
Karena kecerdasannya, sejak berusia 8 tahun Xiao Wu Jie cukup menguasai tentang Stratak (Strategi dan Taktik) perang dan politik dari buku atau kitab pamannya yang ia baca di ruang latihan.
Hal itu membuatnya beberapa langkah lebih mengenal kehidupan yang sejatinya memiliki dinamika yang tidak dapat diprediksi, sesuatu yang terjadi seringkali tidak sesuai dengan idealisme pada manusia.
Segala hal harusnya dapat diterima akal sehat dan hati nurani sebagai bentuk dari kebenaran yang melekat pada kehidupan manusia sebagai makhluk yang memiliki cinta kasih dan kebaikan.
Namun sayangnya itu tidak berlaku di dalam kehidupan nyata, setiap orang selalu mempunyai pembenaran dari tindakan buruk yang ia lakukan, sehingga terciptalah hukum untuk mengatur segalanya.
Namun pada kenyataannya, hukum bisa di beli oleh seorang yang mempunyai kekuasaan atas hukum yang ditegakkan, sehingga dapat dengan sesuka hati mempermainkan hukum untuk kepentingannya sendiri.
Maka dari situlah hukum di dunia persilatan terbentuk menjadi hukum individual. Maknanya, secara individu setiap orang berhak menghukum seorang yang dianggap bersalah selama ia mempunyai cukup kemampuan untuk melakukannya.
Meskipun cerdas dan mempunyai banyak ilmu pengetahuan, Xiao Wu Jie tetaplah seorang anak yang sangat sedikit pengalamannya.
Itulah yang membuatnya tidak dapat berbuat banyak kepada Wakil Ketua Bou yang pengalamannya sudah sangat jauh lebih banyak darinya.
Akhirnya Xiao Wu Jie mengikuti apa yang di katakan Wakil Ketua Bou, ia memilih sebuah pedang yang cukup panjang tapi berukuran kecil, gagangnya terbuat dari kayu yang di ukir indah.
Semua murid pun juga telah memilih senjatanya masing-masing. Zhang Ma memilih sebuah tongkat logam hitam yang terlihat cukup berat, sementara Zhang Qi memilih sebuah gadah yang tidak terlalu besar.
Ternyata dari semua senjata yang ada, banyak calon murid yang memilih pedang sebagai senjata mereka, sementara tongkat adalah senjata terbanyak nomor dua yang dipilih, disusul oleh golok, ruyung, kipas dan Zhang Qi adalah satu-satunya yang memilih gada.
"Baiklah, baiklah seperti tahun-tahun sebelumnya pedang dan tongkat menjadi senjata yang paling banyak dipilih" Wakil Ketua Bou seperti sudah menduga hal ini.
* * *
(Setelah perayaan kelulusan berakhir)
"Satu bulan yang lalu, saat dalam perjalanan ke Bukit Tao melewati hutan, mendadak aku merasakan tekanan tenaga dalam yang luarbiasa, aku merasakan beban yang berat menimpa tubuhku sehingga tubuhku mati rasa." seorang pendekar yang disebut-sebut sebagai pendekar besar itu tampak sudah sangat serius dalam pembicaraannya.
Ditemani 3 guci arak dan beberapa cemilan, disebuah meja disalah satu restoran terbesar di Sekte Gunung Kembar, ia besama 2 pendekar lain yang terlihat lebih senior.
__ADS_1
Meja mereka sengaja diatur terpisah dari pengunjung yang lain, setidaknya sudah 1 jam mereka mengobrol dan suasana baru mulai memanas setelah pendekar besar itu telihat serius.
"Tidak, tidak mungkin ada seorang yang tenaga dalamnya mampu menekan mu adik Shan, sebut saja orangnya di kolong langit ini yang ilmu silatnya lebih hebat darimu!" Salah satu pendekar senior seperti tidak percaya tentang apa yang di dengarnya.
"Benar adik Shan, mungkin kau kelelahan dan merasakan badanmu terasa berat" kata pendekar senior yang satunya.
"Tidak mungkin kakak, beberapa hari sebelumnya aku tidak pernah bertarung bagaimana bisa aku kelelahan" hening sejenak, kemudian ia melanjutkan.
"Saat tidak ada lagi tekanan, aku langsung memeriksa semua tempat untuk mencari sumber dari tenaga dalam itu, aku menemukan sebuah goa tersembunyi dibalik pohon besar, gua itu seperti telah lama tidak dimasuki apapun. Setelah aku periksa memang tidak ada apapun disana."
