PURNAMA

PURNAMA
Mereka yang Memihak Kegelapan


__ADS_3

Terbangun ditengah-tengah halaman sekolah yang sepi dan mulai gelap, samar-samar Ralin melihat sosok Qean berdiri jauh dihadapannya. Kemeja putih berbalut taksido hitam dengan dasi merahnya yang dikibaskan angin, Qean tersenyum menyapa Ralin yang sudah berbalut gaun hitam selutut seperti gaun dalam ingatannya dimasa lalu. Ralin memperhatikan apa yang kini dikenakan nya. Sangat berbanding terbalik dengan bagaimana ia bersama sosok Qean, sang Pewaris pada masanya dulu.


" Inikah ingatan terakhirmu tentangku, Putrawangsa?? " Ralin perlahan berdiri dari kondisinya yang masih sedikit lemah. "Atau masih ingin disebut sebagai Sang Pewaris?" mencibir dengan semua ingatan yang ia punya, Ralin menatap kesal.


"Aku senang kamu masih mengingatku, ALin!" Qean berdiri dalam diam. Hembusan angin menerpa wajah yang diiringi senyum kebahagiaan itu.


"Harusnya aku tidak pernah mempercayaimu!"


Qean langsung berpaling mendengar apa yang Ralin katakan pada dirinya.


"Masihkah dia lebih baik dariku??" matanya menatap bengis.


"Dia jauh.... di atas mu! " Ralin membalas tatapan bengis itu.


Dari balik tempatnya berdiri, Ralin mendengar suara tepuk tangan yang perlahan terdengar semakin dekat.


“ Aku selalu salut dengan keberanian mu! ” ucapnya. “ Kau yang dengan berani menyegel tubuhku dalam Kristal es abadi mu, Alin! ” Bayang sosok lain yang diingat Ralin sebagai vampir kegelapan, Aska keluar dari balik punggung Qean yang langsung memilih menepi untuk membiarkan reuni antara rekannya dan Ralin.


"Aska!" Ralin terhenyak.


Serangan itu langsung melesat tanpa aba-aba dan langsung melumpuhkan Ralin seketika. Terlihat jelas ada kebencian dalam matanya. Mengingat sosok Ralin yang dulu pernah mengganggu kesenangannya.Sosok yang ia cari dengan maksud memusnahkannya atau paling tidak menjadikannya salah satu boneka seperti beberapa bawahannya yang lain. Aska tersenyum menyambut keinginannya yang pasti akan terwujud malam ini.


Ralin mengingat dengan baik bagaimana Aska bekerja. Qean selama ini pastilah diperdaya oleh Aska, sosok yang pernah dibekukan Ralin dengan kekuatan kristal es bulan merahnya. Sosok Aska terlepas dari kunci kristal merah bersamaan dengan lahirnya sosok Ralin dalam ingatan gadis berusia dua tahun yang ditolong oleh Rassya kecil berusia lima tahun. Ralin tersenyum mengingat semua hal suram yang ia alami.

__ADS_1


Masih terkulai lemas dihalaman utama sekolah, Ralin berusaha membangkitkan setengah badannya. Dia terduduk dengan kaki yang masih terkulai lemas. Menopang tubuh dengan berpangku pada dua tangannya, Ralin menatap Aska yang kini mendekat secepat kilat kearahnya. Tatapan mereka bertemu dan bayang gelap itu sekilas menghantui pandangan Ralin pada bola mata hitam pekat milik Aska.


" Senang bertemu lagi denganmu... Alin. " Kilatan cahaya memenuhi seluruh ruang mata Ralin. Itu adalah serangan kesekian yang diterima Ralin dari sosok gelap Aska.


...


Sementara itu disudut lain wilayah itu.


Rumah Andra.


Ada awan gelap yang memutar dengan tidak biasa di langit sekolah. Kilat menyambar dengan suara gemuruh yang menggelegar. Dan hal itu menjadi perhatian Andra dari keheningannya kini.


“ Gue nggak tau dengan kalian, tapi gue bisa merasakan hawa kegelapan itu dari area sekolah. ” ucap Nathan yang tiba-tiba merasa siaga.


Celine, Atlas, Leticia, dan Nathan yang tengah menikmati kebersamaan mereka disebuah rumah sederhana diujung bukit dibelakang sekolah, ikut melihat dan memperhatikan hal yang dilihat oleh Andra dan Nathan. Mereka memandang kearah langit tepat di kaki bukit, dimana sekolah bernama SMA Kenanga berada. Dari jendela tempatnya berdiri kini, Nathan memperhatikan keanehan yang terjadi. Seakan mengenali setiap kemurkaan alam di sekolahnya, Nathan dan Andra saling bertukar pandang.


