Punk In Love

Punk In Love
Curiga


__ADS_3

Abigail segera menghempaskan tubuhnya di atas kasur. Sepulangnya dari kafe Ed tadi, ia membawa Chelsea untuk kembali ke apartemennya. Waktu belum terlalu malam saat itu. Pandangan Abigail nyalang menatap langit-langit. Ia terkekeh seorang diri mengingat rentetan pertanyaan Tom yang membombardirnya tiada henti. Tidak bisa ia pungkiri, menjawab semua pertanyaan Tom ternyata membuatnya lelah, Tom terus saja mencecarnya dengan banyak pertanyaan terkait fotografi. Selesai menjelaskan bagian yang satu, Tom bertanya kembali bagian yang lain hingga Abigail dengan terpaksa memberikan sedikit kuliah singkat kepadanya.


Pertanyaan seperti perbedaan lensa wide angle dengan lensa macro, atau bagaimana mengatur shutter spedd sebuah kamera, atau pertanyaan yang mengarah pada kebiasaan seorang fotografer yang selalu membawa banyak lensa, Abigail yang memang cukup dapat dikatakan ahli dalam bidang fotografi menjawab pertanyaan-pertanyaan itu dengan sangat mudah, semudah ia menjelaskan bagimana cara membuat kopi instan kepada seorang anak kecil. Saat itu mereka yang mendengarkan penjelasan Abigail tampak mengangguk puas dengan jawaban yang Abigail berikan. Dan hingga akhir kuliah singkat itu, Tom dan Ed sepakat bahwa menjadi fotografer tidak semudah kedengarannya. Butuh teknik khusus dan kamera yang memadai untuk menghasilkan sebuah foto yang apik.


Abigail menarik nafas dalam-dalam. Dalam hatinya ia heran, mengapa tiba-tiba Tom tampak tertarik pada dunia fotografi. Bukankah saat pertama kali bertemu dulu, Tom tampak biasa saja saat mengetahui profesinya sebagai fotografer? Apa yang membuat Tom tampak berminat untuk mempelajari dunia fotografi?


"Kau tidak ingin mandi terlebih dulu, Abigail?" Chelsea yang baru saja memasuki kamar, dan melihat Abigail sedang berbaring telentang menatap langit-langit bertanya. Pertanyaannya memangkas sekelumit pikiran rancu dalam benak Abigail terkait Tom.


Abigail mendongahkan kepalanya, ketika matanya melihat Chelsea, ia bergerak menyamping dengan tangan menopang kepalanya. Abigail tak bisa menahan senyumannya ketika Chelsea berjalan mendekati tempatnya bersantai.


"Mau mandi bersama?" Abigail menaik turunkan alisnya menggoda Chelsea. Dia masih didera rindu pada kekasihnya itu.


Chelsea tersenyum manis mendengar tawaran Abigail, ia berusaha untuk tidak menunjukkan keengganannya memenuhi tawaran itu. Satu sisi hatinya merasa ironi. Dulu saat ia tidak kenal Peter, Ia akan senang hati menerima tawaran mandi bersama Abigail. Menghabiskan waktu berdua dalam siraman shower, dengan aroma essen mawar yang menguar dari sabun cair yang mereka gunakan. Diselangi cumbuan di beberapa area tubuh masing-masing, menjadi hal yang menyenangkan saat itu. Namun kini, setelah semua yang terjadi antaranya dengan Peter. Membuat tawaran itu tampak tak menarik lagi. Chelsea sadar, ada perasaan khusus untuk Peter dalam hatinya.


"Aku lelah, kau pasti berbuat yang tidak-tidak di dalam sana." Chelsea merebahkan diri dekat dengan posisi Abigail.


Abigail terkekeh mendengar tuduhan Chelsea yang benar adanya. Dia kembali melentangkan tubuhnya memandang langit kamar. Dia teringat akan sesuatu yang belum ia sampaikan pada Chelsea.


