Puncak Pendekar Keabadian

Puncak Pendekar Keabadian
CHAPT 25. Ling Hua dan Ling Mei


__ADS_3

Xiao Wu Jie membuka matanya di pagi hari setelah terlelap sejak kemarin sore, tubuhnya terasa lebih segar sekarang.


Hari ini rutinitas latihan akan kembali dilakukan, namun kali ini perasaannya sedikit berbeda.


Biasanya di pagi hari sebelum pergi ke ruang latihan, ia akan menyempatkan untuk sedikit berbincang dengan Zhang Ma ataupun Zhang Qi.


Namun sekarang kedua bersaudara itu telah lebih dulu pergi meninggalkan ia sendirian di asrama.


Tidak ingin memikirkan hal itu, Xiao Wu Jie bergegas mempersiapkan diri karena hari ini akan sangat berat untuknya.


Calon murid biasanya disebut sebagai murid sesuai dengan pilihan senjata masing-masing, misalnya calon murid pedang akan disebut sebagai murid pedang.


Namun jika sudah menjadi murid inti mereka akan di sebut sebagai murid inti pedang, begitu pula dengan murid pendamping akan disebut murid pendamping pedang.


Ruang latihan pedang dalam beberapa hari ini telihat sedang banyak di kunjungi oleh calon murid putri dari ruangan latihan lain. Banyak diantara mereka dalam sekejap menjadi pengagum Xiao Wu Jie.


Biasanya ada yang dengan sembunyi-sembunyi mengirimi Xiao Wu Jie surat membuat almarinya sangat penuh.


Ada juga yang dengan terang-terangan mengutarakan isi hatinya bahkan ada yang dengan alasan ingin belajar jurus pedang bersama Xiao Wu Jie hanya untuk bisa dekat dengannya.


Xiao Wu Jie sudah tidak terlalu terganggu dengan hal seperti itu meskipun juga tidak merasa senang. Bahkan ia tidak segan untuk bersikap baik dan terbuka pada mereka.


Tapi terkadang jika suasana hatinya kurang baik, maka ia tinggal mengacuhkannya saja. Seperti itulah pandangan Zhang Qi setiap kali Wu Jie terlihat seolah selalu mengacuhkan para calon murid putri yang mendekatinya.


Usia remaja memang sudah sangat rawan untuk merasakan perasaan suka terhadap lawan jenis, hal seperti itu dapat dirasakan hanya karena beberapa hal sepele saja.

__ADS_1


Contohnya karena tampan/cantik, karena berprestasi atau karena hal-hal yang membuat kagum bahkan kadang hanya oleh karena banyak yang menyukai orang yang disukai lantas juga ikut menyukai.


Di akademi Sekte Gunung Kembar akan selalu ada pemberian gelar-gelar tertentu bagi calon murid yang memiliki sesuatu yang menjadi kelebihannya atau memiliki bakat yang menonjol.


Hal itu tidak ada sangkut pautnya dengan aturan akademi namun seolah sudah menjadi tradisi dari generasi ke generasi.


Misalnya murid tercantik selalu jatuh pada murid kipas dari tahun ke tahun, pasalnya sebagian besar calon murid putri dari total keseluruhan calon murid memilih kipas sebagai senjata.


Untuk generasi tahun ini dari semua murid kipas, ada 2 murid yang diakui memiliki kecantikan lebih dari yang lain, meskipun kecantikan bersifat relatif namun sebagian besar anggota akademi setuju jika keduanya memiliki daya tarik yang lebih besar.


Mereka adalah Ling Hua dan Ling Mei, keduanya adalah saudara kembar. Ling Hua adalah kakak sementara Ling Mei adalah adik.


Secara fisik mereka benar-benar sama persis bagai pinang dibelah dua, akan sangat sulit untuk membedakan keduanya jika tidak benar-benar mengenal keduanya.


Selain cantik keduanya juga cerdas, namun kecerdasan dalam hal yang sangat berbeda. Ling Hua cerdas dalam senjata sementara Ling Mei cerdas dalam ilmu pengobatan.


