
"Ah alunan musik Chelsea selalu enak didengar." ucap seorang pengunjung kafe yang sedang menikmati penampilan Chelsea diatas panggung.
"Juga indah dilihat, bukan?!" sambung seseorang yang lain. Mereka hanyalah dua dari puluhan orang yang ikut terbius oleh penampilan Chelsea yang memukau saat itu.
Suasana diluar kafe yang sedang gerimis, sangat mendukung lagu sendu yang sedang Chelsea nyanyikan. Petikan gitar listrik, berpadu dengan suara merdu khas Chelsea seakan membuat suasana gerimis diluar, merambat menciptakan gerimis lain di hati siapapun yang mendengarkan lagunya.
"Ck.. Kau dengar itu Peter, Chelsea ternyata memiliki banyak penggemar." ucap Tom pada Peter ketika telinganya mendengar ocehan dari pengunjung kafe.
"Tak salah bukan jika aku pun tertarik padanya." ucap Peter yang ikut terpukau oleh penampilan Chelsea. Sejenak mereka melupakan keinginannya untuk membalas perbuatan jahil Chelsea pada mereka.
"Ya, memang tidak jika kita melupakan bahwa dia memiliki pasangan lesbi." Ed menimpali perkataan Tom dan Peter.
Jarak kursi yang mereka bertiga duduki berada dekat dengan panggung, hanya terselang beberapa meja pengunjung saja. Ed menyalakan rokoknya sambil melihat keluar jendela kafe yang masih menampakkan gerimis di langit Jimbaran.
"Kau merusak suasana Ed." keluh Tom ketika mengingat wanita tomboy incarannya adalah kekasih Chelsea. Ed mencebik dengan mengangkat sedikit bahunya.
"Lihat saja nanti, aku pasti bisa membuat Chelsea berpindah haluan lagi." Peter menatap tajam pada wanita berpenampilan rock n roll di panggung sana.
"Pet, lebih baik kau urungkan niatmu meraih Chelsea." ungkap Ed.
"Kita sudah berteman dengan pasangan lesbi itu, aku tidak ingin merusak pertemanan yang kita jalin dengan mereka." Ed khawatir niat Peter hanya akan membawa keburukan bagi pertemanan mereka dengan pasangan lesbi itu.
"Aku tetap akan mendekatinya Ed. Kau tenang saja, jika dalam kurun waktu aku berada disini Chelsea tidak menunjukkan ketertarikkannya padaku. Aku akan melepaskannya untuk tetap bersama Abigail." ucap Peter penuh perhitungan.
"Lalu bagaimana jika Chelsea menunjukkan ketertarikkannya padamu?" tanya Ed serius.
"Bukankah itu bagus? Aku akan merebutnya dari Abigail jika benar usahaku berhasil." Peter berucap tanpa ragu.
"Dan itu artinya kau telah memasang bendera perang dengan Abigail." Ed tak tahan ingin menimpali ucapan Peter yang terkesan seenaknya.
"Itu resiko Ed, ketika kita menginginkan sesuatu sudah pasti selalu ada resiko yang harus kita tanggung. Dan aku tak keberatan dengan hal itu."
"Aku juga akan melakukan hal yang sama pada Abigail." ucap Tom yang sejak tadi mendengarkan pembicaraan dua sahabatnya.
"Kalian benar-benar gila." Ed putus asa menghadapi kenekatan kedua sahabatnya itu.
"Ya, kami benar-benar gila jika menyangkut wanita idaman kami." sahut Tom sembari menyeringai menatap Ed yang menggelengkan kepala.
__ADS_1
***
Di sebuah taman Los Angeles.
Seekor burung terbang bebas mengitari pepohonan rimbun di taman yang sepi. Langit yang gelap tak membuatnya takut untuk hilir mudik berpindah-pindah dahan. Beberapa burung kecil tampak bertengger nyaman di dahan pohon rimbun. Menemani seorang gelandangan yang sedang berdamai dengan dinginnya malam di kota kecil Los Angeles.
Gelandangan itu berbaring di bangku dingin taman. Berselimbut kain tipis yang sudah berdebu, dengan wajah tertutup rapat oleh sebuah bucket hat yang ia kenakan. Pakaiannya compang camping dengan sepatu yang rusak parah menempel pada kakinya.
Tak ada yang tahu, jika dalam balutan selimut yang menutupi seluruh tubuh dan kepalanya, gelandangan itu sedang sibuk menyusun rencana busuk nan keji. Umpatan keluar tanpa jeda dari mulutnya yang kering dan pucat.
"Aku akan membalasmu j*lang! Akan aku buat kau merasakan apa yang aku rasakan di penjara terkutuk itu." gumamnya mengingat seraut wajah gadis yang beberapa tahun lalu melarikan diri dari sekapannya.
"Kau lihat saja Chelsea, akan aku cari kau hingga dapat." ucapnya getir sambil menahan perih yang muncul tiba-tiba dari lubang an*snya.
