PURNAMA

PURNAMA
Cerita Celine.


__ADS_3

Hari ini Ralin masih clingukan mencari sosok Atlas yang seakan menjauhi dirinya semenjak kejadian tempo hari bersama Andra dan kakaknya Rassya. Tidak pernah jalan bareng ke kelas lagi, tidak menemani Ralin disela-sela jam istirahat siangnya, tidak menatapnya lagi disela-sela jam kosong pembelajaran. Tidak pernah menegur lagi. Bahkan sosoknya pun seakan lenyap dari sekolahan.


Menghilangnya sosok Atlas membuat Ralin cukup jengkel karena tiba-tiba belakangan ada sosok yang tidak pernah absen dari pandangan Ralin. Dan orang itu adalah Andra, si wakil ketua Osis yang menyebalkan. Beberapa kali mencari sosok Atlas untuk berterimakasih karena juga berniat menolong tempo hari, selalu sosok Andra yang akhirnya ia temukan.


“ Apa loe yakin, itu dia? ” tanya Celine terlihat begitu anggun begitu ia bersanding dengan Andra dari kejauhan.


“ Hmm.. ” jawab Andra dengan senyum simpulnya. “ Ada orang lain yang sudah lebih dulu menyadarinya. Dan beberapa kali dia coba untuk mengembalikan paksa ingatannya. ” tambahnya menerawang.


“ Memang kenapa kalau dia mengingat semuanya sekarang? Lebih cepat ingatannya kembali, lebih cepat kalian bisa bersama. Bukankah itu lebih baik? ”


“ Belum saatnya. ” jawab Andra. “ Gue mau dia hanya bisa mengingat hal-hal baik saja dulu.”


Celine terenyuh. Dia hanya tersenyum singkuh dengan jawaban yang Andra berikan.


Diingatnya sosok Andra yang kini berdiri dihadapnya. Sosok sang penjelajah waktu hanya untuk mencari sang kekasih yang sangat ia cintai. Sosok kekasih yang dicintai Andra tanpa syarat. Yang bersamanya Andra melewati waktu kurang dari seratus tahun tapi kesetiaan yang Andra berikan pada sang kekasih bahkan berkali-kali lipat dari waktu yang mereka habiskan bersama. Sosok kekasih pernah  mengunci Andra dalam sebongkah kristal es ditengah hutan pinus dengan semak belukar yang mengitari tempat itu. Sosok kekasih yang membekukan tubuh dan jiwa Andra dalam Kristal es bersama seorang gadis kecil bergaun hitam selutut. Sosok kekasih yang menurut Celine sangatlah tidak mempunyai perasaan dengan semua kebodohan yang dilakukannya terhadap Andra.


620 tahun lamanya sosok yang dulu dikenalnya bernama Atlas telah berkelana. Atau yang sekarang dia panggil dengan nama Andra, si wakil ketua Osis. Setiap 100 tahun dari 620 tahun yang dilewatinya, dia selalu kembali ketempat awal semua kisahnya dimulai. Dimana Andra selalu menantikan hancurnya bongkahan Kristal es berwarna merah sepekat darah yang akhirnya malah mengurung sosok sang kekasih didalamnya. Andra harus pergi dan berkelana selama satu kehidupan manusia hanya untuk bisa kembali lagi untuk melihat dan bertemu dengan sosok kekasihnya itu. Dan dikunjungannya yang ke empat, disanalah pertemuan pertama Celine dengan sosok Andra.


400 tahun silam, dirinya bertemu dengan sosok Andra yang kala itu menyaksikan kebrutalan orang-orang dalam membantai sesamanya. Diantara orang-orang yang terbantai itu, sosok Celine merupakan satu dari sekian pembantai yang muak melihat segala tindak kekerasan yang terjadi pada masanya. Menyerang dengan membabi buta, sosok Celine dimasa itu sudah sampai dihadapan Andra yang menatapnya dengan santai.


Andra membiarkan dirinya diserang dan sama sekali tidak melawan setiap pukulan dan tendangan yang dilancarkan Celine pada dirinya. Bahkan Andra sempat terlempar ratusan meter oleh dorongan Celine yang sangat kuat dan dahsyat. Dari cara Celine menyerang, Andra hanya menerima dan terus menerima serangan itu selama berhari-hari. Sampai Celine menyadari kalau sosok Andra sama sekali tidak berniat melakukan pembantaian atau berniat menyerang sama seperti dirinya. 


