Punk In Love

Punk In Love
Retak


__ADS_3

Wajah Abigail keruh ketika kembali ke apartemennya. Dia tampak mengurung diri setelah memutuskan tidak menghampiri Chelsea di studionya. Apa yang ia lihat disana, adalah suatu hal buruk yang ia tak menyangka akan Chelsea lakukan padanya. Chelsea mengkhianatinya. Abigail berjalan menuju minibar dengan gelisah, diambilnya sebotol brandi dan dituangkannya pada sebuah gelas yang telah diisi es batu berbentuk bola didalamnya. Dengan pandangan sinis memandang jendela apartemen, di teguknya minuman itu hingga tandas. Benaknya mengingat-ngingat adegan demi adegan yang ia lihat terjadi di dalam studio itu.


Tadi setelah menyelesaikan rapatnya bersama beberapa fotografer yang akan ikut andil dalam pameran fotografi, Abigail berinisiatif untuk langsung menjemput Chelsea di La Plancha tanpa memberitahu pada Chelsea akan niatnya untuk kesana. Saat tiba di La Plancha Abigail tanpa sengaja melihat Peter berada disana. Entah apa yang mereka lakukan, Abigail tidak tahu karna jarak tempat ia berdiri masih lumayan jauh dengan studio Chelsea, terlebih lagi adanya beberapa pohon kelapa yang berjejer rapi membuat kehadirannya tersamarkan dari arah studio.


Namun meski begitu, matanya dapat melihat beberapa kali Chelsea tampak menghindari Peter, wajahnya tampak gusar. Tadinya Abigail hendak langsung menghampiri Chelsea, khawatir sesuatu telah terjadi hingga menyebabkan wajah Chelsea terlihat seperti menahan emosi. Namun ketika ia hendak melangkah, tiba-tiba ia mengurungkan niatnya. Kedua bola matanya terbelalak melihat dengan jelas Peter memeluk dan mencium Chelsea, hal itu di perparah lagi dengan respon Chelsea yang tampak diam tak menolak pelukan dan ciuman yang Peter berikan padanya. Chelsea terlihat seperti menikmati apa yang Peter lakukan padanya.


Seketika amarah mengusai Abigail saat itu juga, ia mengepalkan tangannya erat hingga buku-buku jarinya terlihat memutih. Dengan langkah lebar dan penuh aura gelap, Abigail meninggalkan La Plancha tanpa melihat kembali pada studio Chelsea.


Abigail mengeratkan genggamannya pada gelas brandi yang telah habis itu. Hatinya panas oleh pikiran-pikiran buruk tentang kedekatan Chelsea dan Peter. Tanpa terasa air mata jatuh menyusuri rahangnya. Hati Abigail hancur berkeping-keping. Harapan pada hubungannya dengan Chelsea hilang sudah, angan-angannya untuk bisa selalu hidup berdua dengan wanita itu pupus, bagai layang-layang putus. Terombang-ambing dibawa arus.


Apa yang mereka lakukan? Apa yang sebenarnya Chelsea sembunyikan darinya? Bagaimana bisa Chelsea berkhianat setelah sekian lama menjalani hubungan dengannya?


Abigail masih menatap tajam pemandangan danau buatan yang sunyi senyap di seberang apartemennya. Tangannya mengusap kasar air mata yang jatuh menangisi pengkhianatan Chelsea. Hatinya benar-benar merasa sakit, hingga kedua kaki yang sejak tadi berdiri terasa lemas dan bergetar. Bagai tertusuk seribu bilah pedang secara bersamaan, rasa sakit itu menghujam tepat dalam jantungnya. Abigail terkapar, dalam lautan kekecewaan yang tak berujung.


Prang!


Pecahan gelas yang sejak tadi ia genggam melayang bebas membentur cermin yang tergantung di sisi ruangan. Pecahan gelas dan cermin berhamburan dilantai. Abigail kalut. Dia meremas rambutnya kuat-kuat, berharap apa yang ia lihat hanyalah mimpi di siang bolong. Nafasnya tercekat dan seketika lututnya melemas hingga memaksanya untuk terduduk lemah di lantai yang dingin. Sekuat tenaga, ia mencoba menahan isak tangis yang ingin keluar dari mulutnya. Tangannya menepuk-nepuk dengan keras dadanya yang terasa sesak. Berharap hal itu akan meringankan nyeri di dadanya. Runtuh sudah dunianya, ketika benaknya kembali membayangkan wanita yang ia cintai berkhianat di balik punggungnya.


