
“ Jadi…. Sejak kapan adik gue ini dekat dengan sang pewaris. ”
“ Siapa maksud abang?" Ralin menoleh santai.
Mengangkat salah satu alisnya, Rassya mengisyaratkan Ralin pada sosok yang mengantarnya pulang sore kemarin.
"Namanya Qean, bang… ” Ralin menatap bete.
“ Yaaa... siapapun itu, menurut gue, dia itu aneh." Jawab Rassya datar seperti biasanya.
"Siapa bilang dia aneh?" Ralin bermaksud membela diri. Tapi diurungkannya niat itu mengingat kembali bagaimana sosok Qean yang menurutnya memang datang padanya dengan cara yang tidak wajar.
"Pemuda yang ngebantu lo pada hari pertama ospek?" Rassya terdengar menggoda.
Hanya dibalas dengan bibir manyun, Ralin mengabaikan sang kakak dengan semua ocehannya.
"Menurut gue, siapapun temen lo pasti aneh. ” ledek Rassya dengan puas dengan semua ekspresi yang didapatkannya dari sang adik.
Sejenak menatap jengkel, Ralin melanjutkan langkahnya menuju halaman sekolah untuk masuk ke kelasnya. Dirinya memang tidak menampik keanehan sikap Qean terhadap dirinya semenjak perkenalan mereka. Tapi hal itu juga bukan menjadi alasan bagi Rassya untuk mengatakan teman-temannya adalah orang-orang aneh. Menyadari sesuatu untuk bisa menjawab omongan sang kakak, Ralin menyeringai puas.
“Lebih aneh lagi semua temannya abang tuh.” mendahului langkah sang kakak, Ralin menatap kesal kearah teras ruang Osis. Dimana Andra dan para pengurus Osis lainnya tengah ketahuan memandangnya dari jalan utama menuju halaman sekolah.
“ Yaah…Mereka memang aneh dan seenaknya sendiri belakangan ini. ” Rassya berkata menerawang dengan cukup jelas. Memang ada sesuatu yang Rassya rahasiakan dari adiknya belakangan.
Mendengar jawaban itu, Ralin kembali terbayang akan ingatannya tentang beberapa perubahan tatanan sekolah yang dilakukan oleh para pengurus Osis selain Rassya, sang kakak. Tentu saja sang kakak tidak akan mungkin bisa melakukan hal-hal aneh semacam para pengurus Osis itu.
__ADS_1
....
Hari demi hari berganti. Perubahan pun semakin jarang dirasakan dan dilihat oleh Ralin. Mulai terbiasa dengan kehadiran Leticia dan Atlas dikelasnya, Ralin pun berusaha menyesuaikan diri dengan beberapa perubahan lain yang sempat terjadi. Berusaha terlihat normal di hadapan Atlas yang tiba-tiba menjadi asing dan terlihat tidak menyadari perubahan apapun di hadapan para pengurus Osis yang selalu saja memperhatikan seisi sekolah dengan cara yang tidak biasa.
Merasa terlalu sibuk memikirkan alasan dibalik perubahan tatanan sekolah yang dilakukan oleh Andra dan teman-temannya, Ralin sampai tidak menyadari kalau acara Festival SMA Kenanga akan diadakan dalam seminggu lagi.
Setiap tahunnya, pada bulan Mei, SMA Kenanga mengadakan acara tahunan semacam Festival yang akan melibatkan seluruh siswa dalam pelaksanaannya. Kegiatan sendiri diserahkan pada kelas masing-masing baik untuk tema, tatanan kelas, kepengurusan dan biaya.
Dimana tema acara Festival yang dibuat kelasnya adalah ‘ kedai teh’. Ada juga beberapa camilan untuk menemani waktu istirahat para pengunjung yang nanti akan berpartisipasi dalam acara Festival SMA Kenanga ini.
Festival SMA Kenanga bukan hanya dihadiri oleh seluruh warga sekolahnya saja, melainkan dari seluruh lapisan warga dan acara festival tahunan SMA Kenanga juga dikunjungi oleh tamu undangan sekolah lainnya.
Persiapan demi persiapan dilakukan selama satu minggu lamanya. Penataan meja dan kursi dikelas, hiasan, pembuatan serta peracikan menu yang akan disajikan. Semua itu dilakukan dengan membagi kelompok kerja dikelas Ralin.