Pembicaraan terus memanas, mereka memikirkan setiap kemungkinan yang terjadi. Masalahnya, kemungkinan yang terburuk adalah adanya penjahat dengan ilmu silat yang sangat tinggi.
Tentu saja hal itu akan menjadi ancaman besar bagi Benua Bulan Barat khususnya bagi kerajaan Bulan Besar.
Tapi sebelum memutuskan tindakan apa yang akan dilakukan, pendekar besar itu memohon diri untuk melakukan penyelidikan untuk mengumpulkan informasi.
* * *
Fikiran Xiao Wu Jie terlintas saat wajah Wakil Ketua Bou menunjukkan ekspresi tak biasa pada calon murid putri, ia merasa sangat terganggu dengan pemandangan itu.
Sejak kecil Xiao Wu Jie sering bepergian dengan ibunya, ia banyak melihat laki-laki dewasa yang mempunyai pandangan tidak biasa kepada wanita.
Waktu itu di malam hari suatu peristiwa pernah terjadi, seorang wanita mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan dari beberapa orang laki-laki.
Sebelum peristiwa itu Xiao Wu Jie yang sedang bersama ibunya pergi kesebuah toko yang terletak di dekat perbatasan sekte.
Hari sudah sore, di perjalanan mereka bertemu seorang wanita cantik yang kebetulan hendak pergi ke toko itu.
"Hai kakak Biyu, kau mau ketoko juga? aihh si tampan Xiao Wu Jie juga di ajak yah" Wanita cantik itu menyapa sedikit berbasa-basi pada mereka, ia juga mengedipkan matanya ke Xiao Wu Jie dengan genit.
"Iya Lin aku dengar banyak diskon hari ini" Li Biyu tersenyum ramah kepadanya.
__ADS_1
"Sudah aku sangka, ayo ayo kita bersama kesana, aku juga mau mencari beberapa barang"
Saat tidak jauh dari toko, Xiao Wu Jie yang mengikuti dari belakang melihat sekelompok orang laki-laki dewasa yang memperhatikan mereka dari jauh.
Xiao Wu Jie menyadari tatapan itu bukan diarahkan kepada ia dan ibunya melainkan wanita cantik yang diketahui bernama Xin Lin itu.
Tatapan itu bukan tatapan wajar yang biasa melainkan seperti tatapan hewan buas seolah ingin menerkam mangsa, Xiao Wu Jie pun merasa jeri melihat tatapan mereka.
Tatapan itu mengiringi mereka sampai mereka tiba di depan pintu toko. Setelah selesai berbelanja, saat keluar dari toko sekelompok orang itu masih terlihat disana.
Mereka terlihat sedang mengobrol namun sesekali beberapa orang melihat kearah mereka. Setelah cukup jauh dari toko mereka pun berpisah.
Xiao Wu Jie sempat melihat sekelompok orang tadi bergerak kearah mereka, ia merasa ada yang aneh.
"Ibu apakah paman-paman tadi orang jahat? mereka terlihat seperti mempunyai niat jahat kepada kakak Lin" karena penasaran Xiao Wu Jie bertanya pada ibunya.
"Mereka hanya orang-orang sekte yang suka berada di sekitaran toko, jangan terlalu mencurigai mereka. Ayo kita jalan lebih cepat, paman mu pasti sudah menunggu kita"
"Tapi ibu, Wu Jie merasa mereka memang berniat jahat pada kakak Lin" Xiao Wu Jie kembali mengingatkan.
kemudia Li Biyu menghentikan langkahnya sebentar, ia berusaha meyakinkan Xiao Wu Jie bahwa tidak akan ada yang terjadi pada Xin Lin.
Setelah makan malam, Xiao Wu Jie yang saat itu sedang berada di ruang latihannya tidak sengaja mendengar percakapan ibu dan pamannya.
"Tadi sore Wu Jie mengatakan mereka seperti mempunyai maksud jahat pada Xin Lin, tapi aku bodoh tidak mempercayainya" dari suaranya Li Biyu terlihat sedih dan penuh penyesalan.
"Tidak usah kau sesali Biyu, itu bukan salahmu" Li Hong menenangkannya.
Keesokan paginya Sekte Gunung Kembar digemparkan sebuah kabar bahwa seorang wanita tewas gantung diri setelah mengalami pemerkosaan dan ia adalah Xin Lin.
Semenjak saat itulah Xiao Wu Jie merasa tidak terbiasa dengan tatapan yang kurang menyenangkan itu.
__ADS_1