
Sebuah mobil sedan putih memasuki halaman parkir SMA Kenanga. Sebuah mobil yang membawa sosok pemuda yang berpenampilan sangat mewah dan elegan. Pemuda itu turun dari mobilnya dengan santai. Senyum si pemuda masih terlihat sama. Senyum yang membuat matanya sedikit menyipit. Membenarkan kerah jasnya yang sedikit kaku, si pemuda memulai langkah pertamanya memasuki halaman utama sekolah. Setiap satu langkahnya mengundang puluhan pasang mata untuk melihat. Dia Qean Putrawangsa. Terpukau dan bahkan terkesima dengan kharisma dari sang pemuda, waktu seakan melambat dihari pertama acara Festival Sekolah itu.
Sepanjang pembukaan acara festival, Qean terus saja memperhatikan Ralin dari kejauhan. Ada tatapan tidak biasa yang membuat Ralin mau tidak mau harus menatap balik pandangan yang diarahkan Qean padanya. Tidak bergeming dari balasan tatapan yang berlangsung cukup lama tersebut, Ralin akhirnya memilih pergi dari tempatnya berdiri untuk menjalankan tugasnya menyebar pamflet acara dikelasnya.
“ Bisa ku bantu? ” Qean menyunggingkan senyum khasnya pada Ralin yang cukup merasa tidak nyaman dengan tatapan semua mata yang tiba-tiba terarah padanya. Tentu saja tidak semua tatapan itu tertuju pada Ralin, hampir 95%’nya menjadi milik Qean yang memukau mata para pengunjung festival.
“ Tentu. Jika kamu nggak sibuk! ” jawab Ralin menyerahkan beberapa pamflet pada Qean.
“ Senang bisa membantumu, Lin. ” Qean menatap dengan cara yang tidak biasa saat menerima uluran pamflet itu dari tangan Ralin.
“ Baguslah. ” Ralin berucap tegas.
Entah kekesalan apa yang merasukinya seketika. Pendengarannya benar-benar terganggu oleh hiruk pikuk yang terjadi. Terlebih selama acara festival dimulai, bisikan suara parau dalam mimpinya terus saja mengganggu konsentrasinya dalam menjalankan tugasnya. Banyak hal buruk yang bermunculan dibenaknya. Hasratnya bergejolak untuk bisa melepaskan semua hal buruk dalam benaknya. Meskipun sesekali Ralin berusaha mengenyahkan pikiran-pikiran buruknya itu, sesuatu dalam dirinya seakan siap memberontak dan mengambil alih kesadarannya saat itu juga.
“ Kamu kenapa…. Lin. ” Ada jeda lama sebelum akhirnya Ralin mampu menjawab pertanyaan Qean itu dengan ketenangan.
“ Aku membencimu. ” matanya berkilat kemerahan. Kemarahan memuncak pada ubun-ubunnya membuat Qean sedikit terkesiap dengan yang dilihatnya.
“ Loe baik-baik aja kan, Lin? ” dipegangnya bahu Ralin. Ada desir berbeda bergejolak begitu tangan itu menempel pada bahu mungil Ralin. “ Sepertinya lo perlu istirahat. ”
“ Bang Rassya… ”
Menyentil kepala sang adik, Rassya berlalu dengan santainya sembari menyebar sisa pamflet yang dibawa Ralin.
“ Maaf… aku harus ke kelas. ” ucapnya menoleh pada Qean yang masih tidak bergeming dari tempatnya setelah melihat keanehan pada Ralin.
__ADS_1
“ Tidak masalah. Pamfletnya juga sudah habis ku bagikan. ” Dia memperlihatkan kedua tangannya yang sudah kosong.
“ Ya.. ” jawab Ralin sedikit canggung. “ Selamat menikmati acara yang berlangsung. ” senyumnya nampak kaku.
“ Tentu! ” dia tersenyum. “ Aku pasti akan menikmati acaranya… ” Matanya menyipit karena menampakan senyum khasnya, tapi dibalik matanya yang menyipit, dia melirik tajam ke sekelilingnya.
