
Hari sudah sangat larut ketika Peter memasuki halaman villa nya. Setelah mengantarkan Chelsea, dia tak kembali lagi ke kafe Ed karna saat di perjalanan Tom menghubunginya untuk langsung saja pulang ke villa. Sepanjang perjalanan pulang tadi, raut wajah Chelsea yang tampak sedang menyimpan masalah terus saja mengusiknya, wanita itu telah banyak menyita pikiran hingga membuat Peter bertanya-tanya dalam hati, sungguh Chelsea memang wanita yang penuh dengan teka-teki, sikapnya yang cuek namun terkadang terlihat rapuh membuat Peter semakin yakin untuk terus mendekatinya.
Peter membuka pintu sembarang, matanya langsung tertuju pada dua makhluk yang sedang berpesta s*ks di sofa ruang tengah. Dia menelan ludahnya kasar ketika melihat mata wanita asia yang terpejam nikmat merasakan hantaman dari belakang bokongnya, mereka berkeringat hebat disana.
Jika dipikir-pikir, beberapa hari ini Peter tidak lagi sibuk untuk berwisata s*ks dengan wanita lokal, pikirannya terlalu fokus pada Chelsea hingga ia melupakan tujuan awal kedatangannya untuk berlibur di Bali.
" Akh.. akh.. Kau sudah kembali, Pet" ucap Tom ketika melihat Peter berjalan menghampirinya tanpa menghentikan kegiatan s*ks dini hari itu.
"Pantas saja kau menyuruhku tak kembali ke kafe." dengus Peter sembari merebahkan dirinya di sofa tunggal bersebrangan dengan posisi Tom.
Suara desahan dan rancauan keluar secara brutal dari mulut wanita asia yang sedang menjadi ladang bercocok tanam Tom, desahannya semakin kencang hingga Tom bergerak untuk membungkamnya dengan satu tangan yang tadinya sibuk meremas payudara dari arah bawah wanita itu.
"Kau terlalu berisik b*tch." ucapnya sambil berburu nafas yang tersenggal.
"Bagaimana Chelsea?" tanya Tom mengembalikan pandangannya pada Peter yang sedang menengadahkan kepala.
Peter terdiam, matanya mencoba terpejam dengan ditutupi satu lengan. Ingatannya kembali pada sorot mata gusar Chelsea saat tadi, apa yang sebenarnya terjadi pada wanita itu, mengapa tatapannya bisa berubah sangat keras ketika Peter menanyakan masalahnya. Padahal Peter hanya ingin Chelsea mulai membuka diri padanya.
Ah, memikirkan hal itu membuat Peter dilanda perasaan tak nyaman saja. Dia benar-benar ingin tahu tentang wanita incarannya itu.
"Akh.. baby aku tak tahan lagi."
Suara wanita itu menyadarkan Peter. Tanpa menjawab pertanyaan Tom, ia berdiri dari posisinya.
"Kau selesaikan saja dulu itu." ucap Peter menatap sekilas pada wanita yang sudah tampak kepayahan melayani Tom.
"Aku akan istirahat." sambungnya sembari melangkahkan kaki menuju tangga lantai dua tempat kamarnya berada.
"Hei! Kau tidak ingin meladang Pet?!" teriak Tom pada Peter yang sudah menaiki tangga.
Peter berhenti melangkah. Dia membalikkan badan memandang Tom yang menyeringai padanya.
"Aku tidak akan bercocok tanam disembarang ladang lagi Tom, karna kini aku hanya ingin Chelsea lah yang akan menjadi ladangku nanti dan seterusnya." Peter melanjutkan langkahnya kembali, meninggalkan Tom yang tercengang dengan apa yang ia ucapkan.
"What!? Apa aku tidak salah dengar?" gumam Tom lirih.
"Baby, ayolah aku sudah lelah akh..." suara parau wanita asia itu mengembalikan keterkejutan Tom pada aktifitas s*ks yang masih ia lakukan.
"Tunggu sebentar, jangan berani-beraninya kau keluar duluan." Tom menarik tubuh wanita itu, dan membalikkan tubuhnya menjadi telentang di bawah lantai berkarpet bulu.
__ADS_1
Setelah mengangkat kaki wanita itu untuk ia letakkan di bahunya, Tom memasukkan kembali kejantan*n yang sudah berlumuran lendir bening pada pusat wanita itu.
"Ahhkk.." wanita itu mengerang nikmat merasakan kejant*nan Tom untuk kesekian kalinya masuk menghantam pusatnya.
