
Tatapan geli terus saja Tom dapatkan dari mata para wanita yang sedang sibuk memanjakan tubuhnya di villa Peter.
"Berhenti menatapku seperti itu, dan teruskan tugas kalian." ucapnya sinis pada para wanita yang sibuk membelai dan memberikan servis pada pusatnya. Mereka adalah wanita bayaran yang Peter dan Tom pesan sehabis kepulangannya dari La Plancha.
Para wanita berbusana minim itu melanjutkan kegiatannya sambil sesekali melirik pada tato yang melengkung di dada Tom, senyuman tak bisa mereka tahan lagi ketika matanya menelusuri kalimat yang terukir disana.
Begitu pun dengan kondisi Peter, dia duduk di seberang Tom dengan beberapa wanita yang mereka bayar juga untuk memuaskan nafsunya. Meskipun para wanita itu menatap geli pada tato di dada bidangnya, namun Peter tak peduli dengan tatapan para wanita itu. Dia hanya ingin merasakan kenikmatan dari pelayanan wanita bayarannya. Dalam kungkungan kenikmatan yang menjalari aliran darahnya, Peter membayangkan wajah cantik Chelsea.
"Sialan, Chelsea benar-benar mengerjai kita Tom." ujar Peter dengan kepala yang sedang menengadah nikmat merasakan ******* bibir wanita sewaannya di bawah sana.
"Kita harus membalasnya.. Ahh." ucap Tom disela desahannya.
"Benar, kita harus pikirkan cara membalasnya." sahut Peter.
"Kita harus pergi ke kafe Ed, dia pasti ada disana." sambung Peter.
"Untung saja ini bukan tato permanen." ujar Tom lega mengingat ucapan Chelsea di La Plancha tentang tato temporer yang ia buat di dada mereka.
"Kau benar, aku tidak bisa membayangkan jika ini tato permanen Tom." ucap Peter
"Ah.. Kau pintar sekali manis." pujinya pada wanita asia yang sedang berjongkok di antara kakinya.
"Kita harus pikirkan cara untuk membalasnya." ujar Tom ditengah hujan kenikmatan yang sedang ia rasakan.
"Ya, tapi itu akan kita pikirkan setelah bercocok tanam terlebih dulu." Peter menyeringai sembari bangkit dari duduknya menarik wanita yang sedang berjongkok di bawahnya ke dalam kamar villa.
"Cih. Kau selalu saja mencuri start duluan." Tom memutar bola matanya malas, melihat Peter mulai melangkahkan kaki meninggalkannya.
__ADS_1
***
"Nona eh maaf maksud saya Tuan Abigail, mulai hari ini perkenankan saya untuk membantu anda menyelenggarakan pameran fotografi." ucap seorang wanita berkacamata yang berdiri di dalam studio fotonya itu. Dia membungkuk sopan di hadapan Abigail yang baru saja sampai di studionya.
"Panggil aku Abigail saja, tanpa embelan apapun." Abigail melihat beberapa kertas yang di bawa wanita berparas keibuan dengan rambut tersanggul rapi.
Dia membolak balik kertas-kertas yang berisi dokumen penting terkait pameran foto yang akan ia selenggarakan.
"Jadi mulai saat ini, kau adalah asistenku?!" tanya Abigail memastikan.
"Namamu Gusti Ayu Maharani." Abigail merapalkan nama wanita dihadapannya dengan sedikit terbata dan mendapat anggukan dari wanita itu.
"Panggil saya Ayu saja." sahut wanita asli Bali itu dengan logat bahasanya yang kental.
"Oke, Ayu karna mulai hari ini kau bekerja disini. Aku yakin kau pasti mengerti apa yang harus kau lakukan untuk persiapan pameran fotoku." ucap Abigail mulai menjelaskan. Tangannya mengeluarkan sigaret dari saku celana panjang yang ia kenakan. Dan Ia mulai menyalakannya.
"Baik Tu.. Maaf, Abigail." Ayu masih tampak canggung untuk menyebut langsung nama atasannya.
