PURNAMA

PURNAMA
Hari ke 2


__ADS_3

Hari ke 2 Festival sekolah.


“ Kalau pengelihatan Celine benar, artinya hawa kegelapan yang semakin hari semakin terasa itu memang sedang mengincar Ralin atau mungkin tujuannya orang lain...  ” Andra menggantung kalimatnya.Dia melihat kesemua teman yang berada disekelilingnya.


“ Kita maksudnya!? ” Nathan bersuara. Mereka yang menyimak langsung mengernyitkan dahi.


“ Dan artinya lagi, ” Atlas mengambil posisi disamping kedua seniornya itu. “Mungkin dia salah satu dari mereka. ” Ditudingnya lalu lalang orang-orang yang memenuhi acara festival dihari berikutnya.


Di teras ruang Osis yang menghadap kearah barat, mereka melihat ke sekeliling dengan seksama. Memperhatikan setiap kegiatan yang berlangsung dihari kedua acara Festival sekolah. Memastikan kalau hawa kegelapan yang mungkin mengacau dihari kemarin memang tengah berada diantara lalu lalang pengunjung yang datang.


Tangan Atlas mengepal kesal mengingat kejadian hari kemarin. Dimana dia harus kehilangan kendali dirinya karena kegelapan yang menyusup di acara festival tanpa sepengetahuannya. Pertolongan Andra dan Nathan yang begitu cepat dan juga sosok Leticia yang membantu menyembuhkan luka lima teman sekelasnya di acara Festival itu, membuat Atlas terhindar dari masalah yang lebih besar lagi. Membayangkan pembakaran yang mungkin akan dilakukan massa terhadap dirinya atau dirinya kembali harus pergi jauh dari sekolah yang merupakan rumah kedua


baginya.


“ Fiiiuuuuh! ” Atlas bergumam sebelum akhirnya dia memilih keluar dari ruang Osis dengan tangan kosong. Dia meninggalkan kardus berisi gelas kaca yang harusnya dia bawa ke kelasnya seperti kemarin.


Dari lantai  bawah ruang Osis, Ralin berdiri tepat ditengah pintu masuk ruang tata usaha sekolah. Dia memperhatikan semua kembali normal. Seakan kejadian kemarin tidak pernah terjadi sama sekali. Dimana kengerian dan kegaduhan menghantui acara Festival diakibatkan oleh sosok Atlas yang sangat mengerikan. Bahkan lima siswi yang harusnya terluka kemarin pun kini hanya menjadi satu orang korban. Dia Laras, teman sekelas Ralin yang lengannya robek karena berusaha membantu membersihkan pecahan gelas kaca yang dijatuhkan oleh Atlas. Dan itu menjadi hal paling janggal dalam pikiran Ralin.


“ Jadi kardus gelasnya mana? ” sambut Ralin begitu mendapati Atlas menghampirinya dengan tangan kosong.


“ Gue nggak mau jatuh lagi, jadi nggak gue ambil. ” jawabnya santai.


“ Lha trus? Gue kan nungguin lo disini biar gue bisa bantuin bawanya. ”


Atlas mengangkat bahu. “ Sorry. ”

__ADS_1


“ Biar gue yang ambil. ” Mengambil langkah melewati Atlas, Ralin berjalan pasti menuju ruang Osis, tempat yang


paling dibencinya saat ini.


“ Sarang predator. ” gumam Ralin begitu berdiri tepat didepan pintu ruang Osis yang kini masih tertutup rapat. Dia memanyunkan bibirnya. “ Haruskah gue masuk kedalam? ”


“ Tentu! Kalo lo ada perlu dengan orang-orang didalamnya. ” Andra menjawab santai dari balik punggungnya. Senyum Andra nampak berbeda dari biasanya. Bahkan bukan senyum memaksa yang biasa ia tunjukan akhir-akhir ini pada Ralin.


“ Siapa lo sebenarnya??? ” Ralin langsung bertanya tanpa menggubris sedikitpun jawaban Andra atas gumaman dirinya.


“ Teman abang lo lah!” jawab Andra santai memasuki ruang Osis yang ternyata terlihat begitu memukau. Ralin tercengang. Ruangan yang sejak dulu dikiranya suram, ternyata lebih indah dan megah dari yang ada di bayangan Ralin selama ini.


Tepat dibagian utara ruangan diseberang pintu masuk, terdapat satu meja jati berukuran cukup besar yang mengintimidasi bagian tempat itu. Dibagian atas meja yang penuh dengan ornament meja-meja orang penting pada umumnya, Andra meletakan beberapa file yang baru saja dibawanya. Dibalik meja itu terdapat single chair berwarna merah maroon yang nampak sepadan dengan warna coklat kayu jati yang dipoles latex. Dibagian kanan meja terdapat satu lampu ruangan dengan d’sign kuno tapi tidak mengurangi nilai kemegahan yang ditawarkan ruangan itu. Bagian rak buku memenuhi tembok bagian barat ruangan yang berisi beberapa arsip data sekolah dan berbagai macam buku dengan tebal yang bervariasi. Didepan rak buku terdapat setangkai mawar putih didalam vas diatas meja bundar dan sofa panjang dengan warna senada dengan single chair dibalik meja kayu jati tersebut. Dibagian timur terdapat pintu kaca dengan design teralis kuno yang selalu terbuka. Pintu kaca yang selalu bisa dilihat Ralin dari tempatnya biasa mengamati teras ruangan ini. Tempat kakinya berpijak kini merupakan karpet dengan warna terbaik yang dilihatnya jika dipadupadankan dengan lantai kayu bernuansa hangat dibawahnya.


