
Hening dan sunyi. Dua hal itu yang kini menyelimuti kedua manusia yang saat ini sedang tenggelam dalam perasaan masing-masing. Sebuah keheningan yang berbahaya, seolah-olah situasi hening ini tercipta dari perwujudan hati yang bimbang. Mungkin lebih tepatnya, hati Chelsea lah yang sedang dilanda bimbang. Dia mengulang-ulang pernyataan cinta Peter beberapa saat yang lalu dalam benaknya. Merapalnya seperti mantra yang akan membuat ia lupa akan sosok Abigail disampingnya.
Peter tak berpaling dari wajah Chelsea. Dia melihat dengan jelas bahwa wanita dihadapannya itu sedang dilanda oleh gelombang perasaan bimbang yang sulit untuk di ungkapkan. Diam-diam Peter menebak, Chelsea pasti akan menolak pernyataan cintanya. Meskipun tubuhnya tak menolak keintiman yang sempat tercipta sebelum akhirnya harus terhenti karna trauma masa lalunya. Chelsea pasti tidak percaya dengan pernyataan cinta yang telah ia ungkapkan.
Peter meraih tangan Chelsea. Ia menggenggamnya lalu meletakkan jemari Chelsea di dadanya. Mata Chelsea mengikuti kemana Peter membawa tangannya. Perlahan pandangannya naik, menatap Peter dengan pandangan yang sulit terbaca. Mereka saling berpandangan dalam diam. Tangan Chelsea merasakan detak jantung Peter berdetak cepat.
"Rasakan." ujar Peter memejamkan matanya.
"Jantungku berdetak cepat sejak tadi. Rasakan ketulusanku dari detak itu Chelsea." sambungnya lirih.
Chelsea termangu. Kenyataannya tidak sesederhana ketika ia merasakan ketulusan itu sendiri. Ini jelas bukan perkara Chelsea meragukan pernyataan cinta Peter. Apa yang menjadi perdebatan diri Chelsea lebih rumit dari keintiman yang tercipta antara dirinya dengan Peter. Abigail. Satu nama yang melengkapi kebimbingan itu. Satu nama yang secara tidak langsung membuat Chelsea mengingat kembali komitmen yang ia sepakati bersama wanita lesbi itu.
Mungkin inilah sebabnya. Chelsea mulai mengingat kembali saat dulu Abigail memintanya untuk menjaga jarak dengan Peter. Setelah semua ini terjadi, akhirnya Chelsea mengerti kekhawatiran Abigail. Hati Chelsea ternyata tak seteguh Abigail. Jauh di sudut hatinya, ia masih menyimpan ketertarikan pada lawan jenis. Dia tak sepenuhnya menjadi seorang lesbi. Peter telah berhasil memulihkan kembali orientasi seksualnya. Chelsea mulai menyadari itu.
Kini persoalannya semakin menjadi rumit ketika ia mengingat perasaan Abigail yang begitu tulus mencintainya sejak lama. Bahkan sebelum Peter hadir dalam kehidupannya. Apa yang harus Chelsea lakukan?. Chelsea dilanda kerisauan. Hatinya gundah memikirkan antara kenyataan dengan keinginan.
Chelsea menghembuskan nafasnya panjang, kenyataan bahwa ia memiliki rasa terhadap Peter tak membuatnya mudah untuk menerima Peter. Abigail tak pantas menerima kekecewaan atas sebuah pengkhianatan ini. Chelsea tak bisa menyakiti hati Abigail. Dia harus melupakan perasaan yang mulai tumbuh pada Peter.
"Hentikan Peter." Chelsea menarik tangannya dari genggaman Peter. Peter membuka matanya terkesiap, sementara Chelsea mengalihkan pandangannya.
"Kenapa?" tanyanya heran dengan perubahan suasana hati Chelsea.
"Kau sebaiknya lekas pergi." ucap Chelsea. Dia tak ingin menjelaskan perkara yang menggelayuti hati dan pikirannya.
" A-apa? Kau ingin aku pergi?" Peter berusaha tenang meski tak cukup berhasil.
"Chelsea, apa kau menolakku?" Peter menebak perubahan sikap Chelsea yang tiba-tiba.
"Aku sudah memiliki kekasih Peter." ucapnya menatap dalam kedua mata Peter tegas.
"Lupakan apa yang terjadi antara kita hari ini. Dan terima kasih, kau telah menemaniku. Aku sangat menghargai itu." ungkap Chelsea. Ia beranjak dari kasurnya, diikuti oleh Peter.
Peter menarik tangan Chelsea ketika wanita itu bergerak semakin menjauh. Chelsea berusaha melepaskan genggaman Peter, ia sudah tak sabar untuk menjauh dari lelaki yang telah berhasil meluluh lantahkan pertahanannya itu. Ia khawatir dorongan perasaannya terhadap Peter, akan semakin membuat situasi menjadi rumit.
