PURNAMA

PURNAMA
Sang Pewaris


__ADS_3

Pancaran cahaya bulan purnama malam itu begitu mengundang gairahnya bersama beberapa teman untuk menikmati malam dengan pergi ke ujung bukit ditepian danau yang membentengi bagian timur kota yang ia tempati. Dia bersama beberapa temannya saling mengejar dan sesekali mengeluarkan teriakan seakan mengumumkan kesenangan yang mereka lakukan dimalam gelap yang diterangi cahaya bulan purnama.


Disalah satu dahan pohon yang begitu tinggi dan menjulang, sosok pemuda itu sempat berhenti. Memperhatikan sesosok bayang anak kecil yang tengah duduk termenung ditepian danau di seberang tempatnya berdiri. sosok anak kecil mengenakan rok berwarna merah muda yang entah secara kebetulan atau tidak, kini tengah menoleh dan menatap kearahnya. Mata si pemuda menjadi tajam dan memancarkan cahaya kebiruan yang menyamai terangnya pantulan cahaya bulan purnama di air danau pada malam itu.


" Apa yang hendak dilakukannya? "


Si pemuda menjentikkan jari dan menghentikan lesatan satu temannya yang memang tertinggal jauh di belakang. Sosok temannya itu kini berdiri di dahan pohon bagian bawah kakinya. Dia pun langsung melihat kearah yang sama. Kearah sosok gadis kecil dengan tatapan mata yang terlihat gamang.


" Anak manusia? " gumamnya. Sembari memperhatikan temannya yang bertengger santai dalam diam, si pemuda terdiam lebih lama lagi diatas dahan pohon itu.


Semakin memperhatikan sosok gadis kecil yang berjalan kedepannya seperti tengah terhipnotis, si pemuda menatap heran. Masih dari tempat yang sama, si pemuda melihat langkah kaki gadis kecil itu pelan-pelan berpijak pada tanah dibawahnya. Dan langkah demi langkah berikutnya seakan menuntun sosok gadis kecil itu masuk kedalam air danau yang begitu dinginnya. Semakin melangkah, semakin tubuh mungil itu tertelan oleh air danau.


" Aku duluan! Wooooooohuuuuuuuuu!!!" ujar temannya sembari berteriak. Teriakan temannya seakan mengagetkan sosok gadis kecil yang kini tengah berada di kedalaman air danau yang begitu dinginnya.


Sosok gadis kecil itu tengah berada di kedalaman dan si pemuda mengabaikan pandangannya. Berpikir mungkin saja itu aksi bunuh diri seorang dengan pikiran pendeknya. Bukan menjadi kebiasaannya juga untuk mencampuri urusan hidup anak manusia.


Sosok gadis kecil itu perlahan mulai tenggelam. Menyadari kakinya tengah mengapung, sosok gadis kecil itu berusaha untuk muncul kepermukaan dengan terus mengibaskan kakinya di kedalaman air. Tangannya melambai dan tangan dan tubuh mungil itu berusaha meraih udara sebanyak-banyaknya.


Suara cipratan air itu terdengar begitu mengusik si pemuda yang tengah bersiap mengejar teman-temannya yang sudah melesat jauh ke seberang danau. Dia sudah melesat melewati beberapa pohon pinus yang menjulang tinggi sampai sosoknya kembali berhenti di dahan sebuah pohon. Berdiri dalam kegamangan dibeberapa ratus meter dari arah suara cipratan air yang mengganggunya, si pemuda menatap jeli.


Ada hal yang tiba-tiba tidak bisa ia abaikan begitu melihat lambaian tangan yang begitu mungilnya ditengah-tengah air danau yang mulai menawarkan kebekuannya. Gerakan kakI sosok gadis kecil itu perlahan melemah. Lambaian tangan itu mulai menghilang dari permukaan. Tubuh sosok gadis kecil itu perlahan seakan tertelan oleh air danau yang sedang menampakan keindahan dengan pantulan cahaya bulan purnama ditengahnya. Tangan mungil itu mulai menghilang dari permukaan. Mulai tertutupi kabut dan sosok  tubuh gadis mungil itu tenggelam dengan perlahan.


Lesatannya pasti. Si pemuda terjun dan masuk kedalam air danau yang tengah diselimuti kabut. Kabut itu bergerak cepat, secepat sosok itu melesat masuk ditengah air untuk menghampiri sosok gadis kecil yang perlahan tengah kehilangan kesadarannya. Berenang menuju sosok mungil itu, si pemuda berusaha meraih tangan yang hanya berjarak beberapa meter dihadapannya. Tangan pemuda itu meraih dan menarik tubuh mungil gadis kecil itu keluar dari dalam air.


Meletakkan tubuh mungil itu ditepian danau, sosoknya hanya mampu menatap. Tangannya tidak ingin menyentuh lama tubuh sosok gadis kecil itu. Gejolaknya benar-benar mampu ia rasakan. Dan sosoknya pun tidak mungkin untuk membantunya memberi pertolongan lain selain mengeluarkan gadis kecil itu dari dalam air danau.

