
Beberapa hari berlalu dengan sangat cepat, namun tidak dengan perasaan Chelsea yang semalam baru saja mendapat kabar dari kekasihnya Abigail di Amerika. Ada perasaan yang membuat Chelsea tampak gelisah sejak tadi, tapi dia berusaha keras untuk mengenyahkannya.
Jauh didalam hatinya, dia merasa sangat bersalah pada Abigail. Peter benar-benar melakukan apa yang ia ucapkan, setiap hari dia mengantar Chelsea kemana pun Chelsea pergi. Dan hal itu membuat kedekatannya dengan Peter saat ini semakin baik, Chelsea mulai terbiasa dengan keberadaan lelaki itu di sekitarnya. Bahkan kini Chelsea mengakui dalam hatinya, bahwa ada perasaan nyaman yang mulai tercipta antara dirinya dengan Peter. Perasaan yang sebelumnya tidak pernah dia rasakan terhadap lelaki manapun akibat trauma psikis yang ia derita karna ayah tirinya.
Perasaan nyaman ini lah yang kemudian menjadi bumerang bagi Chelsea, bagaimana pun dia sudah memiliki Abigail, dan apa yang dirasakan dalam hatinya saat ini pada Peter, sudah pasti adalah sesuatu yang seharusnya tak ada.
Diam-diam Chelsea takut jika perasaan nyaman ini akan membawanya pada perasaan yang lebih jauh dan besar. Apa yang akan dilakukannya nanti bila kemudian perasaan ini berkembang? Bagaimana dengan Abigail, apabila ia tahu kenyataan kondisi perasaan kekasihnya?. Chelsea saat ini seperti sedang melakukan pertarungan, namun kali ini pertarungannya adalah dengan nuraninya sendiri.
"Chelsea, kau sudah siap?" ucapan seorang kenalan menyadarkan diri Chelsea dari pikiran kalutnya.
Saat ini ia sedang berada di pantai Kuta, pagelaran musik amal tahunan di Bali sedang diadakan disini. Dan saat ini Chelsea sedang berada di salah satu tenda dibelakang panggung yang disediakan panitia untuk para pengisi acara, sudut matanya melihat satu tenda kecil disamping tendanya yang ramai oleh orang-orang, keramaian itu tercipta karna ada satu band terkenal asal Bali yang akan ikut menjadi tamu spesial di pagelaran ini.
Chelsea sendiri kenal dengan band itu, beberapa kali ia pernah satu panggung mengisi acara-acara musik di Bali.
Chelsea kembali melihat lelaki berkalungkan nametag panitia di hadapannya. Dengan tersenyum manis, ia mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan panitia itu.
"Sebentar lagi giliranmu." ucapnya sambil menepuk bahu Chelsea dan berjalan keluar tenda.
Tak berapa lama dari keluarnya panitia itu, Peter, Tom, Ed dan Lastri masuk ke dalam tenda Chelsea. Chelsea membelalakan mata melihat keempat orang itu tampak memasuki tenda menghampirinya.
"Kalian..." Chelsea memandang keempat orang yang mulai mengelilingi dirinya
"Kami juga ingin melihatmu, Chelsea?" ucap Lastri mengerti atas keterkejutan Chelsea yang terlihat jelas.
"Aku sudah katakan kau tak perlu datang, Peter." Chelsea menatap tajam Peter yang menyeringai.
"Mana bisa aku tidak datang, saat kau sedang asik bernyanyi disini." Peter menyeringai jahil.
"Ya, lagipula ini acara untuk umum Chelsea. Kau tidak bisa melarang kami untuk datang bukan?!" Tom membela Peter
"Cih. Aku khawatir kalian akan membuat onar disini." Chelsea mendecih pada Peter dan Tom yang tampak saling berpandangan.
Chelsea ingat bagaimana kacaunya panggung di kafe Ed semalam, karna kelakuan Peter dan Tom yang memaksa ikut bernyanyi, padahal saat itu mereka sedang dalam kondisi setengah mabuk.
__ADS_1
Lastri dan Ed tampak terkekeh mendengar ucapan Chelsea, mereka juga mengingat hal yang sama.
"Tenang saja, mereka tidak akan membuat kekacauan." Ed meyakinkan Chelsea atas kedua temannya.
"Chelsea, giliranmu." seorang panitia masuk kembali ke tenda Chelsea untuk memberitahu bahwa gilirannya sudah tiba.
Tanpa banyak berkata Chelsea berdiri dari duduknya, dia merapikan sedikit penampilannya yang bergaya casual dengan sedikit aksen punk.
"Oke, aku akan kesana." ujarnya pada keempat orang didekatnya.
"Kami akan melihatmu didepan panggung." Lastri tersenyum lebar tak sabar melihat penampilan penyanyi andalan di kafe nya.
Mereka keluar tenda bersamaan, dengan Chelsea yang berjalan terlebih dulu. Dan berpisah arah di depan tenda.
***
Suasana pagelaran terlihat penuh sesak oleh manusia-manusia yang terlihat menikmati acara musik yang mengusung tema alam terbuka. Gulungan ombak yang datang silih berganti menjadi background panggung pagelaran. Puluhan soundsystem berbaris rapi memanjang di kanan kiri panggung.
Di barisan penonton, beberapa warga lokal terlihat mulai sibuk menjajakan barang dagangannya, mereka menghampiri turis-turis dan warga lokal yang bertebaran memenuhi area panggung. Berharap dari banyaknya penonton itu, banyak pula barang dagangan yang habis terjual.
