malam semakin pekat, angin dingin terasa sangat kencang saat mereka keluar dari kediaman baru pendekar senior.


Namun ekspresi keduanya tidak menunjukkan tanda-tanda seorang yang gelisah karena menerima perubahan suhu yang drastis.


Salah satu kelebihan pendekar yang sudah mencapai tingkat pendekar langit adalah memiliki toleransi yang tinggi dari perubahan suhu yang drastis, sehingga Xiao Shan tidak terlalu merasakan hawa dingin yang menusuk tulang itu. Sementara pendekar senior itu... silahkan renungi sendiri.


"Ahh aku sangat suka tempat ini, persis seperti tempat asal ku dahulu saat menjadi seorang pandai besi, begitu tenang dan damai." Pendekar senior menatap langit takzim, asap putih pekat keluar dari mulut dan hidungnya seiring nafas yang berhembus.


"Aku sudah lama tidak kesini, dulu saat aku mendapatkan misi tingkat 7 aku meminta untuk di buatkan rumah di tengah danau ini dan menempatinya selama 3 tahun, aku baru kembali saat misiku telah selesai."


Xiao Shan bicara tenang namun jika di perhatikan lamat-lamat ekspresinya menyimpan luka yang belum sepenuhnya sembuh. Dengan mengingat hal itu semua lembaran kelam kini kembali terbuka.


Pendekar senior yang ketika itu memperhatikan ekspresi Xiao Shan sangat memahami apa yang Xiao Shan rasakan.


Ia berasumsi jika misi itu pastilah sangat erat kaitannya dengan suatu pembantaian.


Dulu ketika masih berada di Aliansi Ulat Sutra, banyak sekali misi yang mengakibatkan sebuah pembantaian. Banyak orang terbunuh bahkan orang yang tidak bersalah sekalipun.


Dalam prinsipnya untuk menghindari dendam dan perang berkepanjangan, satu garis keturunan bahkan harus di lenyapkan.


Bagi seorang pendekar yang mempunyai prinsip tidak sejalan dengan hal itu, akan ada pertentangan batin yang sangat menyiksa. Namun nyatanya hal itu tetap harus dilakukan, akibatnya akan menyisakan luka di hati yang akan di tanggung seumur hidup.


Setelah merenung cukup lama pendekar senior akhirnya memilih untuk segera beristirahat. Ia segera ingat jika Xiao Shan telah melewati perjalanan panjang untuk sampai kemari.


Xiao Shan tidak protes, nyatanya ia memang cukup kelelahan karena sudah lama sejak terakhir ia beristirahat dengan tenang.


Hari-harinya yang disibukkan dengan misi membuatnya dibebani oleh banyak sekali fikiran, baik tentang dirinya sendiri, keluarganya bahkan misi yang sedang ia jalani.


Terlintas fikiran jika ia telah selesai dengan semua ini, ingin rasanya ia hidup tenang bersama istri dan anaknya, menjadi keluarga yang utuh dan saling melengkapi.

__ADS_1


__ADS_2