PURNAMA

PURNAMA
Di Balik Cerita 2


__ADS_3

“ Bang Rassya! ” suara Ralin terdengar hopeless. Dirinya tengah berdiri dibelakang Rassya, sang kakak yang sedang mengoreksi beberapa file yang diajukan masing-masing kelas untuk acara Festival sekolah.


“ Hmm.. ”


“ Jauh-jauh dari para pengurus Osis itu, bang… ”


Rassya, sang kakak tidak bergeming. Dia masih saja mengoreksi file-file yang ada diatas mejanya.


“ Mereka itu nggak baik sedikitpun. Lebih-lebih wakilnya abang itu.”


Kali ini Rassya terdiam. Dia langsung menutup file yang di koreksinya. Berbalik dan menatap sang adik, Rassya tersenyum. " Lo sama sekali belum mengenal mereka dengan baik, Lin. ” jawab Rassya dengan bijak. “ Jadi jangan suka menilai seenaknya. ”


Ralin manyun. Tidak bisa menjelaskan apa yang dimaksud Ralin dengan kata “Tidak baik”  itu, Ralin terdiam lemas.


“ Mereka mungkin seenaknya. Tapi apapun yang mereka lakukan, itu buat kebaikan bersama. Buktinya, sudah sering kali mereka nolongin lo,kan? ”


Mendengar jawaban itu, Ralin dibuatnya menunduk.


Yang dikatakan kak Rassya memang benar. Gue memang tidak tahu siapa mereka. Tapi gue yakin, mereka punya tujuan dengan melakukan beberapa perubahan tatanan disekolah. Memasukan Leticia dan Atlas ke organisasi Osis dan menjadikan mereka teman sekelas dipertengahan semester. Mengganti tatanan masing-masing kelas yang ngebuat gue kadang kebingungan untuk sekedar mencari kelasnya kak Rassya atau ruangan lab komputer dan lab kimia. Seenak hatinya merubah tatanan sekolah yang telah berjalan, gue pastikan menemukan motif dibalik semua itu.  Terutama Andra. Gue harus tahu kebenaran tentangnya terlebih dahulu.


" Kemana Lin? " Rassya menatap Ralin yang melenggang dengan lemas nya menuju keluar kamarnya.Tidak menyahut pertanyaan sang kakak, Ralin memilih melambaikan tangan dengan membelakangi Rassya yang masih anteng menatap sang adik yang berjalan keluar dengan gontai.


Termenung didalam kamarnya, bayangan para pengurus Osis masuk satu persatu kedalam ingatannya ketika matanya mulai terpejam. Semakin jauh kedalam alam bawah sadarnya, Ralin merasakan hembusan angin yang menyergap cepat. Hawa dingin, bau darah segar, jerit ketakutan yang terdengar jelas, bayangan cahaya bulan purnama merah, kobaran api, tangisan, caci maki, amarah, kebencian, dan sebuah bisikan untuk menghabisi seisi desa.


“ Binasakan mereka semua... kamu bisa melakukannya dengan mudah... ” suara bisikan parau siang itu menghasut lembut dibelakang telinga.

__ADS_1


“ Apa semua ini benar?? ” Ralin melihat jelas semua mimpinya yang terpecah.


Memperhatikan tangan yang berlumuran darah, gaun hitam selutut yang dipakainya, wajah yang dipenuhi dengan cipratan darah. Mata yang bersinar kemerahan. Taring tajam yang siap menggigit dan menghisap darah dari seorang anak laki-laki yang terkulai lemas dibawah kakinya. Seakan tubuh ini tidak memiliki hati dan pikiran sama sekali. Hanya ada amarah dan kemurkaan yang ditunjukan.


* “ Kendalikan dirimu…”  kalimat Andra itu tiba-tiba terngiang ditelinga Ralin berbarengan dengan munculnya sosok misterius yang nampak kabur dari pandangan mata.*


Sosok pria berjubah hitam itu mendekat dan pemilik suara bisikan dibelakang Ralin terpental jauh kebelakang. Tidak sempat menoleh pemilik suara bisikan itu, sosok berjubah hitam sudah membawa Ralin pergi menjauh dari kekacauan yang terjadi disebuah desa kecil itu.


“ Apa yang terjadi setelahnya..? ” gumam Ralin terduduk memandangi cahaya bulan purnama penuh yang masuk dari celah gorden jendela kamarnya di atas tempat tidur sesaat setelah dirinya terperanjat bangun dari mimpinya buruknya. “ Apa mungkin sosok lain itu mengetahui semuanya?? ”


Tatapannya kembali menerawang melihat cahaya bulan yang masuk kedalam kamarnya melalui jendela kaca dihadapannya. Yang dimana tanpa ia sadari, tangan itu mengeluarkan kristal es yang membekukan ujung dari bantal yang ia peluk.