Saat di Amerika, Abigail dikejutkan oleh berita tahanan yang melarikan diri saat sedang berada dalam masa pengobatan. Semula sejak berita itu muncul, Abigail nampak tak peduli. Karena lokasi tahanan itu berada di satu negara bagian Amerika, jaraknya ribuan mil dari Amerika Serikat. Namun ketika di satu siaran berita yang Abigail sedang lihat disebutkan secara detail kasus yang menjerat pelarian tersebut, Abigail menjadi gusar. Karna ia tahu dengan pasti, tahanan yang melarikan diri itu adalah ayah tiri Chelsea. Albert Wilson.


Abigail semakin yakin bahwa itu adalah ayah tiri Chelsea karna sang pewarta secara terang-terangan menyebut nama Chelsea Valencia sebagai satu-satunya korban.


Setelah mendengar pemberitaan itu, Abigail dengan sigap menyuruh beberapa detektif swasta kenalan ayahnya di sana untuk membantu pihak kepolisian melakukan pencarian Albert Wilson. Namun hingga hari terakhir ia berada di Amerika, para detektif itu belum memberikan kabar baik terkait Albert Wilson.


Abigail menengokkan kepalanya pada Chelsea yang tampak memejamkan mata disampingnya. Dalam hatinya ada rasa takut untuk menyampaikan apa yang sedang menjadi kehebohan di negara seberang sana. Dia tidak siap melihat Chelsea kembali ketakutan dan mengalami trauma kembali.


Bukankah sudah cukup penderitaannya selama ini? Luka lukanya belum cukup hilang, Abigail tak ingin membuat Chelsea merasa terancam karna Albert Wilson belum di temukan.


"Ada apa? Apa yang kau pikirkan?" Chelsea merasa janggal atas kediaman Abigail.


"Tidak. Aku hanya merasa lelah." Abigail menengok pada Chelsea. "Kau tentu melihat tadi bagaimana Tom terus bertanya seperti orang yang kehausan informasi." keluh Abigail. Ia bergerak untuk bangkit dari posisinya. Chelsea hanya diam tak merespon perkataan kekasihnya itu.


"Kau belum cerita apa saja yang terjadi selama aku di Amerika? Bagimana acara amal itu?" tanya Abigail penuh rasa ingin tahu.


"Mandi dan istirahat aja dulu. Besok akan aku ceritakan." Chelsea menutup matanya dengan lengannya. Dia memang sangat lelah seharian ini dan enggan membicarakan apapun lagi, ia hanya ingin melepas penatnya.


"Baiklah. Aku akan mandi terlebih dulu." ujar Abigail sebelum ia melangkah masuk menuju kamar mandi. Membiarkan Chelsea menyibukkan diri mengingat ngingat beberapa kejadian beberapa hari terakhir ini.


***

__ADS_1


"Semua kebutuhan pameran apakah sudah kau siapkan?" Abigail menatap Ayu, asistennya yang sedang mendampinginya di studio foto miliknya untuk melakukan mengecekan pada foto-foto yang akan dipajang di pameran.


Sebelum kembali ke Amerika, Abigail memang menugaskan Ayu untuk menyiapkan semua keperluan pameran dan melaporkan semua perkembangannya pada Abigail.


"Sudah Abi." balas Ayu lugas.


"Abi?" Abigail merasa asing dengan kata itu. Dia menatap heran pada Ayu dihadapannya.


"Maaf.. Kau mengatakan agar aku memanggilmu Abigail saja, bukan?" Ayu memandang cemas pada atasannya itu. "Abigail terlalu panjang untuk disebut. Jadi aku berinisiatif untuk memanggil kau Abi, bagaimana?" Ayu menjelaskan dengan harap-harap cemas. Dia sudah menyiapkan hatinya jika Abigail tak menerima panggilan yang ia berikan untuknya.


"Abi.." Abigail tampak menimbang-nimbang. "Baiklah, terserah padamu." putus Abigail pada akhirnya.


Pandangannya kembali pada beberapa lembar kertas yang Ayu berikan padanya. Dia membolak balik kertas tersebut sembari menganggukan kepala. Matanya menyisir kata demi kata yang ada disana, mencoba memahami rentetan perkembangan persiapan pameran dengan segudang peralatan yang harus ia siapkan.