//


“ Aku kira kita tidak akan pernah bertemu lagi. ” Aska menatap Ralin lekat-lekat. Matanya yang bulat dan hitam total membuat Ralin mengingat lagi kegelapan yang pernah ia lewatkan dimasa lalu.


Hawa kegelapan pun mencekam diarea sekolah saat Aska melepaskan amarahnya. Tertawa lepas, sebagian hawa kegelapan bercampur aduk dengan hembusan angin yang mengitari dan menyayat sedikit demi sedikit tubuh Ralin. Kesakitan, Ralin merintih perih dalam setiap ingatan masa lalu yang ia punya.


“ Andra. ” panggil Ralin dengan suara yang mulai melemah. Dalam ingatannya, sosok Andra lah yang selalu pertama muncul untuk menolong dirinya dimasa lalu beberapa kali dan berharap hal yang sama terulang kembali kali ini.

__ADS_1


//


" Benar-benar hal yang tidak biasa.. " Nathan tidak melepas sedikitpun pandangannya dari hal yang mengusik malamnya dari kediaman rumah Andra. Celine ikut bangkit dari kursinya untuk memastikan sesuatu yang diperhatikan kekasihnya itu. Leticia dan Atlas langsung nampak cemas. Terlebih Leticia yang tiba-tiba merasakan ada hal yang tidak beres dengan ketiadaan Ralin dan Rassya disekolah siang tadi.


" Lo sudah memastikan dimana Ralin? " Leticia menepuk pundak Andra dalam kediamannya yang mulai terlihat gusar tidak biasa.


Andra melonggarkan ikatan dasinya, ditatapnya diri itu pada cermin yang menunjukan betapa rindunya ia dengan sosok Alin atau yang kini ia kenali sebagai Ralin. Mengingat setiap goresan luka Alin dari semak belukar tempat dirinya dan Leticia dibekukan, Andra tiba-tiba merasakan sakit. Goresan demi goresan muncul di setiap tubuh Andra sama seperti goresan luka yang Ralin alami kini.


//


Tubuh Ralin terpental dan menghantam pohon besar yang menjadi pohon perindang halaman utama sekolah. Dia tetap bangkit. Berusaha berdiri dengan tubuh penuh luka goresan, Ralin menyiapkan diri untuk melakukan serangan balik. Kristal es keluar dari tangan kanannya.


//


Kilat menyambar dari kejauhan. Cahayanya terus mengusik pandangan mata Nathan dan yang lain. Suara gemuruh yang bersahut-sahutan membawa mereka pada bayang kegelapan yang mereka kenali sudah sangat lama. Tapi disudut itu Andra menatap jeli. Dapat dilihatnya kilat yang menyambar berupa kilatan kristal es dari kekuatan Ralin yang dikenalnya.


" Kita kesekolah! " Andra langsung melesat tanpa memberi penjelasan apapun lagi pada teman-temannya.


//


Rintik hujan mulai turun membasahi permukaan bumi. Perlahan hujan yang turun semakin deras. Apalagi saat serangan kristal es Ralin meleset dan malah melukai Queen yang hanya menjadi penonton dari awal pertarungan antara Aska dan dirinya. Rintik hujan menjadi tidak terkendali.


Serangan itu menggores pipinya. Queen bangkit dari diamnya. Menghampiri Ralin secepat kilatan Kristal es yang Ralin lepaskan untuk menyerang Aska dan Qean yang berpindah cepat seperti berteleportasi. Waktu langsung melambat untuk kedua gadis, Queen tersenyum sinis dihadapan Ralin yang tidak menyadari akan datangnya sosok musuh lain dalam pertarungannya dengan Aska dan juga Qean.

__ADS_1


Melepaskan kekuatan dengan menghempaskan satu tangannya membuat tubuh Ralin terpental kearah gerbang utama dari tengah-tengah pohon tertinggi dihalaman utama sekolah. Tubuhnya terlempar kuat kebelakang nya dan melayang. Kembali merasakan tengah menghantam sesuatu, tubuh Ralin ditangkap dengan baik oleh seorang yang baru saja menginjakan kakinya dihalaman utama sekolah.


***


__ADS_2