Dikelas lainnya, ada lebih banyak lagi hal dikerjakan. Anak kelas dua dan kelas tiga misalnya. Karena mereka sudah punya pengalaman dengan acara Festival sekolah, beberapa diantaranya ada yang membuat dua acara pameran. Dan satu pameran wajib yang harus mereka buat adalah pameran penghijauan. Dimana dihalaman sekolah kini tengah berdiri beberapa stand tenda yang penuh dengan tanaman-tanaman yang menghiasinya. Ada tanaman anggrek, mawar, krisan, kenanga, dan tanaman hidroponik seperti sayur hijau, cabai,bayam, tomat dan lain sebagainya. Semua persiapan itu dilakukan menjelang acara Festival dimulai.
“ Gue mau tanya sesuatu, boleh? ”
“ Gue? ” Ralin meyakinkan diri. Sempat melirik Leticia, dia mengangkat santai bahunya. “ Boleh aja. Tanya apaan?”
“ Lo ingat pernah bilang kalau para pengurus Osis itu aneh, bukan? ”
Ralin mengiyakan pertanyaan dari Atlas tersebut. "Ya! Kenapa?" jawab Ralin santai.
“ Aneh yang seperti apa? ” Leticia menengahi karena dia merasa ada hawa lain yang tiba-tiba dia rasakan dari sosok Ralin yang kini berdiri di hadapnya. Leticia melangkah mundur dan mengambil posisi disamping Atlas yang masih menahan pegangan tangannya terhadap Ralin.
__ADS_1
Merasa janggal dengan sikap Atlas dan tatapan Leticia yang sedikit aneh, Ralin tersenyum simpul.
“Seaneh keberadaan kalian berdua dikelas ini.” Dia mencondongkan badannya kearah dua teman sekelas dihadapannya. Menatap mereka dengan datar lalu mengguratkan senyum simpulnya
Leticia tercengang. Atlas sendiri terdiam dengan jawaban itu.
Walau nada suara Ralin seperti sedang bercanda, tapi apa yang didapatkan Atlas dengan memegang tangan Ralin membuatnya sedikit bergidik takut. Tidak ada denyut nadi, tidak terdengar detak jantung, tidak ada desiran aliran darah dalam nadinya tapi Ralin terlihat bernafas. Atlas terhenyak mendapati Ralin yang kini tengah tersenyum manis dan menatapnya dengan tatapan penuh makna.
“ Begitu ya? ” Atlas coba tersenyum.
“Seperti itulah.” tanggap Ralin Sekenannya. “Jadi…kali ini jangan coba menambah daftar keanehan kalian diingatan gue yah? Mengerti?! ”
Pandangannya kini bertemu dengan sosok Andra jauh diseberang sana. Tepatnya kearah luar jendela bangunan utama sekolah, teras ruang Osis. Andra yang melihat dan mendengar setiap hal yang dibicarakan antara Ralin dan Atlas, juga ingin mengetahui kuatnya insting Ralin saat ini. Dan kini Andra hanya bisa tersenyum kaku mengetahui hal yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya mungkin telah terjadi.
"Apakah itu kau?" gumam Andra dari kejauhan. Tatapan itu tetap bertemu dan saling menatap tanpa menyiratkan maksud apapun untuk satu sama lain.
Sosok diri Ralin sudah terjaga dari tidur panjangnya. Tapi dia bukanlah sosok sang kekasih yang ditunggu Andra selama ini. Ralin adalah dirinya yang sekarang dengan ingatan akan kehidupannya yang sekarang. Bukan dirinya dimasa lalu dengan ingatannya yang sekarang.
"Apakah hal ini baik?"
Mendapat pertanyaan seperti itu dari sosok Andra diseberang, Ralin menjentikkan jari seperti yang pernah dilakukan Andra tempo hari yang lalu saat membantu Ralin mengendalikan dirinya. Hal itu mengalihkan tatapan Andra, dia kembali fokus dan melihat Ralin yang melempar senyum penuh makna padanya.
"Baik atau tidak, semuanya akan terjawab sesuai waktu yang dipermainkan."
Andra terdiam. Dia memalingkan tatapannya dan memasuki ruang Osis yang sedang sunyi senyap.
__ADS_1
Berlalu.
***