“ Ada yang bisa gue bantu? ” Andra bertanya dari balik meja. Dirinya baru saja menutup jendela dengan design teralis kuno dibelakangnya. Jendela yang memperlihatkan pemandangan yang selama ini ingin dilihat Ralin. Suasana bukit dibelakang sekolahnya. Bukit dengan hamparan hutan pinus yang memberikan banyak hawa kerinduan selama Ralin masuk dan menjadi bagian dari SMA Kenanga.


“ Gue mau ambil kardus gelas…” jawab Ralin menerawang. Ingatannya antara ditempatnya berdiri kini dan bayang mimpinya yang sudah diingatnya dengan cukup jelas.


***


Matanya berputar-putar melihat sekeliling kamarnya. Ada rasa penasaran yang besar memenuhi kepalanya. Dibenaknya kini, dia hanya ingin bertemu dan berbicara dengan Andra, sang wakil ketua Osis misterius yang jatidirinya sudah berada ditangan Ralin.


“ Hanya perlu mendengar jawaban darinya saja! ” gumam Ralin nampak bersemangat.Memeluk erat bantalnya saking semangatnya, Rassya datang dan menyapa dengan santai.


“ Lin, temen lo yang luka kemaren gimana? ” tanya Rassya memasuki kamar Ralin dengan santainya.

__ADS_1


Terperanjat dari tidurnya, dia sejenak menatap Rassya. Ingin rasanya Ralin menceritakan semua hal yang dilihatnya dihari kemarin kepada sang kakak. Kejadian yang membuatnya yakin dengan jati diri para pengurus Osis sekolahnya. Sejenak diam dan ada keheningan dari keduanya karena Ralin mengurungkan niatnya untuk bercerita.


“ Ya gitu kak. ” jawab Ralin sekenannya. “ Lengannya kena jahitan tiga. ”


“ Ooww.. ” Rassya ikut merebahkan diri disamping adiknya sambil menatap langit-langit kamar ruangan itu. “ Hari ini dia masuk? ”


“ Hemmm.. ” Ralin mengangguk ragu. Dia menoleh kearah kakaknya yang tengah memejamkan mata. Seperti ada lelah yang berbeda dari wajah sang kakak. Sepertinya Rassya terbebani oleh sesuatu yang tidak diketahui oleh dirinya.


Saat ini, Rassya tengah mengingat pasti semua kejadian dihari festival kemarin. Saat dirinya hanya bisa berdiam diri ditengah anehnya kerumanan yang seakan mematung, tanpa sengaja Rassya melihat sosok Leticia menyembuhkan luka dari teman adiknya itu. Mungkin bukan kali pertama bagi Rassya melihat hal aneh semacam itu dari para pengurus Osis yang menjadi bawahannya itu. Tapi mengingat sosok lain dibalik punggung Ralin ketika ia diterjang oleh Andra, Rassya kini mengkhawatirkan keselamatan sang adik.


“ Gue nggak mau kalau harus menyembuhkan total luka di lengannya. Gue hanya bisa memperkecil luka yang dimilikinya. ” ujar Leticia dihadapan Andra dan Nathan.


“ Itu bagus. Jadi tidak perlu banyak ingatan yang harus gue rubah. ” Atlas menimpali sembari menepuk pundak Leticia.


Dia berdiri ditengah-tengah kerumunan acara Festival. Waktu yang masih terhenti membuat kerumunan yang ada dihadapannya seperti sedang menyaksikan manekin challenge. Memejamkan mata sejenak, Atlas bertepuk tangan dua kali. Dan semua kembali normal berbarengan dengan menjentikan jari Andra.


Lalu lalang kembali memenuhi acara Festival. Ketakutan yang terjadi sebelumnya pun berubah menjadi kepanikan karena luka di lengan Laras. Disamping pecahan gelas kaca yang ada, Andra, Leticia dan Atlas terlihat lega menyaksikan perubahan dari apa yang tengah mereka lakukan. Sedikit perubahan kecil.*


“ Menurut lo, seberapa aneh teman-teman Osis gue itu? ”


“ Hah? ” Ralin berpaling kaget. “ Aneh? Jadi lo juga ngerasa gitu? ” kini Ralin antusias melihat tatapan menerawang kakaknya.


“ Ya.” Rassya balas menatap adiknya. “ Sama anehnya kaya lo! ” tambahnya menyentil kepala sang adik dengan gemasnya.


“ Abang!! ” Ralin menepis tangan sang kakak.

__ADS_1


Berniat membalas, Rassya menahan wajah sang adik dengan telapak tangannya. Dan lagi-lagi  Rassya menjahili sang adik dengan menarik telinganya. Suasana canda tawa dari kedua saudara itu menjadi tontonan manis bagi sang orang tua yang melihat dari depan pintu kamar putrinya yang terbuka lebar. Mereka tersenyum dengan bahagia.


***


__ADS_2