“ Berhentilah dan kendalikan dirimu untuk kedepannya. ” itulah yang Andra ucapkan sembari menepuk kepala Celine dengan begitu lembutnya. Untuk setiap goresan dan luka bakar pisau perak yang menyayat bagian tubuhnya, Andra bahkan tidak mempermasalahkannya. Dia lebih memilih untuk menenangkan Celine dari kebencian yang mempengaruhinya.


“ Tempat ini tidaklah buruk… melainkan cara berpikir orang-orangnya saja yang membuat tempat ini bagaikan neraka bagi siapapun. Kau punya kesempatan untuk merubah tempat ini menjadi lebih baik untuk kedepannya. ”


“ Atlas! ” panggil sesosok gadis kecil terhadap sosok Andra. Sosok gadis kecil berumur sembilan tahunan. Gadis yang dengan begitu santainya melewati setiap tumpukan mayat dan sisa-sisa pembantaian yang tengah terjadi. Gadis yang memiliki mata bulat hitam yang begitu indah tapi juga menakutkan bagi yang melihatnya melewati tumpukan sisa pembantaian tanpa ekspresi ngeri ataupun ketakutan untuk anak seumuran sosoknya. Dimana darah segar berceceran dan memenuhi seisi desa kala itu.


“ Bolehkah aku sembuhkan beberapa?? ” Mengenakan gaun hitam selutut dengan jubah menutupi sebagian besar wajahnya, sosok kecil itu membuat beberapa orang korban pembantaian hidup kembali. 


" Lakukan saja. "


 


Mendengar apa yang disampaikan Andra kepada gadis kecil itu, Celine hanya terdiam dalam keberangan pikirannya. Dia melihat sekeliling sebelum akhirnya berpaling lagi pada sosok Andra yang berusaha memutar waktu bagi beberapa orang yang dikiranya berguna dan mampu menjadikan kota itu jauh lebih baik dari sebelumnya dengan segala pemikiran terbuka.


" Jagalah tempat ini dengan baik. Aku akan selalu berkunjung. " Diiringi langkah gadis kecil disampingnya, sosok Andra beranjak pergi dari kota yang sudah diperbaikinya tersebut.


" Terimakasih. " teriak Celine dari tengah-tengah pusat kota dekat air mancur yang menjadi ciri khas kota tersebut.


Ingatan Celine hanya sebatas melihat sang gadis kecil tersenyum pada dirinya mengiringi kepergian Andra.

__ADS_1


Begitu terbangun dimasa yang lain, Celine kembali bertemu dengan Andra yang menepati janjinya untuk kembali berkunjung. Dirinya pun tiba-tiba saja sudah ikut dalam perjalanan waktu yang dilakukan Andra untuk menunggu dan mencari sosok sang kekasih yang sekitar 215 tahun lalu sudah terbangun dan menghilang dari penelusuran kami. Atau tepatnya beberapa tahun setelah bencana pembantaian yang melanda kota tempat Celine bertemu Andra untuk pertama kalinya.


Andra tidak pernah kehilangan harapan ataupun berputus asa untuk dapat bertemu kembali dengan sang kekasih yang telah menghilang bersama bongkahan besar Kristal es yang mengurungnya. Dan darinya Celine mengenal arti sebuah penantian dan keyakinan akan cinta. Karena sosok Andra juga, Celine bertemu Nathan. Pria yang selalu ada dan menjadi sosok pelengkap untuk perjalanan panjang yang telah ditempuh Celine bersama Andra gadis kecil itu.


Enam abad yang terlewat dengan pencarian tanpa hasil, tiba-tiba berakhir ditempat awal perjalanan Andra dimulai. Tempat Andra terbangun dari Kristal es yang membekukan sosoknya ditengah hutan pinus dan hamparan semak belukar berduri. Tempat yang kini tengah menjadi satu bangunan sekolah bernama SMA Kenanga. Seakan menepati janji yang dibuatnya, sosok kekasih Andra tersebut kini kembali ketempat yang sama. Dia yang tengah menikmati hidupnya yang terbungkus sebagai seorang manusia berusia 16 tahunan.


Gadis yang kini mengarah kearahnya dan Andra dengan wajah sedikit kesal.


“ Atllas! ” tanpa ragu Ralin menarik tangan Andra yang dikiranya adalah Atlas, temannya. Sosok yang sangat mirip dengan sosok Atlas yang dicari Ralin beberapa hari belakangan. Atlas yang tiba-tiba mengacuhkannya dan Atlas yang seakan tidak peduli pada teguran Ralin lagi.


“ Loe kenapa menghindari gue sih? " hardik Ralin ketika berhasil membalik kasar seseorang yang menurutnya adalah sosok Atlas yang ia cari.