Pelukan itu?!


Ciuman itu?!


Apa artinya itu semua?!


"Chelsea... " Abigail bergumam lirih menahan sakit di hatinya. Dia merasa seperti ada lubang yang menganga didalam sana.


Abigail mencoba kembali berdiri dengan kaki yang masih terasa lemas. Entah akan seperti apa hubungannya kini dengan Chelsea. Dia sungguh tak berdaya merasakan pengkhianatan dari orang yang benar-benar ia kasihi. Dengan tertatih ia mencoba berjalan menuju tempat tidurnya. Ia ingin merebahkan tubuhnya yang terasa tak bertenaga masa sekali.


Drrrttt... Drrttt...


Dering ponsel membangunkannya dari kubangan duka. Abigail bangkit untuk melihat siapa yang menghubunginya. Matanya terpaku pada nama Chelsea yang tertera di layar ponsel. Seketika air mata kembali jatuh perlahan. Abigail kembali merebahkan tubuhnya, menutupi kedua matanya dengan lengan. Ia enggan untuk menjawab panggilan kekasihnya itu. Dia tidak siap.

__ADS_1


Drrrttt... Drrrrrtt...


Ponsel itu kembali berdering, setelah tadi mati karna tak diangkat oleh Abigail. Ia kembali mengabaikan panggilan itu, kali ini tanpa melihat layar ponselnya. Saat ini Abigail hanya ingin sendiri, merenungi hal yang menyesakkan dadanya. Ia belum siap untuk bertatap muka dengan Chelsea. Atau bahkan mendengar suara merdunya. Dia takut tidak bisa mengontrol emosinya ketika melihat wanitanya itu. Bagaimana pun juga, Abigail tidak ingin menyakiti Chelsea dengan amarahnya.


"Peter.. " Abigail menggeram menyebut nama lelaki yang menjadi penyebab sakit yang ia rasakan. Matanya berkilat oleh hasrat membunuh yang pekat.


Peter harus merasakan sakit yang ia rasakan. Dialah penyebab semua ini. Sebelum kedatangannya, hubungan Abigail dan Chelsea amat sangat baik. Namun ketika Peter hadir, semuanya rusak. Chelsea sampai berani berkhianat padanya karna lelaki terkutuk itu.


Bagaimanapun juga Abigail harus memberi pelajaran pada Peter. Hatinya tidak akan puas jika dia tidak membalaskan rasa sakit dikhianati itu kepadanya.


***


Matahari senja kemerahan bersinar menembus celah daun-daun kelapa yang bergoyang seirama. Chelsea masih berdiri di teras studionya. Beberapa saat setelah pelukan itu, Chelsea meminta Peter untuk pergi meninggalkannya. Semula Peter enggan meninggalkan Chelsea, ia masih ingin menghabiskan waktu bersama wanita itu. Namun Chelsea mengatakan bahwa kemungkinan Abigail akan datang menjemputnya. Hal itu berhasil membuat Peter mau tidak mau melangkahkan kaki dari sana. Meskipun di dalam hatinya, Peter akan merasa baik-baik saja sekalipun Abigail ada disana. Namun kembali ia memikirkan posisi Chelsea. Dia tidak akan tega melihat Chelsea yang tampak khawatir dan gelisah apabila Abigail melihatnya berada distudio Chelsea.


"Chelsea, sebentar lagi aku akan kembali ke Amerika. Aku harap sebelum aku kembali....."


"Tidak. Aku sudah membuat keputusan. Dan itu adalah aku akan tetap bersama Abigail, kekasihku." Chelsea memotong ucapan Peter.


Chelsea termangu mengingat perkataan terakhirnya pada Peter. Dadanya nyeri mengingat itu. Sekujur tubuhnya bergetar menahan sembilu. Dia terpaksa harus membohongi perasaannya sendiri. Abigail, kekasihnya itu terlalu baik untuk ia khianati.


Chelsea tersenyum getir ketika ingatan betapa manis hubungan yang ia dan Abigail jalin. Abigail begitu setia menemaninya kemana pun ia melangkah. Abigail lah orang pertama yang mengetahui masa lalu kelamnya di Los Angeles. Beberapa kelebatan ingatan masa-masa indah, singgah bagai sebuah album foto yang ia bolak balikkan halamannya satu per satu.