Ya. Gelandangan itu adalah Albert Wilson. Ayah tiri Chelsea yang tiga tahun lalu mendekam di penjara karna kasus pelecehan seksual dan penganiayaan.
Setelah bertahan selama tiga tahun dalam penjara, dan mendapatkan berbagai macam kekerasan serta pelecehan seksual dari para napi lain, ia memutuskan untuk kabur dari penjara itu.
Penjara di Los Angeles memiliki desain yang berbeda dari penjara-penjara lainnya, penjara tempat Albert Wilson mendekam ini lebih mengacu pada desain perumahan sebagai ruangan daripada sel yang menjadi ciri khas penjara dan penjara ini tidak menggunakan jeruji besi pada pintu selnya. Karena di desain khusus menggunakan jendela kaca piring, balkon, dan atrium, persis seperti bangunan perkantoran.
Dengan menahan sembilu disekujur tubuhnya, Albert menggeram murka mengingat apa saja yang sudah menimpanya di penjara.
Sampai di suatu malam, setelah Dia tak kuasa lagi menerima berbagai macam pelecehan seksual, dia nekat untuk kabur. Dengan menjadikan seluruh luka memar dan infeksi pada lubang an*snya, Albert mengajukan permohonan pengobatan. Tujuannya adalah keluar dari sarang predator seksual itu.
Ketika permohonannya terkabul, Albert seorang diri merencanakan pelariannya dari rumah sakit tempatnya dirawat. Dia berhasil mengelabui petugas yang mengawalnya, dan kabur dari rumah sakit itu.
Kini, dalam pelariannya ia bersembunyi di sebuah kota kecil di Los Angeles dengan menyamar di sekumpulan gendangan. Pakaian lusuh, luka memar dan wajah yang kumal berhasil membuatnya tersamarkan dari pengejaran polisi Los Angeles yang sedang gencar mencari keberadaannya.
Saat ini ia masih ingin menyamar menjadi gelandangan yang hidup berpindah-pindah, sampai nanti pengejaran polisi sedikit lebih lengah. Dan saat itulah ia akan menuntaskan dendamnya untuk mencari keberadaan Chelsea.
***
Langit Jimbaran sudah gelap saat Chelsea keluar dari dalam kafe, dia menatap langit yang masih setia menurunkan butiran air dengan intensitas yang cukup untuk dikatakan deras.
Chelsea mengucir rambut panjangnya menjadi kuncir kuda, dan melihat jam dipergelangan tangannya.
"Abigail pasti sudah berada di apartemen." gumamnya seorang diri.
__ADS_1
Dia melihat jalanan di Jimbaran yang masih saja ramai meski hujan mengguyur deras, orang-orang berlalu lala dengan payung yang mereka jadikan pelindung diri dari terpaan air hujan.
Tin.. Tin.. Tin..
"Chelsea!" Peter memanggil dari dalam mobil yang ia pinjam dari Ed.
Chelsea menoleh pada Peter yang terlihat sedang mengemudikan mobil, posisinya yang terhalang banyak orang membuat Chelsea memiringkan kepala mencari keberadaannya.
"Ada apa?" sahut Chelsea ketika dia berhasil melihat wajah Peter.
"Kau akan pulang?"
"Ya, memang kenapa?"
"Ayo naik, aku antar."
Chelsea terdiam sejenak, entah kenapa otaknya berpikir bahwa Peter akan mengerjainya karna ulahnya di La Plancha tempo hari. Dia memicingkan mata curiga.
"Ya ampun, tenang saja aku tidak sejahil dirimu Chelsea." ucap Peter seolah tahu apa yang membuat Chelsea terdiam.
"Memang apa yang aku pikirkan?" Chelsea menanya balik.
"Hanya dengan melihat raut wajahmu saja, aku tahu apa yang ada di kepalamu." Peter memutar bola matanya malas.
"Kemana Tom?" tanya Chelsea ketika melihat hanya ada Peter di dalam mobil.
"Dia masih akan disini bersama Ed." jawabnya datar
"Cepat masuk Chelsea, kau ingin segera pulang atau tidak." Peter geram melihat Chelsea tak beranjak menghampirinya.
Chelsea diam sejenak, dia menatap langit yang masih enggan berhenti menurunkan hujan. Perlahan ia menghembuskan nafasnya, dan menatap kembali pada Peter yang menantinya dengan kesal.
"Baiklah, antarkan aku kembali ke apartemen Abigail." ucapnya seraya melangkah menghampiri Peter.
Mata Peter bersinar senang melihat Chelsea menghampirinya. Disepanjang langkah Chelsea untuk mendekati mobilnya, senyuman lebar menghiasi wajah Peter. Hatinya tak bisa pungkiri, kehadiran Chelsea benar-benar membuatnya mati penasaran.
"Gotcha! Kena kau." Peter bersorak senang dalam hati begitu Chelsea membuka pintu mobil.
__ADS_1
***