PURNAMA

PURNAMA
Puzzle Ingatan


__ADS_3

“ Dan yang gue ingat berikutnya, gue terbangun diusia gue lima tahun. ” Rassya bangkit dari kursinya. Berdiri dan menatap lekat ke halaman utama sekolah yang menjadi awal dirinya terbangun. Masa dimana sekolah ini masih berupa reruntuhan desa tempat ia tinggal dimasa lalu. Rassya melanjutkan ceritanya.


Seperti terlelap dalam mimpi yang panjang, Rassya kecil dimasa lalu terbangun ditengah puing-puing desa yang hancur dan penuh dengan lumut dan tanaman merambat. Tengkorak kerangka manusia berserakan dimana-mana. Dia menangis, tidak melihat siapapun yang dikenalinya didalam puing-puing desa yang sudah ditumbuhi banyak tanaman merambat itu kecuali dirinya dan sesosok gadis kecil yang terkurung dalam kristal es berwarna merah sepekat warna darah. Tepat disisi lainnya, kristal es berwarna merah kehitaman membekukan sesosok tubuh lain yang ia kenali sebagai sosok Aska, vampir penghuni kastil tua diujung bukit tempat dia memohon sesuatu yang buruk untuk hidupnya.


*Merasa terikat dengan gadis kecil dalam kristal es merah darah tersebut, Rassya dimasa lalu yang terbangun diusia lima tahun berusaha mencari benda apapun yang bisa digunakan untuk mengeluarkan sang gadis kecil. Mencoba menghancurkannya dengan berbagai macam batu yang ia temui, beberapa puing bangunan yang terjangkau oleh tangannya, dan balok kayu yang terlihat masih cukup kuat untuk ia gunakan. Tapi kristal es itu bahkan tidak tergores sedikitpun.


*


Kelelahan dengan semua usahanya yang tidak membuahkan hasil, Rassya kecil dimasa lalu terduduk dengan


bercucuran keringat. Merebahkan diri setelah berhari-hari mencoba menghancurkan kristal es itu, tangan Rassya dimasa lalu menyentuh sebuah benda. Belati perak yang masih terlihat utuh dan bagus. Terpukau dengan belati yang ditemukannya. Ditengah cahaya bulan purnama penuh, Rassya kecil dimasa lalu menusukan belati perak itu berkali-kali pada Kristal es didepannya. Cahaya bulan memantul pada belati perak.


Lagi dan lagi,  Rassya kecil dimasa lalu menghujamkan goresan pada kristal es yang mengurung sang gadis kecil. Tenaga terakhir dimalam bulan purnama itu, dia mengangkat belati itu dengan kedua tangan tepat diatas kepalanya. Satu tusukan ia tancapkan.


Masih sama. Kristal es itu masih tidak tergores. Rassya kecil dimasa lalu terduduk lemas. Dilemparkan belati itu ke sampingnya. Belati yang memantulkan cahaya bulan itu bersinar dibawah kristal es kegelapan yang mengurung sosok Aska.


Ada suara retakan es yang terdengar dari arah depannya. Rassya kecil dimasa lalu melihat dan menyaksikan dengan baik, bagaimana ia berhasil menghancurkan kristal es dan mengeluarkan sosok gadis kecil itu dari dalamnya. Gadis kecil dengan gaun hitam selutut itu tersenyum dengan manis dan memanggil Rassya dimasa lalu dengan panggilan “ Kakak. ”


Mendengar cerita Rassya, Nathan, Celine, Atlas dan Leticia terpaku. Ingatan mereka mengarah pada bayangan yang diperlihatkan Andra pada mereka tentang masa lalu Ralin. Sosok sang kekasih yang meninggalkan misteri. Satu persatu keping ingatan Andra terpecahkan.


Sebelum sempat menggabungkan semua fakta yang ada, hembusan angin memecah kesunyian diruang Osis. Bukan sekedar hembusan angin yang kuat. Dibalik itu ada sosok Queen, vampir berwajah imut nan cantik yang menjadi masa lalu Nathan. Diikuti oleh beberapa pengikut berjubah miliknya, sosok Queen memastikan sosok Celine dan Nathan yang sudah siap menyambut kedatangannya.