"Oh baby, aku akan kelu... ar." ucap wanita itu sembari menahan erangan. Sekujur tubuhnya bergetar hebat berusaha menahan sesuatu yang ingin dikeluarkan.
Tom mempercepat gerakannya, peluh keringat mengalir dari tubuh kekarnya. Jantungnya ikut berpacu lebih cepat daripada goyangan pinggulnya.
Sampai pada satu titik, tubuhnya melemas tak kala jutaan benih itu keluar berhamburan memenuhi pusat wanita asia yang sudah diambang batas. Setelah merasa puas, Tom segera berdiri perlahan, meninggalkan wanitanya yang masih mencoba mengembalikan kekuatannya.
Tom berjalan mendekati meja kecil tempat ia menyimpan dompetnya, beberapa uang dolar ia tarik dari dalamnya. Setelah dirasa cukup dengan uang yang ia tarik. Tom melangkah kembali pada wanita yang masih terkapar tak berdaya di lantai.
"Pergilah, aku sudah selesai denganmu." ucapnya santai setelah meletakkan lembaran uang dolar tepat pada pusat wanita yang berlumuran benihnya.
***
Jam di meja nakas kasur Chelsea menunjukkan pukul delapan pagi. Meski hari masih begitu muda, Chelsea melihat sinar mentari bersinar terang menembus jendela kamarnya. Chelsea menggeliat dibalik selimbut yang menutupi tubuhnya, dia mendudukan diri dan mengedarkan pandangannya menyisir kamar yang begitu terasa sepi.
Drrttt... Drrrtt... Drtttt..
Bunyi ponsel membuat Chelsea menghembuskan nafasnya perlahan. Sepagi ini siapa yang berani-berani mengusiknya.
Hari ini ia akan pergi ke La Plancha, sebelum kemudian kembali bernyanyi di kafe Ed.
Drrrttt... Drrttt...
"Ck, siapa sih?!!" Chelsea mendengus kesal keluar dari kamar mandi.
"Halo." ucap Chelsea ketus.
"Chelsea?" tanya lelaki disebrang sana.
"Hm." sahut Chelsea singkat.
"Oh Tuhan, syukurlah akhirnya kau mengangkat ponselmu." ucap lelaki itu lega.
"Peter?!" Chelsea memicingkan mata mencoba menebak nada suara lelaki gila yang mengganggu rutinitas paginya.
"Yes honey." Peter menyeringai jahil di seberang sana.
__ADS_1
"Astaga! Kau tahu ini jam berapa bukan?!" Chelsea memutar bola matanya jengah.
"Jangan katakan kau baru bangun tidur, Chelsea." ujarnya tersenyum
"Memang! Dan kau mengganggu pagiku." ucap Chelsea kesal
Peter terkekeh nyaring, dia sebenarnya sudah menduga pasti akan mendapatkan amukan dari wanita rock n roll itu. Semalaman memikirkan Chelsea, membuatnya begitu tak sabar untuk tidak segera menghubungi wanita itu.
"Darimana kau mendapat nomorku?!" tanya Chelsea menyelidik.
"Ed. Kemarin saat di kafe, aku meminta nomormu padanya."
"Hari ini kau ada acara tidak? aku ingin mengajakmu pergi nanti." tanya Peter kemudian.
"Aku sibuk. Aku tidak bisa ikut denganmu."
"Kau akan kemana hari ini?"
"Aku banyak pekerjaan Peter, aku harus datang kebeberapa tempat." Chelsea beralasan, sebenarnya dia enggan bertemu Peter.
"Sesibuk itukah?!"
"Ya."
"Baiklah, aku akan mengantarmu."
"Tidak tidak, aku bisa pergi sendiri, lagipula aku sudah akan berangkat sekarang juga." ucap Chelsea terburu-buru, dia tidak tahu diseberang sana Peter sedang tersenyum senang.
"Itu bagus. Aku tak perlu menunggumu terlalu lama." ucap Peter santai. Dia tahu Chelsea hanya beralasan saja.
"Maksudmu?" tanya Chelsea waspada.
"Aku sudah didepan apartemen." Peter tersenyum lebar.
Chelsea langsung mematikan ponselnya tanpa mengucapkan apapun lagi, dia bergegas berlari menuju balkon kamar untuk memastikan keberadaan Peter.
"Oh Shit!" umpat Chelsea ketika kedua matanya melihat Peter tersenyum senang sambil berdiri bersandar pada mobilnya, lelaki itu melambaikan tangan menatap pada dirinya.
***
__ADS_1