
Chelsea terdiam tak bergerak, ia tak memiliki keberanian untuk membalas tatapan Abigail di hadapannya. Hatinya tertusuk oleh kenyataan yang Abigail lontarkan padanya. Bibirnya keluh tak mampu untuk sekedar melakukan pembelaan diri. Chelsea tak pernah tahu akan seperti apa dirinya nanti. Dia pikir dia akan berhasil menutupi semua masalah kedekatannya dengan Peter. Chelsea pikir ia akan bisa menyelesaikan perkara hatinya sebelum Abigail memergokinya mendua.
Sekarang. Setelah semua kenyataan ini tercium oleh Abigail. Apa lagi yang bisa Chelsea perbuat. Abigail terlanjur menyaksikan semuanya. Abigail melihatnya berciuman mesra dengan lelaki itu.
Bagimana Chelsea bisa tak menyadari kehadiran Abigail saat itu disana?
"Kenapa kau diam?!" tanya Abigail sinis. Linangan air mata dihapusnya kasar.
"Kenapa kau diam Chelsea!!" Abigail gusar atas keterdiaman Chelsea. Matanya menatap nanar wanita itu, isaknya terdengar menyayat hati. Abigail berdiri dari duduknya, ia berjalan menjauhi Chelsea yang masih tertunduk. Langkahnya goyah ketika ia berjalan lurus menuju balkon. Dia butuh udara segar untuk menetralkan dadanya yang penuh sesak.
"Aku membencimu Chelsea. Kau telah menyakitiku dengan pengkhianatanmu itu." Abigail terisak. Pandangannya mengarah pada jalanan yang tak kunjung sepi.
"Maafkan aku Abigail. Aku telah berbuat salah padamu." sesal Chelsea pada akhirnya. Jemarinya saling mengusap air mata yang sudah tertumpah ruah di telapak tangannya.
"Sejak kapan?" tanya Abigail tanpa melihat pada Chelsea. "Sejak kapan hatimu itu berpaling dariku?"
Chelsea terisak. Tangisnya pecah ketika Abigail memperjelas pertanyaannya. Pertanyaan itu membuat Chelsea mengingat kembali moment kedekatannya dengan Peter. Hari demi hari yang ia lewati bersama, ternyata membawanya pada satu perasaan khusus di hatinya. Chelsea tidak tahu kapan hatinya berpaling. Perasaan itu hadir begitu saja, seiring berjalannya waktu. Seiring kedekatan mereka.
Chelsea tergugu oleh rasa sesal dan bersalah yang dalam pada Abigail. Dia telah sampai di ujung puncak kengeriannya akan masalah ini. Chelsea mengingit bibir bawahnya mencoba melawan isakan kencang yang sejak tadi dia tahan. Ia bangkit dari duduknya. Menghampiri Abigail yang masih berdiri di balkon.
"Abigail, maafkan aku." Chelsea mengelus lembut punggung kekasihnya itu. Namun Abigail yang telah dibakar amarah menepisnya kasar. Dia tidak sudi menerima elusan lembut dari wanita yang berkhianat kepadanya.
"Jangan sentuh aku!" ucapnya penuh emosi.
Abigail mencoba menarik ulur kembali pertemuannya dengan Chelsea saat ia baru tiba dari Amerika. Kilasan raut wajah Chelsea yang tak seperti biasanya tergambar jelas di benaknya. Sedikit demi sedikit Abigail mulai memahami setelah kepulangannya, ternyata banyak hal janggal yang terjadi diri Chelsea. Selama ini rasa rindunya telah menutupi semua kejanggalan itu.
Pantas saja saat pertama bertemu di La Plancha, Chelsea tampak sedikit kaget dengan kemunculannya. Sorot matanya kosong tak bersinar cerah saat kekasihnya berada dihadapannya.
__ADS_1
"Abigail, dengarkan aku..."
"Tidak ada yang perlu kau jelaskan lagi Chelsea. Sudah cukup kau menyembunyikan hal itu dariku. Aku sudah pernah mengatakan padamu, jauhi lelaki itu. Jauhi Peter." Abigail menengokkan kepalanya kasar menatap Chelsea dengan tatapan mendelik. Dia sudah mewanti-wanti kedekatan Chelsea dengan lelaki itu sejak awal. Selama ini tak ada satu pun lelaki yang Chelsea biarkan mendekat meskipun dengan alasan klasik pertemanan. Chelsea selalu menolak lelaki manapun yang ingin mengulurkan tangannya untuk sekedar berteman dengannya. Namun entah mengapa, kali ini Chelsea menerima uluran tangan Peter dan Tom. Dua lelaki asing yang kebetulan bertemu di kafe tempatnya bekerja sambilan.
"Ya. Aku memang salah membiarkan telah dia berada di dekatku. Aku salah." Chelsea mengaku. "Tapi tolong dengarkan aku dulu. Aku sadar perasaanku goyah padamu. Tapi apa kau tahu? Aku sudah menetapkan diri untuk tetap bersamamu. Hatiku ini akan kembali padamu seiring berjalannya waktu. Aku akan melupakan Peter dengan segera, Abigail. Aku... "
"Untuk apa, huh?!" Abigail mendongahkan wajahnya. "Untuk apa kau kembali padaku, dengan hatimu yang sudah terbagi itu?!"
"Abigail.... "
"Berhenti Chelsea. Kau telah mencintainya. Kau tidak perlu kembali kepadaku. Aku tidak butuh hubungan yang hanya setengah hati." Abigail melangkah memasuki kamarnya kembali, Chelsea mengikuti.
