
Peter dan Tom berjalan sambil membusungkan dadanya bangga, ketika beberapa warga lokal dan turis yang sedang menikmati keindahan pantai di La Plancha memperhatikan mereka dengan wajah berseri, beberapa wisatawan lokal tampak saling berbisik-bisik sambil matanya melihat ke arah dua lelaki tampan yang berjalan dengan bertelanjang dada itu.
Peter dan Tom yang sedang merasa diatas angin karna mendapat banyak perhatian dari para wanita semakin mengeluarkan aura mereka masing-masing. Tom bergaya sok badboy dengan menyugar rambut ikalnya dengan cara seksi. Sedangkan Peter bergaya layaknya seorang model dengan memperlihatkan otot-otot kekarnya pada para wanita yang mencuri pandang ke arah mereka.
Chelsea tampak tertawa geli melihat tingkah Peter dan Tom dari kejauhan. Dia menggeleng-gelengkan kepala menyaksikan dua lelaki bodoh yang sedang bergaya narsis di kursi santai yang berjejer rapi di pesisir. Lokasi Peter dan Tom tidak begitu jauh dari studio Chelsea, sehingga Chelsea masih bisa melihat mereka dari tempat studionya.
"Bodoh! Pasti mereka pikir orang-orang terpesona dengan tato itu." ucapnya sendiri sembari menahan tawa.
"Peter!"
"Tom!"
Suara Edmund membuat kedua lelaki bodoh itu menengokkan kepalanya mencari sumber suara. Mereka melihat Edmund bersama Lastri, istrinya berjalan menghampiri mereka.
Mata Ed dan Lastri tampak terkejut ketika langkahnya semakin mendekati kedua lelaki itu dan mulai melihat jelas tato yang terukir di dada atas Peter dan Tom.
Lastri bahkan menutup mulutnya yang menganga karna tak habis pikir dengan apa yang ia lihat. Dia melihat ke arah suaminya, begitupun sebaliknya. Mendadak raut muka keduanya tampak berseri, mereka terkekeh pelan, geli melihat tulisan Indonesia yang terukir cantik di dada Peter dan Tom. Ed malah tak bisa menghentikan kekehannya hingga berubah menjadi tawa lebar.
Peter dan Tom yang menyaksikan tawa pasangan itu saling berpandangan heran.
"Ed, kau baik-baik saja?" tanya Peter aneh melihat Ed yang terus saja tertawa.
"Ada apa denganmu Ed?" Kali ini Tom yang bertanya heran.
Ed mencoba meredakan tawanya, disusul oleh Lastri sembari mengelap sudut matanya yang berair.
"Ehem!" Ed menetralkan suaranya.
"Chelsea membuat tato itu?" tanya Ed sambil menunjuk dada Peter dan Tom.
"Tentu. Keren bukan?!" Tom berucap bangga.
"Kau tahu Ed, sejak kami keluar dari studio Chelsea, wanita-wanita disini tak henti-hentinya melihat ke arah kami." ujar Peter bangga, sambil berkaca pinggang.
Lastri sungguh tak bisa menahan tawanya melihat kebodohan dua teman suaminya, dia terkekeh geli mendengar penuturan Peter.
"Temanmu lucu sekali sayang." bisik Lastri pada Ed yang berada disampingnya.
"Mereka bukan lucu sayang, tapi sedikit bodoh." sahut Ed sembari terkekeh geli.
"Hey! apa yang kalian bicarakan?!" Tom merasa risih melihat Ed dan Lastri berbisik-bisik di hadapannya.
"Kalian tahu apa arti dari kalimat itu?" tanya Lastri, dia yakin kedua lelaki itu tak tahu kalimat apa yang Chelsea ukir di dadanya.
Dan benar saja, Peter dan Tom menggelengkan kepala atas pertanyaan Lastri.
"Chelsea hanya mengatakan dia menulis kalimat yang sesuai dengan diri kami." ucap Peter ragu, dia jadi penasaran apa arti dari kata-kata yang Chelsea buat.
__ADS_1
"Memang apa artinya?" tanya Tom kemudian. Dia melihat sekeliling, matanya menangkap beberapa wisatawan yang tersenyum melihat ke arah mereka.
Setelah berhasil menetralkan gelak tawanya, Ed menghampiri Peter dan Tom, ia berdiri tepat di tengah-tengah keduanya. Dengan setengah berbisik dia mengatakan arti dari kata-kata yang menjadi Tato di dada Peter dan Tom.
"Aku Penjahat Kelamin." ucapnya pada Peter sambil menahan tawa keluar kembali.
"Dan Aku maniak s*langkangan." ucapnya kemudian pada Tom.
"Apa artinya?" tanya keduanya yang tak mengerti dengan kata-kata Indonesia yang Ed ucapkan.
Ed berbisik lebih pelan lagi di telinga Peter dan Tom yang diarahkan mendekat dengan mulut Ed. Ketika Ed mengatakan maksudnya dalam bahasa Inggris, mata kedua lelaki bodoh itu terbelalak menahan rasa malu yang merambat muncul kepermukaan.
Keduanya menggeram menyebut nama Chelsea murka. Seketika mereka menengokkan kepalanya ke arah studio Chelsea berada. Dan pandangan keduanya pertambah tajam ketika melihat Chelsea sedang tertawa puas di depan pintu studio, melihat kearah mereka.
