Puncak Pendekar Keabadian

Puncak Pendekar Keabadian
CHAPT 29. Kegagalan Pertama


__ADS_3

"Hmm maafkan aku, tapi aku belum menemukan cara lain untuk membantumu." Tampak raut wajah bersalah di tunjukkan oleh Yang San.


Xiao Wu Jie hanya tersenyum kecut, sebenarnya ia tidak menyalahkan gurunya itu karena belum menemukan cara membantunya membuka saraf Qi yang pertama.


Sudah dua minggu ini setiap selesai berlatih meramu ramuan obat Xiao Wu Jie menyempatkan datang ke kediaman Yang San untuk berkonsultasi.


Berbagai cara sudah dilakukan Yang San untuk membantu Xiao Wu Jie namun hasilnya nihil.


Yang San juga sempat merasa sangat heran karena semua cara yang ia lakukan tidak membuahkan hasil, padahal cara-cara itu ia dapatkan dari pengalaman para pendahulu yang mempunyai masalah yang tidak jauh berbeda dengan Xiao Wu Jie.


"Tidak apa-apa guru, aku masih mempunyai waktu satu bulan lagi, hingga saat itu jika aku tidak berhasil aku siap menerima takdirku." Xiao Wu Jie hanya dapat tersenyum pahit, di dalam hatinya ia sangat kecewa kepada dirinya sendiri.


"Kau benar, tapi aku akan terus mencoba membantumu semampuku." Yang San hanya tidak ingin Xiao Wu Jie kehilangan harapan dengan mengatakan itu.


"Terimakasih guru."


Begitulah kedua guru dan murid itu hanya duduk diam setelahnya. Hanya ada sedikit obrolan dan lebih banyak terhanyut dalam dilema perasaan masing-masing di tenami cangkir teh yang masih penuh dan suasana yang tenang di kediaman Yang San.


* * *


Tak terasa satu minggu lagi ujian kedua akan di adakan, dalam tiga minggu terakhir calon murid lebih di fokuskan untuk berlatih tentang teknik dasar dalam meramu obat.


Semuanya berlatih dan belajar tanpa kenal lelah, karena pengalaman dari tes sebelumnya telah mengajarkan mereka tentang sebuah persaingan. Jika ingin sebuah pencapaian maka tidak ada jalan selain terus mengasah kemampuan.


Pada minggu pertama sampai minggu kedua, semua calon murid di tempatkan dalam satu ruangan yang sama.


Di minggu pertama, semua calon murid di berikan wawasan mengenai jenis ramuan obat, khasiat dan bahan-bahan pembuatan ramuan obat seperti jenis tanaman obat dan bahan material pendukung dalam membuatnya.

__ADS_1


Di minggu kedua mereka mempelajari cara mencampurkan bahan dan tekhnik dasar meracik ramuan obat.


Sampai tibalah di minggu ketiga, ruangan calon murid harus di pisah. Masing-masing mereka di tempatkan di ruangan khusus yang kedap suara dan telah disediakan tungku manual untuk praktik pembuatan ramuan obat.


Hal ini di lakukan karena dalam praktiknya pembuatan ramuan obat haruslah di tempat yang tenang dan tertutup agar calon murid dapat lebih berkonsentrasi, jika terjadi sedikit kesalahan bahkan gagal, akan mengakibatkan tungku akan meledak dan letusannya akan sangat mengganggu konsentrasi calon murid yang lain.


Meskipun terbilang praktik mereka masih sangat dasar, nyatanya hampir semua calon murid belum bisa melakukannya dengan benar, bagi sebagian mereka itu, meramu obat termasuk keahlian yang sangat sulit di pelajari.


Saat ini sebagian calon murid sedang berada di ruangan masing-masing, setelah diberikan instruksi ramuan yang akan di buat untuk hari ini, semuanya di persilahkan memilih satu ruangan yang akan di pakai untuk praktik.


Setelah beberapa jam berlalu, salah seorang calon murid yang belum diketahui identitasnya sejak tadi masih berada di dalam salah satu ruangan membuat kehebohan.


Terlihat banyak calon murid yang berkumpul di depan pintu ruangan itu dan beberapa diantaranya berusaha memanggilnya namun tidak ada jawaban.


Liu Chang Hai datang dengan tergesah-gesah saat mendengar keributan itu. Ia segera bertanya pada salah satu calon murid yang menjadi saksi atas kejadian itu "Ada apa ini? kenapa kalian semua berkumpul disini? apakah ada sesuatu yang terjadi dengan calon murid yang ada di ruangan ini?"


