
Suasana pagi di Akademi Sekte Gunung Kembar memang seperti sebuah lukisan yang indah jika dilihat dari atas.
Kabut masih pekat sehingga hanya menyisakan sebagian kecil bagian yang menjulang tinggi, dihiasi bangunan Akademi yang megah di puncaknya.
Pagi itu lonceng berdenting kencang, semua calon murid segera bersiap dengan hari ke-2 mereka di Akademi. Xiao Wu Jie tidak tampak lagi di asrama sejak tadi, Zhang Ma yang baru saja melek tersenyum.
"Rupanya sudah dimulai"
* * *
Pagi itu langit masih gelap, belum ada tanda-tanda matahari akan muncul. Xiao Wu Jie bangun lebih awal dan segera bersiap memakai seragam yang telah disediakan akademi untuk semua calon murid.
Zhang Ma dan Zhang Qi terlihat masih terlelap. Setelah selesai bersiap ia segera pergi keluar. Ia membuka pintu dengan sangat hati-hati, setelah pintu terbuka diperhatikannya keadaan sekitar.
Sepi sekali saat itu, semua tempat masih remang diterangi cahaya lentera yang menempel di dinding.
Xiao Wu Jie mengendap-ngendap seperti seorang pencuri, ia hanya terlihat membawa selembar kain, ia terus memperhatikan kakinya agar tidak terdengar suara langkahnya berjalan.
Ia hendak menuju kediaman Wakil Ketua Bou berbekal petunjuk dari Zhang Ma semalam yang tau persis semua struktur bagian dalam akademi.
Langkahnya semakin pasti saat ia berhasil melewati lobi asrama namun tidak sedikitpun mengurangi kewaspadaannya.
Ia semakin mempercepat gerakannya setelah sebelumnya sekali lagi memperhatikan keadaan sekitar.
Akhirnya Xiao Wu Jie sudah berada di depan pintu kediaman Wakil Tetua Wu. Sesuai keterangan Zhang Ma, pintunya memiliki ukiran bunga teratai.
__ADS_1
Segera ia membuka kain yang ia bawa, Xiao Wu Jie berniat menempelkannya pada pintu kediaman Wakil Ketua Bou setelah sebelumnya memeriksa kembali kain itu.
Tak! tak! tak!
Tiba-tiba suara langkah kaki terdengar persis berada di belakangnya.
* * *
Zhang Ma dan Zhang Qi segera merapikan keadaan tempat tidur yang berantakan, semula Zhang Qi masih malas untuk bangun, tapi Zhang Ma melakukan trik kecil yang biasa ia lakukan untuk membuatnya bangun.
"Ohh jadi kau tidak mau bangun ya, jangan salahkan aku jika jatah sarapanmu aku ambil" Zhang Ma berbisik di telinga Zhang Qi yang saat itu hanya sedang menutup matanya saja.
Seketika Zhang Qi langsung terbangun dan berteriak "Jangan...!" Zhang Ma hanya terkekeh geli melihat tingkah saudaranya itu.
Setelah siap, mereka langsung pergi menuju aula.
Ekspresi wajahnya tenang seolah tidak terganggu dengan setiap pandang mata yang menatapnya.
"Gawat! ini benar-benar gawat! apakah saudara Wu sudah ketahuan kakak Ma?!" Seketika keringat dingin membanjiri tubuh Zhang Qi, ia terlihat sangat ketakutan. Zhang Ma juga terlihat gelisah, ia tidak bisa berfikir saat itu.
"Semoga tidak terjadi apapun, jika tidak kita juga berada dalam masalah yang besar".
"Kak kau jalan duluan saja, aku sangat takut"
"Hey tenangkan dirimu! jangan terlihat panik, atau kita akan lebih cepat ketahuan!!!" Zhang Ma berkata dengan setengah berbisik.
__ADS_1
"Huh! coba kau berkaca, wajahmu juga tidak kelihatan baik-baik saja" Ekspresi wajah Zhang Qi masam.
Meskipun berusaha keras mencoba untuk tenang, namun tak dapat di pungkiri, ekspresi wajah Zhang Ma juga terlihat sangat buruk, jantungnya terasa mau copot.
Zhang Ma dan Zhang Qi kini sudah berada dalam barisan, semua calon murid tampak betanya-tanya tentang apa yang sedang terjadi, mereka mulai berfikir bahwa Wakil Ketua Bou ingin menghukumnya atas kejadian di aula kemarin.
Zhang Qi tidak sengaja mendengar sebuah percakapan "Kelihatannya dia akan dihukum" Kata seorang calon murid putri pada teman-temannya.
"Aku yakin pasti ini karena kemarin ia mencari gara-gara dengan Wakil Ketua Bou".
"Huh kasihan sekali ya, padahal ia begitu tampan. Kenapa bukan orang lain saja?!" Kata salah satu teman yang membuat semua teman-temannya melongo.
Setelah mendengar percakapan itu, keringat dingin kembali membanjiri tubuh Zhang Qi, ia berandai jika saja lantai aula ini lapar, ia rela di telannya hidup-hidup.
'Oh tuhan, cabutlah nyawaku sekarang, kalau engkau tidak mau, ayahku lah yang akan melakukannya untukmu' Zhang Qi meratap memohon di dalam hatinya.
Keributan yang terjadi sebelumnya kini sirna sama sekali setelah seorang tetua membuka suara "Semuanya harap tenang, jangan lagi ada keributan, nah Xiao Wu Jie silahkan dimulai"
'Kakek maafkan cucumu ini' Kata Xiao Wu Jie di dalam hati, ia menghela nafas panjang sebelum mulai berbicara "Hari ini tepatnya hari peringatan ke 10 tahun kematian kakek ku Li Ming, pahlawan Kerajaan Bulan Besar yang gugur saat peperangan membela Kerajaan. Untuk itu sesuai tradisi keluargaku, aku mengajak kalian semua untuk menyanyikan lagu Mengheningkan Cipta, Mengheningkan cipta, dimulai...!"
Semua yang berada di aula menundukkan kepala dan menyanyikan lagu Mengheningkan Cipta yang di pimpin oleh Xiao Wu Jie seraya mengibarkan sebuah kain putih.
Bukan main terkejutnya Zhang Ma dan Zhang Qi, sambil bernyanyi mereka mencoba mencerna apa yang sudah terjadi dengan Xiao Wu Jie saat akan menjalankan rencananya.
'Hah saudara Wu pasti hampir ketahuan, aku merasa ini salah satu cara ia menghindari masalah. Kau sungguh cerdas saudara Wu' Setelah selesai mencerna apa yang terjadi, Zhang Ma akhirnya mengerti apa yang dilakukan Xiao Wu Jie. Sementara Zhang Qi masih sangat kebingungan.
__ADS_1
* * *