
Menyadari betul betapa kuatnya insting yang mungkin dimiliki Ralin belakangan ini, Andra berusaha menahan setiap perubahan tatanan sekolah yang telah dia lakukan bersama teman-temannya sebelum ini. Dia bahkan sampai harus mengendalikan waktu setiap dia menyadari Ralin sedang memperhatikan hiruk pikuk sekolah dari tempat yang sama. Di bangku sudut dibawah pohon perindang halaman sekolah.
Apa mungkin selama ini Ralin tidak terpengaruh sedikitpun dengan perubahan yang gue ataupun teman-teman gue lakukan. Gue benar-benar tidak memperhatikan hal itu sejak awal gue bertemu dengannya.
Andra terdiam memperhatikan Ralin yang menatap kearahnya. Hanya sesaat, Ralin membuang pandangannya dan menyapa santai seorang yang datang menghampirinya. Sosok pria mengenakan kaos abu berleher tinggi yang menutupi sampai bagian lehernya. Dibalut dengan blazer hitam yang santai dengan celana panjang yang senada, membuat sosoknya terlihat cukup mencolok untuk Ralin. Rambut hitam kemerahan yang panjang melebihi batas telinga seperti dibiarkan nampak berantakan. Bentuk wajah yang tegas dipadu padankan dengan hidung mancung, alis dan tatapan mata sipitnya, serta bibir mungil yang menyunggingkan seutas senyum untuknya membuat Ralin bisa langsung mengingat sosok yang kini masih berdiri dihadapannya itu.
" Kamu... maksud saya, anda siapa? " tanya Ralin gelagapan. Berbeda dengan kesan misterius yang ditunjukan oleh sang pria saat pertemuan pertama mereka atau lebih tepatnya saat mereka berpapasan untuk pertama kalinya. Ternyata wibawa yang dimiliki sosok pria ini benar-benar mampu membuat ketenangan Ralin terenggut hanya dengan bertatapan sebentar dengan sosoknya.
" Kamu saja! Itu terdengar lebih akrab. " ujar sang pria menyunggingkan senyum yang benar-benar khas pada Ralin. Lesung pipi yang terlihat samar-samar itu membuat Ralin enggan memalingkan pandangannya.
" Oh! Ng... Iya! Kamu, siapa?? " tanya Ralin. " Ini kedua kalinya aku melihatmu disekolah? "
Tidak langsung menjawab, si pria kembali tersenyum oleh tingkah Ralin. Kali ini ada kepuasan dibalik senyum yang ditunjukan pria itu. " Perkenalkan, " si pria mengulurkan jabat tangan tanda perkenalan pada Ralin. " Qean Putrawangsa. "
Merasa tidak begitu asing dengan nama yang disebutkan pria itu, Ralin membalas jabat tangan si pria tanpa ragu.
" Ralin Adityapati. "
Saat tangan itu saling berjabat dan bersentuhan ada rasa yang begitu dalam menyeruak di hati Ralin. Ada rasa iba dan kesedihan mendalam yang membuat Ralin tanpa sadar meneteskan air matanya. Perasaan yang sama kuatnya dengan kerinduan yang dirasakannya terhadap sosok Andra setiap kali tatapan mereka bertemu.
Kenapa gue sesedih ini... Rasa apa ini?? Berat dan tidak bisa dijelaskan keberadaannya. Ralin langsung memegangi dada bagian kirinya yang tiba-tiba saja merasa nyeri.
Tangan si pria sigap menahan tubuh Ralin yang tersungkur dan menyeka air mata yang jatuh membasahi pipi Ralin saat itu. " Kenapa tiba-tiba harus meneteskan air mata begini? " tawanya yang riang membuat Ralin tertegun.
Sakit dibagian dada kirinya yang masih berdenyut-denyut tidak menentu, membawa Ralin untuk sejenak menoleh sosok Andra yang tiba-tiba nampak begitu benci untuk melihat kearahnya. Semakin sakit, Ralin memegangi dada kirinya dengan kuat. Di kepalnya tangan itu saat dirinya tidak mampu lagi menahan rasa sakit yang terus bergejolak dan menghantam bagian jantungnya dengan sangat keras. Kepalanya mendadak pusing dan Ralin terhuyun jatuh dalam dekapan pria bernama Qean yang bermaksud untuk membantu Ralin.
" Kamu kenapa?? "
Hanya kalimat itu yang terakhir didengar Ralin sebelum akhirnya ia kehilangan semua kesadarannya.
“ Binasakan mereka semua... kamu bisa melakukannya dengan mudah... ” suara bisikan parau siang itu menghasut lembut dibelakang telinga.
__ADS_1
Bayang kekacauan sebuah desa kecil kembali melintas dalam ingatan Ralin. Bisikan itu tepat dibelakang telinganya. Terdengar begitu halus, berbisik dengan suaranya yang parau diselingi oleh beberapa teriakan dan hujatan suara-suara lain yang terarah pada dirinya. Ralin terdiam saat semua bayang itu menyeruak dan menghinggapi ingatannya yang terasa begitu menyakitkan. Hanya ada kegelapan yang perlahan membawa bayang mimpinya menjadi ingatan yang nyata.
