PURNAMA

PURNAMA
Atlas, si Teman Misterius.


__ADS_3

Disudut timur halaman utama sekolah, Ralin terduduk di bangku panjang dibawah salah satu pohon perindang yang ada. Diingat lagi semua pertemuannya dengan Atlas dari awal dirinya mengenal temannya itu. Mulai dari Atlas yang menyelamatkannya dihari pertama penerimaan siswa baru. Atlas yang menghilang dari pandangan Ralin sewaktu terlambat dihari masuk sekolah. Atlas yang selalu menyapa secara tiba-tiba tanpa Ralin menyadari arah kedatangannya seperti pagi ini.


Anehnya beberapa kali Ralin menyadari keberadaan Atlas sedang mengikuti pembelajaran diruang kelasnya. Padahal kelas mereka berbeda dan tempatnya bersebrangan dilantai dua gedung sekolahnya. Dua bangunan utama membelah dan mengitari halaman utama sekolah yang begitu luas dengan banyaknya pohon perindang. Sementara bangunan kelas Ralin dan bangunan kelas Atlas dan Lab-lab sekolah berseberangan dengan jarak pandang dari bangunan yang satu ke bangunan lain kurang lebih mencapai 50 meter. Dari jarak yang cukup bisa dijangkau oleh penglihatan mata itu, Ralin selalu merasa kalau mereka selalu bertatap muka saat kebosanan melanda pikiran masing-masing disela-sela jam pelajaran yang berlangsung. Dan seingatnya pula, Atlas selalu melempar senyum khasnya yang penuh makna di setiap mereka bertatapan secara tidak sengaja.


Penasaran dengan hal yang mengganggu pikirannya, Ralin mencoba memandang ke kelas seberang. Kaca jendela yang paling sudut. Di sanalah tempat duduk Atlas, teman yang juga menurut Ralin sama misteriusnya seperti pengurus Osis lainnya selain sang kakak tentunya. Diseberang arah pandangannya, jam pelajaran tengah berlangsung. Atlas terlihat tengah bersenda gurau dengan beberapa teman sekelasnya dengan santai. Duduk di bangku samping memukulkan pulpen dan buku yang dibawanya kepada teman didepannya. Tawa itu pecah diantara penglihatan Ralin.


Mungkin jam pelajaran kosong. Pikir Ralin.


Bermaksud mengalihkan pandangannya kembali ke pelajaran yang berlangsung dikelasnya, Ralin kembali mendapatkan senyuman yang sama dari Atlas diseberang kelas sana. Ralin terpaku.


Apakah dia memang tahu kalau aku sedang menatapnya?? Ralin mengerutkan alisnya.


“ Ralin Putri Adityapati. ” tegur pak Ali. Guru matematika yang paling ganteng diantara semua guru yang ada tapi sayangnya GALAK. Coba lebih ramah sedikit, sudah pasti guru tersebut akan mempunyai banyak penggemar dari para siswi SMA Kenanga. “Kalau kamu memperhatikan apa yang barusan saya jelaskan, kamu pasti bisa menjawab soal ini dengan baik, bukan? ” ada penekanan kata di setiap kalimat yang beliau keluarkan.


Sejenak diam, Ralin melihat kearah papan tulis. Diperhatikannya soal yang dibuat pak Ali dipapan tulis. Beliau masih berdiam diri dengan spidol ditangannya dan menunggu untuk mendengar jawaban Ralin.


“ Iya pak. ” jawab Ralin.


Tiga soal. Nilai sebuah perbandingan.


“ Selesaikan. ”


Tanpa pikir panjang, Ralin berdiri dari duduknya di deretan meja tengah. Maju menuju papan tulis dan menyelesaikan ketiga soal yang dibuat pak Ali, Ralin berusaha mengenyahkan semua pemikirannya yang berkaitan dengan Atlas. Menyelesaikannya ketiga soal dalam hitungan kurang dari sepuluh menit, pak Ali tidak berkomentar banyak.


