
Masing-masing dengan gaya khasnya, ketiga pria berdiri dihadapan para gadis yang menjadi prioritas utamanya. Andra dengan kemeja putih berbalut jas hitam Osis yang tidak dimasukkan, kerah kemeja dan ikatan dasi merah yang sengaja dilonggarkan, dan celana hitam kebanggaan sekolah yang sedikit membentuk kaki jenjangnya.
Nathan dengan gaya rapihnya yang menawan. Kemeja putih berbalut jas hitam Osis yang dikancing rapi dengan dasi merah yang keluar dari jas kebanggaannya. Celana cream sepanjang mata kaki dan sepatu pantofel hitam dengan garis coklat moka pada bagian sisinya yang menjadi sepatu wajib sekolah melekat pada sepasang kakinya.
“ Akan ku balas untuk setiap luka yang kau berikan pada Ralin. ” Andra menekankan kata-katanya dihadapan Qean dan Queen.
Menoleh keatas tiang, Aska tersenyum kearahnya. Andra ingat betul dengan wajah dari sosok mahkluk yang turun perlahan dari ujung tiang bendera itu. Dia yang bermata setajam elang dengan senyum licik yang sangat menyebalkan. Lekuk wajahnya yang tegas lebih membuat sosoknya terlihat begitu menjengkelkan. Dia sang vampir kegelapan. Penghuni kastil tua yang pernah berhadapan dengannya dulu. Andra menatap bengis.
Aska tertawa dengan hal yang dilihatnya lalu menjentikkan jari begitu dirinya menginjakan kaki pada tanah dibawahnya.
“ Lebih baik kita bertarung imbang. ” seiring berakhirnya kalimat itu dari mulut Aska, perlahan sesosok pria tinggi, kulit putih dengan wajah yang familiar bagi para pengurus Osis dan mata yang dipenuhi cahaya kegelapan, sosok itu melangkah dan mengambil posisi disamping Qean.
Dengan mengenakan seragam sekolah yang sama, serapi Nathan tapi dengan kancing jas yang dibiarkan terbuka. Label Osis pun terlihat jelas dari jas hitam yang dikenakannya. Dia satu-satunya pengurus Osis yang tidak pernah dicurigai oleh Ralin dan pengurus Osis lainnya. Laki-laki yang berbagi atap tempat tinggal dengan Ralin selama hampir lima belas tahun lamanya. Dia yang selalu dengan bangga dipanggil “Kakak.” oleh Ralin. Dia adalah sang Ketua Osis, Rassya Putra Adityapati.
Melihat sang kakak berdiri dibawah pengaruh Aska, Ralin lagi-lagi berusaha bangkit dari kondisi tubuhnya yang lemah karena kehabisan tenaga dengan serangan kristal es yang dilancarkannya pada pertarungannya diawal. Jatuh tersungkur, Ralin memandang pilu kearah Rassya yang kehilangan kendali dirinya sendiri.
Andra, Nathan, dan Atlas tidak merasa aneh dengan Rassya yang tiba-tiba menjadi salah satu bagian dari mereka, para penguasa kegelapan. Hanya saja, mereka berharap Rassya bisa lebih bijak lagi dalam memilih untuk memihak pada siapa. Kecuali dirinya yang sekarang tengah dikendalikan oleh kuasa kegelapan milik Queen.
Belum selesai kejutan dari Aska sampai disitu, Queen mundur beberapa langkah dan memberi kan satu kejutan lagi dengan cara yang begitu elegan.
“ Bukan hanya itu kejutannya... ” Queen tersenyum picik.
__ADS_1
Qean dan Rassya membuka jarak beberapa langkah dan memperlihatkan kedua sosok orang tua Ralin yang masih sadar dan melihat putra-putrinya berada dalam sebuah kekacauan.
“Ayah! Ibu!” teriak Ralin.
Kedua orang tua Ralin dan Rassya nampak kaget tapi juga pasrah dengan apa yang dilihatnya. Selain telah sempat melihat beberapa kejadian yang baru saja terlewat, mereka juga memang menyadari keanehan kedua anak yang mereka temukan disisi jalan lima belas tahun silam itu.
Berusaha menghampiri kedua orang tuanya yang ketakutan, langkah Ralin terhuyun. Kembali Leticia menghampiri dan berusaha menahan sang kakak agar tidak bergerak sembarangan dengan kondisi tubuhnya yang semakin melemah.