"Lepas Peter." pinta Chelsea tanpa melihat wajah lelaki dihadapannya.
"Katakan padaku, bagaimana perasaanmu kepadaku?" Peter bertanya sedikit memaksa.
Chelsea diam. Ia menggigit bibir bawahnya putus asa. Sepertinya tidak ada jalan keluar selain menjelaskan kebohongan lain tentang hatinya terhadap Peter. Segalanya harus diakhiri saat ini juga. Chelsea menengadahkan wajahnya menatap Peter, dan berpura-pura tidak terpengaruh oleh pertanyaannya sama sekali.
"Peter, aku rasa kau terlalu percaya diri. Tidak ada apa pun dalam hatiku untukmu." ungkap Chelsea, jantungnya berdetak cepat mengucapkan kebohongan itu.
__ADS_1
"Kau bohong." ucap Peter telak.
"Bahasa tubuhmu mengatakan sebaliknya, Chelsea." sambungnya.
Chelsea memaksakan sebuah senyuman menatap Peter. Ia berusaha supaya tidak terintimidasi oleh pernyataan lelaki itu. Dia tidak ingin Peter mengetahui perasaannya yang sebenarnya.
"Bahasa tubuh apa maksudmu? Ciuman dan pelukan tadi?" tanya Chelsea. Dia berniat memukul mundur Peter.
Peter diam. Ia tak mengucapkan sepatah kata pun untuk membenarkan atau menyangkal ucapan wanita itu. Ya Tuhan, Chelsea benar-benar membuatnya frustasi. Ucapannya memaksa Peter untuk tak menganggap serius apa yang mereka lakukan tadi. Percumbuan mereka tadi seolah hanya ilusi yang harus Peter lupakan begitu saja. Peter mengerutkan kening kearahnya.
"Kau tampaknya menganggap tak berarti apa yang telah terjadi antara kita tadi, Chelsea." Peter tak memberi kesempatan Chelsea untuk menjawabnya. "Tubuhmu jelas bereaksi atas cumbuanku." katanya mendelik memandang Chelsea yang tampak tak peduli.
"Itu hanya karna situasi dan kondisi yang mendukungku untuk membalas cumbuanmu. Bukan berarti apapun dalam hatiku." Chelsea melepaskan genggaman Peter setelah dirasa genggaman itu sedikit melonggar. Peter membiarkan tangan Chelsea terlepas.
"Kau berbohong pada hatimu sendiri." ucap Peter melihat Chelsea berjalan menuju pintu kamar.
"Aku lelah Peter. Ini sudah lewat tengah malam. Bisakah kau pergi? aku ingin beristirahat sendiri." Chelsea mengabaikan ucapan Peter.
Peter menyeringai. Ia melangkah menghampiri Chelsea yang berdiri diambang pintu.
"Maafkan aku karena memaksakan pembicaraan ini." kata Peter begitu ia sampai di ambang pintu. Ia menarik napasnya dalam, berusaha melemaskan bahunya yang sempat tegang. Ia tahu bahwa saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk berbicara mengenai perasaan. Beberapa saat yang lalu wanita dihadapannya sudah mengalami kejadian tak mengenakkan. Bagaimana pun Peter harus membiarkan Chelsea untuk beristirahat.
"Aku akan melupakan pembicaraan kita tadi. Kita akan membicarakan itu nanti. Saat ini kau hanya butuh istirahat Chelsea." ujar Peter penuh pengertian. "Tapi kau harus ingat, apa yang aku ungkapkan mengenai perasaanku, itu semua benar adanya. Aku mencintaimu, Chelsea." Peter mengingatkan.
"Sshhh. Aku tak ingin kau mengatakan apapun lagi. Aku ingin kau pikirkan baik-baik apa yang aku ungkapkan. Nanti, aku akan kembali menanyakan perasaanmu." Peter menghentikan apapun yang akan keluar dari bibir Chelsea, kemudian mengecup kening Chelsea sebelum ia akhirnya melangkah menuruni tangga.
Sebelum mencapai dasar lantai satu, Peter berbalik melihat Chelsea yang masih berdiri memandangnya di pagar tangga. Ia tersenyum lembut menatap wanita itu.
"Jujurlah pada hatimu sendiri Chelsea. Jangan mengingkari apa yang ada di hatimu." ucapnya sebelum melanjutkan langkahnya dan meninggalkan Chelsea yang termangu seorang diri.
Tubuh Chelsea langsung ambruk bersimpuh di lantai begitu mendengar suara pintu apartemennya tertutup. Tangannya mengusap kasar dadanya yang terasa sesak. Isakannya mulai terdengar lirih. Sesekali ia mencoba menarik nafasnya yang terasa berat.
"Apa yang harus aku lakukan?" gumamnya pada diri sendiri.
***
Peter membanting tubuhnya di sofa dekat kolam renang villanya. Dia menengadahkan kepala pada sandaran sofa, memijit kepalanya yang terasa berat. Sedang Tom masih asik berenang seorang diri.
