Punk In Love

Punk In Love
Peluang Kedua


__ADS_3

Peter merentangkan kedua tangannya dihadapan Chelsea yang hendak keluar kafe saat malam mulai larut. Dia tersenyum jenaka pada Chelsea yang mengerutkan dahinya.


"Apa yang kau lakukan?" Chelsea berkacak pinggang menatap malas pada Peter.


"Kau tidak dijemput Abigail?"


"Apa urusannya denganmu?"


"Minggir." Chelsea berusaha menyingkirkan Peter dari hadapannya, namun Peter tak bergeming. Dia tetap merentangkan tangan mencegah Chelsea untuk keluar kafe.


"Aku akan tetap seperti ini jika kau tak menjawab pertanyaanku."


"Astaga! kau benar-benar menyebalkan." Chelsea menajamkan matanya.


"Kemana Abigail?" tanya Peter lagi.


Chelsea menghembuskan nafasnya panjang,


"Dia sedang ada urusan di Amerika." sahut Chelsea menyerah dengan kekeras kepalaan Peter.


Seketika raut wajah Peter menjadi cerah, dia menurunkan kedua tangannya yang terentang. Dengan senyuman lebar yang berukir di wajahnya, Peter menatap Chelsea sumringah.


"Sampai kapan dia akan disana?" tanyanya tak sabar.


"Cih! Kau tampak senang sekali mendengar Abigail di Amerika." Chelsea mendengus sebal.


"Kau belum menjawab lagi pertanyaanku." ucap Peter berusaha terlihat tenang, meskipun itu tidak berhasil.


Kepergian Abigail tentu menjadi angin segar bagi Peter, dia yang sudah mengutarakan keinginannya untuk mendekati Chelsea kini memiliki peluang besar untuk lebih banyak menghabiskan waktu melancarkan misinya. Entah mengapa semuanya terasa sangat kebetulan, ditengah-tengah kesibukannya memikirkan cara untuk mulai pendekatan pada Chelsea. Ternyata Tuhan seolah memberikannya jalan dengan membuat Abigail pergi ke Amerika.


"Aku tidak tahu."


"Sekarang bolehkah aku keluar? kau menghalangi jalanku." ucap Chelsea kemudian.


"Baiklah, aku akan mengantarkanmu pulang." ujar Peter sambil menyilangkan tangannya di dada.


Chelsea semakin mengerutkan keningnya,


"Aku bisa pulang sendiri." Chelsea beranjak dari tempatnya berdiri, namun lagi-lagi Peter menahannya dengan memegang tangan Chelsea ketika ia melintasi Peter.


"Apa lagi Peter?" tanyanya malas.


"Aku akan mengantarmu Chelsea." ucap Peter dengan nada bicara dibuat malas menyamai Chelsea.


Chelsea memutar bola matanya malas, dia tahu apa yang ingin Peter lakukan.


"Tapi aku tidak mau, Peter." tolak Chelsea.


"Lepaskan!" Chelsea menggibaskan tangannya agar terlepas dari genggaman Peter. Namun usahanya sia-sia, cengkraman Peter terlalu kuat hingga tak bisa lepas hanya dengan sebuah gibasan.


"Kau sudah mengijinkanku untuk mendekatimu." Peter mengingatkan


"Biarkan aku berperan sebagai Abigail selama dia berada di Amerika. Bagaimana?"

__ADS_1


"Kau sakit jiwa."


"Ayolah Chelsea." Peter mulai memasang wajah memelasnya.


"Tidak."


"Ya."


"Tidak Peter." Chelsea menggeram.


"Iya Chelsea cantik."


"Peter!!" Chelsea menatap kesal pada Peter yang tampak santai di hadapannya.


"Ayolah, kau tidak sedang berbohong bukan?! Saat kau membolehkanku mendekatimu." tanya Peter.


"Oh Tuhan, Kenapa ada manusia menyebalkan seperti ini di hidupku." Chelsea menengadahkan kepalanya menatap langit-langit, sedang Peter tersenyum jahil menatap dirinya.


Chelsea menghembuskan nafasnya kasar, jemarinya menyugar rambut blonde yang tergerai indah sembari menatap jengah pada lelaki gila di hadapannya.


"Baiklah." ucapnya putus asa.


"Sekarang lepaskan tanganmu." lanjut Chelsea menggeram pada Peter yang tersenyum lebar.


"Oke." ujar Peter singkat sambil mulai mengikuti langkah Chelsea dibekalang.


Sambil mengikuti langkah Chelsea, Peter menengok kebelakang. Dia melihat kursi tempat Tom, Ed dan Lastri duduki, Peter menyeringai sambil mengacungkan jempolnya pada mereka. Tom dan Lastri terkekeh senang melihat keberhasilan Peter merayu Chelsea, kecuali Ed yang tampak malas dengan menggelengkan kepala tak percaya.


"Kau tidak mulai memasang perangkap Tom? Bukankah kau juga sedang mengincar Abigail?!" tanyanya sembari mengambil minuman di meja.


"Ya, tapi perangkap ku akan aku pasang ketika Peter berhasil merebut Chelsea." Tom menyeringai misterius.


"Maksudmu?" Ed menyahuti.


"Ayolah, kalian tahu apa yang aku maksud." Tom menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi. Dia melipat kedua tangannya didepan dada sambil menatap kedua orang di depannya.


