Punk In Love

Punk In Love
Risau


__ADS_3

La Plancha, Seminyak Bali.


Chelsea termangu duduk di kursi teras studionya. Hari itu masih terlalu pagi bagi wisatawan untuk mulai datang menikmati keindahan La Plancha. Namun Chelsea memilih untuk segera beroperasi, meski masih terlalu sepi. Aroma asin khas pantai, memenuhi penciumannya. Sesekali jemarinya bergerak merapikan helai rambut yang tersapu desir angin laut. Matanya memandang dedaunan yang bergesek di sepanjang pasir berbawa angin, menjauh lalu kembali dan menjauh lagi.


Sejak malam itu, Chelsea dan Peter belum bertemu kembali. Kemarin bahkan Chelsea meminta izin pada Ed untuk meliburkan diri dari pekerjaannya menjadi penyanyi. Sakit, alasan yang paling ampuh untuk mendapatkan persetujuan dari pemilik kafe tersebut. Peter sejak kemarin belum menghubungi Chelsea kembali. Itu merupakan suatu hal yang saat ini Chelsea syukuri. Karena sungguh, Chelsea belum siap untuk bertemu dan berhadapan lagi dengan lelaki yang menyatakan cinta kepadanya.


Kondisi La Plancha yang masih lenggang, sedikit menguntungkan untuk Chelsea. Dia bisa berlama-lama duduk termangu menikmati hembusan angin dan pemandangan indah lautan La Plancha tanpa terganggu oleh para custumers yang meminta dibuatkan tato olehnya. Chelsea tampak menarik nafasnya dalam-dalam, dan menghembuskannya kasar. Siapapun yang melihatnya, pasti akan tahu bahwa ada sesuatu yang sedang dipikirkan oleh wanita punky tersebut.


"Sayang!"


Teriakan Abigail mengejutkan Chelsea. Chelsea menengok pada sumber suara. Matanya melebar melihat kekasihnya berjalan tergesa menghampirinya. Senyuman tipis menyambut Abigail, begitu ia telah sampai pada kekasihnya yang duduk santai di teras studio.


"Kau sudah datang?" Chelsea masih tampak tak percaya akan sosok Abigail di hadapannya. Ia tampak canggung.


"Seperti yang kau lihat." Abigail tak menyadari kecanggungan raut wajah Chelsea. "Kau tak ingin menyambutku? Dengan ciuman atau pelukan, mungkin." Abigail menyeringai jenaka pada Chelsea yang masih duduk di kursi.


Chelsea gelagapan. Namun sepersekian detik ia mampu menguasai dirinya. Ia berdiri, merentangkan kedua tangan dan memeluk Abigail. Sekedarnya. Sedangkan Abigail, ia memeluk erat kekasih yang lama tak dilihatnya itu. Hatinya membuncah oleh rasa rindu yang tak terkira. Setelah dirasa cukup memeluk erat Chelsea. Abigail sedikit merenggangkan pelukannya, bibirnya dengan cepat mendarat dibibir Chelsea. Chelsea sedikit tersekiap, ketika merasakan bibirnya disesap oleh Abigail. Namun ia membiarkan Abigail melakukan hal yang biasa ia lakukan pada Chelsea.


"Astaga. Ada apa dengan raut wajahmu sayang?" tanya Abigail ketika melepaskan ciumannya dan beralih memperhatikan wajah Chelsea. Tangannya merapikan anak rambut Chelsea yang menghalangi pandangannya. "Apa kau sakit? Wajahmu tampak sedikit pucat." Abigail meletakkan telapak tangannya di kening Chelsea, merasakan suhu tubuh kekasihnya.


"Tidak. Aku hanya kurang tidur saja Abigail." Chelsea menepis telapak tangan Abigail lembut, dia mencoba tersenyum senang melihat kekasihnya berada dihadapannya.


"Kapan kau sampai? Kau tidak mengabariku." dengus Chelsea menatap sebal Abigail.


"Aku sengaja. Ingin memberi kejutan padamu." Abigail mencubit gemas pipi halus Chelsea.


"Ayo masuk." Chelsea menarik lengan Abigail agar mengikutinya ke dalam studio. "Bagaimana keluargamu disana? Apa mereka baik-baik saja?" tanya Chelsea berjalan sembari melihat pada Abigail disampingnya.


