
Pagi yang cerah di Bandara Internasional Ngurah Rai Bali, Chelsea dan Abigail tampak duduk di salah satu kursi yang berada di bagian ruang tunggu. Abigail mendesah pelan, ia tampak kecewa karna terpaksa harus meninggalkan Chelsea beberapa hari untuk kembali ke Amerika.
Semalam, ketika masih berada di Graha Wisnu Kencana Abigail mendapat panggilan internasional dari orangtuanya. Mereka meminta Abigail untuk pulang sesegera mungkin karna ada sesuatu hal menyangkut perusahaan Ayahnya yang membutuhkan bantuannya. Abigail sendiri, tadinya ingin mengajak Chelsea untuk ikut kesana. Namun ia teringat bahwa beberapa hari lagi Chelsea akan mengikuti acara pagelaran musik di Bali. Alhasil, Abigail mengurungkan keinginannya untuk mengajak Chelsea.
"Sebenarnya ada apa? Mengapa mendadak sekali kau harus kesana." Chelsea tampak tak rela ditinggalkan kekasihnya.
"Entahlah, Ibuku tak menjelaskan ada masalah apa disana hingga aku harus kembali hari ini juga." Abigail menarik Chelsea untuk bersandar pada bahunya. Tangannya bergerak mengelus lembut rambut blonde panjang kekasihnya itu.
"Kapan kau akan kembali?" tanya Chelsea yang mulai menikmati elusan ringan dirambutnya.
"Aku tidak tahu pasti, tapi begitu urusan disana selesai aku pasti kembali kesini sayang." ucapnya lembut sembari melabuhkan kecupan di puncak kepala Chelsea.
"Apa yang akan kau lakukan sepulang mengantarku?" tanyanya kemudian.
"Tidak ada yang spesial, setelah ini mungkin aku akan ke La Plancha terlebih dulu sebelum bernyanyi di kafe." Chelsea melingkarkan lengannya pada pinggang Abigail. Dia menghirup aroma parfum maskulin dari balik tubuh Abigail.
"Jam berapa pesawatmu akan berangkat?" tanya Chelsea menegakkan punggungnya melihat Abigail.
Sudut mata Chelsea menyadari beberapa pasang mata wanita menatap ke arah mereka, lebih tepatnya pada Abigail.
Tidak bisa Chelsea pungkiri, penampilan Abigail yang mengenakan pakaian serba hitam dengan gaya casual ditambah kacamata hitam yang bertengger di hidung mancungnya mampu membius wanita manapun yang melihatnya. Badannya yang ramping namun kekar terselimbut rapi dalam balutan kaus hitam, kulitnya putih bersih sangat kontras dengan warna pakaian yang ia kenakan. Belum cukup dengan penampilannya yang rupawan dan terkesan manly, Abigail tambah membuat wanita manapun tak berhenti untuk melihat ke arahnya dengan sikap manis yang ia berikan pada Chelsea, seperti halnya, ketika ia bersandar di bahu Chelsea sesekali ia mengecup mesra bahu Chelsea, atau saat sepatu kets yang Chelsea kenakan terlepas talinya, Abigail berjongkok untuk membenarkan simpul tali pada sepatu Chelsea. Hanya dengan melihat hal itu saja, beberapa pasang mata berhasil terpaku pada Abigail. Dan untuk kesekian kalinya, mereka tak sadar bahwa orang yang mereka perhatikan itu adalah seorang wanita dalam balutan pria.
Belum sempat Abigail menjawab, terdengar pengumuman keberangkatan pesawat tujuan Amerika yang akan segera berangkat, dan meminta para penumpang untuk segera memasuki pesawat.
Abigail memutar bola matanya malas mendengar pengumuman itu, ia masih sangat engga untuk meninggalkan Chelsea.
"Kau dengar itu sayang?" ucapnya merujuk pada pengumuman keberangkatan.
"Ya, aku rasa sudah saatnya kau pergi." Chelsea berdiri mengikuti Abigail yang berdiri duluan.
"Aku akan sangat merindukanmu." keluh Abigail menatap mesra Chelsea. Ia meraih tangan Chelsea dan membawanya ke bibir untuk menyematkan kecupan disana.
Chelsea tersenyum lembut menerima perilaku manis dari Abigail. Sebelum beranjak untuk meninggalkan Chelsea di ruang tunggu, Abigail memeluk erat terlebih dulu kekasihnya yang akan ia tinggalkan beberapa hari kedepan.
"Aku tidak ingin meninggalkanmu sayang." bisik Abigail tepat ditelinga Chelsea. Chelsea merasakan hawa panas menjalar di bagian telinganya yang dibisiki oleh Abigail. Dia juga mencium aroma mint yang menguar dari mulut tipis Abigail.
__ADS_1
Chelsea menarik nafas panjang beberapa kali. Jelas dia juga enggan untuk ditinggalkan oleh Abigail, semenjak hubungan asramanya dengan wanita lesbi itu, mereka belum pernah berpisah jauh. Ini adalah kali pertama mereka akan berjauh-jauhan, dan itu sudah pasti menjadi hal yang menyiksa untuk keduanya.
"Haruskah aku membatalkan keikutsertaanku pada pagelaran musik itu?" tanya Chelsea.
Abigail melepaskan pelukkannya, dia menatap lembut mata Chelsea yang indah.
"Tidak perlu sayang, kau sudah sangat bekerja keras untuk bisa ikut terlibat dalam pagelaran itu." Abigail mengelus lembut pipi Chelsea yang terasa dingin.
"Baiklah, aku harus pergi. Nanti aku akan menghubungimu begitu sampai." ucapnya.
"Oke, aku menunggu kabarmu Abigail." sahut Chelsea.
