PURNAMA

PURNAMA
Mereka bukan Manusia


__ADS_3

“ Siapa mereka sebenarnya??? ”


Dari atas tempat tidurnya, Ralin tengah memandangi langit-langit kamar yang ia lukis bak langit senja berhiaskan hamparan bintang dibeberapa bagian yang tersisa. Ada warna biru gelap, ungu, jingga kemerahan, dan putih yang menunjukan matahari senja. Lama tertegun, bayang mimpi itu melintas lagi dibenak Ralin.


Hutan pinus, hamparan mawar putih, dan sosok misterius dibalik cahaya senja yang perlahan menghilang. Cahaya jingga mulai membenamkan diri, namun sosok misterius itu seakan enggan untuk beranjak dari tempatnya. Dia hanya berdiam diri dan menatap kearah depannya. Mata yang bersinar keemasan itu tidak lagi membuat Ralin takut. Dari tempat yang sama diawal mimpinya, Ralin melangkah perlahan mendekati sosok misterius itu. Tiba-tiba,


Sraaaak!!  “ !!! ” Ralin menoleh kearah suara yang datang.


Sosok gadis kecil diiringi tawa riang berlari mungil menyenggol tangan Ralin. Dia seorang gadis kecil yang manis dengan gaun hitam selututnya. Poni menutupi ujung alisnya. Ada bandana warna putih melekat manis disela rambut hitam panjangnya. Melewati beberapa langkah lebih jauh dari Ralin, gadis kecil itu berbalik. Dia melempar senyum pada Ralin dan kembali berlari kedepannya. Terkejut dengan apa yang dilihatnya, Ralin berusaha mencegah lari gadis kecil tadi untuk tidak mendekati sosok


misterius yang tidak bergeming dari tempat berdiri dihadapan.


Terlambat!


Gadis kecil itu sudah sampai dan langsung menggandeng sosok misterius itu. Kabut menyergap sebelum sosok misterius dan si gadis kecil menghilang dari pandangan mata. Tapi Ralin dapat melihat wajah sang sosok misterius itu. Wajah yang selalu memperhatikan sekeliling sekolah dengan seksama. Sosok yang selalu menatap dengan menunjukan kerinduan dan penantian pada dirinya. Sosok yang paling menyebalkan dalam ingatan Ralin.


“ Andra! ” Ralin terbangun dari tidurnya dengan keringat dingin mengucur di seluruh wajah dan tubuhnya.


Dimalam yang masih begitu pekatnya, dia termenung sendirian didalam kamarnya yang nampak begitu sunyi.


***


Pagi menjelang.


Pelajaran sudah berjalan satu jam lamanya. Dan pikiran Ralin masih bergutat pada mimpi aneh yang sangat nyata untuknya malam kemarin. Mengingat sosok misterius dan gadis kecil dalam mimpinya itu, tanpa sadar tangan Ralin sudah selesai menggambar sesosok pria yang menggandeng tangan gadis kecil bersamanya. Dipandangnya baik-baik gambar itu, sesosok bayang nyata melintas dibenak Ralin. Pria berjubah hitam dan gadis kecil dengan senyum yang sama seperti senyuman yang biasa Leticia tunjukan pada dirinya.


Memperhatikan Leticia, Ralin seakan menyelidik setiap detail ekspresi dari gadis yang kini tengah tertegun melihat kearah depan. Bulu matanya, alisnya, dan matanya nampak bulat dan besar seperti manusia pada umumnya.


Tapi kulit putih pucat itu… Ralin membuang pandangannya. Diseberang sana ada Andra yang tengah menatapnya seperti tatapan yang ditunjukan sang sosok misterius dalam mimpinya. Ralin terhenyak. Nafasnya mulai terasa berat. Bayangan lain demi bayangan lain mulai menghantui pikiran Ralin.


Cahaya senja yang perlahan terbenam, hutan pinus, hamparan mawar, anak kecil yang menggandeng sosok misterius berjubah hitam, bayangan cahaya bulan purnama merah, kobaran api, tangisan, jerit ketakutan, pelukan  erat seorang ibu terhadap anak laki-lakinya. Caci maki, amarah, kebencian, dan kekacauan sebuah desa kecil. Tangan yang berlumuran darah, gaun hitam selutut dan seorang anak laki-laki yang terkulai lemas dibawah kaki dengan luka gigitan taring dilehernya.


