
Sangat gesit. Pertarungan antara Andra dan Aska terlihat begitu sengit. Andra terus menyerang Aska yang berpindah dengan teleportasinya. Serangan demi serangan terus menghancurkan setiap sudut dan bangunan yang berada di lingkungan sekolah. Andra sejenak kewalahan. Kekuatan kegelapan yang keluar darinya menguras hampir seluruh tenaga yang ia punya.
Bersimpuh lemas, Andra menunduk. Kembali mendapat kekuatan dengan membalikan waktu, sesaat Andra dapat melihat gerakan Aska yang berpindah secepat kilat dan tidak terdeteksi.
“ Aku senang kita akhirnya bertemu dalam sebuah pertarungan. ” ujar Aska.
“ Bukannya tidak ada pilihan, tapi aku selalu menunggu datangnya hari ini. ” jawab Andra saling menatap dan siap menyerang.
Saling berhadapan-hadapan lagi, Andra memastikan kalau perisai alami Aska selalu aktif dan menjadi penghalau kekuatan waktu yang dimilikinya. Kali ini bangkit dengan mengandalkan kendali dirinya, Andra mencoba membelokan waktu beberapa saat untuk melihat pertahanan yang dilakukan Aska. Berulang kali Andra membalikkan waktu dan mencari celah, berulang kali jiga hambatan yang sama ditemui Andra.
Mencoba dan terus mencoba untuk mengetahui kekuatan lain yang mungkin Aska miliki. Kekuatan yang mampu membuat Aska berpindah hanya dalam sepersekian detik dari pandangan tanpa ada sosok lain yang membantunya.
Sesaat sebelum berpindah, detik jarum jam dinding gedung utama sekolah berbalik mundur. Waktu berhenti di sekeliling dirinya dan yang lain kecuali waktu untuk Aska. Sadar dengan kesamaan kekuatan pengendali waktu yang dimiliki masing-masing, Andra melancarkan serangan tepat dititik awal Aska menghentikan waktu.
Terlempar cukup jauh. Andra kembali melesat dan menggores pipi kiri Aska dengan jarinya. Andra melewati Aska dengan memainkan kekuatan memutar waktu yang ia punya untuk mengimbangi trik Aska.
Kini giliran Aska yang geram dengan trik yang dilakukan Andra. Beberapa kali dengan trik yang sama Andra terus melancarkan pukulan yang selalu tepat mengenai bagian tubuh Aska. Aska terus membalikan waktu dan selalu mendapat pukulan dengan caranya itu. Terdesak dengan lengahnya pengawasan Aska terhadap kejelian Andra dalam mengendalikan kekuatannya, membuat Aska merasa sedikit kehilangan kendali atas kuasa di dalam dirinya.
Cahaya bulan perlahan tertutup awan hujan. Membawa Aska pada puncak kekuatan yang memanfaatkan kegelapan dalam dirinya. Dia melepaskan kendali waktunya, dan balas menyerang Andra tanpa jeda. Setiap pukulan, tendangan, dan setiap benturan yang dilancarkan Aska memberi gejolak kekuatan yang berbeda pada diri Andra.
__ADS_1
Sama seperti dirinya yang kehilangan kendali saat berusaha menyerap kekuatan cahaya bulan purnama, Aska perlahan mulai kehilangan dirinya setelah hilangnya cahaya bulan karena tertutupi oleh awan hujan.
Aska mengerang setelah berada dipuncak kekuatannya. Dikerahkannya semua kekuatan pengendali waktu yang ia punya. Qean dan Queen langsung menarik diri dari lawannya masing-masing. Seakan mengawal apa yang Aska lakukan, mereka bertiga menggabungkan kekuatannya masing-masing.
Waktu, cahaya, dan lima unsur kekuatan alam. Awan gelap berkumpul diarea halaman utama sekolah. Gemuruh dan kilat saling berlomba menyambar apapun yang ada disekitarnya. Hujan pun berhenti seiring cahaya bulan purnama yang menampakan dirinya dari balik awan.
Andra, Atlas, dan Celine bergerak mundur ketempat Leticia yang tertegun pilu dengan apa yang disaksikannya. Tapi tidak dengan Ralin yang lepas dari pengawasan Leticia. Kini Ralin tengah berlari menerjang kilatan-kilatan petir yang menyambar dengan membabi buta. Andra yang menyadari itu langsung mengejar dibelakangnya.
