Punk In Love

Punk In Love
Terungkap


__ADS_3

Dari jendela balkon, Peter melihat langit sudah gelap, sinar rembulan masuk dari jendela yang belum tertutupi gorden disisinya. Peter menengok ke arah Chelsea yang tertidur lelap dalam pelukannya. Mata indahnya tertutup rapat, Peter menundukkan kepala memandangi Chelsea lama-lama. Pipi Chelsea masih lembab sisa air mata yang mengalir deras beberapa saat yang lalu.


Perlahan mata Chelsea terbuka, matanya langsung bertabrakan dengan mata Peter yang sejak tadi memandanginya. Refleks Chelsea berbalik badan dan berguling memberi jarak dirinya dengan Peter. Peter tak membiarkan Chelsea menjauh darinya. Dia tahu, wanita itu sedang berusaha menahan kesedihannya.


Peter beringsut mengikuti gerak tubuh Chelsea. Dia merapatkan kembali dadanya pada punggung ringkih Chelsea yang membelakanginya. Tangannya secara posesif merengkuh pinggang Chelsea, menahannya agar tidak kembali menjauh.


Samar-samar, Chelsea merasakan kecupan lembut Peter di belakang kepalanya. Chelsea sekuat tenaga menahan keinginannya untuk berbalik badan dan menenggelamkan diri di kehangatan dekapan Peter.


Chelsea menggigit bibir bawahnya. Tak ada kata yang terucap antara mereka, namun bahasa tubuh keduanya sama-sama mengerti bahwa kini yang mereka butuhkan hanyanya kerelaan untuk saling menghibur diri. Peter memeluk Chelsea erat. Menyalurkan sedikit kekuatan pada wanita itu.


"Peter." Chelsea memecah keheningan.


"Ya." sahut Peter sembari memejamkan mata meresapi aroma menyenangkan yang menguar dari rambut Chelsea.


"Maafkan aku." ucap Chelsea lirih.


"Untuk?"


"Hari ini tampaknya aku sudah banyak membuatmu repot."


"Kau bicara apa? Aku tak merasa direpotkan olehmu." Peter semakin merapatkan tubuhnya pada Chelsea.


"Aku merasa malu padamu." sesal Chelsea. Selama ini dia tidak pernah memperlihatkan sisi lemahnya pada siapapun selain Abigail. Kenyataan bahwa kini Peter menyaksikan sendiri sisi lain dari dirinya, membuat Chelsea merasa seperti tert*lanjangi. Chelsea berpikir, mungkin Peter akan merasa jijik padanya.


"Tidak ada hal yang bisa membuatmu malu Chelsea." Peter mengerti maksud perkataan Chelsea.


"Aku justru senang hari ini bersamamu. Ada disisimu disaat kau butuh tempat untuk bersandar. Disaat kau merasa ketakutan akan sesuatu yang bahkan tidak aku tahu." Peter menjelaskan.

__ADS_1


Peter membalikkan tubuh Chelsea perlahan, hingga tubuh mereka saling berhadapan. Tangan sebelah kanannya bergerak merapikan rambut Chelsea dan menyelipkannya di belakang telinga. Chelsea belum berani mengangkat wajahnya, dia tertunduk menatap dada Peter. Peter tersenyum gemas, Chelsea begitu polos saat ini. Matanya sejernih embun pagi dengan bulu mata yang lentik, mengerjap perlahan memandangi dada bidang Peter. Peter tak tahan ingin memberikan kecupan di kelopak mata itu. Dalam hatinya, dia masih tak menyangka saat ini Chelsea berada dalam dekapannya. Peter menyeringai mengingat usahanya mendekati Chelsea tampak membuahkan hasil. Dia ingat adegan vulgar beberapa saat yang lalu. Jelas-jelas Chelsea tak menolak cumbuannya. Bahkan saat itu Chelsea membalas ciumannya dengan mesra.


"Chelsea, apa kau sudah merasa lebih baik saat ini?" Peter mengangkat dagu Chelsea agar melihat padanya.