***


Jauh ditempat yang lain di waktu yang sama, Leticia mencengkram kuat tangan Andra.


Disebuah ruangan berukuran 4x5 m2 dengan dinding kaca itu, Andra mengingat beberapa hal yang terjadi disekolah beberapa minggu terakhit. Merasakan erangan kesakitan dari Ralin, Andra semakin terdiam melihat yang lain menghampirinya dari salah satu jendela ruangan yang ia biarkan terbuka lebar. Cahaya bulan purnama menerangi ruangan tersebut. Tapi bayangan lain melintas dibenak Andra.


“ Yang terjadi hari ini tidak berkaitan sedikitpun dengan kita, bukan?  ” Celine meletakkan blazer nya diatas kursi


kayu yang ada. Tatapannya getir melihat kesunyian yang ada di ruangan itu. Padahal semua orang sedang bersama-sama


“ Aneh kalau hal itu terjadi disaat-saat seperti tadi siang? ” Nathan menimpali.


“ Bahkan dalam pengawasan kita sekalipun, dia bisa kehilangan kendali atas dirinya sendiri. ” tambah Atlas yang baru saja menginjakkan kakinya pada lantai kayu didepan Leticia.

__ADS_1


“ Hanya ada dua kemungkinan... ” Andra kembali terdiam. Dia kembali mengingat sesuatu yang sudah lama terjadi.


Reruntuhan yang sama sekali tidak terjamah oleh siapapun. Puing-puing bangunan yang ditumbuhi lumut dan tanaman merambat. Ditengah-tengah reruntuhan harusnya berdiri bongkahan Kristal es biru dan Kristal es merah kehitaman. Tapi kedua Kristal yang sebelumnya berhadapan itu seakan lenyap tidak tersisa. Bahkan hanya untuk setitik puingnya saja.


Menyapu pandangan kesemua arah, yang tersisa hanya puing bangunan yang setiap beberapa waktu mulai ditumbuhi lumut dan tanaman merambat yang membuat puing-puing bangunan itu menjadi terlihat seperti bagian dari hutan disekelilingnya.


“ Dimana Kristal esnya? ” seorang gadis berusia kira-kira 9 tahunan mendarat mulus disamping pria berpakaian serba hitam itu. Tatapannya menerawang dengan hal yang ia lihat.


“ Apa kau bisa melihatnya? ”


Si gadis menggeleng pelan. “ Tidak ada jejak apapun disini, kecuali kegelapan. ”


Dia mengingat lagi bayang kegelapan yang menyelimuti misteri hilangnya Kristal es tempat Ralin dimasa lalu tertidur. Sosok yang dulu telah mengurung tubuh dan jiwanya dalam Kristal es abadi sesaat setelah Andra berhasil menghentikan laju waktu yang akhirnya mampu melepaskan ia dengan sosok Leticia kecil dari kunci kristal es abadi yang menjadi kekuatan alami yang dimiliki oleh sosok Ralin dimasa lalu.


“ .... kalau dia memang Alin, kekuatan kristal esnya pasti akan keluar bersamaan dengan amarahnya. Kalau tidak,...” Andra sejenak diam. Dia membalik badannya menghadap kearah empat temannya. “... dia yang terbangun mungkin sosok gelap dari ingatan Ralin. ”


“ Sosok gelap? ” Celine mengernyitkan dahi.


“ Sosok yang terbangun karena kemurkaan, amarah, dan kebencian. ” tukas Leticia.


“ Kegelapan apa yang ada pada dirinya? ” Atlas membalik tubuh Andra untuk menghadap kearahnya.


Andra memutar ulang semua ingatannya. Dia selalu melihat sosok Ralin memperhatikan sesuatu dari tempat yang sama. Bangku panjang disudut halaman utama sekolah. Mengingat kalau posisi Ralin selalu sama ketika memperhatikan sekelilingnya. Matanya menatap yakin.


“ Saat ini gue minta kalian untuk mempertimbangkan setiap perubahan yang akan kalian buat disekolah. ” Tegas Andra. “ Kalau dugaan gue benar, Ralin yang terjaga mungkin adalah dirinya yang sekarang. Dia terjaga bukan karena masa lalunya, tapi mungkin karena beberapa hal yang kita lakukan dilingkungan sekolah.”

__ADS_1


Hening.


***


__ADS_2