“ Lain kali perhatikan ke papan atau paling tidak, lihat buku pelajarannya. ” Tegas pak Ali yang kembali melanjutkan penjelasannya pada beberapa materi yang tersisa.


Dengan adanya teguran dari pak Ali, perhatian Ralin tak serta merta mengikuti sisa jam pelajaran yang berlangsung. Begitu sampai di bangkunya, Ralin menoleh ke seberang. Dimana Atlas tengah mengacungkan jempol kearahnya sembari melempar senyum yang sama. Ralin mengernyitkan dahi.

__ADS_1


Dia benar-benar memperhatikan semuanya!!!


***


Jam istirahat siang. Lorong kelas lantai dua yang dekat dengan mading II sekolah tiba-tiba ramai dipenuhi oleh kerumunan anak kelas satu. Pada papan mading itu terdapat satu pengumuman yang baru saja ditempel oleh perwakilan OSIS dan merupakan pengumuman yang begitu dinanti-nanti oleh setiap siswa baru di SMA Kenanga ini.


“ Festival sekolah ya? ” gumam Ralin yang berhasil keluar dari kerumunan siswa yang memenuhi Mading lantai dua itu. Sekali lagi dia berbalik. Memastikan kapan acara festival tahunan SMA Kenanga akan berlangsung.


“ Tiga bulan lagi. ” ujar Atlas yang sudah bersandar santai disampingnya dekat dengan ujung tangga menuju kelas bawah. “ Selalu di bulan Desember. Membosankan! ” tambahnya menggantung. Seakan dirinya sudah melewati hal yang sama berulang-ulang, Atlas terlihat tidak seantusias anak-anak lainnya. Dia malah terlihat cuek dan acuh tak acuh.


" Bulan Desember? ” Ralin meyakinkan.


“ Yap. Festival sekolah akan diadakan bulan di bulan Desember. ” jawab suara yang tidak asing untuk Ralin. Suara yang terdengar lembut, sedikit serak tapi penuh dengan kejahilan dari wajah sang pemilik suara. Andra si wakil ketua Osis.


Pemilik suara itu menatap Ralin setelah dia meminta siswa lain untuk memasang tema Festival tahun ini di Mading. Tatapan wakil ketua Osis cukup tajam. Sehingga rasanya lebih menusuk dari apapun. Terlebih lagi, begitu Atlas memegang lengan Ralin dengan santainya dihadapan Andra.


Bermaksud menahan Ralin agar tidak menuruni anak tangga bersama Atlas, Andra pun menahan Ralin dengan menahan satu lagi tangan Ralin yang bebas dari pengawasan Atlas. Ketegangan sempat terjadi diantara tatapan kedua siswa itu. Singkuh dengan hal yang terjadi dihadapannya, Ralin berusaha mencari celah untuk tidak berada diantara kedua pemuda yang menurutnya sama-sama aneh tersebut.


“ Ketua Osis, kakak lo? ”  Atlas kaget. Dia melempar tatapanya pada Ralin.


“ Iya. Kakaknya perempuan ini si Ke-tu-a O-sis! ” jawab Andra sembari memindahkan tangannya dan melingkarkan nya di bahu Ralin lalu menempelkan dagunya tepat di ubun-ubun sang gadis.


Melihat sang ketua Osis datang menghampiri, Atlas melepas pegangan tangannya pada Ralin dengan cepat. Sebelum terlepas, tangan Atlas sempat menarik pelan dan lambat tubuh Ralin. Seperti mendorongnya kebawah dari ujung tangga tempat mereka berdiri. Tapi hal itu benar-benar kasat mata. Hampir tidak bisa dikatakan seperti sengaja dilakukan oleh Atlas.