Atlas dan Leticia pun bersiap. Andra menjentikkan jari. Menghentikan waktu. Dan turun ke halaman utama sekolah secepat yang biasa ia lakukan. Dia maju pada barisan paling depan. Seakan memimpin pertarungan yang mungkin akan terjadi, Andra tersenyum senang. Sosok kegelapan yang ia tunggu-tunggu akhirnya menunjukan dirinya setelah sekian lama bersembunyi.


“ Ini bukan urusan lo, And. ” ujar Nathan menengahi antara Andra dan sosok Queen yang tersenyum menyambut sang mantan kekasih.


“ Gue juga nggak minat melawan perempuan. ” Andra mundur santai. Melewati Nathan, Andra mengingat sosok Queen dimasa lalu yang berbisik pada boneka barunya di kastil tua. Sosok vampir baru yang sempat menyerang dirinya dengan membabi buta dikala itu. Menyadari kalau sosok yang dulu menyerangnya itu adalah Nathan, Andra mengangkat bahu. " Kenapa gue nggak menyadarinya... "


“ Apa mau mu? ” Nathan menghentikan langkah Celine yang siap menerjang dan menyerang sosok Queen yang berdiri anggun dihadapan mereka. Nathan maju selangkah didepan teman-temannya. Melepas kaca mata tipisnya, Nathan mulai mengunci sedikit kesadarannya.


“ Aku hanya ingin menyapamu, Nathan. ” ucapnya cekikikan dari halaman utama sekolah.

__ADS_1


“ Tidak mungkin hanya itu saja, bukan?? ”


“ Entahlah! ” jawab Queen dengan entengnya. “ Untuk saat ini, cukup senang bisa melihatmu lagi. ”


“ Aku benci dengan sapaan mu ini! ” Celine mengimbangi tempat Nathan berdiri.


“ Ups! Kasar sekali! ” Queen menatap bengis begitu bertemu tatap dengan Celine. “ Tak banyak yang bisa aku bicarakan kali ini. Tapi aku berjanji, akan membalas ke kasaranmu hari ini. ”


Kalimat terakhir tentu ia tunjukan untuk Celine. Celine yang sudah berani merebut Nathan dari pengaruhnya. Celine yang dengan lancang berani tertawa dan memegang setiap bagian tubuh Nathan tanpa permisi pada sosoknya.


Cuaca berubah cerah seketika seiring menghilangnya sosok Queen dan pengikutnya dari pandangan mata.


“ Lain kali memang terdengar jauh lebih baik. ” Andra melihat kedalam lingkungan sekolah. Dimana seluruh siswa masih melaksanakan proses belajarnya.


Menjentikkan jari untuk mengembalikan jalannya waktu, Andra mendapati sosok Ralin tersenyum disudut tempat dia biasa memperhatikan gelagat para pengurus Osis. Seperti tengah menikmati sebuah tontonan seru adegan film action horor, Ralin melanjutkan kebiasaanya.


“ Kalian melakukannya lagi? ” Rassya menyapa santai mengembalikan tatapan Andra pada riuh suasana sekolah.


“ Yah! Kalau gue perlu aja. ” jawabnya santai.


***


Masa itu, Ralin dan Leticia kecil tengah bermain didepan halaman rumah tempat ia berdiam diri kini. Saling mengejar dan menangkap tetes hujan pertama yang jatuh dari awan. Membawa selembar dauh untuk dijadikan wadah air, sore itu terlihat begitu indah untuk Andra.


“ Atlaaas... ” Ralin menyiramkan air hujan yang berhasil ia tangkap ke wajah Andra yang termenung.


Seiring berjalannya waktu, sosok Atlas terus merubah jati dirinya selama dia kembali ketempat awal dia kehilangan Ralin. Setiap seratus tahun sekali, Atlas yang saat ini bernama Andra, datang  dan menetap disebuah rumah sederhana yang menjadi tempat tinggalnya dengan Ralin dimasa lalu.