“ Baiklah, aku ke kelas. ” belum jauh dari sosok Qean yang masih memandangnya sepanjang jalan, Ralin tiba-tiba dikagetkan dengan sosok Atlas yang menabraknya. Punggung Atlas menabrak Ralin yang baru saja berpaling dari pandangan Qean dibelakangnya.
“ Sorry! Sorry! ” ujarnya reflek, mendapati tatapan jengkel Ralin yang menyambutnya.
“ Mau kemana? ” tanya Ralin basa-basi. Dia masih belum bisa menghilangkan bisikan parau yang terus saja terngiang di telinganya.
“ Mau ngambil gelas di ruang Osis. ” jawabnya cuek bercampur heran.
Dirinya sama sekali tidak menyadari keberadaan Ralin dibelakangnya. Bahkan untuk sekedar merasakan kehadirannya yang begitu dekat. Mengangkat bahu, Atlas melanjutkan langkahnya. Setiap langkah yang diambil, sosoknya selalu melihat Qean di manapun dia melirik. Entah kebetulan atau tidak, sejauh apapun dirinya coba mengalihkan pandangannya, Atlas selalu menangkap sosok Qean berada disana. Seperti sebelum dirinya memasuki di gedung utama menuju ruang Osis, Qean tiba-tiba terlihat berdiri ditengah-tengah halaman sekolah. Padahal baru saja ia melihat sosok itu berada dilantai dua gedung kelasnya.
Sambil menuruni anak tangga dengan membawa kardus berisi beberapa gelas saji, Atlas kembali harus melihat sosok yang menurutnya benar-benar menjengkelkan. Melintas melewati si pemuda dan berpapasan tanpa ada niatan menyapa, Atlas dan Qean saling melirik tajam. Hitungan detik, kardus yang dibawa Atlas tiba-tiba terjatuh. Bahkan dengan kecepatan yang ia punya, kardus berisi gelas kaca itu tetap jatuh dan pecahan dari gelas kaca yang dibawanya berserakan disekitar tempatnya berdiri.
“ Perisai kuat terasa dalam tubuhnya. Dan karena itulah, dia tidak terpengaruh sama sekali dengan kekuatan lainnya. ”
Mengingat kisah masa lalu yang diceritakan Andra tentang pria dari kegelapan dengan perisai alaminya, Atlas merasakan hawa yang aneh dan tidak melepaskan tatapannya sedikitpun dari pria yang menyeruak dan berlalu ditengah kerumunan acara Festival Sekolah dihalaman tengah tersebut.
“ Aow! ” rintihan seorang siswi membuat tatapan Atlas teralihkan.
Tidak menyadari datangnya lima teman sekelasnya, Atlas mengernyitkan dahi. Satu dari lima orang siswi yang tengah membantu membersihkan pecahan kaca dibawah kaki Atlas, tergores pecahan kaca yang dipungutnya. Terluka dengan kucuran darah segar dari jari manisnya, siswi itu merintih perih. Teman lainnya berusaha mengambilkan tissue dan membalut luka tersebut.
__ADS_1
Atlas terpaku dengan apa yang dilihatnya.
Matanya sama sekali tidak bisa lepas dari jari sang siswi yang mengucurkan darah segarnya. Haus dan dahaga menyerangnya seketika. Tubuh dan pikirannya hilang kendali. Memegang erat tangan siswi yang terluka, Atlas siap menghisap darah yang menetes. Semakin dekat dengan darah siswi itu, Atlas benar-benar kehilangan kendali dirinya. Taringnya keluar. Matanya mulai berbinar dan menatap nanar.
Menatap langsung sosok Atlas yang memegangi tangannya, siswi itu menatap kaget. Ketakutan terpancar dari mata sang siswi. Siswi lainnya yang juga melihat sosok menakutkan Atlas, langsung kaget dan terjatuh dari tempat mereka membantu. Pada akhirnya, beberapa pasang tangan lainpun akhirnya ikut terluka dan mengeluarkan lebih banyak darah segar. Dari empat siswi lainnya yang terjatuh kaget, ada satu siswi yang saking takutnya sampai tergores pecahan dibagian lengannya. Atlas semakin kehilangan kendali dirinya dari semua bau darah segar yang mengelilinginya. Menjatuhkan tangan siswi yang jarinya tergores, Atlas menerjang.