Abigail merangkul pundak Chelsea mesra. Pandangannya lurus kedepan melihat kondisi studio Chelsea yang tampak rapi karna belum kedatangan pelanggan.


"Mereka baik-baik saja. Kemarin ada sedikit masalah di perusahaan, terkait para pemegang saham. Dan setelah semuanya selesai ayah memintaku untuk mengisi posisi direktur karna ia ingin pensiun dari jabatannya." Abigail mengingat kembali semua hal yang terjadi di Amerika.


Abigail terdiam sejenak. Tiba-tiba ia mengingat sesuatu hal untuk ia sampaikan pada Chelsea. Ia menengokkan kepalanya menatap Chelsea dari samping. Ia ragu untuk menceritakan hal itu.


"Nanti saja" kata itulah yang kemudian ia gumamkan dalam hati.

__ADS_1


"Berarti sekarang kau seorang direktur?" Chelsea tak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Ia tersenyum bangga pada Abigail.


"Ya begitulah." saut Abigail santai, hatinya melambung melihat senyum puas yang terpatri diwajah cantik Chelsea.


"Permisi.."


Suara beberapa orang menghentikan langkah mereka. Chelsea menengok ke arah pintu studio terlebih dulu. Dia membalikkan badan begitu melihat dua pasang wisatawan asing berdiri di ambang pintu. Abigail mengikutinya. Chelsea menebak wisatawan itu pasti dari negara asia, entah itu cina, jepang atau korea, Chelsea belum bisa memastikannya. Hanya tipikal fisik merekalah yang membuat Chelsea yakin pasti bahwa mereka orang asia.


"Apakah studio tato ini sudah buka?" tanya seorang lelaki bermata sipit menggunakan bahasa Inggris dengan dialek yang sedikit aneh di telinga Chelsea. Jelas orang itu tak fasih berbahasa Inggris.


"Kami ingin dibuat tato." wanita sipit dengan topi pantai menutupi kepalanya menimpali. Ia berdiri disebelah lelaki yang bertanya pertama. Bahasa Inggrisnya terasa lebih baik dari lelaki itu.


Jarak Chelsea dan para calon pelanggannya itu hanya beberapa meter saja, Chelsea bisa melihat sepasang lelaki dan wanita di belakang wanita bertopi pantai itu berbisik menggunakan bahasa asing kepada lelaki disampingnya. Entah apa yang mereka bicaranya, baik Chelsea ataupun Abigail hanya melihat mereka menganggukan kepala, sebelum akhirnya keempat orang itu menatap kembali kearah Chelsea dan Abigail.


Chelsea melihat sejenak pada Abigail. Seolah mengerti arti dari pandangan Chelsea, Abigail mengangguk sembari tersenyum lembut.


"Lakukan pekerjaanmu. Aku akan menunggu." ucap Abigail setengah berbisik.


Tanpa membalas ucapan Abigail, Chelsea menatap keempat wisatawan asing itu. Dia tersenyum ramah, dan senyuman itu menular pada keempat orang di hadapannya. Mereka tersenyum melihat Chelsea tersenyum.


"Mari masuk. Akan aku buatkan tato yang indah untuk kalian." ucapnya mempersilahkan keempat orang itu untuk masuk.


***


"Sejak dulu beginilah cinta, deritanya tiada akhir." ucapnya lirih.


Tom melihat pada wadah kacang yang hampir penuh. Ia mengambilnya segenggam untuk kemudian ia makan satu per satu kacang itu.


"Apa kau akan terus bertingkah bodoh seperti ini Peter?!" tanya Tom sambil mengunyah kacangnya.


Peter tampak tak peduli dengan pertanyaan Tom. Namun ia tetap menolehkan kepalanya melihat pada Tom yang berdiri di seberang meja pantry.


"Jangan menggangguku. Aku sedang sibuk." ucap Peter tanpa ekspresi. Tangan dan bibirnya kembali pada kacang kulit itu. Mengupasnya lalu menghitungnya.


Tom kesal melihat kebodohan sahabatnya itu. Otak jahilnya aktif kembali.

__ADS_1


"136 138 132 165.." Tom mengacaukan hitungan kacang kulit Peter.


"Oh ya Tuhan. Sialan kau!! Berapa ini tadi?!" Peter tersadar dari kesalahannya menghitung akibat Tom yang mengacaukan hitungannya. Dia tampak gusar menatap kesal pada Tom yang tampak menyeringai.


