Punk In Love

Punk In Love
Ada apa denganmu, Chelsea?


__ADS_3

Beberapa jam berlalu sejak Peter menghabiskan sarapannya bersama Tom di Villa. Kini kedua lelaki itu sedang berada di depan kolam renang, duduk menikmati semilir udara Jimbaran. Peter tampak gelisah dalam duduknya, beberapa kali ia memeriksa ponselnya, mencari tahu apakah pesannya telah menunjukan tanda terkirim pada Chelsea atau tidak. Namun sayang, pesannya tampak belum terkirim juga hingga saat ini.


Dia berdiri dari duduknya, Tom memperhatikannya sembari menikmati kudapan. Peter mondar-mandir di dekat tepian kolam, rasa penasaran di hatinya tak kunjung reda. Sesekali dia tetap mencoba menghubungi Chelsea, meskipun dia tahu itu perbuatan yang sia-sia karena pesannya tidak terkirim saja itu menandakan ponsel Chelsea dalam kondisi mati. Namun demi menuntaskan rasa penasaran dihatinya, ia tetap lakukan perbuatan sia-sia itu.


"Shit!" umpat Peter ketika suara operator terdengar.


Peter meremas rambutnya menahan kesal. Pikirannya berkecambuk menanyakan apa yang terjadi pada wanita itu. Tak biasanya Chelsea mematikan ponselnya.


"Belum bisa dihubungi?" tanya Tom yang sudah tahu hal apa yang mengusik sahabatnya itu.


"Ya. Ponselnya masih saja mati, semua pesanku tidak terkirim." keluh Peter.


"Mungkin dia sangat kelelahan kemarin." Tom mencoba menenangkan kegelisahan Peter.


"Tidak. Chelsea tidak pernah mematikan ponselnya sekalipun ia dalam kondisi kelelahan Tom." sangkal Peter. Kedekatannya dengan Chelsea membuatnya sedikit lebih banyak tahu mengenai kebiasaan wanita itu. Chelsea seorang seniman dengan begitu banyak pelanggan, dia tidak pernah mematikan ponselnya karna itu adalah alatnya untuk tersambung dengan mata pencahariannya.


"Atau bisa jadi Chelsea masih tertidur dan tidak tahu jika ponselnya telah mati."


Peter tampak berpikir, alasan Tom masuk akal. Namun dia segera mengenyahkan pendapat Tom dari benaknya. Bagaimanapun datang ke apartemen Chelsea adalah satu-satu nya solusi yang bisa membuatnya tenang. Jika pun Chelsea ternyata masih tertidur, dan akhirnya Peter harus menerima amukannya. Sungguh itu lebih baik, daripada diam sendiri dengan hati yang terus diselimbuti rasa penasaran.


"Aku harus kesana." ucapnya singkat.


"Kemana?"


"Chelsea. Apartemennya. Aku harus memastikannya sendiri."


"Kau terlalu berlebihan Pet." Tom geleng-geleng kepala melihat Peter menghampirinya yang sedang duduk di kursi santai.


"Entah mengapa kali ini aku tidak tenang memikirkan dia."


"Kau terlalu serius mengejar Chelsea." sindir Tom


"Kau pikir sejak awal aku bergurau dengan mencoba mengejarnya?" tanya Peter sinis


"Bukan begitu kawan, aku tahu kau serius ingin mendapatkan Chelsea. Bahkan hingga saat ini saja aku tak pernah melihatmu mengundang wanita-wanita nakal lagi ke vila ini. Itu membuktikan kesungguhanmu." Tom berusaha menjelaskan, dia tak ingin Peter salah paham dengan ucapannya.


"Hanya saja, jika kau terlalu terlihat menggebu-gebu seperti ini, aku khawatir Chelsea justru akan merasa kau terlalu memaksakan kehendakmu padanya." lanjut Tom sembari berdiri berhadapan dengan Peter.


Peter tak menampik pemikiran Tom saat itu. Memang dia sadari, kedekatannya dengan Chelsea sejauh ini berjalan mulus karna usaha kerasnya untuk terus berada disekitar wanita itu. Tidak pernah terpikirkan dalam benaknya apakah Chelsea menyukai caranya atau tidak. Selama ini, sikap yang selalu Chelsea perlihatkan padanya adalah sikap yang normal, Chelsea tidak pernah menolak kedekatannya secara langsung. Dan itu menghilangkan pemikiran lain di benaknya yang mengatakan mungkin saja Chelsea tidak menolaknya karna sudah terlalu malas dengannya.


Peter menggelengkan kepalanya, dia tidak ingin pemikiran buruk itu meracuninya hingga akhirnya ia putus asa dalam usaha mendapatkan Chelsea. Fokus utamanya kini mengetahui keadaan Chelsea. Dia tidak ingin diusik oleh pikiran yang lain.


