PURNAMA

PURNAMA
Leticia Caroline Dascha.


__ADS_3

“ Ralin. ” sapa Celine di pagi hujan itu.


Dengan payung birunya, dia menyamai langkah Ralin. Tidak menyapa balik, Ralin hanya tersenyum simpul. Langkah itu mereka lanjutkan menuju gedung utama sekolah. Rintik hujan mengiringi langkah mereka. Semilir angin beradu di setiap kali mereka melangkah dari satu ubin ke ubin berikutnya.


“ Kak Celine.. ” sapa seorang siswa lain dibalik kesunyian yang ada.


Seorang siswi berpenampilan tak ubahnya sosok Celine dengan jas hitam Osis nya menyapa dari belakang mereka. Dia menghampiri Celine dengan cepat. Sangat cepat. Bahkan saking cepatnya, Ralin sama sekali tidak sadar kalau kini siswi itu sudah berada dibawah payung biru yang sama yang dibawa Celine. Sesosok gadis dengan wajah imut berambut ikal yang terurai sepanjang siku tangannya, kulit yang sama putihnya dengan Celine, bola matanya yang hitam besar dan hidung mancungnya menyiratkan kecantikan hakiki yang dimilikinya.Tatapannya yang penuh dan dalam mengingatkan kita pada sosok angkuh nan anggun dari seorang Cassandra Lee. Siswi itu menempel disamping Celine yang nampak tidak terlalu senang dengan kehadiran sosoknya. Celine melirik penuh tanya.


“ Leticia Caroline Dascha. ” ujar siswi itu sembari tersenyum dengan manisnya. Diulurkan tangan sebagai tanda perkenalan pada Ralin.


Belum sempat membalas jabat tangan siswi yang menurut Ralin merupakan siswi pindahan itu, Andra yang entah datang dari arah mana langsung menyambar jabat tangan Leticia dari balik punggung Ralin. Sementara, tangan Andra yang lain langsung melingkar di bahu Ralin seakan Andra kini tengah menjaga Ralin dari sosok Leticia yang datang dan masuk ke SMA Kenanga secara tidak terduga.


“ Apa kabar, Leticia? ” Nada suara itu terdengar cukup dingin untuk seorang yang sudah dikenalnya.


“ Baik. ” jawabnya centil.


“ Kenapa lo disini? ” Celine menimpali. Tatapannya terlihat seperti dirinya sangat kerepotan setengah mati berhadapan dengan tingkah laku yang Leticia tunjukan.


“ Kenapa? ” Leticia menekankan kalimatnya dan mendekatkan diri ke wajah jutek Andra. “ Gue sekolah disini, apa salahnya?  ”


“ Harusnya lo diem aja dirumah?! ”

__ADS_1


“ Nggak! ” tegasnya. “ Atlas boleh masuk, gue juga masuk. ” Leticia mengancam.


" Atlas? " giliran Ralin menatap Leticia lekat-lekat setelah mendengar nama temannya yang paling misterius disebut-sebut. Terlebih setelah melihat kejadian diruang UKS, yang dimana Atlas keluar melesat secepat angin melalui jendela belakang diruang UKS.


" Iya... Lo udah kenal dia kan? " jawab Leticia. “ Gue rasa, lebih baik kalau gue ada disini kok. ” dia melirik kearah Andra dengan mata berbinar. Menyiratkan begitu banyak tantangan yang ditujukan kepada Andra. Andra merespon kesal dengan tingkah keras kepala Leticia. Dia terus berusaha menjauhkan jangkauan Leticia terhadap Ralin tanpa mempedulikan sosok Ralin yang sedang menatap dirinya dengan jengkel.


“ Tapi gue nggak baik sama sekali. ” Ralin melepas tangan Andra yang melingkar di bahunya. “ Rasanya menyesakkan. ” Sejenak menatap bengis, Ralin beranjak pergi dari para pejabat Osis tersebut.


“ Ooww... ” tanggap Leticia menepuk pundak Andra. “ Kasian… ” Dia menatap.


Bukan hanya Leticia, tatapan aneh Andra juga mengiringi langkah Ralin menuju gedung utama sekolah. Celine bersandar di bahu Nathan yang tahu-tahu saja sudah berdiri dengan payung hitam disampingnya.


“ So? She’s Alin? ” Leticia tersenyum senang.


***


Sejak pertemuan pertama mereka dijalanan utama sekolah, Leticia selalu berusaha mendekati Ralin. Awalnya kelas mereka berbeda. Leticia sekelas dengan Atlas yang berada di gedung seberang. Bahkan Leticia duduk sebangku dengan Atlas. Beberapa kali Ralin melihat ke arah kelas seberang, Leticia selalu menatap dan terkadang melempar senyum seperti yang biasa Atlas lakukan saat tatapan mereka bertemu. Entah itu sebuah kesengajaan atau tidak. Dan Atlas, entah sejak kapan dia ikut-ikutan tergabung dalam kepengurusan Osis. Bahkan dia langsung menjadi inti Osis tanpa adanya pemilihan umum. Begitu juga dengan Leticia, siswi pindahan itu bahkan sudah memakai pakaian resmi pengurus Osis dihari pertamanya sekolah.