Hingga hari beranjak sore, suasana panggung masih saja ramai. Semua tampak menikmati rangkaian demi rangkaian acara itu, tak terkecuali Peter cs. Mereka berdiri dibarisan tengah, menyaksikan pagelaran musik Indonesia lintas genre tersaji dengan baik.
"Tom, kau sudah menyiapkan semuanya bukan?" Peter berbisik ditelinga Tom.
"Beres. Sesuai rencana." Tom membalas berbisik sambil menyeringai di telinga Peter.
"Ok, sekarang tinggal menunggu dia muncul di akhir babak." Peter sedikit berteriak ke arah Tom.
"Kau yakin akan melakukannya?" pertanyaan Ed membuatnya menoleh pada pasangan suami istri itu.
"Yakin seratus persen." sahut Peter mantap.
"Lihat! Chelsea keluar." Lastri berseru menunjuk pada Chelsea diatas panggung. Seketika ketiga lelaki itu melihat kearah panggung.
__ADS_1
Chelsea menjadi soloist asing terakhir yang
akan membawakan sebuah lagu sebagai penutupan, sementara dari musisi Indonesia akan ada band terkenal yang bernyanyi menutup rangkaian acara amal itu.
Chelsea tampak cantik di atas panggung. Rambutnya terkuncir sedikit berantakan karna keringat terlihat sudah membasahi area wajah dan pelipisnya. Dia tersenyum melihat para penonton menikmati pertunjukannya.
Saat Chelsea sedang asik bernyanyi, entah bagaimana awalnya Peter tampak berjalan membelah lautan manusia yang berada dibarisan depan panggung. Peter dan Tom terlihat menggiring orang-orang berpakaian merah muda untuk berdiri di baris paling depan dengan membawa spanduk lebar bertuliskan 'Fans Klub Chelsea'. Chelsea membelalakan matanya melihat aksi Peter dibawah sana. Matanya semakin terbuka lebar tak kala, orang-orang berbaju merah muda yang jumlahnya tidak sedikit itu mulai bertelanjang dada memperlihatkan tulisan CHELSEA, AKU INGIN KAU MENJADI LADANGKU, PETER.
Sontak semua penonton yang berada disana dibuat terkejut sekaligus terhibur oleh aksi orang-orang itu, beberapa penonton tampak mengabadikan moment itu dengan kamera ponselnya masing-masing. Mereka menyoraki Chelsea secara serentak, bahkan ada penonton lain yang ikut menjadi bagian dari aksi Peter. Lastri tampak tertawa puas melihat raut wajah Chelsea yang pias di atas panggung.
"Dia pasti sangat malu sekali." Ed berbisik pada Lastri yang masih tampak senang dengan aksi sahabat-sahabatnya itu.
"Ish! Kau ini. Apa yang Peter lakukan itu hal romantis bagi semua wanita. Aku yakin jauh didalam hatinya Chelsea pasti senang melihat Peter melakukan hal gila itu." ucap Lastri tanpa menoleh pada Ed.
Belum selesai rasa malu Chelsea akibat ulah Peter itu, matanya dan mata semua orang disana di buat terbelalak kembali ketika para orang-orang itu mulai menghentakkan tubuhnya, mereka menari serampangan dengan pom-pom yang mereka hentakkan ke atas. Peter dan Tom berdiri dibarisan paling depan berlagak seperti pemimpin. Mereka tampak seperti kelompok cheerleaders.
Seperti layaknya virus, hentakan tarian Peter dan orang-orang itu menjadi pemicu bagi penonton lain untuk ikut menghentakkan tubuh mereka. Alhasil semua penonton yang berada dibawah panggung menari dan bergoyang bersama. Chelsea hanya bisa terus bernyanyi sambil tak henti-hentinya mengutuk apa yang Peter lakukan dibawah sana.
Ketika Chelsea terlihat telah selesai bernyanyi, Peter secara spontan berteriak "CHELSEA, I LOVE YOU FOREVER!". Teriakan Peter membuat suara riuh para penonton, sebagian penonton berteriak meminta Chelsea membalas teriakan Peter, sebagian yang lain terdengar bersorak senang sambil bertepuk tangan.
Wajah Chelsea sudah merah padam menahan malu yang coba ia sembunyikan sejak tadi, dengan langkah terburu-buru ia melangkah untuk kembali ke belakang panggung.
"Chelsea, kenapa kau tidak balas lelaki itu?" Seorang panitia wanita tersenyum menggoda padanya ketika dia hendak memasuki tenda.
"Dia orang gila." sahut Chelsea cuek.
"Orang gila yang berhasil membuat pipimu merona, maksudmu?" Wanita itu mengerlingkan mata menatap jahil wajah Chelsea yang terlihat jelas sedang merona.
"Oh Damn!!" umpatnya bergegas memasuki tenda meninggalkan wanita yang sedang terkekeh geli melihatnya berlalu.
Selama hidupnya, tak seorang pun yang begitu gila mengejar-ngejarnya hingga saat ini. Baru kali ini Chelsea dibuat tak berkutik oleh seorang lelaki. Dan sialnya, lelaki itu adalah lelaki yang cukup gila karna ingin mendekatinya meskipun ia tahu Chelsea terikat hubungan dengan wanita lesbi.
***
__ADS_1