
"Chelsea, boleh aku tahu sesuatu?" tanya Peter ditengah perjalanan.
"Tanya apa?" sahut Chelsea menengok pada Peter yang sedang menyetir.
"Bagaimana kau bisa berakhir dengan Abigail?" tanyanya penuh dengan kehati-hatian.
Chelsea tak segera menjawab, dia menatap langit gelap di balik jendela. Menempelkan telapak tangannya pada jendela yang kuyup oleh hujanan air.
"Entahlah." ucap Chelsea dengan pandangan menerawang.
"Maksudmu?"
"Hubunganku dengan Abigail terjadi begitu saja." Chelsea menjawab datar.
"Bagaimana kau bisa menjalin hubungan dengannya?"
Chelsea sedikit bingung untuk memberi jawaban. Karna hal ini begitu sensitif untuk dikemukakan, dia sadar hubungan sesama jenis akan selalu menjadi hal yang kontroversi bagi siapapun. Tak terkecuali Peter.
"Aku bertemu dengannya di pantai Kuta, saat itu ia sedang berlibur dan melihatku sedang membuat tato beberapa turis disana. Lalu dia ingin aku buatkan juga, dan terjadilah perkenalan." Chelsea terkesan bercerita dengan enggan.
"Sejak kapan kau tertarik pada sesama jenis?" Peter ingin tahu lebih dalam alasan dibalik orientasi seksual Chelsea yang bertolak belakang dengan kodratnya.
"Aku tidak tahu. Mungkin sejak dekat dengan Abigail dan merasakan kenyamanan dengan kedekatan itu, rasa tertarik mulai ada." ungkapnya santai.
"Sebelumnya kau pernah berhubungan dengan lelaki?" Peter beberapa kali melihat bergantian pada Chelsea dan jalanan dari dalam mobilnya.
Ketika Peter mengajukan pertanyaan itu, Chelsea diam menerawang jalanan yang ramai oleh kendaraan. Pikirannya terbang pada beberapa tahun kebelakang, mencoba mengingat kembali trauma yang pernah ia rasakan setiap kali berhubungan dengan lelaki dalam konteks hubungan 'spesial'. Kejadian itu menyisakan kegelisahan yang mengganggu bagi Chelsea, sebab ia tak tahu apakah ia harus bersyukur dengan kehadiran Abigail yang berhasil membuatnya melupakan sedikit traumanya ataukah ia harus menjauh dari Abigail yang telah berhasil menariknya pada satu hubungan 'spesial' yang tak biasa.
"Chelsea."
"Chelsea."
Berulang ulang Peter memanggil Chelsea yang termenung hanyut dalam pikirannya sendiri, sampai akhirnya Chelsea menoleh padanya dengan tatapan yang sulit untuk ditebak.
"Maaf Peter, sebaiknya kau fokus menyetir dan berhenti bertanya." ucap Chelsea datar.
__ADS_1
Peter yang entah bagaimana bisa memahami maksud tersirat Chelsea, hanya menyunggingkan senyumnya geli. Dia sadar, mungkin pertanyaannya sudah mulai terasa mengusik hati Chelsea, namun Peter juga tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya akan masa lalu Chelsea. Bagaimana dia bisa terdampar di Bali, bagaimana dia bisa memilih Abigail menjadi kekasihnya. Pertanyaan-pertanyaan itu berkelebatan dalam pikirannya. Peter yakin, Chelsea yang kini diam seolah tak ingin mengungkapkan jati dirinya, pasti sedang menyembunyikan sesuatu. Dia jadi ingat perkataan Ed di kafe saat mereka pertama kali bertemu, Chelsea gadis menarik penuh dengan kemisteriusan yang memikat. Dan sialnya, Peter semakin ingin mengenalnya lebih dekat.
***
Tepat disebuah hunian bertingkat mobil yang dikendarai Peter berhenti. Di depannya terdapat taman mini dengan tatanan bongsai yang rapi. Dari sebelah kanan di kejauhan nampak beberapa hunian yang sama berbaris rapi menghadap danau buatan yang berada tepat di depannya, antara danau dan hunian Abigail hanya dibatasi oleh jalanan untuk kendaraan yang ingin melintas.
"Kau selalu tinggal disini bersama Abigail?" tanya Peter pada Chelsea. Mereka masih berada di dalam mobil menatap ke arah apartemen Abigail.
Chelsea melihat lampu apartemen Abigail yang mati, menandakan bahwa Abigail belum pulang dari pekerjaannya.
"Ya. Abigail tak mengijinkanku untuk kembali ke apartemenku." ucap Chelsea santai.
"Apa yang kalian lakukan di dalam sana?" pertanyaan bodoh Peter meluncur begitu saja, membuat pipi Chelsea merona menahan malu.
"Pertanyaan macam apa itu?!" ucap Chelsea berusaha bersikap biasa.
"Bukan begitu maksudku, aku hanya..."
"Hanya orang bodoh yang tak tahu malu yang akan bertanya seperti itu." Chelsea memotong ucapan Peter.
Chelsea mendengus sebal, Peter memang orang yang senang berbicara asal.
