
Peter dan Tom melangkah memasuki kafe Ed sembari terkekeh mengingat apa yang mereka lakukan sebelumnya di Villa. Setelah puas berenang dan membuat villa berantakan oleh kacang dan kulitnya yang berserakan dimana-mana, mereka sepakat untuk pergi ke kafe Ed. Setibanya di dalam kafe, dada Peter berdebar ketika suara merdu Chelsea terdengar begitu ia melewati ambang pintu kafe. Rasa rindu menyeruak masuk dalam dadanya tanpa bisa ia cegah lagi.
Disana. Dipanggung mini dengan sorot lampu yang berfokus pada satu titik. Wanita bergaya gotic yang membuat Peter gelisah sejak beberapa hari lalu tampak asik melantunkan sebuah lagu pop rock dengan penuh pengkhayatan. Bola mata hazel nya tertutup meresapi bait per bait lirik lagu yang sedang dinyanyikan. Pandangan Peter teralihkan sejenak ketika Tom menyikut lengannya dan memberi isyarat dengan matanya yang memandang seseorang yang mereka kenali sedang duduk bersama Ed. Mereka sama terpukaunya menyaksikan penampilan Chelsea kala itu.
"Come on." ajak Tom pada Peter yang diam terpaku.
Mereka berjalan melewati beberapa meja bundar yang mulai penuh ditempati para pengunjung kafe. Riuh suara obrolan pengunjung saling bertabrakan di udara, sedikit berisik namun tak menghilangkan suara Chelsea yang lebih nyaring terdengar.
"Ops! Sorry." Peter langsung meminta maaf pada salah satu pengunjung yang bersenggolan dengannya. Matanya terlalu fokus pada Chelsea, sampai ia tak sadar telah menyenggol seorang pelanggan yang sedang membawa minuman.
Terdengar umpatan dari mulut pengunjung yang tersenggol itu, namun Peter tak memperdulikannya. Dia melanjutkan langkahnya tak menghiraukan tatapan sinis dari pengunjung tersebut.
"Hai." Tom menepuk bahu Abigail yang membelakanginya. Wanita tomboy itu menengokkan kepalanya dan tersenyum senang dengan kehadiran dua teman barunya.
"Tom. Peter." sapa Abigail ramah.
"Duduklah." Ed yang duduk disamping Abigail mempersilahkan kedua sahabatnya untuk duduk bersama.
Peter tampak diam sejenak melirik pada Abigail yang tersenyum memandang Chelsea di atas panggung. Perasaan bersalah menghinggapinya.
"Kapan kau tiba? Aku dengar kau pulang ke Amerika." Peter memberanikan diri membuka obrolan. Tom tampak mengangkat tangannya pada satu pelayan kafe.
"Tadi pagi. Aku langsung menemui Chelsea di La Plancha." Abigail melihat sekilas pada Peter tak berapa lama matanya melihat kembali kearah Chelsea.
Chelsea di atas panggung sana, tampak sedikit terkejut ketika ia melihat pada Abigail, sudut matanya melihat pula sosok Peter yang tersenyum hangat menatapnya. Namun Chelsea bisa menguasai keterkejutannya dengan baik, Ia menyunggingkan senyuman terbaiknya pada orang-orang yang ia kenal di meja sana. Matanya memandang bergantian pada Abigail, Ed, Tom dan berakhir pada bola mata coklat Peter tanpa menghentikan nyanyiannya.
Dadanya berdebar oleh sebab yang tidak ia ketahui pasti. Lelaki itu disana. Menatapnya dengan tatapan yang sulit ditebak.
__ADS_1
Apa yang harus Chelsea lakukan?
Ini adalah hari dimana ia akhirnya bertatap muka kembali dengan Peter, setelah pengungkapan perasaan yang dilakukan lelaki itu padanya. Chelsea mengingat bahwa Peter mengatakan akan menanyakan kembali perasaannya atas ungkapan cinta lelaki itu.
Kegelisahan hadir selibatan dalam hati juga benak Chelsea. Kegelisahan itu hadir bukan hanya karna ia harus siap dengan sebuah jawaban pasti untuk Peter, namun lebih daripada itu Chelsea gelisah karna disana kekasihnya berada.
Bagaimana ini? Peter tidak akan sebodoh itu untuk menanyakan responnya dihadapan Abigail, bukan?!
Rasa cemas merambat naik tiba-tiba. Hadir dalam hati Chelsea, memerangkapnya dengan perasaan tercekat.
Chelsea masih meneruskan nyanyiannya, sementara di meja sana tampak terjadi pembicaraan antara Abigail, Ed, Tom juga Peter. Sungguh, untuk saat ini Chelsea rasanya ingin terus berlama-lama bernyanyi di panggung. Hingga membuat Peter bosan, lalu melangkah pergi meninggalkannya. Namun sial, sampai lagu terakhir yang Chelsea nyanyikan, Peter masih terlihat betah duduk disana. Sesekali pandangan keduanya bertemu, dan seulas senyuman hadir mengisi kekosong kata di antara mereka. Peter jelas menanti Chelsea untuk segera menghampiri tempatnya duduk bersama kekasih lesbinya. Dia tak sabar ingin memandang wajah cantik wanita itu dari jarak dekat. Meskipun itu harus ia lakukan sembunyi-sembunyi dari Abigail.
