
"Tidak saudara Ma, aku mau mandi hujan saja. Sudah lama aku tidak merasakan mandi hujan."
"Hmm baiklah... kalau begitu ayo kita kesuatu tempat yang sepi, aku tidak ingin seorangpun melihat kita mandi hujan."
"Tapi dimana?"
"Mari aku tunjukkan satu tempat, aku yakin kau akan segera merasa lebih baik setelah berada disana. Namun kita harus berhati-hati jangan sampai seorang pun tau kita kesana"
Zhang Ma mengatakan jika tempat itu adalah tempat rahasia yang sering dikunjunginya dulu. Sebenarnya ada sedikit keraguan di hatinya karena tempat itu berada di luar akademi. Meskipun tidak begitu jauh namun mereka harus turun gunung untuk sampai kesana.
Xiao Wu Jie mengerti apa maksud dari kata berhati-hati. Karena mereka harus melewati gerbang masuk akademi yang biasanya dijaga ketat oleh penjaga.
"Apa kau serius saudara Ma? kita tidak akan dimaafkan oleh para tetua jika ketahuan." Ekspresi wajah Xiao Wu Jie nampak buruk.
Zhang Ma tersenyum penuh makna "Tenang saja saudara Wu, kita bisa sedikit bersandiwara jika ketahuan"
Xiao Wu Jie merasa agak sedikit lebih tenang. Ia berfikir bagaimanapun juga Zhang Ma tidak akan bertindak ceroboh untuk hal seperti ini.
Setelah melewati beberapa gedung akademi akhirnya mereka sampai di dekat gerbang. Perasaan yang sama terasa kental seperti saat pertama kali mereka memasuki gerbang. Hanya saja, perasaan cemas dan tegang kini menyelimuti keduanya.
Rintik hujan terasa menyejukkan wajah, suhu di atas bukit yang memang sudah sangat dingin kini bertambah saat hujan turun.
Zhang Ma memperhatikan keadaan sekitar, mereka bersembunyi di balik pohon yang rindang yang berada di dekat tembok selatan. Setelah dirasa aman Zhang Ma menoleh kearah Xiao Wu Jie "Bagaimana apakah kau siap saudara Wu?"
"Baiklah aku siap"
__ADS_1
"dalam aba-aba 1...2...3 ayo!"
Keduanya berlari cukup hati-hati, tidak sedetikpun mengurangi kewaspadaan. Zhang Ma memimpin di depan disusul oleh Xiao Wu Jie yang cukup kepayahan karena mengatur langkahnya agar tidak bersuara.
Tidak ada yang menjaga gerbang, karena saat hujan biasanya semua penjaga memilih untuk berteduh di dalam dan meminum arak untuk menghangatkan badan.
Akhirnya mereka berhasil melewati gerbang setelah membukanya dengan sangat hati-hati.
"Ayo jangan berhenti sekarang, kita harus tetap berlari" Zhang Ma mengingatkan.
Setelah dirasa cukup jauh dari gerbang, barulah mereka memperlambat langkah dan mengatur nafas. Ketegangan berangsur hilang setelah keduanya merasa sudah aman.
"Tunggu dulu saudara Ma, aku merasa sedikit aneh, bagaimana bisa gerbang tidak di kunci sementara tidak seorangpun yang menjaganya?"
Zhang Ma menghentikan langkahnya, ternyata ia sudah lebih dulu memikirkan hal itu setelah berhasil membuka gerbang.
Padahal di dalam benak Zhang Ma juga merasa sangat janggal. Ketua Akademi pernah mengatakan jika tidak seorang pun dapat keluar masuk akademi seenaknya tanpa izin dari para penjaga.
Namun tanpa memikirkan lebih jauh keduanya bergegas menuruni gunung. Keduanya berjalan beriringan sambil menikmati kesejukan air hujan yang jatuh namun tetap berhati-hati karena jalanan sedang licin.
Tak terasa setelah melewati jalan setapak yang panjang, pemandangan nan indah memanjakan mata kini tepat berada di hadapan mereka. Hamparan hijau rerumputan yang di hiasi sebuah danau kecil.
Kekaguman yang telak berada ditatapan mata Xiao Wu Jie, seakan tidak mau berkedip sedetikpun karena untuk pertama kalinya melihat pemandangan yang begitu indah ini.
"Bagaimana pendapatmu dengan tempat rahasiaku saudara Wu?" Zhang Ma sudah sedari tadi melihat wajah penuh kekaguman Xiao Wu Jie kini tersenyum menggodanya.
__ADS_1
"Aku bisa merasakan energi Qi yang sangat padat disini, apakah disini aku bisa membuka saraf Qi pertamaku?" Xiao Wu Jie menatap Zhang Ma penuh harap.
Namun tidak seperti yang ia fikirkan, Zhang Ma justru sangat terkejut mendengar pernyataan itu "Saudara Wu apakah kau masih belum membuka saraf pertama mu? bagaimana mungkin???"
"Ahh aku tidak yakin, mungkin sudah ratusan kali aku mencobanya namun aku tetap gagal"
"Kau... kau tidak sedang bercanda kan?"
Xiao Wu Jie diam seribu bahasa, tidak tau dan tidak mau berkata apa-apa. Setelah berfikir sejenak, ia baru sadar telah melakukan kesalahan.
Xiao Wu Jie tidak bergeming, bagaimanapun juga ia sangat tau dalam dunia persilatan tidak ada tempat untuk orang yang lemah. Untuk anak seusianya paling tidak ia sudah harus membuka saraf Qi yang kedua atau yang ketiga.
Selama ini juga Xiao Wu Jie tau jika pamannya Li Hong menutupi kesalahan yang ada pada dirinya.
"Aku sempat berfikir kita berdua akan menjadi murid inti yang paling genius di generasi kita. Aku yakin kau tau syarat menjadi murid inti setidaknya calon murid harus membuka saraf Qi yang kedua. Kurang dari dua bulan lagi mustahil kau akan bisa membuka saraf yang ke dua. Bukan hanya kau tidak akan menjadi murid inti bahkan untuk menjadi murid pendamping pun kau tidak layak."
Raut wajah Zhang Ma sangat buruk, ia masih tidak bisa menerima kenyataan seperti ini. Kedekatan yang mereka jalani sudah seperti saudara karena ia merasa ada kesamaan diantara keduanya.
"Ternyata aku telah salah menilai dirimu. Kau tau...?! kau hanya akan menjadi sampah dan bahkan kau tidak layak ku sebut sebagai saudara!" Perkataan Zhang Ma itu seperti petir ditelinga Xiao Wu Jie.
Zhang Ma membalikkan badan dan pergi meninggalkan Xiao Wu Jie yang kini masih terpaku. Ia bahkan tidak menoleh kebelakang dan segera menghilang dikejauhan.
Xiao Wu Jie sangat bersedih atas apa yang dilakukan Zhang Ma. Pada awalnya ia sudah tau kenapa dirinya diterima oleh Zhang Ma dan Zhang Qi adalah karena mereka takut pada dirinya yang terlihat cerdas dan memiliki latar belakang yang tidak biasa.
Namun setelah mengalami kedekatan, Xiao Wu Jie berfikir bahwa persaudaraan itu sangat tulus sehingga tidak ada hal yang perlu dirahasiakan.
__ADS_1
Tak terasa air mata jatuh bersamaan tetesan air hujan, kehangatan yang sebelumnya dirasakan kini lenyap berganti dengan dingin yang menusuk tulang.
Namun disana, di hadapan hamparan nan indah itu, untuk pertamakalinya Xiao Wu Jie merasa tidak di terima oleh seseorang yang sangat berarti baginya.