"Aku tidak ingin memikirkan itu Tom. Saat ini aku hanya ingin tahu keadaan Chelsea." ucap Peter akhirnya.


"Aku akan tetap pergi melihatnya." sambung Peter sembari berjalan menuju pintu keluar, Tom mengikutinya di belakang.

__ADS_1


"Jika benar terjadi sesuatu, jangan lupa menghubungiku Pet." ucap Tom ketika mereka sampai di depan pintu.


Peter mengangguk tanda setuju atas permintaan sahabatnya itu. Dia mulai memasuki mobil Ed yang dia pinjam selama di Bali. Dengan kondisi hati yang gelisah, ia mulai menjalankan mobilnya meninggalkan Tom sendirian di dalam villa.


***


Begitu sampai di apartemen Chelsea, Peter segera menekan bel apartemen itu, namun dia tak mendapat jawaban dari bel yang beberapa kali ia tekan. Dia coba untuk melihat kedalam apartemen melalui jendela pintu. Nihil, jendela itu tertutup rapat oleh gorden.


Peter tampak bingung, dia melihat sekeliling komplek apartemen itu. Dan melihat seorang lelaki berpenampilan khas lelaki Bali datang menghampirinya.


"Ada yang bisa saya bantu, Mister" ucapnya sopan.


"Apa kau penjaga area ini?" tanya Peter memastikan.


"Betul Mister."


"Apa kau melihat, penghuni apartemen ini keluar kompleks?" tanyanya sambil menunjuk apartemen Chelsea.


"Nona Chelsea maksud Mister?" tanya penjaga itu.


"Ya. Chelsea. Sejak pagi aku coba menghubunginya, namun ponselnya mati. Aku sedikit cemas karna tak biasanya dia mematikan ponsel dalam waktu yang lama." Peter mengungkapkan kegelisahannya.


"Saya belum melihatnya keluar." penjaga itu terdiam sejenak, memikirkan solusi terbaik untuk menghilangkan kegelisahan Turis asing yang ada dihadapannya.


"Saya memiliki kunci cadangan setiap apartemen disini, untuk berjaga-jaga jika terjadi hal yang tidak diinginkan...."


"Tapi Mister harus menandatangi perjanjian bahwa Mister akan bertanggung jawab atas apa yang terjadi nanti, karna ini bersifat privasi." penjaga itu menjelaskan.


"Oke, aku akan bertanggung jawab." sahut Peter tergesa.


Setelah proses penandatanganan perjanjian itu selesai, Peter dan penjaga berjalan kembali mendekati pintu apartemen Chelsea. Ketika penjaga berhasil membuka pintu, Peter segera masuk dan mengedarkan pandangannya.


Beberapa kali menjemput dan mengantar Chelsea pulang, membuatnya sedikit hafal dengan isi apartemen Chelsea. Apalagi terkadang Chelsea mengundangnya masuk hanya sebagai ucapan terima kasihnya pada Peter. Peter berjalan sambil sesekali memanggil-manggil Chelsea, namun tak terdengar jawaban sama sekali. Penjaga area apartemen masih setia mengikuti langkahnya, dia belum bisa meninggalkan Peter sendiri sebelum mengetahui secara pasti bahwa tidak terjadi hal buruk terhadap pemilik apartemen ini.


Mereka berjalan menuju lantai dua, Peter tahu kamar Chelsea ada disana. Perlahan dibukanya pintu kamar Chelsea, kepalanya menengok kedalam mencari tahu keberadaan wanita itu disana.


Peter membuang nafasnya lega, ketika kedua matanya berhasil menemukan Chelsea yang tampak terlelap di kasurnya.


"Dia ada disana." ucapnya pada penjaga.


"Baiklah, saya rasa sudah cukup saya mengikuti Mister. Saya akan kembali ke pos depan. Jika ada sesuatu, hubungi saja saya." ucapnya pamit pada Peter yang masih berdiri diambang pintu.


"Ya. Terima kasih."


***

__ADS_1


Chelsea tidak bergerak ketika Peter memasuki ruangannya. Ia tidur telentang, rambut blonde-nya terurai sedikit menutupi wajah putih bersih Chelsea. Dia terlihat lelap dalam buaian tidurnya, apa yang sedang dimimpikannya hingga ia terlihat tak terusik oleh teriakan Peter saat memanggilnya tadi.


Sial! Dalam posisi tidur seperti itu Chelsea terlihat berkali-kali cantik menggoda. Peter tak bisa menahan diri untuk terus memperhatikan Chelsea dari jarak dekat. Ia tahu, Chelsea pasti akan marah jika tahu Peter membobol paksa apartemennya, apalagi kini lelaki gila itu berada dikamarnya, memandangnya dengan mata berkilat oleh nafsu.