“ Ralin? ” panggilan pertama itu terdengar cukup jauh di telinganya. Bahkan sangat jauh. Seakan kesadaran Ralin sedang tidak berada dibawah kendali hati dan pikirannya. " Ralin! ” di guncangkannya tubuh itu. Panggilan kedua dan panggilan-panggilan berikutnya membawa Ralin kembali kedalam dunia nyatanya.

__ADS_1


Seakan terlepas dari cekikan dileher, nafas Ralin terengah-engah. Tercekat seperti tidak mendapatkan udara yang memadai untuknya kembali bernafas. Saat semua berusaha mendekat dan mengerubungi Ralin dengan kondisinya, disudut itu terlihat Atlas tengah menggandeng tangan Leticia yang menatap kearah dirinya dengan wajah yang cukup sedih. Ada kekhawatiran yang tersemat dari gelagat mereka berdua melihat kondisi yang ditunjukan Ralin dalam ruang kelas yang sedang berlangsungnya materi pembelajaran sekolah.


Ditariknya nafas dalam-dalam. Seketika itu Ralin dapat merasakan desiran aliran darah dari teman-temannya. Terasa sangat menggairahkan dan menyegarkan. Rasa haus menyerang seketika itu juga. Dahaga yang sangat  kuat menyergap tenggorokan Ralin. Bayangan tetes darah sang kakak beberapa kejadian yang lalu pun tak luput dari ingatan Ralin. Berusaha melawan rasa haus itu, tubuh Ralin sempat memberontak. Secepat yang bisa dilakukannya, Leticia memeluk dan membenamkan wajah Ralin dalam dekapannya.


“ Aturlah nafas mu. Kendalikan pikiranmu. ” ucapnya lirih. “ Semua pasti baik-baik saja. ”


Mendengar kalimat itu, Ralin mengatur nafasnya perlahan. Wangi tubuh Leticia membuat Ralin merasa lebih tenang. Tapi dibalik ketenangan itu, ada rasa penasaran yang menyerang benak Ralin akan kebenaran dari sosok yang kini tengah mendekap dirinya. Leticia bukanlah manusia. Ralin mendongak melihat Leticia yang menerawang sambil mendekap Ralin dalam tubuhnya yang tidak menunjukan detak jantung ataupun suara nafasnya.


Berlalu.


***


Tepat ditengah-tengah halaman utama sekolah, Ralin kembali menatap kearah teras ruang Osis. Hawa aneh seakan berhembus mengitari bangunan yang ditatapnya itu. Dimana para pengurus Osis tengah melakukan beberapa tugas seperti biasanya. Mungkin harusnya hari ini sedikit lebih sibuk, tapi yang dilakukan Andra selalu sama. Melihat dan memperhatikan hiruk pikuk suasana istirahat siang. Disana juga ada Atlas dan Leticia. Mereka tengah memperbincangkan sesuatu. Kelihatannya sangatlah serius


Beberapa saat, Leticia pergi dari sisi Atlas. Ralin sama sekali tidak membuang tatapannya dari tempat itu. Dia tetap memperhatikan setiap hal yang dilakukan oleh para pengurus Osis itu. Tidak ada yang terlewat sedikitpun. Bahkan saat Andra dan Atlas menangkap cepat sosok seorang siswi yang terjun bebas dari atap gedung sekolah dengan mudahnya pun, lebih menjadi perhatian Ralin siang itu.


Banyak siswa dibawahnya yang berteriak histeris. Hitungan detik, sosok siswi itu tengah terkulai lemah didepan gedung guru dan staf sekolah dihalaman utama sekolah. Tidak ada luka serius akibat jatuhnya siswi itu. Seperti memar di kepala belakang, patah tangan/kaki atau lainnya. Yang ada hanya darah segar yang mengucur dari pergelangan tangannya karena sayatan benda tajam. Mungkin siswi itu mencoba bunuh diri dengan menyayat urat nadinya lalu mencoba menjatuhkan dirinya dari atap gedung.