"Hmm apa yang terjadi sebenarnya." Ia bergumam. Liu Chang Hai mengelus dagunya sebentar lalu segera mengambil sikap, awalnya ia berusaha memanggil calon murid yang berada di dalam ruangan itu dengan tenaga dalamnya, setelah berulang kali melakukannya namun tidak ada respon dari dalam, maka secepatnya ia mendobrak pintu itu dengan serangan tapak.


Serangan tapak itu jika di saksikan terlihat sangat pelan namun tidak demikian dengan hasilnya. Pintu itu seketika hancur menjadi serpihan yang kecil, tentu hal itu membuat semua calon murid yang ada disana menahan nafasnya.


Asap hitam pekat mengepul keluar dari ruangan itu, Liu Chang Hai segera memeriksa setiap sudut ruangan dari depan pintu masuk saat asap sudah mulai menipis.


Tampaklah seorang calon murid putra dengan balutan asap hitam di sekitarnya tersenyum memperlihatkan giginya yang putih saat melihat Liu Chang Hai yang berada di hadapannya.


Liu Chang Hai menatapnya aneh "Apa kau baik-baik saja? aku kira kau sudah pingsan anak muda kenapa kau tidak mau membuka pintu saat semua orang memanggilmu?!"


"Murid baik-baik saja, maaf tetua Chang bukannya murid tidak mau membuka pintu, tapi saat itu asap hitam masih mengepul murid tidak sanggup membuka mata untuk berjalan kearah pintu dan murid juga sudah berusaha merespon tapi ruangan ini kedap suara." Calon murid itu memberi penjelasan tanpa kesulitan.

__ADS_1


"Sudah lupakan, yang terpenting kau tidak apa-apa. Ayo ikut aku sebentar..."


* *


"Setelah ini cepat ganti pakaianmu dan pergilah ke ruangan yang lain, ingatlah lain kali untuk lebih berhati-hati."


Setelah menjelaskan apa yang terjadi calon murid itu segera beranjak pergi ke asramanya untuk mengganti pakaian.


Calon murid itu tidak lain adalah Xiao Wu Jie. berdasarkan penjelasannya tentang apa yang terjadi, Xiao Wu Jie tidak sengaja mencampur bahan yang salah sehingga mengakibatkan letusan.


Sebenarnya Xiao Wu Jie saat itu sedang membuat ramuan tingkat kedua, itulah alasan mengapa letusannya bisa lebih kuat.


Itu adalah kegagalannya yang pertama, pada dasarnya Xiao Wu Jie sudah beberapa kali berhasil membuatnya meskipun mereka calon murid hanya baru di ajari membuat ramuan tingkat pertama pada saat latihan.


Xiao Wu Jie memilih untuk merahasiakannya dan menjelaskan jika ia saat itu sedang membuat ramuan tingkat pertama dan mencampurkan bahan secara berlebihan membuat letusannya jauh lebih besar. Penjelasan itu dapat di terima oleh Liu Chang Hai karena cukup masuk akal.


Namun alasan yang sebenarnya Xiao Wu Jie secara tak sadar terus memikirkan tentang kondisinya yang tak kunjung berhasil membuka saraf Qi pertamanya, membuat Xiao Wu Jie hampir tak dapat berkonsentrasi pada latihannya akhir-akhir ini.


Setelah membersihkan tubuh dan mengganti pakaian Xiao Wu Jie pergi ke ruangan lain untuk memulai kembali praktiknya.


"Agar tidak terjadi hal seperti tadi sebaiknya aku berkonsentrasi membuat ramuan tingkat pertama saja..." Gumamnya.


Ramuan obat terbagi atas 7 tingkatan dari tingkat terendah sampai tingkat tertinggi. Raga, Raga Inti, Roh, Roh Inti, Roh Murni, Roh Dewa dan Dewa Sejati.


Semua tingkatan itu di bedakan berdasarkan kemampuannya dalam menyembuhkan penyakit bahkan jika termasuk dalam tingkatan roh murni atau tingkat ke lima, ramuan itu memiliki khasiat dapat memperkuat saraf Qi yang dapat membantu seorang pendekar mempercepat pelatihannya.


Namun di Benua ini hanya ada segelintir saja yang mampu membuat ramuan sampai tingkatan itu. Mereka dikenal sebagai Tabib Bulan Sakti dan semuanya mendapat kedudukan yang tinggi di setiap kerajaan bahkan di kekaisaran yang ada di Benua Bulan Barat ini.

__ADS_1


__ADS_2