Puncak Pendekar Keabadian

Puncak Pendekar Keabadian
CHAPT 12. Rencana Balas Dendam


__ADS_3

"Bukankah sudah aku katakan tadi, mengapa kau tetap memilih senjata itu?!" Zhang Ma terlihat kesal pada Zhang Qi.


"Aku lihat senjata itu bagus, makanya aku ambil saja" Zhang Qi memasang muka polos tidak berdosa, ia sebenarnya ingin memilih tongkat juga tapi tidak jadi karena sangat tertarik dengan keindahan gada itu.


"Sebaiknya besok kau urungkan niatmu memakai senjata itu! ingatlah sejak kecil kita sudah terbiasa berlatih memakai tongkat" Zhang Ma merasa gemas atas sikap Zhang Qi, ia berfikir kalau saja bukan adiknya sudah ia kempiskan badannya yang gemuk gempal itu sejak tadi.


"Baiklah, besok aku akan ganti senjata itu dengan tongkat" kali ini ia memasang muka masam, kemudian ia tiba-tiba mengeluh "Uhh saudara Wu apakah kau punya sedikit makanan? aku sangat lapar setelah mendengar ocehan kakak ku".


"K...kau ini benar-benar adik yang kurang ajar" Akhirnya pertengkaran tak dapat di hindari lagi, pertengkaran itu membuat Zhang Qi sudah tidak lagi mempunyai nafsu makan.


Malam hari asrama mereka diwarnai dengan pertengkaran kedua bersudara itu, sementara Xiao Wu Jie tampak sedang asik dengan lamunannya, ia memikirkan cara balas dendam kepada Wakil Ketua Bou.


"Hei saudara Wu, apa yang sedang kamu lamunkan? apakah ada wanita cantik yang sedang kau taksir? haha" Setelah pertengkaran dengan saudaranya usai Zhang Qi menggoda Xiao Wu Jie untuk menghibur dirinya.


"Haha tidak, aku sedang memikirkan cara membalas si Wakil Ketua Bou itu, ups!" karena lamunannya Xiao Wu Jie bicara tanpa mencerna situasi.


Zhang Ma dan Zhang Qi saling berpandangan sejenak setelah itu mereka buru-buru menyerang Xiao Wu Jie dengan pertanyaan.


"Aihh baiklah baiklah karena sudah terlanjur. Aku berencana mengerjai Wakil Ketua Bou yang mata keranjang itu" Kata-kata Xiao Wu Jie membuat keduanya melongo.


"Apa maksudmu saudara Wu? bukankah ia terlihat sangat berwibawa, mana mungkin ia mata keranjang, darimana kau tau?!" Kata Zhang Qi tidak percaya.


"Ahh rupanya aku mengerti, aku sempat merasakan sesuatu yang aneh darinya tapi tidak terlalu aku fikirkan" Kata Zhang Ma setengah yakin pada pernyataan Xiao Wu Jie.


Xiao Wu Jie meyakinkan mereka dengan bercerita tentang apa yang ia lihat dan rasakan pada Wakil Ketua Bou saat di aula, Zhang Ma dan Zhang Qi tampak serius menyimak.

__ADS_1


"Oh kalau begitu, apa rencanamu saudara Wu? aku jadi sangat ingin membantumu" Zhang Qi memperlihatkan antusiasnya.


"Aihh sebaiknya kalian tidak terlibat, karena sangat berbahaya mengingat si Wakil Ketua Bou itu sangat cerdas"


"Wah wah apakah kau meragukan kecerdasan kami saudara Wu?" Zhang Qi merasa agak sebal, ia merasa tidak mau ketinggalan jika berhubungan dengan mengerjai seseorang karena itu kegemarannya.


"Bukan begitu sudara Qi. Aihh baiklah jika kau tidak masalah, bagaimana dengan mu saudara Ma?" Xiao Wu Jie bertanya kepada Zhang Ma yang terlihat sedang berfikir.


Xiao Wu Jie juga berfikir tidak ada salahnya mereka terlibat, mungkin bisa banyak membantunya.


"Hmmm katakan dulu apa rencanamu, barulah aku bisa setuju" Zhang Ma memberi syarat.