Suasana riuh sempat terjadi dengan kejadian itu. Beberapa siswa berlarian untuk melaporkan kejadian itu ke ruang guru. Ada pula yang sedang berusaha menelpon ambulance.Dan sisanya melihat dengan takut, prihatin dan juga sedih. Ralin mengernyitkan dah dengan semua hal yang dilihatnya. Dia melihat betul kalau siswi itu sudah ditangkap oleh Andra dan Atlas secara bersamaan. Bahkan Andra dan Atlas sempat membaringkannya di teras ruang Osis.


Ralin kembali menatap keruang Osis. Terlihat Atlas tengah menahan diri dan buru-buru melepas jas hitamnya yang mungkin berisi lumuran darah. Andra menatap kesal kearah kerumunan yang ada. Api berkobar dipojok teras dimana Andra tengah menjejalkan jas Osis yang dibuang Atlas. Tidak berusaha membantu ataupun terlihat panik, Ralin semakin tidak bisa melepaskan pandangannya dari sosok Andra yang tiba-tiba sudah memperhatikan Ralin dari kejauhan. Berjaga-jaga kalau sesuatu yang buruk mungkin akan terjadi tanpa terduga.


Angin berhembus membawa wangi darah segar sang siswi menusuk hidung Ralin. Ada getar aneh dalam dirinya yang seakan melawan kesadaran Ralin yang kini tengah memegang belakang lehernya. Rasa haus dan dahaga perlahan kembali menyerang kerongkongannya.


" Nikmatilah kesegarannya... " bisikan suara parau menggema diingatan Ralin. Suara parau yang sangat familiar oleh pendengaran Ralin itu bergema berkali-kali. Membawa hasrat Ralin untuk memenuhi dahaga yang menyerangnya secara perlahan.


“ Gue kenapa lagi nih?? ” Ralin bergumam.


Mendengar Andra menjentikkan jari dari kejauhan. Ralin menoleh. Ada amarah yang berkecamuk seketika dalam dirinya saat bertemu tatap dengan Andra. Waktu terhenti sejenak dan Ralin memperhatikan. Ada pesan dari  ucapan yang keluar dari bibir Andra.


“ Belum saatnya. Kendalikan dirimu. ” itu kalimat pertamanya. “ Tunggulah sampai waktunya tiba. ” itu kalimat


berikutnya.

__ADS_1


Angin berhembus melambat disekitar Ralin. Membawa hawa segar yang membuat rasa haus Ralin menghilang sesaat setelahnya. Andra berusaha menampakan senyumnya yang biasa. Dia berbalik menepuk pundak Atlas yang juga sempat melirik kearah Ralin yang tengah mematung menatap kearah teras ruangan itu. Beranjak dari teras dan riuh kepanikan siswa dengan kejadian yang terjadi dibagian bawah halaman utama sekolah, pintu teras ruang Osis langsung tertutup dengan rapat.


“ Mau bergabung di Osis? ” sosok Nathan mengagetkan karena kini sosoknya tengah berdiri disamping Ralin. Tatapannya mengarah kearah yang sama. Teras ruang Osis tempatnya biasa menghabiskan waktu di jam istirahat siang.


“ Kita keruang Osis sebentar. ” ajak Celine membuat Ralin lebih terperanjat lagi. “ Ini bukan ajakan. Tapi keharusan.”


Celine langsung menggandeng tangan Ralin dan menariknya dengan sukarela menuju tempat yang dimaksud. Sempat ada kecemasan dalam diri Celine ketika harus mengalihkan perhatian Ralin yang dirasa mempunyai insting yang kuat untuk hal yang mungkin telah terjadi didepan matanya.


“ Kami akan sedikit sibuk dengan persiapan acara Festival... ” ujar Nathan nampak kaku.


“ Jadi kami butuh sedikit bantuan. ” Celine tersenyum.


Langkah  mereka pasti di lorong kelas tersebut. Digandeng Celine dan diikuti Nathan dari arah belakangnya, mereka menuju ruang Osis. Menaiki beberapa anak tangga, Ralin memperhatikan sesosok pria yang berjalan pelan melewati mereka. Langkahnya begitu pasti mengenakan kemeja putih dengan balutan taksido berwarna grey yang terlihat sangat rapi dan elegan layaknya penampilan Celine setiap harinya. Rambutnya yang panjang melebihi telinga batas telinga dibiarkan berjatuhan membuat sosoknya terlihat sangat menawan. Bentuk wajah yang tegas dipadu padankan dengan hidung mancung, alis dan tatapan mata sipitnya yang sama tegasnya, serta bentuk bibirnya yang kecil menggoda membawa ingatan kita pada sosok Park Bo Gum yang mempunyai tatapan yang misterius dalam setiap sesi pemotretannya. Sempat melempar senyum simpul pada Ralin, pria itu berlalu diujung lorong.