Tawa riang itu masih bergema di telinganya. Sudah 620 tahun lamanya. Dia mengingat bayang Ralin yang tertawa dengan bahagia disampingnya.


*Malam itu purnama bersinar kemerahan, Ralin tengah memetik bunga yang tumbuh diujung bukit. Bunga yang melambangkan hari kelahirannya. Bunga mawar putih. Satu keranjang bunga siap dia bawa pulang. Dan ditengah *perjalanan, dia mendengar sebuah permohonan seorang anak kecil berusia lima tahun. Keinginan bodoh dari sosok yang tidak mengerti dengan hal apapun yang dimintanya kala itu.

__ADS_1


“ Tolong rubah aku menjadi seperti dirimu. ” pintanya antusias.


Darah segar anak itu berdesir gembira. Gejolak yang sangat kuat. Hasrat kebencian pun terasa pada nadinya. Anak kecil itu belum siap sama sekali untuk menerima hal yang sekuat dan semurka hawa kegelapan yang ada. Mengetahui dimana anak kecil itu berada, Ralin pergi dengan meninggalkan sekeranjang mawar putih yang berserakan ditengah hutan pinus.


//


Terlalu lama tidak kembali, Andra mencari sosok Ralin ketengah hutan setelah tidak menemukannya diujung bukit. Lari lajunya mendadak berhenti melihat keranjang dan mawar yang dipetik Ralin berserakan tanpa adanya gadis yang ia cari disekitar tempat itu.


Kembali pulang dengan membawa keranjang dan bunga mawar putih yang dipetik sang gadis, Andra melihat Ralin memegang tangan seorang anak kecil yang meronta dan meminta Ralin untuk bertanggung jawab karena anak kecil itu gagal menjadi sosok yang dia inginkan.


Leticia kecil mendekat, melihat kedalam mata anak kecil yang ternyata dia adalah sosok Rassya, sang ketua Osis. Gelap. Yang dilihat hanyalah kegelapan. Sampai Andra dan Ralin memutuskan untuk mengunci ingatan anak kecil itu dalam kristal es dan mengembalikannya ditengah malam didepan pintu rumahnya.


“ Sebenarnya, bagaimana Rassya bisa hidup abadi sampai sejauh ini? ” tanya Leticia memecah lamunan Andra.


“ Hanya Ralin yang mempunyai jawabannya. ” Andra mengingat kembali masa dimana Leticia kecil yang akhirnya membuat Ralin membuat pilihan untuk merubah sosoknya menjadi Leticia yang sekarang. “ Atau mungkin.... ingatan yang terkunci itu membuatnya bertahan sampai sejauh ini.”


“ Tapi hal itu tidak dapat gue lihat sedikitpun. Seakan ada penghalang dalam ingatannya seperti dalam ingatan Ralin. ”


“ Itu tidak masalah selama mereka baik-baik saja. ” ujar Celine yang datang bersama Nathan.


“ Penghalang itu, mungkin ingatan mereka saat ini yang tidak lagi terpengaruh dengan hal apapun dimasa lalunya. ” timpal Nathan.


“ Sekarang, yang menjadi prioritas kita adalah hal yang sama. ” Andra menatap ketiga teman yang berdiri dihadapannya.


“ Maksud lo, kegelapan yang sudah mulai menunjukan dirinya itu?” Atlas masuk dengan melepas beberapa sarang laba-laba yang menempel dibagian wajah dan bahunya. Tepat didepan Andra, dia berhenti dan menatap dengan memegang sarang laba-laba yang membuatnya harus masuk kedalam ruangan dengan sedikit konyol.


Dia mengangkat bahu.  “ Lalu bagaimana dengan sosok vampir perempuan tadi siang? ” Leticia memecah kekonyolan yang dilakukan Atlas di ruangan itu.


Celine menggenggam tangan Nathan yang terdiam mendengar pertanyaan itu.


“ Ya.” jawabnya. “ Dia hanya kaki tangan. ” Andra membuka jendela itu lebar-lebar. “Kita tunggu sosok itu muncul dengan sendirinya. ”

__ADS_1


Tatapan Andra menerawang menoleh keluar jendela tempatnya berdiri kini.


***


__ADS_2