Akhirnya mereka bertiga berdiskusi, Xiao Wu Jie tampak serius menjelaskan rencana yang telah ia siapkan kepada dua bersaudara itu. Zhang Ma juga terlihat serius sementara Zhang Qi tersenyum sepanjang penjelasan seolah nafsu liarnya bergejolak.


Setelah rencana itu disepakati oleh kedua bersaudara Zhang, Xiao Wu Jie kembali meyakinkan mereka bahwa tindakan ini adalah untuk membela kebenaran.


Zhang Qi dan Zhang Ma sudah pulas setelah mendengarkan penjelasan panjang Xiao Wu Jie tadi, tapi Xiao Wu Jie masih tetap terjaga, ia menghampiri jendela dan memandang kearah langit yang dihiasi purnama, kali ini fikirannya benar-benar kosong.


* * *


Bulan purnama bersinar indah, cahaya lembut melambai-lambai kepada pungguk sang perindu, namun seketika menutupi diri dengan awan tanda malu akan keindahan paras sosok seorang gadis yang sejak tadi menatapnya.


Dibawah naungan langit itu, sang gadis terlihat sedang melamun bersandar dagu pada sanggahan telapak tangannya.


Sekilas sorot mata lentiknya berbinar karena pantulan cahaya lentera, bibir merahnya tercetak dengan sempurna, maka lihatlah saat ia memainkan bibir itu, sekilas terukir bayangan lesung manja pada kedua pipinya.

__ADS_1


Saat langit sempurna diliputi awan gelap, kulit mulus saljunya sedikitpun tidak pudar, setiap jengkalnya ialah keindahan surga yang akan menundukkan setiap pemuda.


Sungguh pemandangan yang indah disebuah tempat bernama Sekte Dewi Bulan, dinamai sesuai dengan sejarahnya yang terbentuk saat seorang anak perempuan sangat cantik lahir di bulan purnama dan sinar terpancar dari tubuhnya.


Sekte ini bukanlah sebuah sekte besar, melainkan sekte menengah yang berada dibawah perlindungan Kerajaan Bulan Merah.


Terletak dibalik Bukit Tao sekte ini mempunyai tempat yang sangat luas dan indah.


Sekte yang semua anggotanya adalah wanita cantik ini tidak pernah mengizinkan laki-laki memasuki wilayahnya.


Anggota sekte ini sangat terisolasi dari kehidupan luar, hanya Ketua Sekte saja yang dapat bebas keluar masuk, para anggota hanya diperbolehkan keluar saat perekrutan anggota baru.


Ada satu hal yang spesial di sekte ini, mereka mempunyai kolam sumber air yang tidak pernah kering yang berkhasiat membuat awet muda selama bisa meminumnya setiap 6 bulan sekali.


Mereka juga menjual air itu secara bebas dengan harga yang cukup fantastis. Dari penjualan itulah pendapatan sekte ini berasal yang menjadikannya sekte menengah paling kaya raya yang sangat di lindungi Kerajaan Bulan Merah.


Gadis tadi adalah salah satu murid disana, ia adalah seorang yatim piatu yang kedua orang tuanya tewas di depan matanya akibat penyerangan yang terjadi di desanya.


Ia ditemukan disebuah jurang setelah sempat kabur dari kejaran bandit-bandit itu dan diselamatkan oleh ketua Sekte Dewi Bulan yang saat itu sedang melintas.


Ia kini sudah sembuh total setelah sempat mengalami guncangan yang hebat akibat kejadian buruk yang menimpanya.


Ketua Sekte sangat menyayanginya, ia selalu mendapat perhatian lebih, terlebih karena ia anak yang baik, cantik, cerdas, lagi penurut yang selalu menjadi panutan dan kekaguman bagi murid lain.


Setiap purnama ia selalu memandangi langit seperti saat ini, hal yang biasa ia lakukan bersama ibunya saat masih berada di desa.

__ADS_1


Ia memang merasakan kepedihan yang mendalam, namun anehnya ia tidak merasakan dendam apapun pada bandit yang menyerang desanya.


* * *


__ADS_2