__ADS_1


“ Ini bagian ku. ” sosok lain yang merupakan teman dari si pemuda, baru saja memijakkan kakinya disamping sosok tubuh mungil gadis kecil itu.


Bersimpuh, dia meletakkan satu tangannya di dahi anak kecil yang bibirnya mulai terlihat membiru itu. Nafasnya terasa begitu pelan. Detak jantungnya sangat lemah. Dan dari semua hal yang mereka perhatikan, desiran darahnya yang lambat dan mulai membeku membawa ketenangan tersendiri untuk kedua sosok yang kini bersiap untuk meninggalkan anak kecil itu begitu saja.


“ .... dia ada dimasa lalu mu berkali-kali... ”


“ Ya.... aku mengingat baik wajah itu. ”


Dalam lesatan ditengah-tengah cuaca yang semakin berkabut, mereka melanjutkan perjalanan mereka.


" Kenapa kau kembali?? " Andra menatap lekat kearah depannya. Dimana cahaya senja sedang menampakan keindahannya. Beberapa bagian cahaya matahari yang menembus cahaya jingga diatasnya membuat senja dihari itu nampak begitu indah bagi Andra dan para pengurus Osis misterius SMA Kenanga yang satu persatu baru menginjakan kakinya ditepian perbukitan dibagian ujung hutan pinus yang baru saja mereka susuri.


Terbayang olehnya bagaimana gadis kecil yang diselamatkannya itu tengah beranjak dewasa. Bagaimana sang gadis yang tengah beranjak dewasa dimasa itu masih mampu bertahan dan mengerang menahan kesakitan dialaminya karena sosok yang kenali. Dibawah cahaya bulan purnama yang tengah menunjukan sinar birunya yang indah, Andra menancapkan taring itu di luka gigitan sang gadis dengan nama Alin yang kini dia rindukan kehadirannya.


Menidurkan sosok Alin dalam peti es ditempat persembunyiannya, perasaan bersalah itu tidak mampu ia hilangkan meski dia sudah berkelana jauh selama beberapa abad. Langkah dari setiap perjalanannya selalu menuntun Andra untuk kembali ketempat persembunyiannya dan menyaksikan Alin terbangun sebagai salah satu bagian mahluk abadi yang sama seperti dirinya. Tatapan mata sang gadis yang bersinar keemasan bukan langsung tertuju pada sosoknya yang berdiri didepan pintu tempat persembunyian itu, melainkan ke tengah-tengah hutan tepat ditengah hamparan ladang bunga mawar putih yang diterangi oleh oleh cahaya bulan purnama.


" Lo cemburu dengan pria yang bersama Ralin hari ini? " Nathan menimpali.


" Gue selalu berharap dia tidak pernah kembali lagi... "


" Siapa maksud lo? "


" Sang pewaris.. "


***

__ADS_1


“ Sang pewaris??? ” Ralin mengulang jawaban Qean atas pertanyaannya.


“ Ya! Aku putra tunggal dari pemilik sekolahmu. Jadi aku sang pewaris satu-satunya.” senyumnya mengembang bangga. Matanya yang menyipit tapi sedikit menatap tajam, membuat Ralin terus saja mengingat dimana ia pernah bertemu dengan sosoknya. Ada bayang pertemuannya dengan sosok Qean dengan latar tempat yang terlihat samar-samar di ingatannya. Ralin hanya merasa mengingat jelas senyum itu. senyum yang benar-benar menjadi ciri khasnya.


“ Hmm… apakah kita pernah bertemu sebelum ini? Mungkin di satu tempat yang lain, bukan disekolah? ”


“ Tidak! Kita selalu bertemu di tempat ini. ” jawabnya menggantung. “ Baik hari ini, ataupun hari kemarin. ”


“ Benarkah? ”


“ Ya! ” jawab Qean menghentikan laju mobilnya tepat didepan rumah Ralin. “ Kita sudah sampai. Ini rumahmu bukan? ”


Ralin hanya mengangguk.


Dibagian depan rumah berpagar warna biru langit dengan tembok abu pada sisi kiri dan kanan pagar itu, bersandar sosok Rassya sambil memainkan ponselnya. Melihat sang adik akhirnya pulang, Rassya terdiam mendapati Ralin diantar pulang oleh Qean yang dikenalinya sebagai anggota termuda komite inti sekolahnya.


“ Makasi sudah mengantar Ralin pulang. ” ucap Rassya tanpa sekalipun memalingkan pandangannya dari Qean dibalik kemudinya. Qean mengangguk ramah.


Ralin berbalik dan langsung menghadap Qean dengan santai setelah keluar dari dalam mobil itu.


Lagi-lagi Qean menyunggingkan senyum yang sama untuknya. “ Sampai bertemu lagi A…lin…”


“ Iya. ” Ralin termenung.


Tersirat makna berbeda dari cara Qean menyebutkan namanya pada Ralin dihari senja yang mulai menunjukan ke gelapannya itu. Senja yang perlahan menghilang dan berganti dengan gelap bersamaan dengan menghilangkan mobil Qean dari pandangan mata.

__ADS_1


***


__ADS_2