Sementara Ayu mulai bergerak mendekati ruang yang ditunjuk atasannya, Abigail menatap lekat pada kekasihnya yang ia ajak ke studio miliknya itu, dia tersenyum lembut melihat Chelsea sedang asik menatap beberapa foto hasil jepretan Abigail yang tertata rapi di sepanjang dinding studio.
Kebanyakan foto yang Abigail pajang, adalah foto tentang wanita bali dengan tradisinya. Beberapa foto memperlihatkan aura kebahagiaan yang hadir dari senyuman lebar wajah gadis kecil dengan pakaian tradisional Bali. Gadis kecil itu tampak manis dengan warna kulit yang eksotis.
Di sisi lain, Chelsea melihat potret gadis Bali lainnya yang sedang bersimpuh di hadapan pura dengan beberapa sesaji yang tertata rapi di bawahnya. Potret itu berhasil menarik perhatiannya.
Matanya melihat ekspesi raut wajah gadis itu penuh dengan aura magis yang menghamba, perasaan damai langsung memenuhi hatinya tak kala memperhatikan potret itu dari jarak beberapa meter. Dia memiringkan kepalanya, memperhatikan gadis dalam potret.
"Apa kau suka?!" pertanyaan Abigail yang entah sejak kapan sudah berada dekat dengannya mengejutkan Chelsea.
__ADS_1
"Kau sudah selesai?" Chelsea melihat sekilas pada asisten baru Abigail yang mulai terlihat sibuk mencatat sesuatu di buku besar.
"Sudah. Kau tidak menjawab pertanyaanku sayang." ucapnya merangkul mesra pinggang Chelsea. Kini pandangan mereka tertuju pada potret gadis Bali yang sedang dilihat Chelsea tadi.
"Ya, aku suka. Dari mana kau mendapatkan foto itu?" tanya Chelsea dengan mata masih tertuju pada potret.
"Bedugul." jawab Abigail sembari mengecup lembut pelipis Chelsea.
"Itu indah sekali, gadis-gadis disini seperti memiliki kekuatan yang menarik pandangan orang untuk terus melihatnya." Chelsea memuji potret gadis itu.
"Kau memiliki mata seniman yang bagus sayang, kau bisa melihat daya tarik utama dari potret itu." Abigail salut pada cara Chelsea mengutarakan pendapatnya terhadap potret yang ia buat. Chelsea tersenyum manis mendengar pujian yang keluar dari mulut kekasihnya.
"Baiklah, aku rasa kita harus segera ke kafe. Bukankah kau masih ada jadwal menyanyi disana?" Abigail mengingatkan Chelsea, sembari melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Ya, aku memang ada jadwal menyanyi disana. Ayo, antarkan aku kesana." Chelsea menggandeng tangan Abigail untuk segera keluar dari studio itu.
"Kau tidak ada pekerjaan hari ini?" tanya Chelsea saat mereka melangkahkan kaki menuju pintu keluar studio.
"Ada. Tapi aku akan mengantarmu dulu ke kafe, setelah itu aku akan pergi langsung ke Graha Wisnu Kencana. Ada pasangan pengantin yang ingin aku buatkan foto prewedding disana." ucapnya sembari mendorong pintu keluar untuk Chelsea.
"Oke kalo begitu, nanti kau langsung saja ke apartemen. Tidak usah menjemputku, biar aku akan kesana sendiri setelah selesai bernyanyi." ucap Chelsea sebelum ia mengenakan helm fullface yang diberikan Abigail.
"Baiklah." sahut Abigail yang kemudian langsung mengenakan helm fullface hitamnya tersebut.
Matahari sedikit mendung kala motor sport Abigail mulai bergerak. Udara Bali yang sejuk membuatnya merasa relaks mengendarai motornya. Sebentar lagi kesibukkannya akan meningkat tajam seiring mendekati waktu pameran tiba, belum lagi dia harus memikirkan beberapa foto yang harus ia buat untuk melengkapi foto yang sudah terkumpul. Hal itu kemungkinan akan menguras waktunya untuk berduaan dengan Chelsea. Memikirkan itu, membuat Abigail menghembuskan nafasnya panjang dibalik helm fullface yang ia kenakan.
***
__ADS_1