Ini kali keduanya ia adakan pameran fotografi di Bali, dan dalam pameran foto kali ini ia melibatkan beberapa fotografer asing maupun lokal yang ingin ikut memamerkan hasil jepretannya. Pluralisme adalah tema yang kali ini Abigail tetapkan. Mengingat kondisi Bali sebagai kota wisata dengan unsur-unsur budaya yang melekat kuat, namun mampu menjadi salah satu tempat dimana semua perbedaan budaya, adat istiadat dan bahasa bersatu menciptakan harmoni dalam kebersamaan sebagai makhluk Tuhan di muka bumi.


"Kau sudah melihat lokasi pamerannya?" Abigail menutup lembaran kertas kemudian kembali menatap asistennya.


"Terakhir aku kesana, dua hari yang lalu. Semuanya tampak sudah oke." Ayu melaporkan kesiapan tempat pameran di Nusa Dua.


Abigail segera mengembalikan tumpukan kertas di tangannya pada Ayu. Ia memandang sekeliling melihat beberapa pekerjaan Ayu yang tampaknya sudah rapi.


"Terima kasih Abi." Ayu senang menerima pujian.


"Pukul berapa rapat akan dimulai?" Abigail bertanya sembari berjalan menuju ruangan kerjanya. Diikuti oleh Ayu yang tampak sedikit sibuk merapikan lembaran kertas yang ia peluk sejak tadi. Abigail melihatnya. Dengan sigap meraih kertas-kertas itu dan membawanya dalam genggaman.


"Biar aku bantu." ucapnya ketika Ayu tampak menolak uluran tangannya.


"Pukul 11. Beberapa fotografer lain sudah ada di ruang rapat." jawab Ayu.


"Baiklah. Panggil aku jika semuanya sudah siap. Aku akan mengurus beberapa hal terlebih dulu." Abigail berhenti di depan pintu ruang kerjanya. Ia mengembalikan bundelan kertas yang ia genggam pada Ayu, sebelum ia membalikkan badan dan masuk kedalam ruang kerjanya.


***


"Berhenti memaksaku, Peter!" Chelsea tak bisa lagi menahan emosinya pada Peter.


Saat ini ia berada di La Plancha. Dan Peter datang ditengah kesibukkannya membuat tato beberapa pengunjung. Peter benar-benar menanyakan kembali perihal perasaan Chelsea padanya, dia mendatangi Chelsea ke ruangan tato ketika dirasa tak ada lagi pengunjung yang akan mengalihkan perhatian Chelsea padanya. Chelsea terlihat sedang menghindari Peter, dengan menyibukkan diri merapikan beberapa peralatan mentato yang habis ia pakai.


"Kau harus jujur Chelsea. Jujur pada hatimu sendiri." Peter mencegal Chelsea untuk berjalan menjauhinya.

__ADS_1


"Aku sudah berkata sejujurnya padamu, AKU TIDAK MEMILIKI PERASAAN APAPUN PADAMU, PETER!" Chelsea menekankan setiap katanya agar Peter menyerah untuk mengejarnya.


Dia harus membuat Peter menyerah dan berhenti mendekatinya. Dia tidak ingin mengkhianati Abigail dengan perasaan yang muncul terhadap lelaki yang baru ia kenal dekat ini.


Bagaimana bisa Abigail tergantikan oleh Peter secepat itu?


"Kau bohong!" Peter menyeringai malas. Dia membiarkan Chelsea berjalan melewatinya. Sedang matanya terus mengikuti kemana gadis itu berjalan.


Chelsea menghela nafas dengan berat. Ada sesuatu yang mengganjal dan membuatnya jengah dengan hal-hal yang ia ketahui ada dalam hatinya. Chelsea tidak ingin sesuatu ini menggoyahkan dirinya lagi. Dia harus memutuskan untuk mematikan apa yang sedang mencoba untuk tumbuh di hatinya. Di saat seperti ini, ia sangat tertekan dengan kehadiran Peter. Dia harus terus menyangkal dan menutupi isi hati yang sesungguhnya dengan kepalsuan.


Pernyataan Peter terus mengganggunya. Bahkan semalam ketika Abigail ingin bercinta dengannya, setelah sekian lama berpisah. Chelsea berusaha keras meyakinkannya bahwa kondisi fisiknya sedang tidak baik untuk menerima ajakan Abigail. Untungnya, Abigail mengerti itu. Dan membiarkan Chelsea untuk beristirahat.


