
"Sudah saatnya kau berhenti melamun Chelsea." Peter membawa kembali kesadaran Chelsea kepermukaan. Chelsea segera menoleh pada lelaki yang duduk disampingnya. Dia menerima segelas lemon tea hangat yang lelaki itu buat tadi.
Saat ini mereka sedang duduk di kursi balkon kamar Chelsea, pandangan mereka mengarah pada pagar pembatas antara area apartemen dengan pemukiman warga lokal. Mereka melihat beberapa warga lokal sedang khusyu beribadah di pura masing-masing rumahnya. Gadis-gadis berkulit sawo matang dengan riasan bunga kamboja di sela telinganya menghamba di hadapan pura kecil. Dibawah pura tergeletak beberapa sesaji yang tersusun rapi dalam sebuah wadah berbentuk lingkaran. Itu adalah ritual suci umat hindu di Bali, mereka melakukannya disetiap pagi dan sore hari.
"Apa yang kau mimpikan tadi?" Peter langsung menanyakan hal yang ingin segera ia tanyakan.
Chelsea diam memandangi lemon tea hangat yang ia tangkup dengan kedua tangannya. Matanya yang masih terlihat sembab, dengan rona merah di ujung hidung mancungnya membuat Peter menggeram gemas melihat sisi lain dari diri Chelsea. Mungkin jika wanita lain sehabis menangis hebat, ia akan terlihat jelek oleh siapapun yang melihatnya. Namun tidak dengan Chelsea, wajah sendunya justru membuat hati Peter berdesir menahan sekuat jiwa untuk tidak kembali mendekapnya erat. Tampilan rapuh Chelsea, menggugahnya untuk bersikap layaknya seorang ksatria pelindung.
Chelsea terdiam dalam waktu yang cukup lama. Pandangannya nanar, dengan mulut yang tertutup rapat. Dia tampak enggan untuk menceritakan apa yang ia lihat dalam mimpinya. Bagi Peter, Chelsea yang berada dihadapannya kini terlihat begitu ringkih. Wajah yang selalu berseri berubah menjadi muram. Tak terdengar lagi umpatan atau ledekan yang keluar dari mulut pedas nan seksinya.
Peter merapikan sedikit helaian anak rambut Chelsea untuk ia sematkan dibelakang telinga wanita itu. Dengan tatapan terhangatnya, Peter mencoba meyakinkan Chelsea bahwa semuanya akan baik-baik saja. Ia mengusap lembut rambut wanita itu, berusaha menyalurkan rasa tenang dalam belaiannya.
"Bagaimana kau bisa ada disini?" Chelsea mengalihkan topik pembicaraan setelah lama terdiam.
Peter menatapnya lekat, bagaimana bibir ranum itu berubah pucat dengan kesedihan yang masih membingkai dalam paras cantiknya.
Peter bukan lelaki egois, dia paham maksud tersirat Chelsea yang masih enggan untuk menceritakan apa yang terjadi pada dirinya. Peter memahami itu, dan dia tidak ingin mendorong Chelsea lebih jauh untuk terbuka padanya. Dalam hatinya, ia yakin akan tiba di suatu masa nanti dimana Chelsea secara sukarela menceritakan tentang dirinya, hidupnya bahkan permasalahnya. Peter yakin, pada akhirnya dia lah yang akan menjadi tempat bersandar bagi wanita itu.
"Aku menghubungimu sejak pagi Chelsea. Ponselmu mati dalam waktu yang sangat lama." Peter mulai menceritakan kronologis kedatangannya ke apartemen Chelsea.
"Entah mengapa aku khawatir padamu saat itu. Dan memutuskan untuk langsung datang kesini." ungkapnya kemudian.
Chelsea tampak menyimak. Dia meneguk perlahan lemontea nya sebelum ia kembali bertanya.
"Lalu bagaimana kau bisa masuk?" tanya Chelsea kemudian.
"Aku meminta bantuan pada penjaga area disini." aku Peter.
"Kau baik-baik saja?" tanya Peter ketika melihat Chelsea kembali melamun.