Menatap wajah heran si pemilik lengan yang ditariknya, Ralin tersenyum kaku. Postur tubuh dan pembawaan yang sama dengan Atlas, membuat Ralin lagi-lagi salah mengenali orang. Sosok Andra yang sedang tidak memakai jas Osis kebanggaannya selalu ingin dihindari Ralin. Sudah kejadian yang keempat kalinya dihari yang sama, Ralin mengenali sosok Andra sebagai Atlas yang selalu coba menghindar dirinya. Perlahan melepaskan pengangan tangannya dari lengan Andra, si wakil ketua Osis, Ralin hanya bisa menunduk dan meminta maaf setiap kali hal yang sama terjadi.


“ Sekali lagi, maaf. ” ucapnya lirih.


Terlebih lagi begitu melihat sosok  Celine, sang bendahara Osis tengah bersanding dengan Andra membuat Ralin semakin menunduk lemas. Anggun dan elegan. Seperti itulah sosok Celine dimata Ralin. Gadis putih cantik dengan rambut panjangnya itu menatap Ralin dengan seksama.


“ Andra, gue keruang Osis yah? ” Celine beranjak pergi begitu saja tanpa menghiraukan lagi sosok Ralin yang langkahnya kini telah ditahan balik oleh Andra. Seakan tidak ingin melewatkan kesempatan berdua dengan Ralin, tangan mungil itu ditahannya.


“ Celine! ” satu tangan Andra langsung melempar map berisi beberapa file pada Celine yang sudah cukup jauh dari jangkauan lemparan seorang manusia untuk ukuran sebuah map dengan beberapa kertas tipis didalamnya. Tapi mata Ralin selalu jeli dengan hal-hal aneh yang terjadi belakangan. Dia melihat dengan baik kalau lemparan Andra sangat tepat. Dan tangkapan Celine akan map itupun terbilang cepat. Terlalu cepat. Terlalu tepat. Ralin menatap tidak percaya kearah Andra.


berpikir harus bisa menjauh dari sosok Andra secepatnya.


Diujung tangga bawah lantaisatu tempatnya turun, Ralin mengintip keatas karena dia menyadari kalau Andra sempat berusaha mengejarnya tadi.


“ Syukur nggak kekejar. ” gumam Ralin sembari menghela nafas dan menghentikan langkahnya dibawah anak tangga yang ia turuni.


“ Dikejar siapa? ” sapa Andra yang sudah berdiri santai dibelakang Ralin. Andra pun sempat menengok kelantai atas tempatnya berdiri tadi dan memastikan kalau tidak ada orang lain lagi dilantai atas berhubung semua siswa tengah mengahabiskan waktunya lebih banyak dihalaman utama sekolah. “ Nggak ada siapa-siapa? ” tambahnya mengalihkan tatapan matanya pada Ralin.


“ Lo?? Bagaimana bisa??? ” pekik Ralin kaget melihat Andra kini sudah berdiri dihadapannya.


Yang dilakukan Andra hanya menutupi satu telinganya karena teriakan Ralin cukup terdengar melengking ditelinganya. “ Kenapa bisa-bisa lo udah ada dibawah sini?! ”


Kaget dan tidak percaya dengan yang dilihtanya, Ralin clingukan. Dilihatnya Andra lalu ke lantai atas. Andra lagi. Lantai atas lagi. Dan akhirnya kembali Ralin menghela nafas untuk menenangkan diri. Hela nafas ke tiga, Ralin menatap Andra. “ Bagaimana mungkin lo bisa ada disini secepat itu? ” instingnya cepat menangkap kejadian yang dirasa aneh tersebut.


“ Oh! Itu! ” ada jeda sejenak. “ Kan ada lift kepsek. ” jawab Andra santai sambil menuding kearah lift khusus yang


berada beberapa meter dibelakangnya.


Ralin terdiam. Selama ini lift sekolah memang hanya digunakan oleh kepela sekolah, staff guru, dan orang-orang tertentu, seperti pendiri sekolah dan para inti pengurus Osis. Karena itu keberadaannya hampir tidak disadari semua siswa termasuk Ralin.

__ADS_1


“ Iya ya? ” tanggap Ralin menggantung. Masih tidak percaya, Ralin hanya mengangguk ragu.


Andra tersenyum kaku. Matanya melirik kesebuah papan kuning yang perlahan menggeser menuju kebalik pot tanaman hias yang ada disamping lift tersebut. “ Dalam perbaikan. ” Itulah tulisan yang terdapat pada papan kuning yang bergeser secara perlahan itu. Menyadari tindakannya, Andra langsung berekspresi jengkel karena hampir membuat dirinya dicurigai oleh Ralin.