Bayangan vulgar kembali singgah tak tahu malu dalam benak Peter, ketika matanya secara intens menyusuri wajah Chelsea yang tampak lembut, mata itu dengan kurang ajarnya beralih menyusuri leher jenjang Chelsea. Peter menelan ludahnya pelan, ketika ia membayangkan bagaimana rasanya jika ia menyematkan kecupan disana.


Bayangan vulgar itu terus berkeliaran dalam benak Peter, terutama ketika ia membayangkan manisnya bibir Chelsea apabila ia mencecapnya. Ah, bagaimanapun Peter lelaki normal. Dan saat ini ia sedang melihat wanita cantik terlelap hanya mengenakan piyama tipis berwarna hitam. Itu sudah cukup membangkitkan gairah kelelakiannya.


Peter segera menggelengkan kepalanya saat benaknya terus saja menampilkan adegan vulgar yang ingin ia lakukan dengan Chelsea. Dia tidak ingin gairahnya melemahkannya saat ini.


"No.. No..Dad.." igauan samar keluar dari mulut Chelsea.


Peter tampak terkejut, matanya menjadi awas melihat Chelsea. Dia baru menyadari bahwa entah sejak kapan dahi Chelsea sudah banjir oleh keringat. Chelsea tidak tidur dalam nyenyak, dia gelisah.


"Chelsea.. Chelsea.." Peter mencoba membangunkan wanita itu.


Chelsea tampak meringis dalam tidurnya, keningnya berkerut seperti orang hendak menangis.


"Stop.. No.." kata-kata itu keluar lagi dari mulutnya, kini dengan intonasi suara yang lebih jelas.


Peter tak tahan melihat kondisi Chelsea, dia bergerak menaiki kasur. Dengan kedua tangannya yang memegang bahu Chelsea, Peter mencoba menggoyang-goyangkan tubuh Chelsea.


"Chelsea wake up. Kau bermimpi honey." ucapnya tegas.


Seketika itu Chelsea langsung membuka matanya terbelalak. Nafasnya memburu seperti habis berlari.


"Peter." ucapnya lirih memandang nanar lelaki itu.


"Ya. Aku disini. Kau mengigau." Peter mencoba menenangkan Chelsea.


Tak ada kata yang keluar dari mulut Chelsea, dia tergugu oleh rasa trauma masa lalunya. Ia mengusap kasar wajahnya. Dadanya sesak menahan keinginannya untuk menangis dengan kencang. Hatinya yang berat butuh pelampiasan untuk menumpahkan semua bebannya.


Peter menyadari itu, dia mengelus lembut kepala Chelsea. Jaraknya begitu dekat dengan Chelsea, ia bahkan bisa mencium aroma mawar yang lembut dari tubuh wanita dihadapannya itu. Belaian lembut Peter menyentuh hati Chelsea yang rapuh, tanpa bisa ditahan lagi, tangisan itu keluar dari bibir mungilnya. Chelsea berusaha menutupi wajahnya yang mulai banjir oleh air mata.


Peter paham, selama ini Chelsea selalu terlihat menjadi wanita yang kuat, Chelsea tidak ingin siapapun melihatnya dalam kondisi lemah tak berdaya. Termasuk Peter.


Peter berusaha memberi rasa nyaman pada Chelsea untuk menumpahkan beban hatinya, tangannya bergerak untuk memeluk Chelsea. Tak ada penolakan dari Chelsea atas keberanian Peter memeluknya. Hal itu membuat Peter semakin yakin bahwa saat ini Chelsea memang membutuhkan tempat untuk bersandar.


Tangisan Chelsea terdengar pilu dalam dekapan Peter. Entah apa yang membuat wanita rock n roll ini bisa menangis sesedih itu. Saat itu Peter tersadar, kenyataan bahwa ia telah melihat kerapuhan Chelsea membuatnya semakin ingin benar-benar mendapatkannya. Chelsea dengan segala kemisteriusannya, berhasil menarik Peter pada satu titik dimana ia menginginkan hubungan yang serius dengan wanita itu.


Peter terus saja membelai rambut Chelsea, hingga belaiannya terhenti sejenak ketika ujung jemarinya merasakan ada garis panjang di punggung Chelsea. Garis itu terasa seperti bekas jaitan yang sedikit menonjol. Keningnya berkerut penasaran akan penemuan tak terduganya itu.


"Apa yang sebenarnya terjadi padamu, Chelsea?" Peter membatin sambil mendekap Chelsea yang masih menangis.


Chelsea tak menyadari, bahwa Peter telah menemukan bukti dari masa lalu kelamnya di Los Angeles.

__ADS_1


***


__ADS_2