"Ah, ya.. Aku baik-baik saja. Terima kasih Peter, kau datang disaat yang tepat." Chelsea ingat betapa bersyukurnya ia melihat Peter berada di hadapannya ketika ia tersadar dari mimpi buruknya.
Drrrttt... Drrttt...
Belum sempat Peter menjawab ungkapan terima kasih Chelsea, ponsel Chelsea yang sudah diaktifkan kembali berdering.
Chelsea beranjak dari duduknya, berjalan untuk meraih ponsel yang ia letakkan di meja nakas. Peter meminum lemontea nya, sambil telinganya siaga mendengarkan pembicaraan Chelsea dengan seseorang.
"Ya aku baik-baik saja Abigail." ucap Chelsea pada Abigail di seberang sana.
Peter mencoba santai ketika nama Abigail disebut oleh Chelsea. Dia sadar akan posisinya. Chelsea masih dalam status terikat dengan wanita lesbi itu.
"Kau akan kembali?" Chelsea memastikan apa yang ia dengar.
"Iya sayang, besok lusa kemungkinan aku sudah bisa kembali kesana." Abigail tersenyum senang tak sabar ingin bertemu dengan kekasihnya.
Chelsea terdiam. Entah mengapa kepalanya terasa penuh sesak. Dia menengok ke arah balkon yang berada di belakangnya. Matanya sibuk mencari Peter yang masih duduk di kursi balkon.
__ADS_1
"Sayang..?" tanya Abigail heran.
"Ah ya, itu bagus. Aku akan menunggumu disini." ucap Chelsea cepat ketika fokusnya mulai kembali pada Abigail.
"Ada apa?!" Abigail merasa ada yang janggal dengan kekasihnya. "Apa ada sesuatu yang tidak aku ketahui?"
"Tidak ada apa-apa Abigail, aku tadi hanya sedang berpikir apakah aku harus membatalkan pertemuanku dengan klien di La Plancha agar aku bisa menjemputmu di bandara." Chelsea mengutarakan alasan paling logis yang terbersit dalam pikirannya.
"Kau tidak perlu menjemputku, aku akan menemuimu langsung di La Plancha." ujar Abigail tersenyum riang di seberang sana.
"Aku tak sadar ingin bertemu denganmu, sayang." sambungnya kemudian.
"Aku juga tak sabar...." kalimat Chelsea menggantung ketika ia membalikkan badan dan matanya melihat Peter berdiri di ambang pintu balkon. Posisi Chelsea yang membelakangi pintu membuatnya tak sadar bahwa Peter sedang memandanginya dari arah belakang. Entah sejak kapan.
"Baiklah, nanti akan aku hubungi lagi. Aku pamit dulu. I love you honey." ucap Abigail senang.
"I love you too." Chelsea mengucapkannya ragu-ragu. Ia mematikan ponselnya tanpa memutus pandangannya pada Peter.
Peter berjalan menghampirinya.
"Abigail akan kembali?!" tanya Peter santai.
"Ya." sahut Chelsea singkat.
"Kapan dia akan kembali?"
"Itu artinya waktuku semakin sedikit untuk dekat denganmu."
"Kau bisa dekat denganku seperti teman, bukan?!" Mata Chelsea mengikuti kemana Peter berjalan. Peter berhenti di pintu keluar kamar.
"Aku tidak mendekatimu untuk hanya menjadi teman, kau tahu itu bukan?!" Peter memandang lekat Chelsea yang diam berdiri. Dia melihat jemari wanita itu sibuk meremas ujung piyama yang masih ia kenakan.
"Kau harus berhenti mendekatiku, Peter." ucap Chelsea tegas. Dia tidak ingin semakin nyaman dengan kedekatan yang Peter ciptakan. Dia tidak sanggup dengan konsekuensi yang harus ia terima nantinya.
"Kenapa begitu?" tanya Peter berjalan mendekati Chelsea kembali. Demi Tuhan, dia tak puas dengan apa yang Chelsea ucapkan. Bagaimana bisa Chelsea menyuruhnya berhenti mendekat, ketika ia sudah benar-benar terpikat.
"Aku sudah memiliki kekasih, apa kau lupa?!" ucap Chelsea sinis. Hatinya berdebar ingin melupakan fakta itu.
"Bagaimana perasaanmu saat ini padaku, Chelsea?"
