PURNAMA

PURNAMA
Rassya, Maaf!


__ADS_3

Melihat sosok Ralin yang kini tengah melihat kearah mereka, sang ibu teringat akan mimpi buruknya selama ini. Dia memeluk takut sang ayah yang menatapnya dengan sedih.


“ Maaf. ” ucap Ralin lirih memandang kedua orang tua yang telah mengasuhnya sejak kecil. Tatapannya menerawang dengan ekspresi yang ia dapat dari kedua orang tuanya saat mereka juga melihat sosok Andra dengan rasa tidak percaya sedikitpun.


Membalikan badan dan menyapu pandangan ke sekelilingnya, Andra dan Ralin meratap sedih. Melihat Rassya dan Nathan yang tergeletak tidak sadarkan diri jauh disamping mereka berdiri kini. Atlas dengan tubuh yang terbakar. Leticia dan Celine yang tak sadarkan diri dengan bergandengan tangan.


“ Gue nggak mungkin membalikan waktu. ” Andra termenung. Dia melihat kearah bongkahan Kristal es merah kehitaman yang kini seakan menghiasi arena pertarungan yang sudah terjadi dihalaman utama sekolah SMA Kenangan tersebut.


“ Sekali lagi.... ” Ralin berdiri dihadapan Andra. “Maaf sudah membuatmu dan teman-teman terluka.”


"Kau tidak harus menanggung semua ini sendiri." jawab Andra berusaha menenangkan kegusaran yang ditunjukan Ralin padanya.


“ Tidak akan pernah termaafkan. ” bisik sebuah suara yang sudah mencekik Ralin dari arah belakang.


Keberadaannya di belakang Ralin sama sekali tidak terdeteksi oleh Andra yang hanya bisa bersiaga dengan memperhatikan gerakan yang mungkin akan di lakukan pengikut baru kegelapan tersebut.


Dia sosok sang ketua Osis, Rassyadipati. Kekuatannya memuncak setelah cahaya bulan purnama menerangi tubuhnya yang tidak sadarkan diri. Kehilangan kendali dirinya sejak awal dirubah menjadi pengikut Aska, Rassya berteleportasi dengan mencekik Ralin ke atap gedung utama sekolah.


Ralin terlempar membentur kawat penyangga begitu mereka sampai di atap gedung sekolah. Semua itu tindakan reflek yang Rassya tunjukan. Ada gejolak perlawanan dalam diri Rassya saat itu. Melihat Ralin memekik sakit, Rassya mengerang kesakitan memegangi bagian leher yang berisi bekas gigitan taring Aska.


Diwaktu yang bersamaan, Andra mampu menyusul Ralin dan Rassya ke atas atap gedung utama sekolah. Kini dia tengah berdiri dihadapan Ralin yang tersungkur akibat terlempar oleh Rassya.


Mengambil ancang-ancang menyerang, Ralin menghentikan langkah Andra.


"Perhatikan baik-baik!" pinta Ralin. Dia tetap memegang tangan Andra yang berusaha menahan instingnya untuk menghabisi Rassya dalam sekali serangan.

__ADS_1


Kembali berteleportasi ke halaman utama sekolah, Rassya samar-samar mengingat sosok orang tua yang memungut dan mengasuhnya sedari kecil. Saat itu dirinya yang bertubuh mungil terlihat seperti berusia lima tahun diambil dari tepi jalan dengan sambil menggendong bayi kecil berusia dua tahun yang diberi nama Ralin oleh kedua orang tuanya.


Didepan kedua orang tuanya, Rassya yang hendak menyerang langsung melempar dirinya sendiri jauh kearah belakangnya. Dalam ingatan masa lalunya, dia ingat tengah mencabik-cabik sosok ibu yang telah melahirkannya. Dia tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama. Rasa itu masih sangat membekas untuk dirinya. Penyesalan yang tidak akan pernah hilang dari ingatannya sepanjang dia menjalani hidupnya, baik hari kemarin, hari ini, sampai kedepannya.


Dari kejauhan Ralin dan Andra memperhatikan Rassya yang berkali-kali mencoba menahan kegelapan yang bergejolak dalam dirinya.


“Itu pasti karena kristal es dalam tubuhnya.” ujar Andra.


“ Atau ingatannya yang lain. ” Ralin masih ingat bagaimana Rassya dimasa lalu berusaha melawan dirinya sendiri setelah apa yang dilakukannya pada sosok ibunya dimasa lalu. Dimana Ralin pernah berniat membantu ditengah keterbatasan kemampuan yang dia punya kala itu.