Dipanggung sana, Chelsea masih terus bernyanyi. Sesekali ia mengajak pengunjung untuk ikut bernyanyi bersamanya. Dia ingin terus bernyanyi. Melupakan sejenak kebimbangan dan rasa asing yang mulai menetap dalam relung hatinya. Matanya melirik sekilas pada lelaki itu.
"Tuhan, apa yang harus aku lakukan?" untuk kesekian kalinya Chelsea dilanda bimbang.
***
Abigail tersenyum sebelum menjawab pertanyaan Tom. Matanya menatap lembut Chelsea yang sudah duduk manis dihadapannya, diapit oleh Peter juga Tom. Chelsea membalas senyum Abigail canggung, hatinya gelisah karna kini ia duduk bersebelahan dengan Peter yang tampak melirik padanya. Lelaki itu mengambil kudapan di atas meja lalu memakannya. Pandangannya mengarah pada Tom, namun sudut matanya mencuri-curi pandang pada Chelsea.
"Ya. Aku akan menggelar pameran foto di Nusa Dua. Kalian datanglah." Abigail mengajak para lelaki itu untuk menghadiri pamerannya.
"Pasti. Aku pasti akan datang." Tom tampak bersemangat. Ed yang sejak tadi memperhatikan sahabatnya, tersenyum geli melihat mereka. Chelsea tampak canggung berada di antara Peter dan Abigail, Tom terlihat mencoba mendekati Abigail dengan terus menerus bertanya tentang apapun. Peter terus melirik pada Chelsea, ia tampak mencoba bersikap santai karna ada Abigail dihadapannya. Sedangkan, Abigail. Raut wajahnya cerah menatap lembut Chelsea, tak terlihat sedikitpun kecurigaan atas sikap Tom, Peter ataupun Chelsea yang dalam pandangan Ed jelas sekali sedang menyembunyikan sesuatu.
"Kau sudah kembali, Abigail?" pertanyaan Lastri yang baru bergabung di meja itu, membuat semua mata tertuju padanya.
"Darimana saja kau, sayang." Ed berdiri untuk menyediakan kursi bagi istrinya. Lastri mengecup bibir Ed sekilas sebelum ia menduduki kursi yang telah disediakan suaminya.
__ADS_1
"Ada sedikit masalah di dalam." keluhnya menatap ke arah ruang karyawan kafe. "Jadi bagaimana, apa yang sedang kalian bicarakan?" Matanya menatap kembali pada semua mata yang duduk di dekatnya.
"Abigail mengundang kita untuk datang di pameran fotonya." Peter menjelaskan.
"Kapan itu? dan dimana?" tanya Lastri antusias menatap Abigail.
"Akhir bulan ini. Di Nusa Dua." Abigail menghisap kembali rokoknya. Dia memalingkan muka menghindari Lastri untuk membuang asap rokoknya.
Mereka terus bercakap-cakap dengan santai, tak memperdulikan langit Jimbaran sudah berubah warna menjadi kelabu bercampur orange kemerahan. Menciptakan spektrum warna yang indah nan megah.
Chelsea yang sedari tadi berusaha tenang, kini justru tersedak oleh minuman yang ia teguk. Itu bukan karna rasa minumannya yang tidak enak, bukan pula karna minuman itu panas. Chelsea tersedak oleh karena ia merasakan sesuatu sedang menjalari kakinya. Mengelus-ngelus sedikit menekan celana jeans panjang yang Chelsea kenakan.
"Ada apa sayang?" raut wajah Abigail tampak cemas melihat wajah Chelsea merah padam karna tersedak minumannya.
"Tidak apa-apa, aku hanya tersedak biasa." Chelsea mencoba menenangkan kecemasan kekasihnya. Sudut matanya melirik tajam pada Peter yang duduk santai sambil memainkan sedotan dalam gelas minumannya.
"Apa-apa an dia!? menyebalkan sekali!" Chelsea membatin ketika melihat seringai muncul di sudut bibir Peter.
Kaki Peter terus saja berulah. Ia bergerak konstan merambati kaki Chelsea. Kaki yang telah ia lepas alasnya itu mengelus pada bagian betis Chelsea. Chelsea menarik nafasnya dalam, berusaha mencoba santai agar tidak ada siapapun yang mengetahui kejahilan Peter dibawah meja sana. Sesekali kaki Chelsea mencoba menghindar, dengan menyilangkannya pada kaki bagian lain. Hal itu cukup berhasil, namun hanya dalam beberapa detik saja kaki Peter menemukan kaki Chelsea. Dan kembali melakukan hal serupa.
Chelsea kesal, namun ia harus menahan kekesalannya karna ada Abigail disitu. Dia tidak mungkin memarahi Peter atas kejahilannya sementara posisinya kini sedang dikelilingi oleh banyak pasang mata.
Hujan mendadak turun diluar sana. Deras. Hawa dingin dan wangi tanah tersiram hujan masuk melalui celah jendela kafe yang terbuka. Chelsea masih sibuk menghindari kejahilan Peter di bawah meja. Dia begitu putus asa untuk akhirnya membiarkan lelaki itu berbuat semaunya.
Sementara Abigail tampak hanyut dalam pembicaraan serius dengan Tom mengenai fotografi. Tom banyak bertanya mengenai ***** bengek seni fotografi, seolah ia akan menjadi seorang fotografer dengan belajar kilat teknik memotret melalui kamera pada Abigail. Ed dan Lastri terlihat ikut dalam pembicaraan itu. Mereka tak memperhatikan Peter dan Chelsea sedang asik di dunianya sendiri.
***
__ADS_1