Puncak Pendekar Keabadian

Puncak Pendekar Keabadian
CHAPT 19. Kembali Kerumah


__ADS_3

"Tadi aku mendapat kabar, Xiao Shan tengah menjalani misi yang penting, aku tidak tau jelas misi seperti apa itu. Mungkin, akan butuh waktu yang lama bagi Xiao Shan untuk kembali ke sekte"


Ekspresi Li Biyu seketika berubah buruk "Aku tidak mengerti lagi, aku sudah sering kali meminta agar ia segera berhenti menerima misi-misi itu. Wu Jie itu butuh sosok ayah tapi dia.. dia hanya peduli masalah orang lain!" Matanya memerah dan berlinangan air mata.


Li Hong baru sadar bahwa kondisi Li Biyu sekarang belum siap menerima kabar itu, ia tidak menduga akan menjadi masalah seperti ini.


Li Hong mendekat dan meletakkan kedua telapak tangannya di masing-masing pundak Li Biyu berusaha menenangkan "Biyu, kamu harus tau suamimu itu memegang tanggung jawab yang besar. Aku yakin Xiao Shan pasti terus memikirkanmu dan Wu Jie, tapi kerajaan membutuhkannya"


"Aku tau itu tapi lihatlah, sudah 10 tahun ini ia jarang pulang kerumah, dari Wu Jie lahir hingga sekarang tidak ada sosok ayah yang mengajarinya apapun" Kali ini nafas Li Biyu tersendat-sendat. Suasana diliputi keheningan yang diperburuk oleh tangisan Li Biyu.


"Kau harus tau Biyu, Xiao Shan juga sangat menderita dengan tanggung jawabnya. Aku tau itu karena ia sendiri pernah memberitahuku bahwa ia sangat merindukan kalian" Perkataan Li Hong laksana petir di telinga Li Biyu.


Li Biyu memejamkan matanya dan merapatkan giginya mencoba menahan perih, ia baru sadar telah melakukan kesalahan dengan berfikir buruk tentang suaminya itu "Ahh... suamiku yang malang".


Li Hong pangsung beranjak pergi ke kamarnya membiarkan Li Biyu sendirian agar dapat menenangkan diri.


Sebenarnya fikiran Li Hong juga berkecamuk dan perasaannya tidak enak dengan keadaan yang menimpa keluarganya.


"Ayah mohon maafkan aku yang belum bisa menjaga keluarga ini dengan baik" tanpa terasa air mata membendung ujung matanya.


Tok tok tok (suara pintu diketuk)


Li Biyu sudah merasa cukup tenang setelah dibiarkan sendiri oleh Li Hong. Maka ia sendiri yang membuka pintu rumah.


Ruang depan dan teras memang cukup gelap, tidak ada penerangan karena lampion dan pelita disana sudah tidak lagi berfungsi. Namun sekitar masih terlihat karena terbantu cahaya dari ruangan lain.

__ADS_1


Saat membuka pintu, mata Li Biyu terbuka lebar setengah terkejut melihat siapa yang datang.


"Hey kenapa mata ini? apakah kau habis menangis sayangku?"


Li Biyu ambruk di pelukan tamu tak diundang itu, mau tak mau air matanya kembali merembes. Perasaan senang dan terharu cukup untuk mengungkapkan perasaannya saat ini.


"Kau.. kau kenapa begitu cepat kembali?" kata Li Biyu sesenggukan.


"Hey hey sudah... kenapa masih menangis, ayo hentikan itu sekarang" Tamu itu mencium kening dan pipi Li Biyu dengan perasaan sayangnya.


Li Biyu kali ini seakan tidak ingin melepaskan pelukannya seolah sudah lama sekali tidak bertemu dengan si tamu.


Li Hong yang sebelumnya belum tidur, karena mendengar percakapan di ruang depan membuatnya secepat mungkin kesana. "Shan kau sudah kembali, ada apa dengan misimu? haa atau kau sudah menyelesaikannya. Ayo ceritakanlah"


Li Biyu spontan melepaskan pelukannya dan Li Hong membalas dengan senyum yang lebih canggung, keduanya lupa untuk mempersilahkan Xiao Shan masuk dahulu karena perasaan mereka.


Xiao Shan segera permisi ke kamarnya diikuti oleh Li Biyu yang dengan segera pergi ke dapur untuk mempersiapkan makan malam bagi Xiao Shan.


Sementara Li Hong menunggu di meja makan yang sudah tersedia arak di atas mejanya. Ketiganya tampak sibuk dengan kegiatan masing-masing.


Di kamar, Xiao Shan telah selesai mengganti pakaiannya, pedang yang ia bawa juga sudah diletakkan di sudut ruangan setelah mengelus sayang pada sarung dan gagangnya.


Namun saat hendak keluar kamar, ia teringat sesuatu. Dengan cepat ia mengambil pedang disudut ruangan dan mengeluarkan pedang itu dari sarungnya.


"Charrrrr" suara saat pedang itu di tarik keluar.

__ADS_1


Mulut Xiao Shan terbuka lebar untuk waktu yang cukup lama "Apa yang terjadi! oh pedang kesayanganku kenapa bisa begini"


Rupanya pedang Xiao Shan telah berubah menjadi butiran besi yang menyerupai pasir. Bukan main ekspresi terkejut dan tidak percaya yang ditunjukkan Xiao Shan.


Xiao Shan memikirkan setiap kemungkinan yang terjadi sampai teringat pada pendekar senior yang sebulan yang lalu bertemu dengannya.


Xiao Shan menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya "Aku telah melakukan kesalahan"


* * *


Pendekar Senior menikmati teh dan obrolan yang cukup menyenangkan, tak terasa sudah 2 jam ia bercerita.


Sementara Xiao Shan tidak lagi menikmati obrolan, ia hanya menanggapi sekedarnya saja. Alasannya Xiao Shan merasa banyak sekali kejanggalan dan sesuatu yang sulit ia terima dari cerita si pendekar senior.


Pertama Xiao Shan belum pernah mendengar di dicatatan manapun tentang adanya dimensi lain di dunia ini. Kedua tentang usia pendekar senior itu yang mencapai 270 tahun dan ketiga dari nama senior itu yang tak pernah terdengar di Benua Bulan Barat ini.


Xiao Shan merasa ragu, bagaimana mungkin ada seseorang yang mempunyai kehebatan tinggi namun tak pernah terendus kabarnya di dunia persilatan, setidaknya ia berasal dari perguruan atau sekte tertentu.


Karena untuk dapat berkembang dan mempunyai ilmu silat yang tinggi, seorang harus tercukupi dengan sumberdaya untuk membantu dalam latihan.


Seperti Xiao Shan sumberdaya yang ia dapatkan berasal dari sekte dan kerajaan, sehingga ia berhasil mengembangkan ilmu silatnya sampai ke tahap seperti sekarang selain dari kecerdasan dan kemampuannya sendiri.


Xiao Shan juga bersasumsi bahwa pendekar senior itu hanya membual tentang latar belakangnya dan kehebatannya.


Bahkan Xiao Shan mengira-ngira bahwa ilmu pendekar itu hanya sedikit diatasnya dan mempunyai ramuan yang dapat membuatnya mampu mengeluarkan tenaga dalam yang lebih besar.

__ADS_1


__ADS_2