Bersandar pada tubuh Andra, Ralin dan Andra kembali turun ke halaman utama sekolah.


“Gue harus melakukannya.” ujar Ralin memperhatikan bekas gigitan di leher Rassya. Masih terlihat bisa berwarna hitam kehijauan keluar dari bekas gigitannya itu


“Ya. Memang hanya itu pilihan yang kita punya saat ini.” jawab Andra. “ Selebihnya tergantung Rassya sendiri. ”


Ralin bersiap dengan bersimpuh dihadapan sang kakak yang tubuhnya dikunci oleh Andra dari arah belakang. Dari matanya, Ralin melihat ada kesedihan dalam diri Rassya tentang kemampuannya yang tidak bisa mengendalikan kegelapan yang merasuki ditubuh dan pikirannya.


“  Lo masih abangnya gue kan, Sya? ”


Ralin membelai pipi sang kakak yang masih berusaha melawan. Perlahan menancapkan taringnya pada bekas gigitan Aska, Ralin menghisap semua racun yang menyebar. Tidak banyak. Hanya saja hal itu mampu membuat seorang biasa langsung menjadi monster yang menakutkan dalam sekejap.


Racun itu terhisap habis bersamaan dengan terhisap nya kunci Kristal es Ralin dimasa lalunya. Tubuh Rassya melemas dan terkulai lemah saat Andra melepaskan cengkeramannya. Berhadap-hadapan, Ralin dan Andra saling menatap. Sadar dengan kemungkinan terburuk yang akan terjadi pada Rassya, Ralin berbalik menghadap ke orang tuanya.


“ Sekali lagi. Maaf untuk hal ini. ” Ralin tersenyum pilu. Detak jantung Rassya sudah tidak berdetak lagi. Dera nafas atau apapun yang menjadi tanda-tanda kehidupan manusia pada diri Rassya, tidak lagi ada. Gigitan yang Ralin tancapkan mungkin telah mematikan racun yang tersebar, tapi tidak untuk menyelamatkan diri Rassya dari

__ADS_1


kematian.


Keheningan terjadi cukup lama. Sang ibu menangis pilu dalam pelukan sang ayah. Mereka berusaha mendekati tubuh sang putra yang sedikit membeku. Sang ibu membelai lembut Rassya yang matanya telah terpejam seakan-akan dia tengah tertidur.


“ Rassya sudah meninggal. ” Ralin menunduk.


Angin segar berhembus dari balik bukit. Hawanya mengelilingi halaman utama sekolah yang hancur lebur oleh pertarungan yang sudah terjadi.


“ Tidak ada yang bisa kita lakukan. ” Andra membawa Ralin dalam dekapannya. “ Karena... kematian itu sendiri, bergandengan erat dengan satu cerita kehidupan jika kamu adalah manusia.  ”


“ Tapi Rassya…" Ralin menjawab pilu. " Seharusnya dia bisa hidup damai baik dulu maupun sekarang... Dia tidak seharusnya meninggal karena gue! ”"


“ … Jangan vonis gue seenak jidat lo. ” jawab Rassya. “ Gue nggak mungkin maafin lo soal ini. ”


Dia tersenyum dengan perlahan bangkit dari pangkuan sang ibu. Menahan sedikit gejolak pada beberapa bagian tubuhnya karena merasakan desiran darah sang ibu, Rassya menghampiri Ralin dengan cepat. Saking cepatnya, Andra sampai harus menahan tubuh Rassya yang terhuyun dihadapan Ralin. Satu tangannya menempel di wajah Rassya yang akhirnya bisa membiasakan diri karena memiliki pengetahuan akan vampir baru secara akurat.


“ Setelah berabad-abad lamanya gue menunggu… ”


Tidak bisa berkata apapun, Ralin langsung memeluk Rassya dengan senangnya.


“ Gue kira lo nggak bisa bertahan. ”


“ Lo kira kenapa gue masih hidup sampai sekarang?? ”Rassya kembali tersenyum. Dia membalas pelukan sang adik, lalu membuka kedua tangannya untuk menerima pelukan kedua orang tua yang telah mengasuhnya.


Dalam hangatnya pelukan yang Rassya rasakan, kunci kristal es pada ingatan Rassya kecil dimasa lalu membantunya menyembuhkan diri dengan cepat. Dari balik pelukan yang ia dapat, Rassya akhirnya melihat kekacauan yang diakibatkan oleh pertarungan yang terjadi dihalaman utama sekolah.

__ADS_1


Rassya bersimpuh lemas. “ Sekacau inikah akibatnya? ” Dia memandang ke sekitar dengan tidak percaya.


***


__ADS_2