Para siswi yang jatuh itu panik dan langsung berlari menjauhi Atlas dengan teriakan histeris. Pengunjung lainnya menoleh kaget. Melihat sosok Atlas yang menangkap dan menerkam siswi yang sempat dikejarnya dengan luka robek dibagian lengan, pengunjung lainnya berlari panik dan kekacauan mulai terjadi di acara festival sekolah itu.
Darah yang berceceran dihalaman sekolah semakin banyak, sehingga Atlas mengincar siswi dengan luka robek itu. Siap menghisap darah yang mengalir pada bagian tangan sang siswi, kepala Atlas tertahan beberapa senti dari luka siswi malang itu.
“ Atlas! ” Andra melesat cepat melihat suasana yang terjadi dan menahan bahu Atlas dengan kuat ditengah-tengah kekacauan acara Festival yang sedang berlangsung.
Atlas menepis tangan itu dan kembali berusaha menghisap darah dari gadis yang berhasil dicengkeramnya. Tangan Andra berpindah cepat mengunci leher Atlas. Menjauhkan tubuh Atlas dari sang siswi yang sudah terkulai lemas karena takut, Andra terdiam dengan semua tatapan mata yang mengarah padanya dan Atlas. Tatapan ketakutan terlihat jelas terlihat dari semua pasang mata pengunjung acara Festival Sekolah hari pertama itu.
Andra benar-benar ingat kalau dirinya sudah menghentikan waktu disekitarnya saat akan menghampiri dan menolong Atlas. Kembali memberontak dan lepas dari kunci leher Andra, Atlas menerjang kerumunan yang ada disekitarnya. Keadaan menjadi semakin kacau. Konsentrasi Andra dalam menghentikan kendali waktu selalu gagal karena sosok Atlas yang benar-benar tidak terkendali.
Bermaksud menghentikan waktu dengan mengimbangi kecepatan Atlas, Andra merasakan ada kekuatan lain yang mencegahnya melakukan hal itu. Ditengah kegaduhan yang semakin menjadi, Andra langsung mendapat bala bantuan dari Nathan dengan mengambil kesadaran Atlas dari tubuhnya.
Secepat yang ia bisa, Andra mencoba mencari sosok kekuatan lain yang lagi-lagi menggagalkan aksinya menghentikan waktu ditengah kegaduhan acara festival. Menjentikkan jarinya sekali lagi, sosok Andra menangkap sosok lain yang melesat dan kembali menggerakkan waktu. Tidak ingin aksinya digagalkan lagi, Andra melesat dan menerjang kearah kerumunan yang berlarian dengan paniknya.
Disana. Tepat diujung terjangannya, sosok Ralin tengah berdiri dan menoleh kearahnya dengan perlahan.
Desir kengerian memenuhi ruang tubuhnya. Matanya mengedip melihat sosok yang ia kenal tengah menerjang cepat kearahnya seperti binatang buas. Seakan siap menerkam dan menghabisi dirinya, Ralin berteriak histeris. Badannya sampai ia bungkukkan saking kuatnya teriakan yang dikeluarkannya. Bukan teriak ketakutan yang Ralin keluarkan. Tapi Ralin tengah berusaha menjauhkan bisikan parau ditelinga yang memintanya untuk membunuh sosok Andra yang tengah menerjang kearah dirinya.
Bisikan itu sirna berbarengan dengan terhentinya waktu disekitar Ralin. Mencoba mengatur kendali dirinya, Ralin perlahan membangkitkan tubuhnya yang tertunduk. Waktu disekitarnya terhenti. Dari begitu banyak tersaji manekin dari orang-orang yang membeku bersama waktu yang telah dihentikan Andra, ia melihat kearah depannya. Memperhatikan Andra yang melesat dan menghilang dibalik pohon Kenanga diparkiran sekolah bersama sosok Nathan yang membawa Atlas dalam gendongannya.
__ADS_1
Terpaku dengan pandangannya terhadap sosok Andra, sekelebat bayang hitam melesat dibelakang Ralin tanpa ia sadari.
***