
Hari terakhir Festival sekolah. Seluruh siswi kembali heboh dengan datangnya Qean yang begitu memukau. Sang pewaris utama dari pendiri sekolah SMA Kenanga. Pemuda yang menyita perhatian dihari pertama acara Festival berlangsung. Sosok Qean yang menawan membuat histeris semua pasang mata perempuan yang datang berkunjung pada acara festival. Berjalan dengan menyapa ramah setiap orang yang menghampiri seperti dihari pertamanya, kali ini Qean akhirnya memilih mengunjungi Kedai teh kelas Ralin karena tidak mendapati Ralin berada ditempatnya biasa menjalankan tugasnya.
Kesibukan yang terjadi karena ramainya pengunjung yang datang ke kedai teh kelas Ralin sempat membuat suasana menjadi kacau balau. Baiknya sistem pembagian kerja pun tidak serta merta membantu meminimalisir kekacauan yang ada. Sampai Qean membuka pintu kedai kelas dan melangkahkan kakinya masuk kedalam. Waktu seakan melambat mengiringi langkan Qean menuju meja tengah dimana Ralin akan melewatinya untuk mengantarkan pesanan dari salah satu pengunjung dimeja pojok.
Ralin melewati Qean begitu saja tanpa menoleh dan tidak saling menyapa. Menyuguhkan pesanan pengunjung dimeja pojok, Ralin terdiam mengenali hawa aneh yang langsung mengitari dirinya. Hawa itu berasal dari Qean. Hawa yang membawa Ralin pada kemarahan dan kemurkaan. Melewati Qean untuk yang kedua kalinya, Ralin melirik untuk memastikan. Kali ini ada hal janggal dari Qean yang membuat Ralin mau tidak mau terus saja memperhatikan setiap detail tindakan yang dilakukan Qean di kedai kelasnya itu.
Atlas pun ikut memperhatikan si pemuda. Mengenali sosok Qean dengan baik, kejengkelan langsung menghampiri dirinya melihat cara pria tersebut menatap Ralin dalam kediamannya. Hanya duduk. Memperhatikan beberapa sudut dalam diam. Memesan satu cangkir teh hijau dan membiarkannya dingin tanpa tersentuh sedikitpun olehnya. Senyum khasnya tersemat di wajah ketika Qean meninggalkan cangkir tehnya. Senyum itu terarah untuk Ralin yang tengah bersiap membereskan meja disamping Qean.
Ralin tertunduk. Kini dia sudah berdiri disamping meja tempat Qean menikmati waktunya di kedai kelas itu. Cangkir teh tanpa tersentuh yang ditinggalkan oleh Qean, diputar Ralin secara perlahan. Melihat bayang wajahnya pada riak bening teh dalam cangkir itu, Ralin tertegun. Semakin menatap kedalam, Ralin semakin mengingat bayangan kelam ingatannya.
Sosok anak laki-laki dengan luka gigitan taring dilehernya yang terkulai lemah dibawah kaki Ralin yang mengenakan gaun hitam selutut. Sosok itu mengingatkan Ralin dengan sosok Rassya, sang kakak. Juga mengingatkan Ralin dengan suara bisikan dan sosok pria misterius yang berdiri dibalik akar pohon trembesi tempo hari ketika ia tengah bicara dengan Andra.
Pemilik bisikan parau yang seakan memerintahkan tubuh Ralin untuk membunuh Andra sore itu, mengembalikan keping ingatan Ralin dengan sosok Aska. Vampir penghuni kastil kegelapan yang membangkitkan sisi gelap ingatan Ralin dimasa lalu. Seorang yang berbisik dan menjadi dalang utama hancurnya sebuah desa kecil yang diingat Ralin. Seorang yang juga membuat Ralin terpaksa mengunci tubuh Andra bersama sang adik, dan seorang yang membuatnya harus kehilangan keping demi keping ingatan masa lalu yang dimilikinya.
Pada anak tangga menuju teras sebuah rumah sederhana diujung bukit. Sosok Andra dimasa lalu baru saja menurunkan Ralin dari gendongannya. Sosok diri Ralin dimasa lalu tersenyum sambil menempelkan kedua tangannya pada pipi pemuda yang dulu dipanggilnya Atlas itu. Sosok wajah yang sangat mirip dengan Andra yang ia kenal. Dia tersenyum dengan duduk tepat dihadapan Ralin.
“ Apa tidak masalah kita mengembalikan anak itu seperti tadi? ”
“ Terpikir cara yang lain?”
Ralin menggeleng. Wajahnya menunjukan rona kebahagiaan melihat sang pemuda didepannya.
“ Dengar ini. ” Andra memegang erat kedua tangan Ralin dan memegangnya ditengah-tengah kebisuan yang ditunjukan Ralin. “ Topeng terbaik dari sebuah kehidupan adalah bertindak dalam diam… asalkan tujuan kita melakukan sesuatu adalah tujuan yang baik.... semua hal akan menjadi indah pada waktunya.”
Tersenyum kalah, Ralin kembali meragu.
“ Bagaimana kalau kristal es itu pecah dan menghancurkan ingatannya??Ini pertama kalinya aku melakukannya terhadap manusia. Ditambah lagi, dia seorang anak kecil. ”Ralin terlihat cukup takut membayangkan hasil buruk dari sesuatu yang telah ia lakukan.
