
SMA Kenanga.
Riuh suasana sekolah dan cuaca aneh yang terus berhembus sejak pagi membawa tanya tersendiri bagi beberapa pengurus Osis. Ditambah dengan ketiadaan dua orang yang diam-diam selalu mereka awasi. Melihat meja Rassya yang kosong dan sosok Ralin yang tidak ada ditempat ia selalu memperhatikan, Andra sedikit merasa terganggu. Tidak biasanya kedua orang itu mengabaikan momennya disekolah. Kebiasaannya memperhatikan riuh suasana sekolah tiba-tiba menjadi sangat membosankan bagi Andra ketika ia menyadari kalau sosok Ralin tidak ada dikelas seberang atau tidak terlihat ditempatnya biasa duduk di bangku sudut halaman utama sekolah.
“ Bukan hanya Rassya ternyata… ” Leticia bergumam. Dia melirik semu wajah yang ditunjukan Andra ke bangku sudut tempat Ralin biasa memperhatikan. “ Sepertinya, kakak juga tidak masuk hari ini. ”
“ Tumben banget. ” Celine menimpali santai. Dia bersandar santai pada Nathan disebelahnya.
Memecah kejengkelan yang dirasakan Andra, Leticia menggodanya dengan menggandeng mesra tangan Atlas disampingnya.
“ Yaaah. Sepertinya ada yang merasa sendirian sekarang. ” Leticia bergumam dengan cukup keras.
“ Atau di campakkan? ” Atlas terkekeh. Kejahilannya keluar dengan santai meski mengetahui ekspresi Andra yang menunjukan kalau dirinya sudah mulai terganggu dengan hal yang dikatakan oleh teman-temannya itu.
Sosok Celine dan Nathan hanya tersenyum melihat apa yang dilakukan oleh Leticia dan Atlas terhadap sikap jutek yang Andra tunjukan sejak pagi. Tidak biasanya bagi seorang Andra terlihat begitu gusar dan tidak tenang.
“ Sepertinya ada yang ngajakin seorang ketemuan, tapi gagal nih! ” Leticia semakin menggoda Andra.
Mencari dan melihat isi pesan singkat yang dikirim untuk Ralin pada ponsel milik Andra, Leticia menunjukannya dengan bangga pada Atlas.
To : Ralin
Temui gue ditempat biasa
sebelum jam pelajaran dimulai.
“ Ceritanya, mau ketemuan dimana? ” Atlas merangkul bahu Andra dengan menunjukan isi pesan singkat yang ia kirimkan pada Ralin.
__ADS_1
Andra terlihat semakin jengkel. Menjentikkan jari dan menghentikan waktu, Andra melesat mengejar Atlas yang menyadari tindakan yang mungkin akan diambil Andra.
"Aku benar-benar bersemangat saat ini!!" ujar Andra yang langsung melesat mengejar Atlas.
Sosok Atlas sudah melesat jauh. Mengitari hampir seluruh area sekolah dan sesekali menyelinap diantara manekin challenge dari seluruh penghuni sekolah. Aksi kedua pemuda itu menjadi tontonan tersendiri bagi Leticia, Celine dan Nathan yang tengah saling merangkul senang.
“ Sudah lama sekali gue nggak ngeliat Andra bersemangat seperti itu. ” Celine melihat Nathan dengan manja.
“ Ya. Lo benar, Cil.” Leticia menyimak setiap tingkah laku dua pemuda yang selalu menjaganya itu. Dari waktu ke waktu Andra dan Atlas bertumbuh menjadi sosok yang sangat menjaga dirinya. Andra menjadi kakak sambung sementara sosok lain Ralin menghilang bersama bongkahan kristal es merah sepekat warna darah. Lalu pencarian panjang yang mempertemukan ia dengan sosok Atlas. Bertemu dengan cara yang biasa dan menjadi satu kebiasaan yang membuatnya selalu menghargai sosok Atlas dalam hidupnya.
Leticia menghela nafas sejenak lalu tersenyum senang mengingat bagaimana akhirnya Atlas bisa memilih bersama dengan dirinya dan Andra.
"Lo mengingat sesuatu?" Celine melihat dalam pada mata Leticia. "Tidak biasanya lo tersenyum seperti itu."
"Ya!" jawab Leticia. "Itu adalah dimana Atlas mengikuti dan membuntuti gue dan Andra selama beberapa dekade..." Leticia kembali mengguratkan wajah senang. Kenangan itu begitu manis untuk Leticia ingat.
“ Gue harap semua ini berlangsung untuk selamanya. ” Nathan berujar santai. Dia menggenggam erat tangan Celine. Enggan untuk melepaskannya dan kemudian menatap Celine penuh dengan rasa cinta.