"Abigail, maafkan aku." Chelsea mengiba.
"Pergilah." Abigail tak bisa berlama-lama bersama Chelsea dalam kondisi hatinya yang sedang menahan amarah. Dia butuh waktu untuk sendiri saat ini.
Chelsea diam tak beranjak dari tempatnya. Dia tidak ingin meninggalkan Abigail yang telah ia sakiti. Dia ingin meyakinkan Abigail bahwa ia akan tetap bersama dengannya.
"Pergi Chelsea!" Abigail menggeram marah melihat Chelsea masih berdiri di dekatnya.
Chelsea bergerak untuk memeluk Abigail. Abigail mencoba menghindar, namun Chelsea tak membiarkan Abigail menghindar. Di peluknya Abigail yang sedikit meronta. Chelsea mendekatkan bibirnya pada telinga Abigail, membisikkan dengan jelas.
"Maafkan aku. Apapun yang ada di hatiku kini. Aku berjanji tidak akan menggoyahkan niatku untuk tetap bersamamu Abigail. Aku hanya ingin kembali padamu." ucap Chelsea terisak.
Abigail memejamkan matanya sembari menggelengkan kepala mendengar ucapan Chelsea.
Apa yang Chelsea pikirkan? Bagaimana ia bisa berpikir untuk kembali bersama sedangkan di dalam hatinya telah hadir seseorang yang lain.
__ADS_1
"Kau tidak perlu kembali padaku." Abigail melepaskan pelukan Chelsea. "Hubungan kita telah usai Chelsea, sejak siang itu di La Plancha." Abigail memberikan tas slempang Chelsea yang tergeletak di lantai. Menggenggamkannya pada tangan Chelsea yang terasa dingin.
"Pulanglah, biarkan aku beristirahat." pintanya kemudian.
****
Akhirnya Chelsea terbangun ketika hari sudah menjelang siang. Kelopak matanya menghitam dan terlihat lelah, ada seberkas sisa-sisa sembab semalam. Chelsea tampak kacau dan menyedihkan hari ini. Ia menenggelamkan kembali kepalanya dalam sebuah bantal empuk. Dia menangis. Dengan sangat menderita. Perasaan sesal dan bersalah menghantuinya sejak semalam. Bukan. Bukan sejak semalam. Tapi perasaan sesal dan bersalah itu menghantuinya sejak ia merasakan ada sesuatu yang khusus dihatinya untuk Peter.
Peter.
Bagaimana bisa lelaki asing itu datang dan memporak porandakan hubungannya dengan Abigail?
Chelsea memejamkan matanya untuk meredam semua gejolak perasaan di hati yang membebani pikirannya. Ia teringat Abigail.
Dalam hidupnya Chelsea belum pernah merasakan rasa bersalah sedemikian dalam pada seseorang. Dia selalu bisa menempatkan dirinya dengan baik dimana pun ia berada dan dengan siapapun ia berinteraksi. Hingga jarang sekali memiliki masalah dengan orang lain. Namun kini ia telah melakukan kesalahan yang fatal. Kondisi hatinya bermasalah dan membuatnya merasakan perasaan bersalah yang amat besar. Dia membenci dirinya sendiri.
Tadi malam, Abigail mengucapkannya. Kesungguhan untuk mengakhiri hubungannya dengan Chelsea. Chelsea menangis mengingat perkataan Abigail. Tubuhnya bergetar hebat oleh tangisan. Rasanya sesak mengingat semua waktu yang ia habiskan bersama mantan kekasihnya itu. Abigail selalu menemaninya, selalu bisa ia jadikan pegangan ketika trauma masa kelam itu hadir kembali. Merangkulnya dan menenangkannya hingga trauma itu hilang entah kemana. Kini Abigail memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan Chelsea, disaat Chelsea telah memilih untuk tetap bersama dengannya.
Chelsea memaksa diri untuk turun dari kasurnya. Berjalan menyusuri tangga menuju lantai satu apartemennya, ia menghampiri dapur untuk kemudian mengambil minuman disana. Tenggorokannya terlalu kering karena terus menangis. Chelsea merasa sangat letih. Dia terdiam memandangi apartemennya yang terasa sepi dan sunyi.
Dia terlalu terbiasa bangun dan tertidur dengan Abigail di sampingnya.
"Kau telah merendahkan dirimu sendiri Chelsea. Kau mengkhianatinya dan kau sendiri yang kini terluka. Rasakan itu!" Chelsea bergumam pada diri sendiri. Pandangannya datar memandang sekeliling ruangan monokrom itu.
"Nikmatilah kesedihanmu Chelsea. Tersenyumlah meski hatimu teriris-iris menjadi remahan kecil. Abigail tidak ada lagi disisimu. Tiada siapapun yang akan menenangkanmu." Chelsea merancau menyalahkan kebodohannya seorang diri.
Tidak ada satu pun manusia yang bisa memaksa kehadiran cinta. Sekeras apapun cinta itu dibungkam, dilupakan bahkan dihapus paksa dari hati seorang manusia. Cinta akan selalu ada, bersemayam menjadi bayang-bayang dalam relung hati terdalam.
__ADS_1
Chelsea mungkin bisa saja mencoba mengabaikan cinta yang bersemi untuk Peter. Namun dia tak kan bisa menghilangkan cinta itu sendiri. Cinta tidak membutuhkan persetujuan untuk hadir di hati seorang manusia. Cinta tumbuh sesuai kehendak Sang Pencipta. Dan manusia tak memiliki kuasa untuk mencegahnya.
***