Keanehan demi keanehan perlahan terjadi setiap harinya di SMA Kenanga. Mulai dari file-file dikelasnya yang memuat nama Atlas dan Leticia dari awal tahun ajaran baru. Berubahnya tatanan beberapa kelas dan beberapa siswa dikelas-kelas tertentu yang bagi semua siswa lain memang seperti itu sejak awal, tapi tidak dengan Ralin. Instingnya cukup kuat dengan hal yang aneh yang belakangan terjadi sekolahnya.


Ralin tengah terduduk diam di bangku panjang disudut timur halaman utama sekolah. Dia memperhatikan setiap lalu lalang yang terjadi disekelilingnya. Memperhatikan beberapa sudut sekolah tempat berkumpulnya beberapa siswa yang tiba-tiba membentuk kelompok dan mengawasi keberadaan dirinya. Memastikan kalau tidak ada hal lain lagi yang berubah baginya, Ralin mencoba menyesuaikan diri dengan keberadaan Leticia dan Atlas yang menjadi satu kelas dengan dirinya.

__ADS_1


Seingatnya dihari kemarin, Ralin masih melihat Atlas mengikuti pelajaran dikelas seberang bersama Leticia. Tapi kini, Atlas duduk dengan santai didepan bangku yang diduduki Ralin. Leticia sendiri tengah mengikuti pelajaran disamping Ralin seperti dirinya sudah terbiasa dengan pelajaran yang diberikan dikelas ini. Kepengurusan Osis pun tercantum nama Leticia dan Atlas yang sudah sejak awal tahun ajaran baru sebagai anggota resmi. Padahal Leticia siswi pindahan yang masuk dipertengahan semester ini. Satu hal lagi yang disadari perubahannya oleh Ralin adalah siapa sosok yang sekarang berada dikelas seberang.


Ralin menoleh. Kelas yang kemarin masih menjadi kelas IPA-X, sekarang menjadi kelas IPA-XII. Di bangku mana yang harusnya Ralin biasa bertemu tatap dengan Atlas, kini dibangku itu duduk seorang Andra, si wakil ketua Osis. Sosok yang saat ini terlihat terpaku kearah depan, tapi tidak begitu dengan pikirannya. Tatapan matanya seakan tidak berada diruang kelas tersebut. Terlihat sesekali dia memainkan bolpoin yang ada ditangannya. Ralin masih melihat ke arah seberang.


“ Satu… dua…. tiga. ” Ralin menghitung pelan. “ Menoleh. ” dan menunjuk kearah Andra diseberang sana.


Tepat di hitungan ketiga itu Andra menoleh perlahan kearah Ralin. Dia menatap penuh makna saat tatapannya dengan mata Ralin bertemu. Sedetik berlalu. Waktu berhenti berputar seketika disekitar Ralin. Detik jarum jam berhenti diangka sebelas, riuh teman-teman dikelas seakan lenyap dan membatu. Penghapus papan yang berhenti dan seperti melayang didepan tepat didepan Atlas. Hembusan angin yang terasa menghilang dari kehidupan.


Tatapan Ralin terpaku pada sosok Andra. Ada senyum tersemat pada wajah Andra saat rasa rindu yang mendalam menyergap dan membawa hawa disekitar Ralin berubah dingin dan berkabut. Hanya ada Ralin dan Andra diantara kabut itu. Perlahan berdiri dari kursinya, sosok Andra seakan menjauh. Lama kelamaan sosok pemuda itu menghilang bersamaan dengan dera rindu dan hawa kesunyian yang hinggap di hati Ralin. Sendiri dalam kegelapan, Ralin tetap berdiri menatap ke depan, sampai kabut asap itu perlahan menghilang.


Hitungan detik, Ralin kembali ke dunianya. Terduduk di bangku yang sama. Menatap arah yang sama dimana sosok Andra masih terpaku kearah depannya. Bolpoin itu masih ia mainkan ditangannya.


“ Ini. ” senyum Leticia menyambut dengan menyodorkan satu catatan pada arah tatapan Ralin.


Terdiam. Ralin menyadari sesuatu setelah melihat buku catatannya yang kosong. Dia menoleh kearah Leticia yang sempat-sempatnya menangkap penghapus papan tulis yang melayang tepat kearahnya.


“ Perlu ini kan? ” Leticia tersenyum dengan buku yang masih ia pegang dengan maksud Ralin mengambil sendiri dari tangannya.


Tersenyum kaku, Ralin mengambil catatan itu dari tangan Leticia dengan setengah hati. Selain karena merasa aneh, bagi Ralin kehadiran Leticia dikelas membuatnya benar-benar tidak terbiasa dengan hal yang terjadi. Apalagi dengan kebiasaan Leticia yang suka menempel pada dirinya. Suka menggandeng tangan Ralin dikelas tanpa alasan yang jelas. Kadang bayangan gadis kecil selalu melintas dibenak Ralin saat Leticia merangkul tangannya dengan manja.


Seperti kali ini. Sosok gadis kecil bergaun hitam selutut itu tersenyum seperti senyum Leticia. Bayang lain mengikuti. Hutan pinus, cahaya senja, hamparan semak belukar, kristal es berwarna sepekat darah dan sosok misterius yang seakan mulai menunjukan jati dirinya.

__ADS_1


Ralin meratap.


***


__ADS_2