
"Apa yang sedang kau lakukan disini?" Kata sosok yang berada di belakang Xiao Wu Jie, membuat ia terkejut setengah mati.
Segera saja ia melipat kain itu dan menggenggamnya erat. Keringat dingin mulai membasahi wajahnya sebelum ia sempat menoleh kebelakang.
Xiao Wu Jie menutup matanya, mencoba sekuat tenaga untuk tetap tenang, ia mengatur nafasnya lalu segera menoleh kearah suara sosok di belakangnya.
Secepat kilat ia berfikir mencari cara keluar dari situasi yang berbahaya ini. Setelah menoleh dan melihat sosok itu ia menggenggam kain itu semakin erat.
Wajah sosok itu tidak pernah ia lihat sebelumnya, meskipun remang tapi wajahnya cukup jelas terlihat. Wajah sosok itu tua, seluruh rambut, jenggot dan kumisnya panjang beruban dan wajah sosok itu memancarkan aura yang sangat mempengaruhi.
Xiao Wu Jie mencoba mengingat siapa sosok itu, ia ingat kemarin saat mengobrol dengan dua bersaudara Zhang, ia sempat bertanya tentang sosok Ketua Akademi. Salah satu yang menonjol dari ciri-cirinya selain seluruh rambut, jenggot dan kumisnya adalah uban, di dahinya ada sebuah tahi lalat hitam besar.
Tidak salah lagi itu adalah ketua akademi, dan tentu saja setelah mengingatnya perasaan Xiao Wu Jie menjadi semakin tidak tenang.
'Apa yang harus aku katakan' kemudian sebuah ide muncul dalam fikiran Xiao Wu Jie.
"Maaf kakek aku mau bertemu Wakil Ketua Bou" Xiao Wu Jie berbicara dengan lancar, ia berhasil menutupi kegugupannya dengan sempurna.
"Ada apa sepagi ini bertemu dengannya? apa kau mau mencoba menipuku anak muda?! apa itu di datanganmu coba ku lihat!"
Kali ini Xiao Wu Jie gugup setengah mati, kalau sampai kain itu dilihat Ketua Akademi maka tamatlah riwayatnya.
"Ahh ini bukan apa-apa, hmm aku sama sekali tidak mengenal kakek kenapa aku harus menjelaskannya, aku harus bertemu Wakil Ketua Bou sekarang" Xiao Wu Jie hampir kehilangan kepercayaan dirinya setelah Ketua Akademi hendak mengambil paksa kain itu, namun tiba-tiba.
__ADS_1
"Rupanya kau disini, bukankah sudah ku bilang untuk menemuiku dahulu, kenapa kau tidak mendengarkanku anak muda" Suara sosok itu tidak asing di telinga Xiao Wu jie.
"Tetua Yang San ada apa ini?" kata Ketua Akademi pada sosok yang dikenali sebagai Yang San itu.
Yang San adalah tetua yang kemarin berada di aula bersama Wakil Ketua Bou, seingat Xiao Wu Jie kemarin ia adalah orang yang cukup pendiam dan tidak banyak bicara.
Memahami situasinya Xiao Wu Jie bermaksud memanfaatkan moment yang bisa membalikkan keadaan ini.
"Ah maafkan aku tetua Yang, kakek ini tidak mau mengizinkan ku bertemu Wakil Ketua Bou" Mendengar kata 'Kakek' dari mulut Xiao Wu Jie, Yang San hampir tersedak emosinya, jika saja situasinya berbeda maka sudah ditempelengnya kepala Xiao Wu Jie saat mengatakan itu.
'Apakah dia sudah tidak waras, tapi kenapa Ketua Akademi terlihat biasa saja?' ia bertanya dalam hati. Lalu ia melihat kain yang Xiao Wu Jie bawa.
"Ahh itu kain yang kuberikan bukan? kenapa kau memintanya? apa yang ingin kau lakukan dengan kain itu?"
"Hentikan! apa yang sebenarnya kalian bicarakan?!" Ketua Akademi bingung dengan situasi yang terjadi.
"Begini kakek, aku teringat kalau hari ini adalah hari peringatan kematian kakek ku Li Ming, jadi aku bermaksud untuk memperingati hari ini bersama seluruh orang di akademi sebagai tanda penghormatan padanya" Entah kenapa Xiao Wu Jie bisa terfikir untuk mengatakan hal itu seolah tak bisa memikirkan alasan yang lain.
"Aihh rupanya kau ini Xiao Wu Jie cucu dari Li Ming sahabatku? kenapa kau tidak bilang dari tadi, aku bisa membantumu" Mau tidak mau ketua akademi percaya setelah Xiao Wu Jie menyinggung tentang sahabatnya itu.
Xiao Wu Jie tampak tidak percaya alasannya bisa diterima oleh Ketua Akademi, bahkan ia juga belum pernah mendengar cerita dari ibu dan pamannya kalau ketua akademi adalah sahabat kakeknya.
"Baik hari ini aku akan memanggil seluruh tetua, sebaiknya kita memperingatinya bersama-sama" ucap Ketua Akademi sebelum ia pergi.
__ADS_1
"Aku sudah mengetahui apa yang hendak kau lakukan, aku mencoba menghentikan niatmu karena ku fikir itu sangat berbahaya untuk mu" Yang San sudah mengetahui fikiran Xiao Wu Jie sejak awal, ia juga tau apa yang dilakukan Xiao Wu Jie di aula adalah karena sikap Wakil Ketu Bou.
"Jadi maksud tetua?"
"Mari ikut aku dulu, sangat berbahaya jika berbicara disini" Akhirnya Xiao Wu Jie diajak ke kediaman Yang San.
Saat memasuki kediamannya, yang pertama kali Xiao Wu Jie saksikan adalah banyak buku yang tertata rapi di rak yang mengelilingi hampir seluruh ruangan yang cukup luas itu.
Diatas meja ada sebuah peta Kerajaan Bulan Besar dan sebuah kompas aneh yang terbuat dari besi.
Xiao Wu Jie hendak bertanya tentang kompas itu, namun ia segera mengurungkan niatnya setelah Yang San mulai berbicara.
"Benar apa yang kau fikirkan tentangnya, aku bahkan sulit mempercayai diusia dirimu yang masih sangat muda kau mampu membaca karakter seseorang dalam selintas mata. Namun tindakanmu masih terlalu kekanakan" hening sejenak dan Yang San melanjutkan.
"Aku yakin kau pasti sangat cerdas, tapi mengingat usia dan pengalamanmu kau masih harus banyak belajar, bukan begitu cara untuk menjatuhkan lawan yang lebih kuat darimu, kau akan membahayakan dirimu sendiri"
"Apakah tetua mempunyai cara?" tanya Xiao Wu Jie.
"Akan ada banyak waktu memikirkannya, sebenarnya sudah banyak cara yang kulakukan untuk menghentikan kegialaannya itu namun ia terlalu kuat. Kau masih calon murid disini, tidak akan ada kesempatan jika kau membuat masalah. Sebaiknya kau fokus dengan latihanmu"
Xiao Wu Jie mulai berfikir bahwa yang dikatakan tetua Yang ada benarnya, ia tidak ingin membuat masalah yang akan mengancam dirinya.
"Ahh jika kau ada waktu, sempatkan ketempatku. Disini aku dikenal sebagai ahli strategi perang dan politik, jika kau ingin belajar, dengan kecerdasanmu aku yakin tidak akan sulit mengajarimu" Setelah itu Yang San pergi entah kemana setelah berpesan agar Xiao Wu Jie menetap di kediamannya sampai lonceng berbunyi.
__ADS_1