“ Jadi? ” kembali Andra menahan tangan Ralin. “ Ada urusan apa loe sama gue? ” tatapannya penuh dengan kesenangan yang hanya sesaat. Karena selebihnya bagi Ralin, “ Kangen yah? ” sisanya itu hanyalah gombalan.


Menatap jengkel, Ralin memanyunkan bibirnya. “ Gue salah orang. ” jawab Ralin sekenannya. “ Gue kira loe Atlas, temen gue. ” Pandangannya cuek. Matanya memutar entah kesudut mana. Intinya, Ralin sangat malas bertemu mata dengan Andra.


“ Andra. ” dia mengulurkan jabat tangan. “ Kita belum berkenalan dengan baik kan sejak pertama bertemu?? ”


Lama tertegun, Ralin ingat betul dari awal bertemu, dirinya hanya tahu kalau Andra adalah wakil ketua Osis. Namanya pun dia tahu dari Rassya, sang kakak yang selalu menghabiskan waktunya bersama para pengurus Osis yang menyebalkan itu.


Ralin menerima jabat tangan Andra yang kini menatap dengan sangat berbeda. Tatapan yang lembut dan hangat. Ada kerinduan yang mendalam dari tatapan itu. Sangat dalam. “ Ralin.” Saat nama itu keluar dari mulut mungil Ralin, Andra benar-benar dapat merasakan akan adanya sosok lain dalam diri Ralin. Sosok yang sangat ia rindukan keberadaannya. Sosok yang ditunggu Andra berabad-abad lamanya.


Dilantai atas tempat awal Ralin salah mengira sosok Andra adalah temannya, berdiri Celine yang melihat kearah kisah yang terjalin dilantai bawahnya.


“ Bukan hanya wajah. Sepertinya sikapnya pun tidak berubah. ” sosok lain tengah memperhatikan Ralin dari ujung atas lantai dua itu bersama Celine. Dilepasnya kaca mata tipis itu. Membelakangi arah pandangan dari sosok Andra dan Ralin dilantai bawah, pria itu menarik Celine dalam pelukannya. Dia Nathan Angsaka, sekertariat Osis yang terkenal kalem dengan tatapan yang menusuk.


“ Sudah sangat lama Andra menunggu dan mencarinya. ” si pria tengadah ke langit-langit.


“ Ya. Sangat lama. ” jawab Celine sembari menyenderkan kepalanya pada bahu si pria.


Gadis yang mereka bicarakan itu adalah Ralin. Mata yang berbinar, bulu mata yang lentik dengan mata bulat besar yang mengingatkan Nathan pada sosok perempuan lain yang kini juga tinggal bersama Andra, rambut hitam panjang yang terurai, bibir tipis yang mungil, tatapan mata yang setajam elang. Serta insting yang kuat. Seperti itulah ingatan pertama Nathan pada sosok Ralin dimasa lalu. Ralin yang dengan berani datang dan mengacaukan kesenangan dari pemilik kastil kegelapan. Hanya dengan mengandalkan instingnya yang kuat, Ralin mampu meloloskan diri bersama seorang bocah tengik yang mempunyai pemikiran yang sangat bodoh dimasa itu.


“ Gue harap kebodohan bocah itu tidak berlanjut sampai sekarang. ” gumam Nathan begitu melihat Rassya melewatinya dengan beberapa file ditangan.


“ Sebaiknya hentikan sikap kalian yang sok dewasa itu disini! ” ujar Rassya yang tidak terima melihat kelakuan dua teman Osisnya itu disaat jam-jam sibuk pelajaran sekolah.


“ Kami memang jauh lebih dewasa dari kamu tahu! ” jawab Celine jengkel. Entah kenapa dirinya selalu merasa jauh kalah jauh dengan Rassya yang hanya manusia biasa. Hanya kebetulan saja Rassya menjadi kakaknnya Ralin saat ini. Tapi begitu mendapat satu tatapan tajam dari Rassya, Celine langsung terdiam dan mengikuti himbauan yang dilontarkan oleh Rassya begitu saja.


Tawa Nathan pun pecah dengan perubahan sikap Celine itu.


“ Apaan sih! ” gerutu Celine.


“ Dia itu jauh lebih senior dari pada elo kali, Lin. ” jawabnya yang masih diiringi gelak tawa.


“ Kerja! ” Rassya menyodorkan beberapa file yang dibawanya pada Celine dan menyerahkan sisanya pada Nathan sebelum dirinya menuruni tangga dan menyambut kedatangan seorang tamu dari lembaga yang mendirikan SMA Kenanga tersebut.


 


***

__ADS_1


__ADS_2