Otomatis Tom yang tak habis pikir karna bisa dipermalukan Chelsea mengarahkan jari tengahnya pada Chelsea sebal, sementara diujung sana Chelsea tertawa renyah sambil sesekali menjulurkan lidahnya pada Peter dan Tom yang sedang menahan kesal.
"Dasar wanita sundal!" teriak Peter kesal.
"Rasakan!!" balas Chelsea teriak pula.
Ed dan Lastri yang melihat pertengkaran mereka tertawa puas. Peter dan Tom berjalan menghampiri kursi santai, keduanya mengambil kasar kemeja pantai yang mereka letakkan sebelumnya disana.
"Seharusnya aku curiga kenapa dia senyum-senyum sendiri saat membuat tato ini." sesal Peter sembari mengancingkan kemejanya.
"Sialan! Malam ini aku tidak bisa bercocok tanam." ucap Tom kesal.
***
"Sayang, apa yang sedang kau tertawakan?" tanya Abigail heran. Dia merangkul bahu Chelsea mesra sambil menatap Chelsea yang terus saja tertawa renyah.
"Aku sungguh tak bisa berhenti tertawa jika ingat kejadian tadi siang di La Plancha." ucapnya ditengah tawa.
"Apa yang terjadi disana?"
"Peter dan Tom..... " Chelsea tertawa kembali ketika menyebut nama kedua lelaki itu.
"Hei, ceritakan padaku." pinta Abigail memaksa, dia penasaran hal apa yang membuat kekasihnya tak berhenti tertawa.
Chelsea mencoba mengatur kembali nafasnya yang mulai habis karna tertawa, sambil melirik pada Abigail yang menantinya untuk bercerita, dia ceritakan semua kejadian lucu di La Plancha. Mata Abigail tercengang dengan apa yang Chelsea ceritakan, dia mulai tersenyum lebar hingga akhirnya tertawa renyah mendengar penuturan Chelsea.
"Astaga! Kau benar-benar jahil sayang." Abigail mencubit pelan hidung mancung Chelsea.
"Mereka terlihat begitu konyol saat memamerkan tatoku, Abigail." ucapnya mengingat tingkah Peter dan Tom.
"Andai saja saat itu Ed dan istrinya tak datang, aku yakin mereka akan terus bertingkah konyol di sepanjang pantai." sambungnya.
"Mereka pasti sangat malu dengan apa yang kau lakukan pada tubuhnya." ucap Abigail disela tawanya.
__ADS_1
"Biarkan saja, itu hukuman untuk mata keranjang seperti mereka." sahut Chelsea cuek.
Hingga larut malam menjelang, Chelsea terus saja teringat kejadian di La Plancha. Dia merasa kekonyolan kedua lelaki yang baru menjadi temannya itu sangatlah menghibur.
"Sudahlah, lupakan.. Ayo kita masuk, malam sudah sangat larut." Abigail menghentikan tawanya dan berdiri dari duduknya menarik tangan Chelsea agar mengikutinya.
"Abigail, apa kau sudah menentukan judul untuk pameran fotomu? Bukankah acaranya 2 bulan lagi?" tanya Chelsea yang sudah berbaring di samping Abigail.
"Tenang saja, aku sudah menemukan tema yang akan aku pakai nanti di pameran foto" ujar Abigail menatap langit-langit kamar.
"Bukankah kau juga akan ada festival musik akhir bulan ini?" tanya Abigail menengok pada Chelsea.
"Ya, aku akan ikut bernyanyi disana. Itu festival penggalangan dana Abigail."
"Yah, aku tahu. Semoga semuanya lancar sayang." harap Abigail menggenggam erat jemari Chelsea.
"Sayang..." ujarnya kemudian.
"Jangan terlalu dekat dengan Peter dan Tom." ucap Abigail
"Kenapa? Kau cemburu?" selidik Chelsea.
Abigail tidak bisa menutupi rasa khawatirnya, dia sadar Chelsea bukanlah seorang lesbi murni seperti dirinya. Dia khawatir, kedekatan Chelsea dengan kedua teman barunya, akan membawa dampak buruk pada hubungan mereka.
Chelsea terkekeh geli dengan keterdiaman Abigail, dia berbaring miring menghadap Abigail yang menatap lurus ke langit-langit kamar.
"Apa yang kau takutkan dengan mereka?" tanya Chelsea.
"Sudahlah, aku mengantuk, lebih baik kita tidur." Abigail memutuskan pembicaraan.
"Kau cemburu?" Chelsea mengangkat sedikit tubuhnya mendekati Abigail. Abigail diam tak berkutik. Dia menutup kepalanya dengan lengan.
"Tidur Chelsea."
"Tidak, aku ingin lihat wajah cemburumu." Chelsea menyeringai jahil.
"Aku tidak cemburu."
"Kau berbohong."
"Aku memang tidak cemburu." bantah Abigail
"Cih! dasar. Rasakan ini." Chelsea bergerak langsung untuk menggelitiki Abigail. Sontak Abigail terperanjat geli karna ulah Chelsea.
"Chelsea berhenti! Oh Astaga. Ini geli"
"Liat saja. Aku balas kau." Abigail siap untuk membalas Chelsea.
__ADS_1
Alhasil kedua wanita itu saling membalas gelitikan satu sama lain, sampai mereka kelelahan dan memutuskan untuk terlelap bersama.
***