" Bunuh! " suara parau itu terdengar tegas dan menghujam ingatan.
Seperti kehilangan kendali dirinya, Ralin bersiap menancapkan taringnya yang berlumuran pada sosok yang digendongnya.
“ Kendalikan dirimu…” kalimat Andra itu tiba-tiba terngiang ditelinga Ralin berbarengan dengan munculnya sosok misterius yang nampak kabur dari pandangan mata.
Sosok pria berjubah hitam itu mendekat dan pemilik suara bisikan dibelakang Ralin terpental jauh
kebelakang. Tidak sempat menoleh pemilik suara bisikan itu, sosok berjubah hitam sudah membawa Ralin jauh dari kekacauan yang terjadi.
Terbangun ditengah-tengah hutan pinus dikala senja, sosok Ralin yang bergaun hitam selutut itu terjaga dan melangkah diingatan mimpinya yang lain. Dimana sang sosok misterius yang selalu dia mimpikan tidak ada lagi. Hamparan mawar putih itupun kini hanya berupa semak belukar berduri yang menggores setiap jengkal kulit ketika Ralin berlari menerjang kedalamnya. Tidak ada lagi rasa sakit atau perih, yang Ralin lakukan hanyalah menyeruak masuk kedalam semak itu untuk mencari sosok misterius berjubah hitam yang harusnya tengah berdiri diujung semak belukar ini.
“ Kendalikan dirimu… ” sebuah tangan menepuk kepala Ralin yang sekarang bersimpuh pasrah diujung semak berduri ini.
Tatapannya menerawang melihat sosok pria berjubah hitam yang perlahan membuka penutup kepalanya. Dikenali wajah pria itu. Dia Andra. Dengan tatapan kesedihan yang mendalam. Berusaha meraih wajah sedih itu, tangan Ralin menyentuh pipinya yang terasa amat dingin. Senyum itu menyambut sendu. Sentuhan lembut membalas belaian pipi Ralin. Bukan hanya tangan Andra, sang pria berjubah hitam. Tapi tangan gadis mungil bergaun hitam yang sama pun membelai lembut rambut Ralin. Tersenyum manis. Ralin akhirnya mengingat wajah kecil dari Leticia Caroline Dascha.
Membuka mata perlahan menyambut malam yang kelam, Ralin mengingat kembali hal-hal yang terlupa dimasa lalunya. Ingatan yang harusnya tidak terbuka diwaktu ini. Ingatannya akan sebuah janji untuk bersama selamanya.
" Maaf!! Maafkan aku!! Maaf!! " Ralin terkejut. Kembali terbangun di ruangan yang sama seperti dulu Ralin memperhatikan ruangan berwarna hijau Turkish dengan selimut yang sedikit tebal dengan warna mendekati pink peach sudah menutupi sebagian besar tubuhnya. Disamping ranjangnya terpejam sosok Qean yang terus saja memegangi tangan Ralin. Rambutnya menutupi hampir sebagian wajahnya yang nampak sangat menenangkan ketika si pria tengah tertidur.
" Kamu mengigau terlalu keras.. " ujar Qean yang tiba-tiba saja sudah membuka matanya dan menampakan senyum yang begitu cerah melihat Ralin tersadar dari pingsannya. " Kamu tadi sempat pingsan. Dan aku membawamu kesini. "
" Benarkah? " Ralin memegangi belakang lehernya. Ada sesuatu yang berbeda dari apa yang dirasakannya saat ini. Seperti melupakan sesuatu yang penting.
" Ralin? " panggil Qean yang kembali tersenyum. Walau dibilang senyum yang biasa, tapi senyum itu tidak terpancar dari matanya sama sekali. Matanya terlihat menerawang tapi juga tidak.
" Iyaa Qean? Kenapa? " Ralin menatap heran melihat Qean tiba-tiba mendekatkan wajahnya pada ubun-ubun Ralin. " Senang bisa mengenalmu... " satu kecupan diberikan Qean pada kening Ralin yang hanya bisa terdiam kaku dengan hal yang tiba-tiba terjadi.
" Maaf! " Qean menarik dirinya dari sisi Ralin.
__ADS_1
Dari ke jauahan, diatas dahan salah satu pohon pinus yang berada di balik kaca jendela disamping ranjang rawat ruang UKS, sosok lain memperhatikan dengan kekesalan yang langsung mencapai pada puncaknya. Selama berabad-abad lamanya, tidak pernah sekalipun ia merasakan perasaan seburuk rasa yang dimiliki sekarang ini. Melihat dan memperhatikan Ralin yang sudah lama ia nantikan kini ditemani seorang pria yang pernah ia kenali sosoknya, Andra mengeram kesal. Berharap sosok itu tidak pernah kembali dan hadir diantara dirinya dan sosok Ralin, Andra langsung memancarkan hawa kegelapan dan menimbulkan keributan disepanjang hutan pinus yang dilewatinya untuk pergi menjauh sejauh-jauhnya.