"Sudahlah, kau lebih baik segera pergi. Terima kasih sudah mengantar." ucap Chelsea seraya membuka gagang pintu mobil.
Belum juga Chelsea menggerakkan kakinya menuju pintu mobil yang menganga, tangan Peter secara tiba-tiba menarik lengan Chelsea, hingga Chelsea secara otomatis membalikkan tubuhnya mengikuti tarikan tangan Peter.
"Jika aku berniat untuk mendekatimu. Apakah kau akan mengijinkan?" Peter tak tahan lagi ingin mengatakan keinginannya sejak awal.
Chelsea tampak terkejut dengan pertanyaan Peter yang terkesan terburu-buru, dia merasa heran mengapa Peter yang belum lama ini ia kenal ingin mendekatinya, padahal ia tahu bahwa Chelsea seorang lesbi yang sudah memiliki kekasih.
"Apa aku tak salah dengar?" Chelsea menatap heran pada Peter yang tampak serius dengan ucapannya.
"Kau tidak salah dengar Chelsea. Aku bukan tipe lelaki yang senang berbasa basi, maka dari itu aku ingin mengatakan ini padamu. Bahwa sejak pertama kali aku melihatmu di kafe, aku sudah tertarik padamu." ungkap Peter. Chelsea yang tadinya akan keluar mobil, mengurungkan niatnya. Dia menutup kembali pintu mobil dengan tangan Peter yang masih memegang lengannya.
Chelsea menghembuskan nafasnya panjang "Kau tertarik pada orang yang salah, Peter."
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Peter.
"Aku lesbi." ucap Chelsea penuh penekanan.
"Aku tahu, tapi itu tak menghalangi keinginanku untuk mendekatimu." Peter melepaskan tangannya dari lengan Chelsea.
"Aku serius Chelsea, aku akui pertemuan kita terbilang sangat singkat. Kau mungkin sangsi dengan apa yang aku katakan, maka dari itu ijinkan aku mendekatimu. Setidaknya dengan begitu baik aku maupun kau sama-sama dapat melihat sejauh apa keseriusanku."
"Aku tidak bisa. Bagaimana mungkin aku mengijinkan seseorang mendekatiku sedangkan aku telah terikat hubungan dengan yang lain." tolak Chelsea
Sejenak keheningan membentang melingkupi mereka berdua, Chelsea tidak tahu apa yang harus ia lakukan dengan keinginan Peter. Sedangkan Peter, tampak sibuk berpikir mencari celah agar Chelsea memberikan ijin kepada Peter untuk mendekatinya.
"Bagaimana jika kau ijinkan aku untuk mendekatimu selama masa berliburku disini, Chelsea?" Peter membuat penawaran setelah beberapa saat hanyut dalam keterdiaman.
Chelsea menolehkan kepala melihat Peter, terlihat dari raut wajahnya bahwa ia akan tetap menolak keinginan Peter.
"Please." Peter sedikit mengiba ketika melihat mulut Chelsea siap untuk mengeluarkan ucapan penolakannya.
"Aku serius Chelsea. Aku mohon ijinkan aku untuk mendekatimu. Aku berjanji disepanjang usahaku untuk mencoba dekat denganmu, aku tidak akan mengusik hubunganmu dengan Abigail. Bahkan Abigail tidak akan tahu dengan apa yang kita bicarakan ini." Peter menatap lekat bola mata Chelsea dengan yakin.
"Aku tidak bisa Peter, kau akan terluka nanti." Chelsea tetap ingin menolak Peter.
"Kau tidak perlu memikirkan perasaanku Chelsea, cukup kau berikan aku kesempatan saja. Please." Peter mengatupkan kedua tangannya di depan dada.
Chelsea tidak tahu lagi bagaimana cara menolak Peter,
"Terserah padamu, jangan salahkan aku jika hanya kekecewaan yang bisa aku berikan pada akhirnya." ucap Chelsea pasrah dengan permohonan Peter. Dia membuka kembali gagang pintu yang tadi ia tutup.
"Terima kasih telah mengantarku." Chelsea langsung menjejakkan kakinya dari mobil Peter. Tanpa melihat pada Peter, dia melangkah untuk memasuki aparatemen Abigail.
Mata Peter tak lepas dari sosok Chelsea yang mulai menjauh, dia tersenyum menatap lekat wajah gadis incarannya itu. Desiran lembut muncul seiring senyuman yang tak lekas meninggalkan bibirnya. Dalam gelapnya malam, Peter berucap lirih.
"Kau tidak akan pernah tahu akhir dari setiap cerita yang kita buat Chelsea, dan kau lihat saja, akan aku pastikan akhir cerita kita menjadi akhir cerita yang indah untuk kita kenang bersama."
Peter mulai menjalankan kembali mobilnya begitu Chelsea memasuki apartemen. Dia bersenandung lirih disepanjang perjalanannya menuju kafe Ed. Ini baru langkah awal dalam misinya membuat Chelsea tertarik padanya. Masih banyak hal yang harus ia lakukan, dan ia tidak akan menyia-nyiakan waktunya begitu saja.
__ADS_1
***