“ Kau bisa… ” suara itu terdengar parau dan berbisik. “… habisi mereka. ”


Seakan mengenali suara parau itu, Ralin berbalik kaget. Dan bayang kekacauan sebuah desa kecil kembali melintas dalam ingatan Ralin. Bisikan itu tepat dibelakang telinganya. Teriakan dan hujatan itupun terarah pada dirinya. Ralin terdiam saat semua bayang itu menyeruak dan menjadi nyata ketika ia berbalik. Tidak ada Celine ataupun Nathan disampingnya. Hanya ada kegelapan yang perlahan membawa bayang mimpinya menjadi ingatan yang nyata.


Ya. Gadis bergaun hitam selutut itu adalah dirinya. Mimpi yang ia lihat berkali-kali adalah bayangan ingatan masa lalunya. Bayangan cahaya bulan purnama merah, kobaran api, tangisan, jerit ketakutan, pelukan  erat seorang ibu terhadap anak laki-lakinya. Caci maki, amarah, kebencian, dan kekacauan sebuah desa kecil. Tangan yang berlumuran darah. Seorang anak laki-laki yang terkulai lemas dibawah kaki dengan luka gigitan taring dilehernya dan wajah  penuh cipratan darah segar dari bekas gigitan taring dileher anak laki-laki itu.


Tersengal setelah melihat bayang mimpinya yang begitu nyata, tubuh Ralin bergetar hebat. Celine langsung memegang Ralin dengan kuat saat mengetahui ada sesuatu yang memberontak pada tubuh gadis yang digandengnya itu. Ralin memegangi lehernya yang  seakan tercekik oleh sesuatu dan dera nafas Ralin tidak beraturan sama sekali. Sesekali terdengar suara erangan tertahan dari sang gadis.


*Haus… Darah…Aku menginginkan darah saat ini... * Batin Ralin.


Bayang tetesan darah sang kakak, aliran darah teman-temannya, dan bau darah segar siswi yang baru saja jatuh dari atap sekolah. Semua bayangan itu membawa Ralin ke alam bawah sadarnya. Hampir kehilangan kendali dirinya, sosok Andra menyeruak keluar ruangan dan mendekap Ralin alam pelukannya didepan teman-temannya. Wangi yang sama dengan wangi yang dimiliki Leticia menenangkan sosok Ralin. Gejolak dalam dirinya pun langsung sirna perlahan. Rasa haus dan dahaga itu menghilang.


“ Kendalikan diri lo dengan baik. ” ucap pertamanya. “ Hanya itu yang bisa gue minta untuk saat ini. ” Andra kembali membenamkan wajah Ralin yang mendongakkan arah pandangannya untuk melihat si pemilik suara.


Ralin mengatur nafas perlahan. Diaturnya nafas yang tadinya terasa menyesakkan itu.


“ Apa lo udah baikan? ” Andra menepuk kepala Ralin dan tiba-tiba memperlakukan Ralin seperti seorang yang sangat ia kenal.


Menarik diri dari dekapan Andra, darah Ralin berdesir cepat ke kepala. Ada rasa mual yang muncul ketika menyadari ada sesuatu yang berbeda dari sosok Andra. Dia memperhatikan Andra dengan baik. Memastikan kalau Leticia dan Andra itu sama. Mereka sama-sama bukan manusia. Mungkin Celine, Nathan, dan mungkin Atlas juga sama.

__ADS_1


Mundur perlahan dari para pejabat Osis yang berada disekelilingnya, Ralin melempar pandangan yang cukup aneh dari sosok Leticia yang berdiri dibelakang Celine, lalu menatap Andra, Nathan, dan Atlas secara bergantian. Melihat bercak darah di lengan kemeja Atlas, Ralin terhuyun kebelakang. Dia menabrak sosok lain yang baru saja keluar dari ruang Osis, Ralin terperanjat kaget.


***


__ADS_2