Jantung Ralin berdetak dengan kencang. Darah seakan berdesir dan naik ke kepala dengan cepat. Hal itu membuat Ralin kehilangan keseimbangan. Terpeleset dan hampir terjatuh dari tempatnya berdiri diujung tangga, Rassya berlari cepat. Atlas terlihat sempat akan menarik tubuh Ralin tapi urung dilakukannya karena Andra sudah kembali melingkarkan tangannya yang sempat terlepas tadi dari tubuh Ralin yang lagi-lagi diselamatkannya dengan posisi yang terbilang cukup romantis. Tetap menahan tubuh Ralin, Andra menatap kesal.


“ Elo benar-benar ceroboh ya?! ” Nada suaranya terdengar seakan dia sudah mengenal kecerobohan Ralin cukup lama. Ada kekhawatiran didalamnya yang membuat Ralin mau tidak mau menyimak setiap ekspresi yang ditunjukan Andra pada dirinya.

__ADS_1


“ Lin! Lo mestinya hati-hati. ” Rassya langsung memasang wajah masamnya. Wajah yang mengingatkan Ralin pada omelan sang ibu setiap kali dirinya hampir terluka.


Ralin tersenyum kaku. Menampakan gigi putihnya yang kering karena senyum yang ditunjukannya itu. “ Maaf, bang.” Ralin menunduk singkuh.


Perlahan menarik tubuh Ralin dan membantunya berdiri dengan baik ditepian anak tangga, sosok Andra terdiam menatap Ralin yang melihat kepergian Atlas tanpa mengatakan sepatah katapun. Terlihat juga ada kemarahan dari kepergian Atlas dari tempat itu. Tepatnya, ketidak puasan nya akan apa yang terjadi pada Ralin hari ini.


“ Ndra, makasi lo udah nolong adek gue. ”


“ Udah tugas gue buat ngejagain dia, Sya.” jawabnya santai. Seolah-olah apa yang barusan dikatakannya hanyalah bualan, Andra membuang pandangannya dari Ralin. Tapi rasa senangnya karena bisa menolong Ralin, tidak bisa ia sembunyikan. Tangan itu tanpa disadari sudah mengusap kepala Ralin dengan lembutnya.


Sempat terlena dengan perlakuan Andra, Ralin meyakinkan diri dengan keadaan yang baru saja menimpanya. Matanya langsung memicing. Menatap tajam kearah Andra yang berusaha untuk mengabaikan tatapan jengkel Ralin pada dirinya.


“ Semua ini salah lo juga kan?! ” tuding Ralin. “ Lain kali jangan coba-coba meluk gue seenaknya kaya tadi!!”


Tatapan bengis itu mengarah tepat ke Andra yang kebingungan dengan tuduhan yang diberikan Ralin padanya. Hanya memilih tersenyum senang melihat tingkah sang gadis, si wakil ketua Osis itu menatap penuh makna kearah perginya Ralin yang dipenuhi dengan kekesalan. Memperhatikan setiap langkah sang gadis dengan pasti, kegembiraan terus meluap dari diri Andra setelahnya.


“ Manis sekali. ” dia tersenyum memandangi kepergian Ralin.


“ Meluk? ” Rassya menatap kesal pada sosok Andra yang sudah menjadi temannya selama kurang lebih 2,5 tahun


terakhir ini. “ Lo berani meluk adek gue, Ndra?”


Ada hawa kegelapan dibalik wajah Rassya yang tidak terima kalau Ralin sempat dipeluk oleh sahabatnya itu. Rassya langsung menggulung map dan file yang dibawanya, bersiap memukul, Rassya mengejar Andra yang mundur perlahan lalu berlari menjauh dari hadapan Rassya secepat yang ia bisa.


“ Bukan gitu, Sya.. ” jawab sahabatnya itu rada getir. “ Bisa gue jelasin kok!! Gue nggak sadar..tahu-tahu tangan udah... ” Andra menunduk lemas.


" Tahu-tahu udah apa??!! " Rassya semakin berlari mengejar Andra yang sudah tertunduk ngos-ngosan jauh didepannya.

__ADS_1


Merekapun saling mengejar dan terlihat juga canda tawa dua sahabat dari setiap moments yang ada disisa waktu hari itu.


***


__ADS_2