"Kau seperti orang gila Pet." ujar Tom.


"Justru dengan begini aku tidak gila. Kau tau, sejak kemarin Chelsea terus saja mengganggu pikiranku. Aku lelah memikirkannya." keluh Peter.


Tom terkekeh geli mendengar hal tak biasa dari sahabatnya itu. Peter, Tom dan Ed bersahabat sejak mereka berkuliah di Stanford University California. Satu dari sepuluh Universitas terbaik di Amerika Serikat. Mereka sama-sama mengambil jurusan bisnis disana. Lamanya persahabatan mereka, membuat ketiganya hafal dengan baik karakter dari masing-masing. Tom mengenal Peter sebagai seorang lelaki playboy yang senang mengencani banyak wanita. Dalam satu bulan, bahkan Peter bisa beberapa kali berganti-ganti pasangan. Peter tidak akan ambil pusing, pada wanita yang marah akibat tingkahnya yang dinilai mata keranjang oleh sebagian besar wanita yang pernah menjadi kekasihnya. Tom bahkan mengingat betul bagaimana Peter bersikap santai ketika seorang wanita yang ia putuskan sepihak meraung-raung menangis di depan apartemennya. Tak ada rasa bersalah atau penyesalan dari sorot mata Peter kala itu.


Tidak pernah sekalipun Tom melihat Peter gundah gulana, risau atau bahkan takut dalam menghadapi wanita. Maka dari itu sikap Peter saat ini benar-benar menjadi hal yang baru bagi Tom. Apalagi ketika Tom melihat raut wajah Peter yang sangat gelisah memikirkan seorang wanita yang bahkan baru ia kenal dekat beberapa hari belakangan.


"Berhenti mengejekku atau kau ingin merasakan dilempari kacang semangkuk ini." Peter geram melihat Tom terus saja terkekeh geli menatapnya.


"Ok ok. Sory Pet." ucap Tom disela kekehannya. " Tapi sungguh, ini hal yang baru aku lihat darimu. Kau begitu terlihat gelisah hanya karna memikirkan seorang wanita?!" Tom kembali terkekeh. Peter gemas melihatnya, hingga ia melempari Tom dengan kacang kulit yang sedang ia kupas.


"Enyah kau siluman kelabang!" umpat Peter sekenanya.


"Au au.." Tom kesakitan mendapat lemparan kacang dari Peter. "Hentikan Pet! Au sialan kau!" Tom balas mengumpat sambil mengambil kacang yang sudah terkupas. Gantian, kini Tom yang melempari Peter.


"Keluar kau Jin Ifrit!" Tom melempari Peter seperti seorang pendeta menyirami air suci pada jemaatnya.


"Au.. Sakit brengsek!" umpat Peter ketika satu biji kacang dengan cepat melesat mengenai keningnya.


Tom meracau sembari melempari Peter dengan biji kacang. Dalam racauannya sesekali terdengar kata 'amin' dan 'amitaba'.


"Apa yang kau lakukan, brengsek!" Peter menghalangi lemparan kacang dengan menutupi wajahnya menggunakan kedua telapak tangan yang ia rentangkan lebar-lebar.


"Diam. Aku sedang membersihkan jiwa kotormu, bodoh!" Tom terus saja meracau sembari terkekeh geli sesekali.


"Sialan kau manusia kera!" umpat Peter, ia berjalan ingin merampas wadah kacang dari Tom. Namun Tom bergerak mundur menjauhi Peter sembari terus melempari biji kacang pada tubuh Peter.


"Kau bertingkah seperti orang gila karna wanita, pasti karna ada banyak Jin di tubuhmu." Tom menyeringai melihat kekesalan sahabatnya.


"Sialan kau! Jin didalam tubuhmu lebih banyak lagi brengsek!" Peter mulai berlari mengejar Tom yang berlari terlebih dulu.

__ADS_1


"Aaarrkkkhh.. Aku dikejar siluman kadal, toloooong." teriak Tom sambil berlari kencang menuju area kolam renang dan menceburkan diri kedalamnya. Peter yang melihat itu, langsung menceburkan diri juga kedalam kolam renang. Begitu kepala mereka sampai di permukaan, tanpa kata apapun keduanya tertawa bersama. Tom menertawai kegilaan Peter. Dan Peter menertawai kegelisahan hatinya.


***


__ADS_2