"Biasa saja." Chelsea jelas berbohong. Statusnya membuatnya harus mengingkari isi hatinya sendiri. Abigail terlalu baik jika harus menerima pengkhiatannya. Dia ingat, Abigail lah yang membantunya sembuh dari traumanya, dia juga lah yang membuat mimpi-mimpi buruk Chelsea perlahan hilang sebelum akhirnya muncul kembali seperti saat tadi malam.
"Benarkah?" Peter berusaha memastikan.
"Ya. Aku sudah ingatkan bahwa usahamu akan sia-sia Peter. Kau terlalu banyak berharap." Chelsea tak mampu menatap mata Peter yang memandangnya lekat. Dia tak melihat, bahwa Peter sedang menyeringai menatapnya.
"Aku harus membuktikannya." ucap Peter santai. Dia yakin, Chelsea hanya sedang menutupi perasaan yang mulai tumbuh terhadapnya.
__ADS_1
"Maksudmu?!" Chelsea mengangkat kepalanya menatap heran pada Peter.
Tanpa aba-aba, bibir Peter mendarat di bibir Chelsea. Peter memegang kendali. Chelsea membelalakan matanya kaget dengan kenekatan Peter, dia membuka mulut siap untuk protes. Namun Peter terlalu ahli dalam hal ini, dia memanfaatkan bibir Chelsea yang sedikit terbuka dengan menyelinapkan lidahnya ke dalam. Mata Chelsea membulat ketika merasakan lidah Peter sudah terbenam dalam mulutnya. Di detik selanjutnya, Chelsea tampak bingung, ia tak tahu apakah harus mendorong dan menampar Peter ataukah mengikuti belitan lidah Peter didalam sana. Karna sungguh, ciuman Peter terasa membakar jiwanya. Memaksanya untuk terbuai dalam belitan lidah yang sensual.
Peter terlalu lihai dalam memanjakan wanita, ini terlalu intim dan intens bagi Chelsea. Dan astaga, Chelsea justru menyukainya. Selama ini, trauma membuatnya menutup diri pada lelaki lain sampai ia melupakan kodratnya sebagai seorang wanita yang tetap membutuhkan seorang lelaki dihidupnya. Terlebih ketika ia mulai menjalin hubungan lesbi dengan Abigail, hal itu membuatnya semakin jauh dari jangkauan para lelaki.
Lalu jika begitu, apakah seharusnya ia bersyukur dengan kenekatan Peter untuk tetap mendekatinya?. Hingga akhirnya ia bisa kembali merasakan sentuhan seorang lelaki selembut sapuan bibir Peter di bibirnya.
Peter merasakan tak ada penolakan dari Chelsea, tangannya bergerak untuk membimbing kedua tangan Chelsea agar melingkar di pinggangnya. Chelsea menurut, tangannya memeluk erat pinggang Peter. Chelsea mencoba membalas belitan lidah Peter, perlahan pada awalnya lalu berubah menjadi sedikit lebih berani. Peter tersenyum senang dalam hati, dia semakin bergairah untuk terus mencumbu Chelsea.
Peter membimbing langkah Chelsea untuk naik ke atas kasur, dia merebahkan tubuh Chelsea perlahan tanpa melepas pertautan bibirnya. Bibir Chelsea terlalu manis untuk ia lepaskan. Kedua tubuh yang semakin merapat itu tenggelam dalam gairah yang tak terpuaskan. Detak jantung keduanya berdebar semakin cepat. Ketika pasokan oksigen terasa menipis, keduanya melepaskan sejenak ciuman panas itu namun tak berapa lama ciuman itu terjalin kembali.
Peter tak ingin berhenti. Tubuh mungil Chelsea terlalu menggoda untuk ia belai. Aroma tubuhnya begitu memabukkan hingga Peter seperti hilang kesadaran.
Peter merasakan tubuh Chelsea bergetar oleh gairah. Chelsea terasa begitu lembut, begitu cantik, begitu menggoda untuk ia jelajahi. Bagai hutan belukar yang tak terjamah oleh manusia. Peter ingin menyusuri setiap inci tubuh Chelsea.
