
Hari sudah mulai sore menjelang malam kala itu, udara pantai Kuta sudah mulai terasa dingin, dan lokasi pagelaran sudah mulai sepi oleh hiruk pikuk penonton pagelaran saat Chelsea memutuskan untuk pulang, setelah sebelumnya pamit pada pihak penyelenggara. Peter sudah siap dengan motor ducati nya, dia menunggu Chelsea berjalan menghampirinya.
Peter menyeringai jahil melihat Chelsea yang mengatupkan mulutnya rapat-rapat di sepanjang langkah kakinya. Dari tatapan wanita berpenampilan punky itu ia tahu, Chelsea pasti masih kesal dengan apa yg ia dan Tom lakukan tadi di barisan depan penonton.
"Apa kau?!" dengus Chelsea sebal melihat Peter tampak menahan senyumnya.
"Aku hanya heran, kenapa kau tetap cantik meski mulutmu sangat pedas." goda Peter sembari terkekeh.
"Kau..." Chelsea menggeram sejenak namun akhirnya menghembuskan nafasnya kasar,
"Sudahlah." ucapnya kemudian. Ia merasa sudah terbiasa mendengar godaan dari mulut Peter. Ditambah lagi kondisi Chelsea yang sudah tampak lelah, membuatnya sedikit menahan rasa kesal akibat ulah Peter tadi.
Chelsea segera mengedarkan pandangannya, melihat kesibukkan panitia membereskan sisa-sisa pagelaran. Tenda-tenda pengisi acara mulai dibongkar satu per satu, beberapa orang tampak membawa kantong plastik hitam besar bergerak memunguti sampah-sampah di area tempat pagelaran.
"Dimana mereka? Tom, Ed, Lastri?!" tanyanya kemudian. Ketika matanya tak menemukan teman-teman Peter yang ikut andil membuat Chelsea harus menahan malu saat di atas panggung.
"Mereka sudah pulang terlebih dulu, mereka kelelahan menikmati pertunjukanmu." ucap Peter menyeringai jahil.
Buk!
Tas selempang Chelsea melayang mengenai kepala Peter. Peter meringis sambil mengelus kepalanya yang terkena hantaman tas Chelsea.
"Kalian membuatku kesal dengan tingkah konyol kalian tadi, huh?!" Chelsea tak bisa lagi menahan kekesalannya pada lelaki gila dihadapannya itu.
"Tapi kau suka bukan?!" ucap Peter mengerlingkan mata menatap Chelsea yang sedang mengerucutkan bibirnya.
"Kau benar-benar membuatku hampir gila Peter." Chelsea menyilangkan tangannya di dada, memandang jengkel pada Peter yang tampak tersenyum lebar.
"Itu lebih bagus, kau merasakan apa yang aku rasakan ketika mengejarmu." Peter berucap santai.
"Aku tidak menyuruhmu mengejarku, lagi pula... "Chelsea tampak ragu meneruskan ucapannya.
"Lagipula?" tanya Peter menatap penasaran pada Chelsea.
__ADS_1
Chelsea tampak terdiam sejenak tak menanggapi rasa penasaran Peter. Dia ragu untuk mengatakan lagipula ia sudah memiliki Abigail disampingnya. Entah mengapa, sejak hubungannya dengan Peter semakin dekat, Chelsea terkesan enggan menghadirkan Abigail dalam obrolan mereka. Padahal saat awal mula Peter mengatakan ingin dekat dengannya, Chelsea secara sporadis selalu saja mengingatkan Peter bahwa usahanya akan sia-sia, karna dia yakin keberadaan Abigail dalam hatinya tak kan pernah terusik oleh siapapun. Namun ternyata hal itu salah, beberapa hari yang mereka lewati bersama ini, membuatnya tanpa sadar sedikit demi sedikit mulai merasa nyaman pada Peter. Lemparan candaan, perasaan kesal, bahkan cerita tentang hobinya pun kini bisa dengan luwes ia ceritakan pada lelaki itu.
"Lagipula apa Chelsea?" Peter masih menatap penasaran pada wanita dihadapannya itu.
"Lagipula kau terlalu lemah untuk mengejarku!" ucap Chelsea dalam setarikan nafas. Dia mengambil helm yang terletak di jok belakang motor.
"Apa?! Kau bilang aku lemah?!" Peter tercengang mendengar penghinaan Chelsea.
"Ya. Kau lemah, kau tak akan bisa mengejarku." ujar Chelsea meledek sembari memakai helm.
"Aku tidak lemah. Aku akan buktikan itu nanti." ucap Peter percaya diri sembari memakai helmnya juga.
"Nanti kapan huh?! Dasar kau lelaki lemah." ledek Chelsea, dia senang melihat Peter tampak kesal dengan ledekannya.
"Nanti akan aku buktikan ketika kita bercumbu." Peter menyeringai menggoda Chelsea, sembari mulai menaiki motornya.
Pletak! Kepala Peter yang sudah mengenakan helm kembali mendapat pukulan dari Chelsea.
"Dalam mimpimu, lelaki lemah!" ucap Chelsea sebelum akhirnya ia menaiki motor Peter.
"Apa?!" Chelsea memandang nantang.
"Sudah, cepat jalan. Aku ingin istrirahat." ucapnya kemudian.
Peter menarik nafasnya pelan.
"Peluk aku Chelsea." ucap Peter ketika motor mulai dinyalakan.