__ADS_1
“Leticia? ” Andra mengingatkan. “ Dia bisa menyembuhkan luka pada mahkluk apapun, semua berkat kristal es yang kau tanam di ingatannya sebelum ia menjadi dirinya yang sekarang, bukan? ”
“ Iya… Hal itu sedikit berbeda. ” Ralin menoleh kedalam rumah sederhana itu dimana sosok Leticia kecil tengah melihat kearahnya sembari tersenyum. “ Leticia mengenali siapa dirinya. Dia mengetahui dan mengerti betul dengan apa yang dia mau setelah dia bertahan hidup berbulan-bulan dari wabah penyakit yang memusnahkan hampir semua orang di desanya. Tapi bagaimana kalau anak laki-laki itu salah mengenali dirinya sendiri? Bagaimana kalau dia salah mengerti dengan keinginannya? ”
Tangan Andra sedikit mengkristal. Kecemasan Ralin membuatnya harus menahan kebekuan yang menjalar di sekujur tangannya.
“ Anak kecil itu benar-benar mengetahui apa yang diinginkannya. Dia hanya tidak tahu akan akibat yang timbul dari keinginannya itu. ”
Kristal es ditangan Andra menyusut perlahan.
“Indah pada waktunya. ” Ralin mengulangi kalimat Andra. “Lalu apakah semua akan selalu berakhir sama? Kalau pada kenyataannya dimana dimata dunia, tidak semua orang akan melihat dari apa yang bisa kita lihat, dimana dunia kadang menilai dari apa yang mungkin mereka dengar, bukan apa yang sebenarnya terjadi. ”
“ Kau benar-benar mencemaskan anak itu? ” Andra terlihat sedikit muram.
“ Bukan begitu. Hanya saja, aku telah memilih terlibat dalam ingatannya. ” jawab Ralin “ Aku telah mencampuri kehidupannya. Kalau hal buruk sampai terjadi karena tindakanku itu...aku…” Ralin termenung.
Ralin menatap sang pemuda dan mengangguk setuju. Setelahnya, satu pelukan diterimanya dari sosok pemuda yang menjadi pendengar terbaik untuk setiap kecemasannya.
“ Aku selalu mencintaimu. ”Andra tersenyum mendengar itu.
“ Berjanjilah padaku untuk tidak pergi dan tidak bertindak bodoh lagi seperti hari ini. ” Merasakan belaian tangan si pemuda pada rambutnya, Ralin tersenyum dan semakin memeluk erat sosok Andra.
“Andai sesuatu terjadi, kau tahu aku tidak akan bisa kehilanganmu dengan cara apapun.”
Dipakaikan kembali sebuah kalung kristal yang ia bawa dalam saku celananya.
“Aku mencintaimu. ” ucap si pemuda.
__ADS_1
Ralin melihat kalungnya yang hilang beberapa jam yang lalu itu. Ralin tersenyum.
“ Untuk banyaknya cinta dan pengertian yang kau berikan, ini janjiku padamu…” dipegangnya tangan Andra. “ Hidupku ini hanyalah milikmu selamanya. Cintaku hanyalah kamu. Percayaku ada pada keyakinan mu. Dan jiwa ini akan selalu menunggu sampai kau kembali terbangun dari tidur panjang mu untuk tetap menerima hadirku dalam kehidupanmu...”
Ralin termenung. Tidak ada air mata yang bisa menetes dari matanya kini. Yang dia tahu hanya merasakan kerinduan yang sangat dalam pada sosok Andra. Kerinduan yang tidak bisa diungkapkan dengan cara apapun. Hanya ingin bisa melihat dan bertemu muka dengan Andra yang selama ini menjadi sosok misteri dalam baik dalam mimpi ataupun hidupnya.
Sepanjang perjalanan menuju gerbang utama sekolah setelah acara festival yang melelahkan, Ralin menampakan sedikit rasa kecewa. Rindunya tidak berbalas. Sosok Andra tidak dilihatnya sama sekali selama seharian di acara festival. Jangankan melihat, bahkan bayangan sosok Andra pun tidak ada melintas dikelasnya yang berada di gedung seberang.
“ Memikirkan sesuatu? ” sapa Andra santai disela kekecewaan dan dera rindu yang menyerang Ralin dijalanan papan catur sekolah.
Menoleh kearah pemilik suara, Ralin terhuyun kaget dan jatuh bersimpuh disamping Andra. Lututnya menancap pada ujung ubin putih dari jalanan itu. Ujung ubin seperti merobek bagian lututnya. Mungkin karena ubin itu terbuat dari batuan alam.
Lama terdiam. Ralin mengedipkan kedua matanya. Melihat lututnya tergores di ubin batu jalan setapak papan catur sekolah, ada pacu yang membuat Ralin merasa sedikit takut. Bukan karena sosok Andra yang kini tengah bersimpuh bak seorang pangeran yang akan melamar pujaan hatinya. Lebih ke sebuah ketakutan kalau teman-teman yang lainnya menyadari goresan luka Ralin yang tidak mengeluarkan darah sedikitpun. Atau bahkan, luka gores itu mungkin menutup secara perlahan dihadapan mereka.
“ Lo selalu ceroboh ya? ”Andra menatap santai.
Ralin terdiam. Ada kerinduan yang membuatnya ingin memeluk sosok Andra sekarang juga. Memeluk sosok pria yang membuatnya merasa sangat begitu bahagia karena ingatan masa lalunya.
Andra melepas jas Osis yang dipakainya dan mengikatnya dibagian pinggang Ralin. Dia menutupi bagian lutut Ralin yang masih bersimpuh bengong dihadapannya. Kedua tangan si pemuda perlahan meraih dan membopong tubuh Ralin menuju parkiran.
“ Apa yang lo lakukan? ” bisik Ralin yang merasa singkuh dengan hal yang dilakukan Andra terhadap dirinya. Wajahnya pun sedikit menunduk karena malu.
“ Gue kira lo butuh pertolongan seperti kemarin. ” jawab Andra jahil.
Ralin semakin menunduk.
Ingatannya masih sangat segar dengan kejadian tempo hari disebuah tempat yang indah dibalik pohon kenanga diparkiran sekolah.
__ADS_1
***