Ling Hua dan Ling Mei sedari kecil memang ditempa untuk selalu berkompetisi, sehingga tidak heran keduanya selalu berambisi besar dan memiliki kemampuan yang memang selalu diasah.


Inilah kenapa keduanya sangat suka untuk bersaing, terlebih setelah mengetahui ada beberapa calon murid yang patut di perhitungkan sebagai saingan.


* *


Matahari sudah tinggi, maka inilah saatnya seluruh calon murid diberi waktu untuk beristirahat.


Xiao Wu Jie terlihat menyendiri di sudut ruangan, tidak ada seorang pun dari murid pedang yang mau mendekatinya di saat seperti ini.

__ADS_1


Tidak ada yang dapat dilakukannya kecuali memikirkan tentang cara membuka saraf Qi pertamanya sebelum waktu tes terakhir. Itulah satu-satunya harapan agar ia bisa menjadi murid inti.


Di saat Xiao Wu Jie hanyut dalam fikirannya, tiba-tiba datang lima orang gadis yang terlihat membawa kipas memasuki ruangan pedang, dalam selintas pandang pun bisa langsung di tebak jika kelimanya adalah murid kipas.


Diantara kelima murid kipas itu, dua diantaranya tidak lain adalah gadis kembar seiras yaitu Ling Hua dan Ling Mei.


Entah dengan alasan apa mereka datang, hampir semua orang terpana melihat kecantikan dua gadis bermarga Ling itu hari ini, mereka terlihat sangat berbeda dari biasa yang terlihat.


Semua murid pedang putri hanya bisa memandang kecantikan keduanya dengan tatapan iri, sementara hampir seluruh murid pedang putra memandang dengan tatapan penuh kekaguman.


Di dahului oleh Ling Hua, mereka berjalan menuju ke arah Xiao Wu Jie yang tidak menyadari kedatangan mereka karena posisinya yang menunduk dan memandangi lantai dengan tatapan kosong.


"Xiao Wu Jie itukah namamu?" Ling Hua bertanya dengan nada dingin.


Xiao Wu Jie bergeming, entah memang tidak mendengar atau memang sengaja mengacuhkan pertanyaannya, yang jelas cukup untuk membuat Ling Hua dan yang lain merasa kesal.


"Hey! apakah aku salah orang?! apakah dia bukan yang bernama Xiao Wu Jie itu?!" Ling Hua mengalihkan pandangannya, menatap semua mata murid pedang yang saat itu tertuju padanya. Namun semuanya juga diam, ia tidak sadar dengan berteriak seperti itu justru membuat semua orang kebingungan.


Saat Ling Hua baru memahami keadaannya, ia mencoba meralat kata-katanya kembali namun pertanyaan itu kembali ditujukan pada Xiao Wu Jie. "Ah maafkan aku, maksudku apakah benar anda adalah Xiao Wu Jie?"


Xiao Wu Jie menoleh dan menatap mata Ling Hua cukup lama sebelum ia berdiri dan ingin beranjak pergi, mengacuhkan Ling Hua begitu saja.


"Dasar orang sombong! terima ini...!!!" Ling Hua hendak memberikan pukulan namun hanya mengenai udara kosong. Saat menyadari apa yang terjadi Xiao Wu Jie sudah berdiri 5 meter di depannya.


"Apa..apa yang terjadi, barusan ia berada dalam jangkauanku, bagaimana mungkin ini...!" Ling Hua bergumam kebingungan seolah masih tidak percaya dengan apa yang barusan terjadi.

__ADS_1


Semua mata yang menyaksikan itu juga sama terkejutnya, namun Xiao Wu Jie seolah tidak peduli dan melanjutkan langkahnya pergi meninggalkan ruangan.


Seluruh calon murid yang berada di ruangan itu masih bengong setelah menyaksikan apa yang dilakukan Xiao Wu Jie.


__ADS_2