"Untuk apa?!" tanya Chelsea heran.
"Untuk ini." Peter langsung meng-gas motornya dengan kekuatan penuh, hingga Chelsea merasa kaget hampir terjengkang.
Senyuman terukir dalam bingkai wajahnya, ketika merasakan kedua tangan Chelsea melingkar erat di pinggangnya. Rapat hingga Peter merasa sedikit sesak.
__ADS_1
Di belakang, Chelsea menyandarkan kepalanya pada punggung kokoh Peter. Ada kehangatan yang mulai masuk merambat dalam hatinya, tiba-tiba dia merasakan kedua belah pipinya memanas ketika mengingat kembali teriakan Peter saat di pagelaran tadi. Chelsea tersenyum malu-malu dibalik punggung lelaki gila itu. Tangannya bergerak semakin erat memeluk pinggang Peter, dadanya mulai berdebar ketika satu pertanyaan muncul dalam benaknya.
"Apakah aku mulai tertarik padanya?"
***
"Arrrkkkhh..."
Teriakan Chelsea membuatnya tersadar dari mimpi buruknya. Dia terengah-engah bangun dari tidurnya, keringat dingin membanjiri dahinya. Nafasnnya tak kunjung tenang, seiring ingatannya mulai menangkap kembali serpihan mimpi buruk yang baru saja ia alami.
Dalam tidurnya, Chelsea melihat dirinya terkurung dalam sebuah ruangan gelap. Tangannya meraba sekeliling ruangan itu, dan ia hanya menemukan dinding-dinding lembab yang terasa mengelupas catnya dibeberapa sisi. Dia ketakutan seorang diri, dadanya terasa pengap karna gelap yang menyelimuti.
Ditengah rasa takut yang muncul, tiba-tiba matanya basah, ketika sekelebat sosok terasa mendekatinya diam-diam. Tanpa suara, hanya terdengar langkah yang menggema melingkupi sosok itu. Rasa ngeri mulai berkuasa dalam diri Chelsea, pandangannya nanar mencoba mencari setitik cahaya dalam kegelapan.
Chelsea masih merasakan aroma udara yang pekat dalam mimpi itu, matanya tak kuasa menahan rasa takut akan sosok yang semakin terasa mendekat dalam mimpinya. Dalam kondisi terduduk diatas kasur, tangisan mulai terdengar dari mulutnya. Ketika ia ingat betul bahwa sosok yang mendekatinya dalam mimpi itu adalah Albert Wilson, ayah tiri biadab yang saat ini mendekam di dalam penjara.
"Aaaaarrrrkkhhh" Chelsea berteriak histeria sambil memukul-mukul selimbut yang terkulai diatas pahanya.
Dia tampak frustasi. Ini kali pertamanya ia memimpikan Albert Wilson kembali, setelah cukup lama mimpi-mimpi buruk itu hilang sejak Abigail berada disisinya.
Teriakan kemarahan namun penuh rasa takut menderanya tak berkesudahan. Pikirannya menjadi kalut, dan amarahnya muncul ketika wajah lelaki biadab itu tergambar jelas dalam kepalanya. Chelsea bangkit dari kasur empuknya, dia butuh udara segar untuk menetralkan sesak di dadanya. Di keheningan malam ia berjalan menuju balkon apartemennya. Setelah pagelaran usai, Chelsea memang meminta Peter mengantarnya pulang ke apartemennya sendiri.
Udara dingin dini hari cukup membuat nafasnya kembali normal, Chelsea memandang jauh ke depan. Dilihatnya ranting-ranting pohon bergoyang lembut tertiup angin. Dalam kesadaran yang semakin jernih, tangannya bergerak mencoba mengusap bekas cambukan yang ia terima dari Albert di punggungnya. Meresapi rasa sakit yang dulu pernah ia rasakan.
"Semua sudah berlalu Chelsea, dia akan membusuk dalam penjara." gumamnya sendiri.
Chelsea menyugarkan rambut blonde panjangnya, mengusap lembut dahi yang beberapa saat yang lalu dibanjiri oleh keringat dingin. Wanita itu tampak terlihat berantakan dan rasa takut terlihat jelas dari sorot matanya. Chelsea berjalan mondar mandir disepanjang balkon. Sambil menggigiti kuku jarinya, ia tampak sedang berpikir.
Mimpi buruk itu entah mengapa lebih terasa nyata dibanding mimpi-mimpi buruknya yang lalu. Apa yang sebenarnya akan terjadi? Apakah ini hanya mimpi buruk biasa akibat dari kelelahan fisiknya karena mengikuti pagelaran musik tadi siang ataukah mimpi buruk kali ini membawa sebuah peringatan untuknya.
Chelsea menyerah. Dia berpikir, bahwa itu hanyalah akibat dari kelelahannya saja. Dengan langkah malas, ia masuk kembali ke dalam kamar. Setelah meminum segelas air dari meja nakas samping kasurnya, ia naik kembali untuk mencoba tidur. Ia berguling mencari posisi yang sekiranya nyaman untuk menuntaskan tidurnya yang sempat terjeda tadi.
"Tuhan, jauhkan aku dari mimpi tentang iblis itu." Chelsea berdoa menatap langit-langit kamar, sebelum ia menutup kembali matanya.
__ADS_1
Berharap kali ini Tuhan benar-benar membebaskannya dari mimpi buruk tentang masa lalu kelamnya.
***