Perlahan Peter memasukkan tangannya ke dalam piyama Chelsea. Mengelus lembut pinggang rampingnya terus menyusuri area perut. Peter berlama-lama di area itu, dalam benaknya dia membayangkan Chelsea sudah bertelanjang bulat. Keindahan lekuk tubuh Chelsea tergambar jelas dalam khayalan Peter, membuatnya menggeram menginginkan Chelsea menyatu dengannya. Peter terus saja membelai permukaan kulit Chelsea, gelora hasratnya membuat ia tak sadar akan kedua mata Chelsea yang terbuka lebar menatap matanya yang terpejam.
Chelsea menegang. Belaian Peter membuatnya terkesiap. Bayangan Albert Wilson mendadak kembali mengganggunya. Kilasan perbuatan keji dan biadab ayah tirinya tergambar jelas dalam setiap sentuhan jemari Peter di tubuhnya.
Chelsea menggelengkan kepalanya keras, hingga menggoyahkan pertautan bibir yang semula terjadi. Peter dibuatnya terkejut. Dia membuka matanya dan melihat bola mata Chelsea tertutup rapat.
Chelsea semakin merasa takut ketika potongan ingatannya akan pelecehan seksual yang ia alami dulu seperti kembali terasa.
Peter semakin terkejut menyaksikan tubuh tegang Chelsea yang terlihat seperti ketakutan. Dia menghentikan semua gerakannya, tangannya mengelus lembut pelipis Chelsea. Sedang mulut Chelsea meracau tak karuan. Rintihan dan air mata mulai membasahi pipinya. Peter semakin dibuat bingung, dia tidak mengerti apa yang terjadi pada Chelsea.
"No. No. Please stop Dad." racau Chelsea, matanya menatap tajam Peter yang kebingungan. Dalam pandangan Chelsea, wajah Peter berubah menjadi wajah Albert yang sedang menyeringai puas menikmati kesakitan Chelsea.
"Tidak. Lepaskan aku. Aku mohon lepaskan. Ini sakit. Tolong lepaskan." Chelsea merintih memohon pada Peter. Peter tampak kalut, dengan perubahan sikap Chelsea.
"Chelsea, ada apa denganmu? Hei!" Peter mengguncang-guncang pundak Chelsea.
Chelsea berteriak histeris, dia meraung seperti kembali merasakan sakit. Sentuhan Peter seperti mengingatkannya pada tangan-tangan kejam Albert. Tubuh Chelsea bergetar merasakan sembilu, bekas cambukan di punggungnya kembali terasa perih seperti baru kemarin ia mendapatkannya. Nafasnya memburu meminta pertolongan. Sedang kedua tangannya memukul-mukul dada bidang Peter.
" Pergi pergi.. Lepaskan aku!" bentak Chelsea. Dia tidak bisa membedakan antara khayalan dan kenyataan.
Peter kalang kabut, didekapnya paksa Chelsea yang meronta. Tangannya bergerak mengelus rambut blonde panjang yang mulai berantakan itu.
"Tenang sayang, tenang. Ini aku. Peter." Peter berusaha menenangkan Chelsea. Berkali-kali ia membisikkan kata menenangkan di telinga Chelsea. Hingga akhirnya Chelsea mulai sadar dan terlihat tenang dalam dekapannya.
"Ini aku, Peter. Aku disini. Aku menyayangimu, aku tidak akan menyakitimu sayang. Kau baik-baik saja bersamaku." Peter tak henti-hentinya menenangkan Chelsea. Sesekali ia mencium lembut pelipis Chelsea yang berkeringat dingin.
"Ada apa denganmu sayang? Apa yang kau sembunyikan?" gumam Peter dalam hati.
Hari ini sungguh menjadi hari yang luar biasa bagi Peter. Chelsea berkali-kali memberikannya kejutan. Belum sempat ia menanyakan bekas luka yang melintang di punggungnya, kini ia menemukan lagi sisi lain dari Chelsea. Chelsea yang tangguh dan selalu terlihat ceria, ternyata memiliki trauma yang sepertinya sangat dalam. Peter harus mencari tahu hal itu. Dia tidak akan tenang sebelum ia mengetahui kebenarannya.
***
__ADS_1