"Ya, aku sudah merasa lebih baik." Chelsea tampak gugup. Peter tersenyum lega.


"Apa aku boleh tahu apa yang terjadi padamu? Aku tahu mungkin ini tak sopan, tapi sungguh aku akan mati penasaran jika kau tak juga menceritakan sesuatu terkait kejadian tadi." Peter tak bisa lagi menahan rasa penasarannya, dia butuh jawaban atas semua teka-teki hidup Chelsea.


Chelsea jelas tampak ragu untuk menceritakan semuanya. Aibnya, masa lalu kelam yang membelit lehernya hingga kini. Dia malu untuk menceritakan semuanya, lebih dari itu Chelsea merasa takut akan pandangan Peter terhadap dirinya. Dia takut Peter akan merasa jijik padanya, setelah tahu bahwa wanita yang selama ini ia kejar-kejar ternyata tak lebih dari wanita yang sudah hancur sejak lama. Mulut Chelsea keluh ketika rasa takut dan malu hadir bersamaan. Matanya bergerak ke kiri dan kanan dengan cepat, dia gugup untuk membuka diri pada lelaki di hadapannya.


Apa yang Chelsea lakukan, tak lepas dari pengawasan Peter, dia berpikir mungkin terlalu berlebihan jika saat ini ia meminta Chelsea untuk bercerita. Bagaimanapun ini pasti menyangkut hal yang tak menyenangkan yang pernah Chelsea alami. Dan siapapun pasti akan tampak enggan untuk menceritakan hal buruk dalam hidupnya. Dengan penuh pengertian, Peter mengelus lembut pipi Chelsea. Chelsea yang masih menutup rapat mulutnya membuat Peter tak tega untuk memaksakan keinginannya. Sudah cukup Chelsea merasa lelah sepanjang hari ini, dia tak ingin permintaannya membuat Chelsea semakin merasa lelah.


"Kau tidak perlu bercerita, jika kau tak mau honey." ucapnya penuh pemakluman.


Keheningan tercipta sejenak. Peter kembali memeluk tubuh Chelsea. Dia mengingatkan dirinya untuk lebih bersabar menghadapi sikap tertutup Chelsea. Chelsea butuh waktu untuk memuaskan rasa penasarannya. Dan Peter harus mengerti itu.


"Dia.. Ayah tiriku." ungkap Chelsea pada akhirnya.


Chelsea melepaskan diri dari pelukan Peter. Ia bangkit dari tidurnya, disusul oleh Peter dan menyandarkan punggungnya pada headboard kasur.


Di gelapnya malam Jimbaran itu, Chelsea berusaha sekuat tenaga menahan segala perasaan yang bercampur menjadi satu dalam hatinya. Rasa benci, jijik, marah, sampai pada perasaan malu menyelimuti hatinya. Dengan nada suara sedikit terbata, namun begitu runtun dan jelas, ia tumpahkan segala cerita terkelamnya pada Peter. Sesekali tubuh Chelsea bergetar menahan sakit ketika mengingat-ngingat malapetaka yang menimpa hidupnya. Kobaran kebencian menyala dalam kedua bola matanya ketika wajah busuk Albert terlintas dalam benaknya.


Chelsea terus bercerita pada Peter. Dia ingin Peter mengetahui rahasia terkelam dalam hidupnya. Bagaimana kejadian mengerikan itu menimpanya bertubi-tubi. Air mata kembali mengalir di kedua sisi pipinya. Ketika ia mengingat dengan jelas luka-luka yang sering ia dapatkan, ditambah memar yang hampir memenuhi seluruh tubuhnya.


Tiba-tiba hidungnya seperti dapat mencium kembali aroma pengap toilet kecil di ruang bawah tanah rumahnya. Chelsea ingat bau kecoak dan bangkai tikus yang membuatnya menangis histeris karna sering dikurung didalamnya. Chelsea menangis tersedu mengingat semua itu. Tatapannya nanar melihat Peter yang memandangnya penuh keterkejutan.