Dulu ia dan Abigail sering melakukan perjalanan mengelilingi semua tempat di Bali. Menginap di rumah warga lokal, ikut belajar menari kecak di sanggar tari. Chelsea ingat, dulu Abigail selalu memasang wajah masam ketika ia diminta untuk mengenakan pakaian wanita adat Bali oleh salah seorang warga lokal yang mereka kenal. Chelsea tersenyum mengingat moment itu. Abigail terlihat pasrah ketika beberapa orang mulai mendandaninya seperti penari Bali.


Abigail tidak mungkin bisa digantikan oleh siapapun? Dia mencintaiku. Dia membuatku lupa pada traumaku dulu. Aku tidak seharusnya bersikap buruk padanya.


Chelsea menarik nafasnya yang terasa berat. Dia memutuskan untuk melupakan perasaannya pada Peter. Sebentar lagi Peter akan kembali ke Amerika, itu artinya Chelsea bisa kembali menata hatinya dan menghapus jejak-jejak keberadaan Peter disana.


Chelsea kembali melihat ponsel yang ia genggam. Beberapa kali ia mencoba menghubungi Abigail, namun Abigail tak juga mengangkatnya. Entah apa yang menyebabkannya tak mengangkat panggilan Chelsea.


"Apa dia masih terlalu sibuk hingga tak menyadari panggilanku?" Chelsea bertanya pada dirinya sendiri.

__ADS_1


Setelah menutup studionya Chelsea bergegas pergi, dia melangkahkan kaki dari studio tato miliknya sembari kedua tangannya sibuk membuat kunciran pada rambut blonde-nya yang tergerai. Chelsea memutuskan akan langsung pulang ke apartemen Abigail. Dan menunggu Abigail disana.


***


Langkah kakinya melambat ketika mata Chelsea melihat motor sport Abigail terparkir di halaman depan apartemennya. Kening Chelsea berkerut heran, apakah Abigail sudah berada didalam? Pertanyaan itu memenuhi benaknya.


Chelsea berhenti terlebih dulu di depan pintu, dia mencoba mengatur penampilan dan nafasnya. Senyuman manis coba ia ukir pada bibir mungilnya. Setelah dirasa cukup, Chelsea bergerak untuk membuka dan mendorong pelan pintu itu.


"Abigail.. " suaranya menggema di dalam ruangan. Matanya menelusuri ruang lantai satu, mencari sosok Abigail yang ternyata tak ada disana. Kepala Chelsea langsung melihat kelantai dua. Senyuman hadir di sudut bibirnya ketika benaknya menyimpulkan Abigail pasti sedang tertidur.


"Abigail." Suara Chelsea tersendat karna ia menaiki tangga dengan tergesa.


"Apa yang kau lakukan, Abigail?" Mata Chelsea melihat langsung pada sosok Abigail yang terlihat duduk bersandar di kaki tempat tidur. Kepalanya tertunduk lesu, tak menghiraukan pertanyaan Chelsea.


"Abigail?!" Chelsea memicingkan mata sembari berjalan menghampiri Abigail. "Hei, Ada apa?" Chelsea mengusap lembut punggung Abigail yang tampak kaku.


Seketika Abigail mengangkat kepalanya, matanya menatap tajam mata kekasihnya itu. Chelsea tampak terkejut mendapat tatapan tajam dari Abigail, bola mata Abigail tampak memerah dengan air mata yang terlihat di pelupuk matanya.


Abigail terlihat seperti prajurit perang yang harus menerima kekalahannya dengan tubuh bersimbah darah penuh luka.


"Apa yang kau lakukan dibelakangku, Chelsea?" pertanyaannya langsung menohok hati Chelsea. Chelsea membulatkan matanya, menatap Abigail penuh keterkejutan.


"Apa maksudmu?" Chelsea balik bertanya heran. Entah mengapa hatinya merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi.


"Apa yang kau lakukan dibelakangku bersama lelaki brengsek itu?!" Abigail mulai meninggikan suaranya.


"Aku tidak mengerti apa yang kau maksud?" Jantung Chelsea berdebar menahan takut.


"Aku melihat semuanya Chelsea. Kau berpelukan dan berciuman dengan lelaki itu di studiomu tadi siang." ucap Abigail penuh emosi.


***

__ADS_1


__ADS_2