"Apa kau tidak merasa lelah menutupi perasaanmu, Chelsea" Peter mendekati Chelsea kembali.


"Aku lelah, Peter. Andai kau tahu itu." gumamnya dalam hati.


Chelsea membalikkan badan, menatap Peter dengan tatapan menantang.


"Lalu bagaimana dengan dirimu? Apakah kau tidak lelah menanyakan sesuatu yang sudah kau ketahui jawabannya." ucap Chelsea ketus lalu kembali membalikkan badan memunggungi Peter. Dia tidak ingin Peter menyadari kebohongannya.


Tanpa menjawab perkataan Chelsea, Peter bergerak untuk memeluk wanita itu dari arah belakang. Dia tahu, mungkin karna statusnya sebagai kekasih Abigail menyebabkan Chelsea enggan mengakui perasaannya.


"Aku mohon jujurlah pada hatimu Chelsea. Aku tahu kau merasakan hal yang sama denganku. Tubuhmu mengatakan semuanya Chelsea." pintah Peter berbisik di telinga Chelsea.


Chelsea terpejam meresapi pelukan erat yang Peter lakukan padanya. Dan kembali membuka matanya ketika lelaki itu membalikkan tubuhnya agar berhadapan langsung dengannya. Mereka saling berpandangan sejenak. Peter meletakkan kedua tangannya di sisi kiri dan kanan pipi Chelsea. Kepalanya menunduk menghampiri bibir Chelsea yang tampak ranum menggoda. Dan diciumnya wanita itu dengan kuat. Dalam benak Peter, tak ada hal lain yang lebih penting selain mencari jawaban dari reaksi tubuh Chelsea.


Chelsea kembali didera perasaan gelisah. Kedua tangannya siap mendorong Peter agar menjauh darinya. Namun hatinya justru meminta Chelsea untuk membalas ciuman liar itu. Matanya berkabut karna terhalangi bulir air mata yang siap terjun bebas membasahi pipinya. Hatinya tak kuasa menolak Peter, namun lebih tidak kuasa lagi bila harus mengkhianati Abigail. Chelsea merasa kini ia berada di tengah sebuah jembatan. Dia bingung untuk memutuskan akan berjalan ke arah mana. Abigail yang begitu sabar dan baiknya pada Chelsea, ataukah Peter lelaki baru yang datang dan menariknya pada perasaan utuhnya sebagai seorang wanita. Chelsea tahu pasti, setiap pilihan akan selalu berakhir dengan konsekuensi yang mesti ia terima.


Lalu apa yang akan Chelsea pilih? Mengingkari atau berterus terang pada hatinya.


Peter merasakan sensasi asin dari air mata Chelsea yang tanpa sengaja ia rasakan saat bibirnya terus memagut bibir Chelsea. Matanya yang tadi terpejam, terbuka dan terkejut dengan sembab yang hadir dikedua mata wanita itu. Ia melepaskan ciumannya, mengecupi kedua mata Chelsea yang basah sebelum akhirnya menenggelamkan Chelsea dalam pelukannya.


"Maaf sayang. Maafkan aku." bisiknya lirih.


Chelsea hanya terdiam. Mencoba mengatur nafasnya kembali sembari merasakan kehangatan dekapan Peter. Peter mengelusi punggung Chelsea perlahan. Lama pelukan itu berlangsung. Baik Peter maupun Chelsea tak ada yang ingin mengakhiri pelukan itu. Mereka tenggelam dalam nuansa magis yang melingkupi diri mereka. Peter merasa tenang memeluk wanitanya itu, dan ia yakin Chelsea pun merasakan hal yang sama.


Kedua manusia itu tenggelam dalam perasaan masing-masing, tanpa mereka berdua sadari bahwa sepasang mata telah menyaksikan pelukan erat yang mereka berdua sedang lakukan. Sepasang mata yang menatap penuh keterkejutan, penuh pertanyaan, dan penuh kecurigaan.


***

__ADS_1


__ADS_2