Peter terdiam mendengar semua penuturan wanita dihadapannya itu. Pikirannya berkelana pada masa Chelsea di Los Angeles, dia membayangkan bagaimana bisa wanita semuda Chelsea bertahan dengan semua perlakuan biadab ayah tirinya. Gerahamnya mengetat ketika Peter mendengar Chelsea sering dipaksa untuk melayani ayah tirinya siang malam. Hatinya panas menahan luapan amarah yang ingin ia lampiaskan.

__ADS_1


Terlebih lagi, ketika kedua bola mata Peter menyaksikan Chelsea yang secara sukarela membuka pakaiannya dan memperlihatkan bekas-bekas luka cambukan di punggungnya. Peter meringis dalam hati memandangi punggung yang seharusnya mulus tak tercela itu dinodai oleh garis-garis panjang tak beraturan. Peter meraba bekas cambukan di punggung Chelsea, gerakannya begitu halus ketika menyusuri setiap garis panjang itu. Garis-garis yang begitu banyak dan hampir menutupi semua area punggung Chelsea. Peter tergugu ketika kepalanya membayangkan, betapa seringnya punggung ini dicambuki saat itu. Andai saja waktu itu ia sudah mengenal Chelsea, dia pasti tidak akan membiarkan Chelsea menanggung penyiksaan yang begitu lama.


Dengan gerakan sehalus sutra, Peter bergerak mengecupi semua bekas luka cambukan itu. Chelsea terkesiap merasakan bibir Peter menyentuh punggungnya, dia tak kuasa untuk menahan isakannya. Chelsea menangis dalam diam, matanya terpejam mencoba meresapi setiap kecupan yang dilakukan Peter pada bekas luka-luka itu.


Di detik Chelsea meneteskan air matanya, di detik itu pula sudut mata Peter ikut meneteskan air mata. Hati Peter begitu sakit menerima kenyataan kelam yang selama ini Chelsea pendam. Kejadian laknat itu pasti begitu membekas dalam diri Chelsea, hingga ia mengalami trauma yang parah ketika Peter mencoba merengkuhnya.


Peter tak tahan ingin memeluk Chelsea. Dia butuh memastikan bahwa kini Chelsea baik-baik saja.


"Kau wanita yang tangguh Chelsea." Peter berbisik tepat ditelinga Chelsea ketika ia memeluk erat Chelsea dari belakang. Chelsea masih menangis saat mendengar ucapan Peter.


"Kau mampu bangkit dari kejadian kelam itu." ucap Peter. Dia semakin mengeratkan pelukannya.


"Kau tahu, saat berada di panti rehab. Aku sempat ingin bunuh diri. Aku merasa jijik setiap kali aku ingat kejadian itu, bahkan untuk bercermin pun aku tak berani." ungkap Chelsea disela isaknya.


Peter membalikkan tubuh Chelsea hingga berhadapan dengannya. Dia memakaikan kembali piyama yang Chelsea lepas tadi.


"Aku bersyukur kau tidak melakukannya." Peter menatap Chelsea lembut sembari menautkan kancing piyama itu.


"Jika kau melakukannya, aku tidak akan sempat merasakan jatuh cinta padamu seperti saat ini." ucap Peter terang-terangan.


"Kau..kau jatuh cinta padaku?!" tanya Chelsea ragu, isaknya mulai reda ketika tangan Peter terus mengusap air matanya.


"Sudah jelas bukan?!" Peter tersenyum memadang wajah cantik Chelsea.


"Kau hanya terobsesi mendekatiku Peter."


"Kau salah. Sejak pertama kali aku melihatmu bernyanyi di kafe Ed. Aku sudah tertarik padamu. Dan kini, ketika aku semakin dekat denganmu rasa tertarik itu berubah menjadi rasa sayang, rasa cinta." Peter memandang lembut Chelsea yang tertunduk di hadapannya.

__ADS_1


"Aku mencintaimu Chelsea, dengan segenap jiwaku." ungkap Peter sembari menaikkan dagu Chelsea agar menatap bola matanya. Peter ingin Chelsea melihat ketulusan didalamnya.


***


__ADS_2