"Ketika Peter berhasil, otomatis kondisi hubungan Chelsea dan Abigail akan retak bukan?! Nah, saat itu lah akan aku pasang perangkap untuk mendapatkan perhatian Abigail." Tom menjelaskan dengan santai.


"Oh My God! kalian benar-benar....." Ed menepuk jidatnya mendengar penuturan Tom.


"Jenius. Kau menghemat banyak energi berkat Peter." Lastri terkekeh melihat Tom. Dia sudah sadar kemana arah pembicaraan sahabat suaminya itu.


Tom tersenyum melihat respon dari Ed dan Lastri, diam-diam dia juga sudah tidak sabar ingin segera melihat akhir dari usaha Peter untuk mendapatkan Chelsea.


***


Peter tak henti-hentinya menolehkan kepala melihat Chelsea yang tampak cuek duduk disampingnya. Dia tersenyum tipis mengingat beberapa hari ke depan bisa leluasa mendekati Chelsea, dia tidak ingin


menyia-nyiakan kesempatan itu.


"Berhenti menatapku dan lihatlah ke depan Peter." ucap Chelsea yang menyadari tatapan Peter.


Peter terkekeh malu dengan ucapan Chelsea.

__ADS_1


"Aku dengar kau akan bernyanyi di pagelaran musik akhir pekan ini, Chelsea?" tanyanya memecah kecanggungan yang tiba-tiba tercipta.


"Darimana kau tahu?" tanya Chelsea menoleh pada Peter.


"Para pengunjung di kafe sibuk membicarakannya."


"Oh. Ya, aku akan bernyanyi disana."


"Sejak kapan kau suka bermusik?" tanya Peter kemudian.


Chelsea tampak terdiam memandangi jalanan Jimbaran yang mereka lintasi, matanya melihat pada langit yang bersih dengan bulan yang bersinar terang.


"Sejak aku masih di Los Angeles." jawabnya singkat, dia tidak mungkin menceritakan bahwa bermusik mulai menjadi hobinya saat ia bergelut mengatasi trauma menjadi korban pelecehan seksual di panti rehabilitasi trauma healing.


"Keluargamu masih disana?" tanya Peter kemudian.


"Ya, makam mereka disana." jawabnya datar.


"Oh Sorry Chelsea, aku tidak bermaksud... "


"Tak masalah Pet." Chelsea langsung memotong ucapan Peter.


"Orangtuaku memang sudah lama meninggal, mereka meninggalkanku sendiri tanpa keluarga." ucapnya sendu.


"Kau tidak sendiri Chelsea, banyak orang yang menyayangimu disini." Peter mencoba menghibur.


Chelsea terdiam tak menghiraukan ucapan Peter, ia menatap jalanan malam yang lenggang karna mereka mulai memasuki area kompleks apartemen Abigail. Rasa ngeri mulai menjalar di dalam jiwanya, ketika sosok Albert Wilson tiba-tiba muncul bagai bayangan hitam yang mencoba meraih ingatannya kembali. Dia menggelengkan kepala pelan untuk mengenyahkan kelebatan sosok baj*ngan yang telah memperkosanya.


"Membusuklah kau disana, Albert!" gumam Chelsea dalam hati.


Begitulah Chelsea, jika seseorang menanyakan tentang dirinya atau keluarganya. Pasti secara tidak langsung, tanpa Chelsea inginkan sosok Albert akan serta merta muncul dalam kepalanya. Seolah Albert telah menjadi salah satu sejarah besar perjalanan hidup seorang Chelsea yang tidak mungkin bisa Chelsea lupakan. Entah mengapa Chelsea mulai menyadari bahwa Albert dengan segala perbuatannya belum sepenuhnya menghilang. Pengobatan di Rehabilitasi Los Angeles nyatanya tak berhasil membuat Chelsea melupakan mimpi buruknya.


"Chelsea." ucapan Peter membawa kembali Chelsea pada kesadarannya akan apartemen Abigail yang sudah berada di depan matanya. Dia menoleh pada Peter yang tampak penasaran.


"Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Peter menghadapkan tubuhnya pada Chelsea.


"Tidak ada." jawab Chelsea singkat.


"Aku tahu ada yang sedang mengusik pikiranmu, Chelsea. Sejak tadi kau diam termangu seperti orang yang sedang memiliki masalah."


"Setiap orang memiliki masalah, Peter." ujar Chelsea sembari memegang gagang pintu mobil


"Lalu apa masalahmu?" tanya Peter menyelidik. Dia menahan Chelsea untuk membuka pintu mobil.


"Aku rasa kita tidak cukup dekat untuk saling bercerita." dengus Chelsea, dia tidak suka Peter memaksanya bercerita. Apalagi itu menyangkut masa lalunya.


"Ok. Baiklah." ucap Peter ketika ia melihat penolakan yang keras dari kedua bola mata Chelsea yang tampak gusar. Chelsea masih membentengi dirinya pada Peter dan Peter menyadari itu.


"Aku tidak akan memaksamu untuk bercerita, namun jika kau membutuhkan tempat untuk menumpahkan keluh kesahmu, kau tahu aku selalu memiliki banyak waktu untuk mendengarkanmu." lanjutnya kemudian.


Chelsea tampak enggan untuk menimpali ucapan Peter, dia bergegas membuka pintu mobil dan mulai melangkahkan kaki untuk segera masuk ke dalam tanpa menengok kembali pada Peter yang masih setia menunggunya menghilang di balik pintu.


***

__ADS_1


__ADS_2