“ Karena elo vampir, mungkin iya. Kehidupan seperti ini akan berulang berkali-kali. Berputar seperti roda kehidupan manusia yang tidak ada hentinya. ” jawab Celine.
“ Mungkin juga tidak. ” tukas Leticia. “Kalau lo manusia,…semua ini ada waktunya. Akan ada saatnya lo merasakan kesenangan. Ada kalanya juga kesedihan menghantui hidup lo selama beberapa waktu. Lalu semua itu akan berlalu bersama bertambahnya usia dan berakhir pada sebuah kematian yang abadi."
Celine melihat kearah manekin challenge yang dipertontonkan Andra kepada mereka dengan cukup lama.
“ Karena itu, siapapun gue saat ini, ” Nathan menatap langit. “…gue bersyukur diberi kesempatan untuk melakukan banyak hal dalam hidup gue. ”
“ Hal positif dengan niatan yang baik tentunya. ” tambah Leticia yang membuang pandangannya kedalam ruang Osis yang kosong.
__ADS_1
Dimana dari masa ke masa, dirinya yang dulu hanya tinggal berdua dengan Andra, akhirnya memiliki lebih banyak teman petualangan dengan bergabungnya Celine. Lalu datangnya Atlas dengan sukarela. Dan sosok Nathan yang menjadi pelengkap kebahagiaan Celine. Bagaimana tempat yang mereka duduki kini adalah sebuah lahan kosong dengan bongkahan kristal es merah sepekat warna darah dibagian tengahnya.
Leticia tersenyum. “Akan jadi seperti apa mereka nantinya? Hal apa yang mungkin akan mereka lakukan untuk kedepannya?” pertanyaan itu terlontar pada seluruh isi sekolah yang sedang diam membeku seperti pertunjukan mannequin challenge yang sempat booming pada masanya.
“ Gue berharap mereka bisa menjadi versi terbaik dari diri mereka sendiri. ” Celine menatap ke bukit dibelakang sekolah.
“ Gue hanya berharap, apapun yang mereka lakukan nantinya, hal itu tidak akan merusak semua keindahan yang ditawarkan tempat ini. ”
Nathan membuang pandangannya ke setiap sudut bangunan sekolah. Setiap halaman dan lahan hijau tempat dia menghabiskan waktunya dengan berbagai ingatan yang membahagiakan.
Seperti hari ini, bagaimana Andra dan Atlas menunjukan hal yang sudah sangat lama hilang dari keduanya. Terlebih mereka sempat bersitegang setelah kemunculan Alin sepuluh tahun lalu. Membuat Atlas sempat mengambil beberapa tindakan sendiri untuk kepentingan Leticia yang disukainya sejak lama.
"Kedamaian itu benar-benar menenangkan." Nathan menarik bahu Celine kedalam pelukannya. "Aku mencintai mu..."
"Aku juga mencintaimu..." balas Celine yang perlahan menyenderkan kepalanya pada dada bidang Nathan.
Leticia menghela nafas. "Dia kapan akan punya kesadaran itu?" tatapan mata Leticia terfokus pada sosok Atlas yang tertawa dengan lepasnya setelah berhasil mengelabui Andra dengan cara berbaur dengan sekumpulan manekin challenge yang tadinya sedang menikmati permainan basket pada jam pelajaran olahraga. Lalu menghilang dibalik pohon kenangan halaman sekolah dan duduk santai di tempat mana biasanya Ralin memperhatikan dalam damai. Atlas seperti mengulang semua ingatan Andra akan sosok Ralin siang itu. Memenuhi setiap sudut dimana Ralin biasa menghabiskan waktunya yang berharga sebagai sosok manusia berusia 16 tahun.
Sebuah hal-gal sederhana yang bagi mereka akan selalu terulang tapi momen yang sama tidak akan dirasakan dengan cara yang sama.
"Aku memang menyukai sosoknya...." gumam Leticia lalu berbalik menatap sosok Atlas yang sedang menirukan gaya Rassya dalam menyelesaikan semua tugasnya sebagai ketua Osis.
Andra baru saja duduk dan merebahkan dirinya pada sofa maroon disudut ruangan itu dan riuh suasana sekolah kembali terdengar dan sedikit memekakkan telinga para pengurus Osis yang sedari tadi mengalami ketenangan dari bisingnya keributan seluruh warga sekolah.
Siang itu, kedamaian sangat terasa di SMA Kenanga. Tanpa ada hal-hal aneh yang menghiasi hari para pengurus Osis dengan ketiadaan sosok Rassya dan Ralin siang itu.
***
__ADS_1