“Aku senang kalian menyukai kejutan ku.”
Mendengar itu, Andra dan teman-temannya tidak bergeming sedikitpun. Bukan hal aneh kalau langkah yang diambil pastilah harus melibatkan orang lain sebagai pengendali emosi dan kejutan untuk melemahkan pihak lawan.
“Mereka tidak ada hubungannya dengan ini.” Ralin berdiri dan memandang mereka yang berada di seberangnya dengan bengis.
Queen mengangkat bahu mengacuhkan ucapan Ralin, Queen melirik pada Celine yang berdiri dibelakang Nathan. Seakan Nathan membiarkan dirinya untuk melindungi Celine, membuat Queen merasa harus mengakhiri semua hal apapun antara Nathan dan Celine.
“ Pertarungan pria antar pria, ” ujar pertama Queen. “ Dan wanita.. ” ada jeda sejenak. “ ..antar wanita.. ” matanya memicing kearah Celine yang juga sama-sama bersiap menyerang.
Mendahului para pria, Celine dan Queen tengah bertarung tanpa memberi ruang pada siapapun untuk mendekat. Bahkan para pengikut Aska sekalipun tidak bisa mendekati keduanya. Saling membalas cekikan yang didapat, kedua gadis dengan elegannya melanjutkan pertarungan mereka.
Imbang.
__ADS_1
Satu lawan satu, Atlas menatap jengkel Qean yang dari awal pertemuannya memang terkesan menjengkelkan.
Nathan memperhatikan Rassya baik-baik. Pengalamannya dengan boneka baru Aska dari dunia kegelapan, Nathan memilih Rassya sebagai lawan bertarungnya. Dan Andra. Melonggarkan kancing lengan pada jasnya, dia tidak melepaskan tatapannya sedikitpun pada sosok Aska yang berdiri angkuh dihadapannya.
“ Aku senang bisa bertemu lagi denganmu, Atlas...” Aska tersenyum. “ ..atau harus ku panggil dengan nama mu yang sekarang?" matanya memicing. "Andra!”
Mengabaikan yang lain, Andra dan Aska tidak melepaskan tatapan dari satu sama lainnya.
Maju mendahului Andra dan menyerang tanpa aba-aba, Atlas menendang tubuh jenjang Qean. Berhasil menangkap kakinya, Qean balik melempar Atlas seperti pemain kriket yang tengah melempar pemukulnya sebagai tanda kepuasan akan kemenangan yang diperoleh.
" Boleh juga! " Membentur tembok berisikan visi dan misi sekolah, Atlas berpangku pada tulisan visi sekolah yang dijadikannya pijakan dan tolak pegas untuk melesat mengimbangi kecepatan Qean yang siap menyambutnya untuk kembali menyerang.
Rassya yang entah merupakan pengikut baru Aska atau semacamnya, tanpa ragu melancarkan serangan yang berkali-kali mampu dihindari oleh Nathan. Melihat betapa kuat dan gesitnya serangan yang dilancarkan, Nathan menyadari betul kalau ada hal yang istimewa pada diri Rassya. Mungkin bukan semata karena Rassya adalah orang yang dekat dengan pengurus Osis ataupun Ralin, dia sampai dijadikan salah satu alat untuk menyerang. Aska bukan tipe yang tanpa ragu langsung menempatkan seorang untuk menjadi kaki tangannya.
Selain mengetahui kekuatan dari masing-masing pengurus Osis,… Rassya dimasa lalu pun mempunyai pengetahuan yang tidak sedikit…
“ Mungkinkah ada alasan lain?!! ” Nathan lengah.
Menghindari serangan Rassya yang harusnya datang dari arah depan, Nathan terdiam beku menyadari sosok Rassya tengah berada tepat dibelakangnya.
“ Ya. Karena alasan ini. ” satu dorongan telapak tangan mendorong kuat tubuh Nathan.
__ADS_1
Mendarat darurat, Nathan membuat bengkok tiang bendera sekolah. Cepat menyapu pandangan mencari sosok Rassya, Nathan kembali dikejutkan oleh Rassya dari arah belakangnya. Terjatuh kebawah dengan pukulan bertubi-tubi dari Rassya, Nathan tersungkur ketanah. Terus berusaha mencari celah untuk mengelak dari tindihan dan pukulan milik Rassya, Nathan melihat pertarungan sengit Andra dengan Aska yang gerakannya hampir tidak terlihat sama sekali.
//