"Pulang jam berapa kau semalam?" Tom menopangkan kedua lengannya di tepian kolam. Memandang sahabatnya yang tampak kacau.
"Entahlah. Aku tak memperhatikan waktu." ucap Peter malas. Peter butuh beberapa saat untuk menenangkan pikirannya. Tidur di dini hari tak membuatnya bebas dari bayangan Chelsea.
__ADS_1
"Apa ada sesuatu yang terjadi kemarin?" Tom merujuk pada Chelsea. "Kau tidak menghubungiku seharian kemarin, pasti ada sesuatu yang membuatmu lupa memberi kabar tentang kondisi Chelsea." sambungnya.
Mendengar nama itu disebut membuat Peter menatap ke arah sahabatnya. Dia berjalan meghampiri Tom yang masih berada di kolam renang.
"Kapan kita akan kembali ke Amerika?" tanya Peter sembari mendudukkan dirinya di kursi santai dekat dengan tepian kolam tempat Tom bersandar.
"Ada apa kau menanyakan itu? Apa ada sesuatu dengan Chelsea." tanya Tom penasaran.
"Sepertinya aku membutuhkan waktu tambahan untuk meyakinkan wanita itu." Peter mengungkapkan kekhawatirannya.
"Aku tidak mengerti. Bisa kau jelaskan titik permasalahannya lebih terperinci?" Tom bangkit dari dalam kolam renang. Ia segera mengenakan Bathrobes yang berada di meja kecil samping kursi santai.
"Apa Chelsea menolakmu?" tebak Tom sembari menalikan Bathrobes nya. Ia meneguk segelas jus buah sebelum kemudian mengambil tempat duduk dekat Peter.
Pikiran Peter dipenuhi oleh perkataan Chelsea semalam. Rasa takut mulai menghantamnya perlahan. Peter tampak tak percaya diri saat mengingat kembali penolakkan Chelsea. Meskipun disudut hatinya meyakini bahwa apa yang Chelsea katakan tentang perasaannya adalah kebohongan. Tetap saja rasa takut itu memerangkapnya dalam diam. Peter menggelengkan kepala mencoba mengabaikan pikiran buruknya. Tom menatapnya penuh tanda tanya.
"Chelsea menolakku. Tapi aku merasa itu hanya kebohongan belaka" pikiran Peter akhirnya keluar setelah beberapa saat tertahan.
"Ceritakan bagaimana awal mulanya." Tom tak bisa memberi tanggapan apapun jika Peter tak menjelaskan runtun kejadiannya. Seharian sahabatnya itu berada di apartemen Chelsea,
Tidak mungkin tidak terjadi apapun.
Semula Peter tampak ragu untuk menjelaskan apa yang terjadi di apartemen Chelsea, ia sedikit risau jika harus menceritakan detail kejadiannya. Terutama ketika kilasan trauma Chelsea hadir dalam ingatannya. Namun disisi lain, Peter tak menampik bahwa saat ini ia memang membutuhkan masukan dari sahabatnya itu. Ia tak bisa memendam kekhawatirannya seorang diri.
Akhirnya dengan penuh keraguan, Peter ceritakan semua yang terjadi disana. Apa yang terjadi pada Chelsea, bagaimana ia menerima cumbuan Peter, hingga pada kejadian dimana dengan segala ketakutannya Chelsea menceritakan trauma masa lalunya kepada Peter. Peter menceritakan semuanya tanpa terkecuali. Dia ingin penilaian dari sahabatnya mengenai akhir dari pertemuannya dengan Chelsea hingga berujung pada penolakan Chelsea atas perasaannya.
"Aku tidak menyangka Chelsea memiliki trauma yang begitu parah." ucapan pertama Tom setelah Peter menyelesaikan ceritanya.
"Yah, jelas itu kejadian yang menyakitkan baginya." timpal Peter. Sampai detik ini, jika ia mengingat kembali menuturan Chelsea tentang traumanya Peter seperti dilanda kesedihan yang mendalam. Ia tak percaya, wanita seceria Chelsea pernah mengalami hal kejam seperti apa yang ayah tirinya lakukan.
"Dimana baj*ngan itu?" tanya Tom kemudian.
"Sepertinya di penjara, aku tak sempat menanyakannya."
"Aku harap dia membusuk disana." ucap Tom emosi.
"Menurutmu, apa yang harus aku lakukan saat ini?" Peter menarik kembali Tom pada inti persoalannya.
"Menunggu." ucap Tom sembari meneguk kembali jusnnya. "Aku menebak, saat ini Chelsea hanya sedang gamang dengan hatinya. Apalagi statusnya masih menjadi kekasih Abigail." sambung Tom santai.
"Yah, aku juga merasa seperti itu. Mungkin pengungkapan perasaanku terlalu cepat saat itu." Peter berkesimpulan akhirnya.
__ADS_1
***