
Keadaan sekolah nampak kacau balau dalam pandangan matanya. Tiang bendera yang bengkok. Bendera yang terkoyak dan compang-camping. Tembok besar visi dan misi sekolah yang remuk, penuh lubang, dan membentuk beberapa pecahan seperti pecahan kaca. Pohon-pohon perindang yang tumbang, dan beberapa bagian dihalaman sekolah pun ikut remuk dan membentuk lubang-lubang seperti lubang pada hantaman kendaraan penghancur gedung. Tepat ditengah-tengah halaman utama tempatnya berdiri kini, terhadap bongkahan Kristal es berwarna merah kehitaman yang cukup besar.
Didalam bongkahan kristal es itu terdapat tiga sosok lain dengan tatapan yang menyeramkan yang menghadap tiga arah mata angin.
Rassya terhenyak. Dari sekian pemandangan yang diperhatikan, tatapannya berhenti saat melihat Andra yang tengah menggendong Nathan dan menyandarkannya dibawah pohon perindang sekolah disamping Celine, Atlas dan Leticia yang dimana mereka semua dalam keadaan tidak sadarkan diri.
Ralin kini sudah berdiri disamping Andra dan menatap sedih.
“Apa kita bisa membalikan waktu untuk mereka?” Ralin bersimpuh.
Dia membelai rambut Leticia dan menyelipkannya kebelakang telinga untuk melihat seberapa parah luka bakar yang dialami adiknya itu. Setengah dari wajah Leticia menghitam. Ada goresan luka berwarna biru kehitaman yang menganga cukup panjang di pipinya yang menghitam itu.
Pandangan Ralin kini berpaling pada Celine. Luka bakar berwarna biru kehitaman membuat tangan kanannya membiru kehitaman seperti luka bakar yang dialami Leticia. Rambut indah itu tidak mungkin lagi tergerai sepanjang dulu. Setengah dari rambut itu terpotong pendek efek dari serangan yang diterimanya. Selebihnya, Celine hanya sedang nampak tertidur disamping Atlas.
Diantara keempat pengurus Osis yang terbaring dihadapannya, Atlas Lah yang mengalami luka paling parah. Hampir sekujur tubuhnya terbakar dan tidak bisa dikenali kalau saja Ralin tidak menyaksikan serangan itu secara langsung. Serangan yang dimana Atlas menerimanya demi untuk melindungi Leticia dan Celine dari luka yang lebih serius dari yang mungkin akan mereka alami.
Dan untuk Nathan, serangan terakhir yang diterima membuatnya harus ikut tergeletak tidak sadarkan diri sebagai korban dengan luka bakar dibagian dadanya yang nampak bidang. Luka itu nampak mulai membakar beberapa bagian tubuhnya.
“Kalau saja Kristal es itu menghilang…” ujar Andra menerawang. Dia menatap kesal ke halaman utama sekolah dimana bongkahan kristal es merah kehitaman itu berada.
__ADS_1
Ralin memegang bahu Andra. Walau berhasil mengurung Aska dan pengikutnya dalam keistal es abadi miliknya, tapi apa yang mereka alami adalah sebuah kekalahan yang amat besar dengan kehilangan adik beserta teman-temannya.
“Bukannya selama tubuh dan kepala masih menyatu, mereka masih bisa kembali bukan?” Rassya bersimpuh dihadapan keempat temannya itu. Memperhatikan setiap detail luka. Lalu berdecak kesal.
“ Ya. Tapi akan butuh waktu yang sangat lama bagi mereka. ” ujar Andra menerawang.
Masing-masing dari Leticia, Atlas, Nathan, dan Celine mendapat luka yang sama. Luka dari kekuatan sambaran petir Queen yang meninggalkan luka yang nampak terbakar pada beberapa bagian tubuhnya. Bukan tidak mungkin, seiring berjalannya waktu untuk mereka kembali terbangun, racun dari luka itu akan menyebar dan merubah mereka menjadi makhluk kegelapan.
Rassya berdiri lalu berbalik. Dilihatnya Kristal es ditengah-tengah halaman utama sekolah itu. Berjalan perlahan mendekati bongkahan Kristal itu, dia menoleh kearah teman-temannya yang terbaring tak sadarkan diri. Andra dan Ralin saling menatap, begitu tangan Rassya menyentuh Kristal es tempat Aska dan pengikutnya terkunci.
Lenyap!!!
Andra dan Ralin kembali saling menatap. Lekat-lekat memperhatikan Rassya yang tidak menyadari apa yang sudah dilakukannya, Ralin tersenyum kagum. Andra langsung menjentikkan jari dan mengembalikan waktu seperti sedia kala. Dimana yang terkena pengaruh dari kekuatannya hanya apa-apa saja yang berada diarea sekolahnya.
Luka pada tubuh Atlas dan yang lain perlahan-lahan menyusup dan memhilang tanpa bekas. Yang paling memakan waktu adalah Atlas dengan total kulit terbakar hampir 90%.
Celine yang pertama tersadar dari apa yang dialaminya. Dan disusul Leticia dan Nathan perlahan membuka mata mereka.
"Apa semuanya sudah berakhir?" ujar Leticia memperhatikan Ralin menatapnya dengan suka-cita.
__ADS_1
Ralin mengangguk kecil. Dia lalu mengalihkan pandangannya pada Atlas yang masih proses dalam penyembuhan luka bakar yang dialaminya.
"Tenanglah!" Leticia lalu menggenggam tangan Atlas dan hanya dalam beberapa waktu kesadaran itu kembali Atlas dapatkan.
"Apa semuanya sudah berakhir?!" pertanyaan yang sama keluar dari mulut Atlas begitu ia membuka matanya setelah apa yang ia alami.
"Sepertinya seperti itu." jawab Celine. Dia melirik ke arah sampingnya, dimana Nathan baru saja memakai kacamatanya hanya untuk terlihat seperti seorang yang memang membutuhkan itu untuk bisa melihat dengan jelas apa yang kini tersaji dihadapannya.
Melihat keadaan sekolah yang kembali seperti tidak pernah terjadi hal apapun sebelumnya, Atlas menatap dalam kedua mata orang tua Ralin dan Rassya. Diperlihatkannya semua kejadian yang terlewat oleh Leticia pada Leticia, Celine, dan Nathan.
Lama menahan rasa takut dan tekanan ketika harus bisa menerima kenyataan dari putra dan putrinya, kedua orang tua Ralin pingsan dengan semua kejadian yang dilihatnya.
Ralin dan Rassya tersenyum pada Atlas yang memiliki kemampuan menghapus dan mengubah beberapa ingatan manusia.
" Yaah.... memang harus dilakukan, bukan?! " Mengangkat bahu, Atlas memegang tangan kedua orang tua Ralin.
Merubah beberapa ingatan dan mengembalikan ingatan kedua orang tua Ralin pada sehari sebelum kejadian. Membiarkan mereka mengetahui hal yang penting untuk menjaga keamanan mereka tentang rahasia dari anak-anak mereka.
Berlalu.
__ADS_1
***