Hembusan angin yang berbeda menyeruak masuk dari hamparan hutan pinus belakang sekolah. Memenuhi dan mengitari seluruh lingkungan sekolah, hawanya mengusik Ralin yang langsung menoleh keluar jendela belakang ruang UKS dan juga para pengurus Osis yang tengah berkutat dengan pekerjaan yang dilakukannya. Celine dan Nathan langsung menyadari hawa yang mengusik itu adalah kemarahan yang dipancarkan oleh sosok Andra. Mereka menghentikan kegiatannya. Bermaksud mencari keberadaan Andra saat ini, Atlas bergegas mendahului mengejar dan menyamai lesatan Leticia dalam cuaca yang semakin mendung dan berkabut ke bagian terdalam hamparan hutan pinus yang mengitari lingkungan sekolahnya.
" Ada apa? " Atlas menghentikan laju Leticia disalah satu dahan pohon ditengah-tengah hutan.
" Kita hanya harus menemukan Andra secepatnya. " Leticia terlihat begitu khawatir. Tidak pernah ia merasakan hawa yang begitu menusuk dari Andra. Bahkan setelah kebersamaan mereka berabad-abad lamanya. Ini kali pertama Leticia merasa harus menenangkan Andra dari kemarahannya.
" Kita berpencar! " Celine melesat kearah timur menuju sisi kota. Atlas melesat lurus ke utara menuju arah kastil tua yang di bentengi oleh kilatan petir. Leticia langsung ke arah Barat. Menyeruak melawan cahaya senja yang masih bersinar dengan terangnya.
Menyusul Celine, Atlas dan Leticia yang jauh didepannya, Nathan menghentikan langkahnya tepat didepan ruang UKS tempat ia melihat keberadaan Ralin. Ralin tidak sendirian. Dia bersama sosok pria yang pernah ditemuinya beberapa kali dalam rapat komite sekolah. Pria itu menatap. Hanya sekilas, namun Nathan merasakan hal yang begitu berbeda dari sosok pria itu. Sama janggalnya seperti ketika ia coba meyakinkan sosok Ralin beberapa waktu sebelumnya ditempat yang sama.
Ruang UKS sekolah.
" Mau ku antar pulang?? " tawar Qean setelah melihat kearah luar ruangan dengan canggung. Memastikan kalau tidak ada siapapun lagi dilingkungan sekolah yang sudah sunyi senyap tersebut, Qean melanjutkan kata-katanya. "Hari sudah sore, dan sepertinya sudah tidak ada siapa-siapa lagi disini... "
" Hmm... " Selain merasa canggung dengan tawaran Qean, Ralin juga memperlihatkan keraguannya. Ada sesuatu yang membuatnya tidak ingin menerima tawaran itu. Hawa kuat yang kini semakin mengusik pikirannya, mengingatkannya pada Andra dan sebuah kemarahan yang terpendam. Tidak memalingkan tatapannya dari hutan pinus yang berada dibelakang jendela ruang UKS, Qean menunjukan kegamangan pada hati dan pikirannya.
" Sebentar, aku telp kakakku dulu. " jawab Ralin setelahnya.
" Silahkan. " jawab Qean sembari mengecek notifikasi di ponsel miliknya. Ada seutas senyum tersemat di bibirnya sebelum dia menjawab keinginan Ralin untuk menelpon sang kakak. " Kalau kakak yang kamu maksud adalah ketua Osis sekolah, mungkin saja dia sudah langsung pulang. "
" Kenapa? " Ralin baru saja menutup panggilan teleponnya setelah dia tersambung dengan suara operator.
" Dia mengikuti rapat komite menggantikan ku. " Qean tersenyum simpul. Hanya sekejap, dia melirik Ralin lalu melangkah keluar dengan santai. " Jadi... Biarkan aku mengantarmu pulang hari ini. Sebagai tanda minta maaf atas kelancangan ku barusan. "
Mendengar ucapannya yang tulus, Ralin mengiyakan tawarannya itu. Hal yang dilakukan Ralin langsung mengundang tawa Qean. Dia berbalik melihat Ralin dengan tatapan yang benar-benar terasa familiar diingatan Ralin.
" Aku benar-benar merindukan hal itu dari sosok mu, Lin. "
Ralin termenung. Kata-kata Qean seperti pernah dia dengar sebelumnya. Nada suaranya yang sedikit serak-serak basah dan tawanya yang sangat khas dengan senyum mengembang dan matanya yang langsung menyipit, membuat Ralin mengulang satu masa yang terlewatkan dalam perjalanan hidupnya.
__ADS_1
***