Disisi lain, Nathan berhasil melumpuhkan Rassya dengan membuatnya kehilangan kesadaran setelah berhasil membaca kekuatan teleportasi alami yang dimiliki oleh Rassya. Melihat kegaduhan lain yang timbul, Nathan menangkap Rassya yang jatuh melayang dihadapannya. Mengikuti Ralin dan Andra yang menerjang kebalik serangan gabungan Aska dan para pengikutnya, Nathan yang membawa Rassya dalam gendongannya terpental dan jatuh berguling beberapa kali akibat sambaran petir milik Queen yang mengenai dirinya. Rassya dan Nathan tergeletak tak sadarkan diri.
Berhasil mencapai tempat kedua orang tuanya yang masih berada dibalik serangan Aska, Ralin dengan cepat mengunci tubuh mereka dengan kekuatan kristal esnya yang bangkit bersama terangnya bulan Purnama.
Dimata Ralin, Baik Atlas, Leticia dan Celine, mereka bertiga langsung terpental kebelakang, membentur tembok dibelakangnya, tergeletak, dan tidak sadarkan diri dengan dahsyatnya serangan yang mengarah pada meraka. Dari ketiganya, yang mengalami luka paling parah adalah sosok Atlas yang tubuhnya nampak setengah terbakar.
Terlambat untuk menolong adik dan teman-temannya, Ralin tersengal menyaksikan setiap orang harus terluka karena terlibat dengan masalah dirinya dimasa lalu dengan sosok Aska. Ada gejolak yang berkecamuk. Amarah memuncak pada diri Ralin tapi tidak sampai kehilangan kendali dirinya. Cahaya bulan menerpa dan menerangi wajah Ralin. Gejolak kekuatan bangkit dari dalam dirinya.
“ Kita harus masuk ketengah pusaran ini. ”
Perlahan berdiri disamping Andra, Ralin mengeluarkan kekuatan kristal es berwarna merah kehitaman dari tangan kananya. Menatap kearah pusaran gabungan kekuatan Aska dan pengikutnya, Andra melempar senyum pada Ralin yang siap menerjang kearah pusaran. Mengerti dengan apa yang Ralin pikirkan, Andra memperlambat waktu disekitar pusaran kekuatan Aska dan pengikutnya.
__ADS_1
“Dan untuk hal ini, gue butuh keyakinan dari lo.” Ralin menatap Andra.
“Gue sepenuhnya percaya dengan keputusan yang akan lo lakukan.” Andra menjawab. “So, you just do that!”
Diantara celah yang ada, Ralin seakan terhisap kedalam pusaran tapi tidak sampai melukai ataupun menghancurkan dirinya. Kini Ralin tengah berdiri tepat dibalik punggung ketiga musuhnya yang masing-masing dari mereka menghadap ke arah yang berlawanan.. Kehilangan kesadaran dengan gabungan kekuatan yang mereka lakukan, Aska, Qean dan Queen tidak mampu menyadari keberadaan Ralin dibelakang mereka.
Memperbesar kilatan kristal es merah kehitaman ditangannya, Ralin menghantam tanah ditengah ketiga lawannya. Kristal es merah kehitaman itu menyambar dan membekukan sosok Aska, Qean, dan Queen seketika. Serangan kilat, gemuruh, pecahan es yang mengiris menyerupai silet dan suara dentuman dari gabungan kekuatan Aska dan pengikutnya langsung sirna. Kegelapan itu berganti dengan indahnya cahaya timur yang mulai menunjukan kalau hari sudah berganti.
Cahaya yang ufuk timur yang menembus ujung kristal es terlihat sangat indah dan menawan. Kristal es merah kehitaman itu membentuk seperti bongkahan beberapa berlian besar yang berharga. Didalamnya samar-samar terlihat sosok Aska, Qean dan Queen yang membeku dan terkunci bersama seluruh kekuatannya.
Ralin berdiri lemas disamping Andra yang menariknya dari kendali waktu. Karena jika terlambat sedetik saja, Ralin pun akan menjadi bagian dari kristal bulan merah itu.
“ Finis? ” Andra menopang tubuh Ralin.
Dengan sedikit lemas, Andra memapah dan membantu Ralin berjalan mendekati kedua orang tuanya yang ia bekukan. Ralin mengusap kristal es itu. Perlahan seluruh kristal es menyusut masuk ke telapak tangannya dan
menghilang.
...
__ADS_1