Abigail mulai melangkahkan kaki menuju pesawatnya, sesekali ia melihat ke arah Chelsea yang melihatnya dengan tersenyum sembari melambaikan tangan. Hingga Abigail menghilang dibalik pintu gerbang, Chelsea masih terdiam di tempatnya.
Pikirannya berkelana mengembara pada ucapan Peter saat ia mengantarkan Chelsea pulang. Sudut hatinya entah mengapa terasa risih dengan keinginan Peter untuk mendekatinya. Dia takut, trauma dulu yang sudah hilang kembali lagi ia rasakan. Dengan menghirup nafas dalam-dalam, dan mengeluarkannya dengan pelan. Chelsea berbatin seorang diri.
"Semoga dia tak serius dengan ucapannya."
***
Ketika Chelsea memasuki area dalam kafe, matanya melihat para pengunjung sudah duduk memenuhi meja-meja bundar di depan panggung, tempat biasanya ia bernyanyi. Mereka terlihat menikmati suasana kafe yang bernuansa etnik Bali, lengkap dengan suasana pedesaan yang kental. Atmosfer pedesaan itulah yang selalu berhasil membuat para pengunjung merasa nyaman untuk berlama-lama disana. Beberapa pengunjung terlihat sedang sibuk membuat pesanan pada pramusaji yang berdiri di sampingnya. Dari kejauhan Chelsea melihat Ed dan Lastri sedang bercakap-cakap dengan Peter juga Tom. Melihat Peter disana, membuat Chelsea beberapa kali merapalkan doa dalam hati, bahwa apa yang Peter sedang usahakan tidak akan pernah terwujud.
Chelsea berjalan menuju panggung mini itu, disepanjang langkahnya berbagai macam bahasa terdengar bagai irama di setiap pelosok kafe, di sini memang tempat yang sangat menakjubkan. Bali begitu terbuka bagi siapapun juga, perbedaan budaya atau bahasa tak menjadi halangan berarti bagi jiwa-jiwa yang mendamba kebersamaan.
"Chelsea" sapa seorang pengunjung asal India pada Chelsea yang melintasi mejanya.
"Hai" sahut Chelsea ramah sembari terus berjalan menuju belakang panggung untuk mulai mempersiapkan diri bernyanyi.
Chelsea memang bukan penyanyi baru di sini, dia sudah lama menjual suaranya di kafe Ed. Itulah mengapa ada saja pengunjung yang menjadi pengunjung tetap, mengenal Chelsea. Mereka tak sungkan untuk menyapanya atau bahkan mengajak Chelsea mengobrol di mejanya.
Tes.. Tes...
Chelsea mengecek microphone. Tak berapa lama, petikan gitar mulai terdengar, membuat mata para pengunjung menoleh pada gadis bersepatu boots di atas panggung.
"....If I'm a bad person, you don't like me
Well, I guess I'll make my own way
__ADS_1
It's a circle, a mean cycle
I can't excite you anymore....."
(Paramore-Ignorance)
Peter dan kawan-kawannya pun melihat aksi panggung Chelsea, dia menatap takjub melihat kepiawaian Chelsea dalam memetik senar gitar.
"Bagaimana kemarin Peter." Ed menanyakan kejadian saat Peter mengantar Chelsea pulang.
"Good. Dia mengijinkanku mendekatinya." Peter menyunggingkan senyum senangnya menatap Ed.
"Kau bercanda." sanggah Lastri tak percaya Chelsea akan mengijinkan Peter untuk mendekatinya.
"Apa yang sudah kau lakukan padanya?" timpal Ed tak percaya pula.
"Yaaa, dengan sedikit wajah memelas ternyata berhasil membuatnya luluh." Peter menyeringai jahil.
"Apa yang akan kau lakukan sekarang?" Tom yang sedari tadi memperhatikan Chelsea mulai angkat bicara.
Peter mengangkat bahu, dia memikirkan pertanyaan Tom lama-lama sambil memandangi Chelsea yang masih asik bernyanyi.
"Aku akan terus mendekatinya, sampai dia merasakan sendiri perasaan yang aku tujukan padanya." Peter tersenyum sebelum ia menatap kembali ketiga manusia yang ada disekitarnya.
"Bagaimana pun juga dia sudah membuatku tertarik, dan itu membuatku semakin menginginkannya." Peter menarik nafas panjang.
"Aku tak sabar ingin melihat bagaimana bisa Abigail tergantikan olehmu." ucap Lastri, dia sebenarnya sedikit antusias dengan apa yang dibicarakan suaminya terkait kenekatan Peter untuk membuat Chelsea berpaling padanya. Karna terus terang saja, jauh didalam hatinya dia sangat risih melihat kemesraan sepasang lesbi berada di kafenya.
"Aku tidak bisa membayangkan akhir dari perjuanganmu Pet." Ed masih tampak tak setuju dengan keinginan Peter.
"Kau terlalu penakut Ed." ucap Tom meledek Ed yang masih saja khawatir pada kondisi pertemanan mereka dengan pasangan lesbi itu.
"Aku hanya tak ingin siapapun terluka karna ambisi konyolnya." ucap Ed menatap kesal pada Tom dan Peter.
Peter terkekeh dengan ucapan sarkas Ed, ia menoleh pada Chelsea di atas panggung. Tak bisa di pungkiri, ia pun merasa khawatir akan akhir dari usahanya, tapi mau bagaimana lagi, rasa tertariknya lebih besar daripada rasa takutnya. Seperti perjanjiannya, dia hanya akan berusaha untuk mendekatinya, selebihnya ia serahkan pada keputusan Chelsea, apakah akan menyambut uluran tangannya ataukah akan tetap bergandengan tangan dengan kekasih lesbinya.
***
__ADS_1